Setelah satu minggu berlalu, kini Wina sudah diperbolehkan untuk pulang dari Rumah Sakit. Arga, Nare, beserta Salsa, dan Aidan pun ikut menjemput Wina dari Rumah Sakit dan bersiap mengantarkannya untuk pulang ke Rumah.
"Duh padahal gak usah repot-repot loh Sal sampe jemput segala" ucap Wina merasa tidak enak.
"Gak pa-pa atuh ih, masa calon besan mau pulang dari Rumah Sakit aku gak kesini" ucap Salsa.
"Aih, kamu bisa aja" ucap Wina.
"Udah semua kan? mau langsung pulang sekarang?" tanya Aidan.
"Tahun depan" gumam Nare yang kesal dengan pertanyaan ayahnya.
"Udah Pa, semua barangnya juga tinggal masukin ke mobil aja" ucap Arga yang sudah mulai akrab dengan calon mertua nya.
Aidan mengangguk "Yaudah ayo berangkat sekarang aja."
Arga membantu Wina untuk duduk di kursi roda yang sudah di siapkan.
"Nare aja yang dorong kursi rodanya" ucap Nare tulus.
Wina tersenyum tipis "Emang gak salah pilih aku" gumamnya dengan pelan.
"Kamu ikut mobil siapa Re?" tanya Salsa.
"Kita kerumah mama dulu kan?"
"Iyaa, kamu ini ditanya malah balik tanya" gerutu Salsa.
"Bukan nanya ibu, tapi memastikan."
"Sakarepmu lah" ucap Salsa kesal.
"Ck baperan amat bu. Aku bingung ni" sahut Nare tak kalah kesal.
"Kamu sama saya aja" ucap Arga membuat Wina dan Salsa senyum-senyum.
"Gini aja deh, mama biar ikut mobilnya Salsa, kamu ikut mobil Arga, gimana sayang?" ucap Wina
"Emang gak pa-pa mama ikut sama ibu?" ucap Nare tidak enak, biar bagaimanapun Arga adalah anak Wina.
"Loh gak pa-pa dong biar kamu bisa quality time juga sama calon suami" ucap Wina menggoda Nare
Nare mengangguk pelan "Yaudah deh Nare ikut pak Arga" ucap Nare memutuskan.
•••
Setelah mengantar Wina ke mobil Aidan, kini tersisa Nare dan Arga yang saling bungkam dengan mata yang memperhatikan mobil Aidan yang mulai berjalan meninggalkan parkiran Rumah Sakit.
Arga melirik Nare yang sedang memperhatikan mobil Aidan yang perlahan menjauh "Ayo, langsung jalan aja" ajaknya.
Nare mengangguk pelan, mereka jalan beriringan memasuki mobil Arga.
"Mau makan dulu?" tanya Arga memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Terserah" Nare menjawab dengan mata yang sedang fokus dengan ponselnya.
Arga menghela nafas lelah "Kalau ada orang ngomong taro dulu handphone nya.”
Nare berdecak kesal, namun tetap mengalihkan pandangannya ke Arga
"Terserah bapak aja, saya ngikut" ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Kamu lapar gak?" tanya Arga yang mulai jengah dengan jawaban Nare .
"Lapar" ucap Nare dengan menyengir tanpa dosa.
"Yaudah kita makan dulu, sekalian bungkus buat nanti di rumah" ujar Arga tak terbantahkan.
Arga langsung membelokkan setir ke restoran terdekat. Karena tidak ingin orang rumah menunggu lama, mereka memutuskan untuk memesan take away.
•••
Setelah menempuh perjalanan sekiranya tiga puluh lima menit, mereka sampai di depan Rumah megah milik Wina. Nare sempat terdiam sebentar karena merasa kagum dengan Rumah Wina yang lebih besar dari Rumah miliknya. Ditambah dengan kesan gaya Eropa klasik yang mendominasi membuat Rumah itu terlihat indah dan tidak membosankan.
“Ayo masuk” ajak Arga yang membuat Nare sontak menoleh ke arahnya.
“Eh, iya ayo.”
Nare dan Arga memasuki rumah bersama "Assalamualaikum."
Wina, Salsa, serta Aidan yang sedang duduk di ruang tengah menoleh kepada keduanya. "Wa alaikumsalam."
"Bawa apa Re?" tanya Wina setelah menyadari.
"Makanan ma, ayo makan dulu" jawab Nare.
"Duh, kamu calon mantu idaman banget sih" ucap Wina sambil mencolek dagu Nare.
Nare hanya cengengesan "Disuruh pak Arga Ma"
"Berarti yang mantu idaman itu Arga" sahut Salsa.
"Dih ibu ikut-ikutan aja" sinis Nare
"Kamu tuh kenapa si Re, julid mulu kalo sama ibu perasaan" cibir Salsa.
"Udah-udah, Nare sini duduk sama Papa" lerai Aidan.
"Gak mau" ketus Nare
"Mau sama calon suami aja" lanjutnya.
Wina dan Salsa tersenyum geli melihat kelakuan Nare. Akhirnya Mereka makan bersama dengan Nare yang duduk di sebelah Arga, sedangkan Aidan menatap Arga kesal karena putrinya lebih memilihnya dari pada dirinya sendiri.
"Gimana kerjaan kamu Ar?" tanya Aidan setelah semua nya selesai makan.
"Alhamdulilah baik Pa" jawab Arga.
Aidan mengangguk-anggukan kepalanya. "Pernikahan kalian mau di adakan kapan?”
"Secepatnya" bukan Arga yang menjawab melainkan Wina.
"Ngebet banget lo Win" cibir Aidan.
Wina memutar mata malas. "Biarin aja sih, aku udah gak sabar Nare jadi menantuku."
"Gimana kalau tiga hari lagi?" usul Salsa.
Nare yang sedang memainkan ponselnya membulatkan matanya kaget. "Gila" gumam Nare pelan.
"Kenapa Re? kamu ngomong apa?" tanya Salsa.
Nare langsung gelagapan. "Hah? oh enggak gak pa-pa"
"Kamu setuju kan Ar?" tanya Wina.
Sedikit melirik ke arah Nare akhirnya Arga menjawab. "Setuju Ma, tiga hari lagi" putusnya.
Kenapa harus setuju sih?! batin Nare.
"Kamu gimana Re?" tanya Wina
Nare terdiam sebentar memikirkan jawaban yang akan ia keluarkan.
Kalo gue ga setuju, pasti Ibu sama Papa marah banget sama gue setuju aja dah, cari aman. Batin Nare
Akhirnya Nare menganggukkan kepalanya. "Setuju Ma."
"ALHAMDULILAH" ucap Salsa dan Wina.
Setelah Arga dan Nare mengatakan setuju untuk menikah tiga hari lagi, kini Salsa dan Wina langsung heboh mencari WO untuk persiapan pernikahan mereka. Arga, Aidan, serta Nare hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat betapa hebohnya emak-emak ini.
"Kamu gimana Re, mau yang kayak gimana gaunnya?" tanya Wina.
Nare hanya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Emm, aku terserah Mama sama Ibu aja."
"Loh gabisa gitu dong, ini nih liat dulu nih gaunnya banyak loh Re" ucap Salsa sembari menyerahkan sebuah buku yang berisikan gambar-gambar gaun dari desainer ternama.
Nare menghela nafas lelah, namun tetap buku tersebut dan membolak-balik setiap lembarnya untuk melihat-lihat.
"Pilih lima ya Re, gaunnya. Sekalian buat resepsi" ucap Wina.
Setelah menghabiskan waktu yang lama untuk melihat-lihat, akhirnya pilihan Nare jatuh pada :
1. Gaun pengantin putih untuk akad
2. Gaun berwarna coklat s**u untuk resepsi setelah akad
3. Gaun berwarna abu-abu untuk siang hari
4. Gaun berwarna rose gold untuk sore hari
5. Gaun berwarna hitam untuk malam hari
Sedangkan Arga memilih untuk disamakan saja oleh Nare. Hal itu membuat Nare mendengus kesal sambil menggerutu di dalam hati.
•••
"Nih" ucap Nare sambil menyodorkan undangan ke Yani.
Nare Kembali ke rutinitasnya. Seperti pagi ini, dirinya sudah berada di Kantor tempatnya bekerja.
Yani menatapnya bingung. "Undangan ulang tahun?" tanyanya.
"Nikah lah, ya kali umur segini ulang tahun dirayain gila lo" Nare mendengus kesal.
Yani memutar matanya malas, tanpa berniat mengambil undangan tersebut. "Halu lo.”
Nare yang kesal mendengar cibiran Yani, lantas langsung meletakkan undangan itu di meja Yani dan langsung bergegas pergi.
"Lah ngambek" celetuk Yani.
Yani mulai melihat undangan itu, dan membuka nya. "Undangan pernikahan Naresha dan Ar-WHATT?!"
"NARE LO HUTANG PENJELASAN SETAN!” pekik Yani dengan keras yang membuat seluruh pegawai menatapnya aneh.
"Maaf-maaf" lanjutnya.
Dengan segera Yani menyelesaikan pekerjaannya. Dalam hati ia berniat akan berbicara pada Nare saat istirahat makan siang nanti.
Istirahat makan siang berlalu, namun sialnya Nare harus ikut dengan Arga untuk bertemu klien di luar Kantor, yang membuat Yani kesal bukan main.
Bukan hanya Yani yang terkejut bukan main dengan undangan pernikahan Nare dan Arga, tetapi semua karyawan di perusahaan Arga sama terkejutnya dengan Yani. Dengan hati dongkol dan mulut yang terus menerus menggerutu, Yani menghampiri Nare yang sedang membereskan meja nya bersiap untuk pulang.
BRAKK
Nare terkejut ketika mendengar suara gebrakkan di mejanya. "Astagfirullah, setan emang lo Yani!" umpat Nare.
Yani menatap tajam Nare. "Lo hutang penjelasan ya ajg.”
Nare hanya memutar bola matanya malas. "Panjang deh pokoknya. Susah kalua dijelasin."
"Ngeselin ya lo!"
Nare menjulurkan lidahnya meledeknya Yani. "Bodo amat."
"Mau ikut gak lo?" tanya Nare.
"Kemana?"
"Nongski lah bos" ucap Nare dengan wajah songongnya.
Yani menoyor pelan kepala Nare. "Gaya lo."
Nare mengusap kepalanya merasa sakit, tapi bohong. "Sakit anj- Astagfirullah."
"Tumben istighfar buk."
"Bacot" umpat Nare
"Ikut ga nih?" lanjutnya.
Yani berfikir sebentar, lalu mengangguk. "Ikut deh, sama si Gita juga?."
Gita dan Yani sudah kenal lumayan lama. Karena Yani yang selalu bersama Nare, dan Gita juga kebetulan sahabat Nare jadi mereka menjadi dekat dan sering sekali bertemu bertiga.
"Iyaa, mumpung lakinya libur anaknya ada yang jagain."
•••
Tiba di cafe Nare dan Yani langsung masuk dan mencari tempat Gita duduk. Dan di pojok sana Gita melambaikan tangannya memberi tanda untuk ke tempatnya. Nare dan Yani langsung menghampiri Gita.
Gita langsung memanggil seorang waitress. "Mau pesan apa?" tanya Waitress tersebut.
"Saya pasta carbonara sama lemon tea aja mba" ucap Yani.
"Saya pasta bolognese sama lemon tea" ucap Gita.
"Saya mau pasta bolognese, cheesecake sama minumnya jus stroberi" ucap Nare.
Waitress tersebut langsung mencatat pesanan mereka dan mengucapkan ulang untung memastikan. Setelah waitress tersebut berlalu dari hadapan mereka, Gita langsung menatap tajam Nare.
Gita menyodorkan undangan pernikahan Nare. " Jelasin" ucapnya dengan sedikit menuntut.
"Lo kok udah dapet?!" ucap Nare terkejut.
"Dari ibu Lo lah" ketus Gita.
"Emang bener-bener dia ya Git, maennya rahasia-rahasia an" sinis Yani.
Nare langsung memukul pelan mulut Yani. "Lambemu Yan."
Gita hanya memutar bola matanya malas. "Buruan jelasin anj- Astagfirullah"
"Jelasin Re ntar laki gue keburu nelpon nih" lanjutnya.
Nare mencebikkan bibirnya. "Iya dah yang udah punya laki" cibir Nare.
"Iya dah yang mau punya laki" sahut Yani meledek Nare.
"Diam kamu jomblo" ledek Nare.
Yani hanya mencebikkan bibirnya kesal.
Hingga tak lama waitress datang membawa pesanan mereka.
"Gue jelasin nanti abis makan" ucap Nare.
Setelah makan Nare menepati janjinya dan mulai menceritakan dari awal hingga akhir.
"Tapi kok lo bisa mau sih?" tanya Yani
"Secara kan lo musuh banget sama tuh bos" lanjutnya.
Gita mengangguk membenarkan apa yang di ucapkan Yani.
Nare menghela nafas pelan. "Gue juga gatau."
"Lo bawa mobil Re?" tanya Gita.
"Engga, tadi nebeng Yani" jawab Nare.
Gita mengangguk kan kepalanya. "Terus nanti lo pulang sama siapa?"
"Sama Yani kan ga searah" lanjutnya.
"Lo sama siapa?" Nare balik nanya pada Gita.
"Dijemput laki gue lah" ucap Gita sombong.
Yani yang melihat itu tersenyum geli. "Gayamu cok, anak Lo noh di rumah." Cibir Yani.
"Di rumah juga sama bapaknya, emang lo ga punya anak" Gita berbalik mencibir Yani.
"Ya, partner bikinnya kaga ada MakGit" ucap Yani kesal
Makgit = emak gita
"Laki lo noh Re" ucap Yani.
Nare mengedarkan pandangannya. Dan di depan sana Nare melihat Arga berjalan sambil memainkan ponselnya. Tak lama ponsel Nare berdering dan bertuliskan nama Arga disana.
Belum sempat Nare menjawab telepon dari Arga. Yani sudah lebih dulu memanggilnya. "PAK BOS!" pekiknya yang membuat pengunjung Cafe sontak menoleh ke meja mereka.
Gita langsung menoyor pelan kepala Yani. "Gak usah teriak-teriak anjir."
Yani hanya tersenyum menampil deretan gigi ratanya. "Maaf.”
"Ayo pulang" ucap Arga.
Nare mengangguk kan kepalanya. "Yan, Git gue duluan ya" pamit Nare.
"Iya udah sono Lo balik" ucap Yani mengusir.
Nare mengeluarkan uang seratus lima puluh ribu dan di taruhnya di meja. "Nih ntar buat bayar punya gue, gue pamit."
"Hati-hati" ucap keduanya.
Nare mengangguk sedangkan Arga sudah berjalan lebih dulu untuk keluar Cafe.
•••
Di dalam mobil milik Arga saat ini hanya keheningan yang menyelimuti mereka, hanya ada suara klakson yang bersahut-sahutan karena jalanan sore ini begitu padat.
"Mau langsung pulang?" tanya Arga memecahkan keheningan.
Nare yang memang sudah sangat letih pun mengangguk mengiyakan saja.
"Gak mau makan dulu?" tanya Arga lagi.
Nare menggeleng. "Tadi saya udah makan disana" ucapnya.
Keadaan kembali hening namun, kini tak sehening tadi karena ada suara hujan yang mendominasi.
Hujan deras yang tiba-tiba turun mengguyur kota Jakarta. Nare menatap keluar jendela memandangi orang-orang yang berlalu lalang dengan berlari terburu-buru.
"Kenapa orang-orang kalau hujan selalu berlarian?" tanya Nare.
Arga mengedikkan bahunya. "Biar gak basah, kali?"
"Padahal kan cuma air" kata Nare.
"Air bisa kadang kala menjadi jahat, Sha" sahut Arga.
Nare mengernyit bingung. "Loh?, kenapa bapak bisa berpikir seperti itu?" tanya Nare.
"Kamu tahu laut?"
Nare mengangguk. "Kenapa dengan laut?"
Arga menghela nafas pelan. "Kamu tau kalau mereka indah kan?"
"saking indahnya sampai bisa bikin kita tenggelam kapan aja" lanjutnya.
Nare mengangguk-anggukan kepalanya. "Laut selalu diam, tapi ia menenggelamkan"
"sama kayak kamu" batin Arga.