Nare langsung turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa setelah sampai di rumahnya. Ia harus segera membicarakan hal ini kepada ibu dan ayahnya.
Belum sempat mengetuk pintu, pintu lebih dulu dibuka oleh sang ibu dengan wajah khawatir, cemas, dan gelisah yang bercampur menjadi satu.
"Ibu kenapa?" tanya Nare dengan menatap ibunya bingung.
"Ibu harus ke rumah sakit" Bukan Salsa yang menjawab melainkan Aidan.
"Siapa yang sakit?"
"Sahabat lama nya ibu" jawab Aidan dengan tersenyum merasa senang anaknya sudah mulai berbicara kepadanya.
"Kamu masuk dulu ke dalam, langsung istirahat" ucap Aidan
Nare langsung menyalami keduanya dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Sikap ayahnya yang seperti tadi membuat nya merasa bersalah karena telah membenci nya bertahun-tahun. Dan selama itu pula ia menahan rindu dengan ayahnya. Namun apa boleh buat jika ego dan gengsinya terlalu tinggi.
Merasa lelah, Nare memutuskan membersihkan diri, dan mulai membaringkan dirinya di kasur kesayangan nya.
•••
Setelah sampai di Rumah Sakit Salsa langsung berlari menuju resepsionis tanpa menyadari jika suaminya sedang menatap khawatir di belakangnya.
"Tenang yaa bu, biar papa yang tanya ibu tenangin diri dulu" ucap Aidan yang diangguki oleh Salsa.
Setelah bertanya dan menemukan nama yang mereka cari, keduanya langsung berjalan menuju ruangan tersebut. Sampai di depan ruangan, Salsa langsung menatap pintu dengan mata yang berkaca-kaca, merasa tak percaya sahabatnya mengalami sakit yang parah. Dengan tangan yang bergetar Salsa mulai membuka pintu untuk menemui sahabat lamanya yang sudah tak pernah ia kunjungi sejak 3 tahun.
Ceklek
"Assalamualaikum" ucap Salsa dan Aidan.
"Wa alaikumsalam, SALSA?!" ucap Wina terkejut ketika mendapati sahabat yang begitu dirindukannya ada tepat di depan matanya.
Tanpa menunggu lama Salsa langsung berjalan menuju brankar Wina dan langsung memeluk nya erat.
"Kamu kenapa ga bilang sama aku Win, kamu anggap aku apa sih?" lirih Salsa merasa bersalah karena tidak tahu kondisi sahabatnya.
"Aku udah gak papa" ucap Wina dengan tangan yang mulai mengusap-usap punggung Salsa.
"Kamu harus sembuh, biar kita bisa hangout lagi oke?!" ucap Salsa melepaskan pelukannya dan mencoba untuk tersenyum
"Iyaa pasti" ujar Wina dengan tersenyum tipis seolah-olah meyakinkan jika dirinya baik-baik saja.
"Loh Dan, lo disini juga?" ujar Wina yang baru menyadari keberadaan Aidan.
"Salsa masih istri gue" sahut Aidan.
Memang setelah kejadian tiga tahun belakangan ini Wina sempat mengira bahwa Aidan dan Salsa bercerai dan Salsa pergi dengan membawa anaknya.
"Kalo istri, kenapa dulu lo selingkuhin" ucap Wina sambil menatap Aidan sinis.
Wina tahu betul kejadian tiga tahun lalu, ketika sahabat nya datang ke rumahnya dengan berderai air mata. Sejak saat itu Wina selaku sahabat dekat Salsa ikut membenci Aidan saat itu. Sampai keduanya yang menghilang tanpa kabar, Wina pikir itu semua karena Aidan.
"Udah Win, itu udah masa lalu" ucap Salsa
"Iyaa tapi tetap aj… “
Ceklek
Ucapan Wina terhenti ketika seseorang memasuki kamar rawatnya dengan tangan membawa tentengan yang ia yakini adalah makanan.
"Assalamualaikum"
"Wa alaikumsalam sini Ar, ada tante Salsa nih salim dulu" ucap Wina
Sedangkan Arga tidak bisa menyembunyikan wanah terkejutnya. Tidak menyangka bahwa yang berhadapan dengannya sekarang ini adalah orang tua dari Naresha.
"Ar" ucap Wina yang menyadarkan Arga dari terkejutannya
"Arga tante, om" ucap Arga dan mulai menyalami keduanya.
Tak jauh berbeda dengan Arga, Salsa dan Aidan pun sama terkejutnya.
"Oh iya Sal, gimana kabar Sasa anak kamu?" tanya Wina
"Alhamdulilah baik"
"Pasti udah gede ya sekarang, kangen deh aku sama dia. Sejak umur 6 tahun dia ga pernah ikut ke acara arisan, atau kalau kita pergi berdua aja" ucap Wina
"Iyaa udah kerja sekarang dia Win, dulu ngga mau ikut karena itu dijahilin terus sama anak kamu" ucap Salsa dengan mata melirik Arga.
"Iyaa emang dulu Arga jahilnya kebangetan, sekarang udah mau ni--"
"MA" pekik Arga tiba-tiba membuat Wina harus menghentikan ucapannya.
"Apasih kamu Ar, gak sopan" ucap Wina.
"Tante sama om ini itu anu" ucap Arga terbata.
"Itu anu apaan? anu kamu kenapa?" ucap Wina ambigu.
"Ck" decak Arga yang mulai kesal dengan sikap Mamanya.
"Tante Salsa sama Om Aidan itu... orang tua nya Nare" ucap Arga.
Wina yang belum mengerti hanya diam sambil mengerutkan keningnya. Sedetik kemudian ia tersadar.
"HA?!" teriak Wina membuat Arga, Salsa, serta Aidan terpelonjak kaget.
"Ga usah teriak ma" ucap Arga malas.
"J-jadi Nare itu sasa?!" ucap Wina merasa tidak percaya dengan semua ini.
Melihat Salsa dan Aidan yang menganggukkan kepalanya membuat Wina semakin menggeleng tak percaya.
"Ya ampun, jadi selama ini gadis kecil cerewet itu Nare" ucap Wina dengan tersenyum lega.
"Ohh iya Nare udah bilang sama kamu?" lanjut nya.
"Bilang apa?"
"Dia mau nikah sama Arga" ucapan Wina membuat Salsa yang sedang mengupas apel terhenti.
"Kemaren dia bilang si mau nikah, aku kira boongan!" ucap Salsa dengan heboh.
"JADI NIKAH NYA SAMA ARGA?!" pekik Salsa heboh.
"Bu, gausah teriak" tegur Aidan
"Iyaa Pa maaf"
"Sebenarnya ini keinginan ku si Sal" ucap Wina.
"Maksudnya gimana?"
"Jadi gini" Wina mulai menceritakan semuanya.
Setelah Wina menceritakan semuanya, Salsa hanya diam tak bergeming begitupun dengan Aidan serta Arga yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.
"Aku sih gimana Nare aja Win, kalo dianya mau aku sebagai orang tua cuma bisa kasih restu" ucap Salsa dengan tersenyum simpul.
"Nggak tau kenapa waktu pertama kali aku liat Nare, aku selalu mau punya menantu kaya dia" ucap Wina
"Untung Nare nya gak ada disini loh Win, kepedean nanti dia" ucap Salsa yang membuat Wina terkekeh
Arga yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka, tersenyum sambil membayangkan wajah Nare saat kepedean.
"Kenapa kamu senyum-senyum Ar?" tanya Aidan yang tanpa sengaja melihat Arga tersenyum.
"Ha? ohh... gapapa kok om" ucap Arga gugup.
Aidan yang mendengar jawaban gugup dari Arga hanya berusaha untuk tidak tersenyum. Harus tetap stay cool, itu prinsip Aidan.
"Yaudah kalau gitu kita pamit pulang dulu ya Win, kamu cepet sembuh biar kan dikit lagi mau besanan" ucap Salsa.
"Aamiin Sal, makasih yaa udah dateng kesini"
"Kamu kaya sama siapa aja" ucap Salsa.
"Yaudah aku pamit dulu yaa" lanjutnya.
"Iyaa hati-hati, makasih yaa Sal, Dan."
Aidan hanya mengangguk kecil.
"Arga kalau mau main, main aja yaa" ucap Salsa dengan tersenyum geli.
"Iyaa tan"
"Panggil ibu atuh, kan kamu mau jadi anak ibu juga" ucap Salsa.
Lagi-lagi Arga hanya menganggukkan kepalanya.
"Saya pamit" ucap Aidan dengan menepuk pelan pundak Arga.
"Iyaa, hati-hati om, bu" ucap Arga yang masih sungkan untuk memanggil Aidan dengan sebutan ‘Papa.’
•••
"Assalamualaikum" ucap Salsa ketika memasuki rumah, begitupun dengan Aidan.
"NARE" teriak Salsa yang tidak sabar mengintrogasikan anaknya itu.
Tak lama Nare berlari turun dari tangga dengan pakaian santai nya.
"Apa sih bu, dateng-dateng heboh" ucap Nare kesal.
"Akh sakit" keluh Nare ketika Salsa menjewer telinganya.
"Kamu kenapa ga bilang ha?!" ucap Salsa dengan nada yang mulai meninggi.
"Bilang apaan sih, aduh ini lepas dulu sakiiit" pekik Nare.
Salsa langsung melepaskan jewerannya dari telinga Nare dengan mata yang masih setia menatap tajam anaknya itu.
"Kamu kenapa ga bilang kalau Arga anaknya Wina?" tanya Salsa dengan tatapan mengintimidasi.
"Lah kan emang pak Arga anaknya Mama Wina" ucap Nare.
"Emang kenapa bu?" lanjutnya.
"WINA ITU SAHABAT IBU" teriak Salsa yang membuat Nare mengusap telinganya yang perih akibat teriakan ibunya.
"Bisa biasa aja gak sih bu?, sakit nih kuping Nare denger ibu teriak" sinis Nare.
"Tadi ibu bilang apa? Mama Wina sahabat ibu?" ucap Nare yang masih belum konek.
"Tunggu, jadi... HAH YANG BENER AJAA" ujar Nare yang sudah mulai mengerti.
"KOK BISA BU?!" lanjutnya.
"Ya bisa lah" ucap Salsa.
"Ohh iya kamu harus nikah sama Arga, gak ada penolakan" lanjutnya.
"Ck, iya" decak Nare malas.
"T-tapi...papa?" ucap Nare canggung ketika menyebutkan kata 'papa'
"Papa terserah kamu" ucap Aidan sambil mengusap puncuk kepala Nare.
"Kamu kenapa gak jenguk calon mertua kamu ha?!" tanya Salsa tidak santai
"Udahan kemarin pas Mama wina operasi" ucap Nare.
"Jadi... kemarin kamu pulang telat karena ke Rumah Sakit dulu?" tanya Salsa.
"Iyaa lah gimana bu, udah kaya menantu idaman kan?" ucap Nare dengan alis yang dinaik turunkan.
"Heleh, sakarepmu lah" ucap Salsa menatap anaknya malas.
Aidan yang melihat itu tersenyum kecil merasa senang keluarga nya bisa kembali harmonis. Namun, disatu sisi dirinya masih memikirkan apa Nare sudah memaafkan nya atau belum.
"Yaudah yuk kita makan malam, delivery aja. Ibu tau kamu males masak" ucap Salsa.
Nare hanya cengengesan mendengar ucapan ibunya "Tadi ketiduran bu."
"Alasan" ucap Salsa dengan mencebikkan bibirnya.
"Ayo pesen, nanti ayah yang bayar" lanjutnya.
"Halah ibu mah emang ga modal" cibir Nare
Dan sedetik kemudian dihadiahi pukulan kecil di bibirnya, siapa lagi pelakunya kalau bukan sang ibu tercinta. "Sembarangan kamu!"
"Dih emang bener" ucap Nare dengan bibir mengerucut kesal.
"Udah-udah malah jadi berantem" lerai Aidan.
Terbesit rasa senang melihat keluarganya kembali bercanda gurau seperti ini. Moment seperti inilah yang ia rindukan sejak tiga tahun lalu.
•••
Setelah selesai makan malam kini Aidan, Salsa, serta Nare berkumpul di ruang keluarga dengan tayangan televisi yang sedang viral di kalangan masyarakat Indonesia saat ini.
"Lagian kok itu bisa sih bu, si Elsa ga ketangkep?" tanya Nare sambil memakan cemilannya.
"Yaa gitu deh dilindungin terus sama mama nya" ucap Salsa yang masih fokus dengan televisi.
"Kok gitu yaa bu emaknya, ribet."
"Kalo aku jadi Elsa sih mendingan ngaku, paling di penjara berapa tahun dari pada hidup di hantui rasa bersalah kaya gitu" gerutu Nare mengomentari sinetron tersebut.
"Diem kamu, berisik banget. Ibu lagi nonton nih" ucap Salsa ketus yang dibalas cebikkan oleh Nare yang kini menatap sang ibu dengan kesal.
"Pa" panggil Nare pada Aidan yang kini sedang focus dengan laptop yang berada di pangkuannya.
"Hmm."
"Idih sok cuek banget orang tua" cibir Nare’
"Aku mau nikah" lanjutnya.
"Nikah ya nikah aja sono" ucap Aidan yang masih fokus dengan laptopnya.
"Ck, yaudah restuin" sinis Nare.
Menghela nafas lelah akhirnya Aidan mulai menatap Nare "Yakin mau nikah?."
"Ya mau gimana lagi, gak enak sama Mama Wina."
"Ini nikah loh Re, kamu gak bisa main-main" ucap Aidan.
"Gak ada yang main-main" ucap Nare mengedikkan bahunya.
"Terserah, harus kuat mental kamu nikah muda" ucap Aidan.
"Kuatlah dari 3 tahun lalu udah mental baja" ucap Nare mengungkit masa lalu.
Aidan hanya terdiam, tidak bisa mengatakan apa-apa jika sudah mengungkit masa lalu.
"Suruh Arga menghadap Papa" ucap Aidan
"Iya besok"
"Pulang kerja sekalian kamu diantar pulang sama dia" ucap Aidan.
"Ck, terus mobil aku gimana?" protes Nare.
"Ya dirumah" sahut Aidan cuek.
"Berangkat nya pake apa?" sinis Nare.
"Papa antar kan bisa."
"Ribet" ucap Nare dan mulai menuju kamarnya dengan kaki yang dihentak-hentakkan.
Aidan dan Salsa yang melihat itu hanya menggeleng kan kepalanya melihat tingkat putrinya.
•••
"NARE SARAPAAN" teriakkan Salsa yang menggelegar memenuhi kediaman Nare pagi ini.
"Berisik bu teriak-teriak kayak di hutan aja" cibir Nare yang baru turun dari tangga.
"Buruan sarapan."
"Iyaa ibuuu” ujar Nare dengan gemas.
"Kamu hari ini di antar sama Papa kan Re?" tanya Aidan
"Gak tau"
"Loh gimana? udah rapi gitu masa masih bingung nentuin kendaraan."
"Yaudah iya" pasrah Nare.
"Nanti jangan lupa Arga suruh kesini."
"Iya Pa"
Selesai makan Aidan berdiri lebih dulu "Ayo Re" ajaknya.
Nare mengangguk dan mulai berdiri dari duduknya dengan tangan masih mengelap bibirnya menggunakan tisu.
"Nare berangkat yaa bu" pamit Nare sambil mencium tangan Salsa.
"Iyaa hati-hati"
"Aku berangkat dulu" pamit Aidan sambil mengulurkan tangannya dan langsung disalimi oleh Salsa.
"Hati-hati bawa mobilnya" ucap Salsa mengingatkan.
"Iyaa, kamu hati-hati di rumah" ucap Aidan mengecup kening istrinya.
"Ayoo Pa buruann" rengek Nare yang mulai jengah dengan kemesraan orang tua nya.
Salsa mengantarkan Aidan dan Nare sampai ke depan. Aidan dan Nare langsung memasuki mobil. Sebelum melajukam mobilnya, Aidan mengklakson pertanda pamit kepada Salsa yang dibalas lambaian dan senyuman manis oleh Salsa.
•••
"PAK ARGA" pekik Nare saat melihat Arga hendak memasuki ruangannya.
"Kenapa?"
Nare menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal "Emm itu."
Arga menaikkan alisnya ke atas menunggu Nare selesai berbicara.
"Cepat, saya buru-buru."
"Papa nyuruh bapak kerumah nanti" cicit Nare pelan.
"Oke" ucap Arga melewati Nare begitu saja.
"Dih, ngeselin banget tuh orang" gumam Nare sambil menatap punggung Arga sangat tajam.
Sore ini tepat pada jam pulang Nare masih duduk di tempat nya menunggu semua karyawan pulang.
"Re, pulang sama siapa?" tanya Bima.
Fyi, Bima sering digosipkan mempunyai rasa kepada Nare.
"Ohh, nunggu Papa gue jemput Bim" ucap Nare berbohong.
"Sama gue aja yuk."
"Gak usah Bim, ini Papa gue udah di jalan" ucap Nare
"Yaudah deh, tapi lain kali harus mau ya" ucap Bima dengan sedikit memaksa.
"Insya Allah yaa Bim.”
"Gue duluan" sebelum pergi Bima menyempatkan mengacak rambut Nare.
Nare hanya terdiam di tempatnya merasa terkejut dengan yang dilakukan Bima.
"So sweet banget ya pacar kamu" sinis seseorang yang membuat Nare tersadar dari diamnya.
"Eh udah, ayo pak pulang"
"Hmm" ucap Arga langsung melewati Nare.
•••
Di dalam mobil hanya ada keheningan yang menyelimuti Arga dan Nare. Keduanya sama-sama bungkam tidak ada yang berniat membuka suara. Bahkan sampai di perkarangan rumah Nare mereka masih hanyut dalam diamnya.
"Assalamualaikum" ucap mereka ketika memasuki rumah.
"Wa alaikumsalam, ya ampun ada anak ganteng. Sini masuk Ar" ucap Salsa begitu antusias.
"Dih, sok asik banget sih bu" ucap Nare.
"Diem kamu" ketus Salsa.
Nare langsung berjalan menuju kamarnya sesudah ia menyalimi kedua orang tua nya. Sedangkan Arga?, saat ini Arga sedang duduk di hadapan calon ayah mertua nya.
"Kamu tau kan Nare anak perempuan saya satu-satunya?" ucap Aidan.
"Tau pa."
"Dia juga anak yang paling saya sayangi" ucap Aidan.
Arga hanya mengangguk, jujur ia berharap agar Nare cepat-cepat turun dari kamarnya, situasi seperti ini membuat dia merinding.
"Kalau kamu sakiti hatinya, saya ga akan tinggal diam."
"Kalau kamu bosan atau tidak lagi mencintai dia, kembalikan dia ke saya."
"Saya juga tau kalian tidak saling mencintai" ucap Aidan dengan mata memicing.
"Saya akan berusaha mencintai dia Pa, saya yakin cinta akan ada seiring berjalannya waktu" ucap Arga cepat.
"Kamu yakin tidak akan menyakiti anak saya?" tanya Aidan.
"Saya tidak bisa berjanji pa, tapi saya akan berusaha untuk tidak menyakiti hatinya maupun fisiknya" ucap Arga bersungguh-sungguh.
Aidan mengangguk-anggukkan kepalanya seraya memikirkan ucapan Arga yang terdengar sangat serius dengan suara tegasnya.
"Kalau gitu, kamu saya izinkan menikahi anak saya” ujar Aidan setelah terdiam cukup lama.
Nare yang baru turun dari tangga terkejut mendengar penuturan ayahnya. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyum tipis. Sama halnya dengan Nare, Arga merasakan yang sama seperti Nare. Bernafas lega dan mulai mengembangkan senyumnya sembari mengucap terimakasih kepada Aidan.