"Aku mau nikah"
Uhukk...uhukkk
Ucapan Nare yang begitu tiba-tiba membuat Aidan tersedak saat meminum kopinya sedangkan Salsa membulatkan matanya kaget.
Plak
Pukulan pelan dibahunya di dapati Nare setelah Salsa sadar dari keterkejutannya.
"Sembarangan kamu kalo ngomong, nikah sama siapa hah?!" sentak Salsa.
"Sakit bu" keluh Nare sambil mengusap-usap bahunya yang perih akibat pukulan dari sang Ibu.
"Kamu mau nikah sama siapa Re?" tanya Aidan.
"Sama orang lah" jawab Nare ketus.
"Yang sopan Nare" tekan Salsa.
"Dianya kepo" jawab Nare ketus.
"Yang kamu sebut 'dia' itu ayah kamu!" ucap Salsa sedikit membentak.
Aidan yang mendengar kata 'dia' dari mulut Nare menahan sesak di dadanya.
"Terserah, Nare cuma mau bilang kalau Nare akan nikah secepatnya" ucap Nare yang mulai beranjak dari duduknya hendak menuju kamarnya.
"Papa ga akan izinin kamu nikah secepat ini" ucap Aidan yang membuat Nare menghentikan langkahnya.
"Apa maksud papa?" tanya Nare ketus.
"Papa ga kasih kamu restu" ucap Aidan.
"Aku ga butuh restu papa" tekan Nare sambil menatap tajam ayahnya.
"NARE" bentak Salsa yang sudah mulai lelah dengan sikap keduanya.
Nare yang mendengar bentakkan ibunya hanya diam dengan tangan yang mulai mengepal, ia kembali melanjutkan langkahnya ke kamar.
•••
Setelah kejadian tadi Nare memutuskan untuk membersihkan dirinya dan berdiam diri di kamar.
Tok...tok...tok..
"Masuk" teriak Nare saat mendengar ada yang mengetuk pintu kamar nya.
Ceklek
Pintu terbuka dan menampakkan sang ibu dengan tatapan teduhnya.
"Kenapa bu?" tanya Nare saat melihat Salsa menatap dirinya seperti itu, tidak biasanya, pikirnya.
Salsa mulai menghampiri Nare yang berada di meja riasnya.
"Kamu dipanggil sama ayah, mau ngomong serius katanya" ucap Salsa dengan dengan lembut kepada putrinya dengan tangan yang setia mengelus surai Nare.
"Males ah" ucap Nare santai.
Salsa yang mendengar penolakan putrinya hanya menghela nafas panjang, mencoba bersabar menghadapi sikap keras kepala putrinya.
"Seburuk apapun dia, dia tetap ayah kamu Nare, gak sebaik nya kamu bersikap seperti ini ke dia, kamu katanya mau nikah kan?, masa mau nikah masih musuhan sama ayah sendiri, apa kata suami kamu nantinya, kalau kamu aja gak bisa mengormati ayah kamu, kamu gak akan bisa menghormati suami kamu nantinya nak" ucap Salsa dengan lembut.
"Temui dia ya?, Ayah ada di ruang keluarga" bujuk Salsa dan mulai keluar dari kamar Nare
Sedangkan Nare hanya membisu setelah mendengarkan kalimat panjang yang keluar dari mulut ibunya tadi.
"Nare nya mana bu?" tanya Aidan ketika melihat istrinya turun dari tangga sendirian.
"Nanti dia kesini kok yah" ucap Salsa sambil mendudukkan dirinya disamping sang suami.
"aku ga siap dia nikah secepat ini bu" lirih Aidan
"Gapapa, mungkin ini jalannya dia mas" ucap Salsa menenangkan dengan mengusap lembut lengan suaminya.
Tak...tak...tak...
Suara derap langkah seseorang membuat keduanya mengalihkan perhatiannya. Saat melihat Nare yang turun dari tangga seulas senyum tipis terbit di bibir keduanya.
"Sini sayang" ucap Salsa begitu bahagia melihat anaknya yang mulai ingin berbicara dengan ayahnya.
Akhirnya setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, Nare memutuskan untuk menyusul Salsa ke ruang keluarga dan menemui Aidan.
"Kenapa pa?" tanya Nare dingin kepada Aidan.
"Siapa calonnya?" ucap Aidan dengan mode serius yang membuat Salsa merinding mendengar suara suaminya.
"Papa gak perlu tau" ucap Nare datar
"Papa ini papa kamu Nare!" bentak Aidan.
"Papa sudah berusaha sabar menghadapi sikap kamu selama 3 tahun ini, tapi papa gabisa" lirih Aidan
"Apa gak cukup kamu membenci papa selama itu?" tanya Aidan dengan menatap sendu wajah anaknya.
Sedangkan Nare yang ditatap seperti itu mulai luluh dan merasa iba dengan sang ayah, namun apa boleh buat gengsi dan egonya lebih tinggi.
"Papa ga setuju kamu nikah" ucap Aidan datar dengan menatap anaknya tajam.
"Aku gak peduli" balas Nare tak kalah datar
"Kamu gabisa nikah tanpa papa, karena papa yang akan jadi wali kamu" ucap Aidan dengan senyum meremehkan.
"Bisa pakai wali hakim kan?" ucap Nare yang membuat Aidan terdiam mendengar jawaban Nare.
Plak
Tamparan keras mendarat di pipi Nare setelah Nare melontarkan kalimat tersebut, Salsa lah pelakunya.
"CUKUPP" bentak Salsa yang mulai merasa jengah dengan sikap anaknya.
"CUKUP NARE KAMU KETERLALUAN!" bentak Salsa.
"KAMU EGOIS! KAMU PIKIR DISINI KAMU DOANG YANG MERASA TERSAKITI HA?!"
"Sikap kamu masih kekanak-kanakan, kamu masih egois, yang kaya gini mau nikah?" ucap Salsa meremehkan.
"Kalau kamu tau, ujian pernikahan itu lebih berat dari pada yang kamu alami sekarang. Kalau kamu kaya gini terus mana bisa pernikahan kamu bertahan?" lanjutnya.
"Udah bu, cukup" ucap Aidan yang mulai tak tega melihat wajah Nare yang diam merenungkan semua yang diucapkan oleh ibunya.
"Kamu liat Nare? bahkan setelah apa yang kamu lakukan ke papa kamu dia masih tetap membela kamu" ucap Salsa.
"Sekarang terserah kamu, ibu udah capek. Papa itu ayah kandung kamu! yang akan menjadi wali nikah kamu!" tekan Salsa kepada Nare.
"Dengan kamu bilang kaya tadi secara gak langsung kamu anggap papa kamu udah gaada. Diluar sana banyak yang mau papanya jadi wali di pernikahan nya. Tapi kamu?" ucap Salsa sambil menggelengkan kepalanya pelan, merasa tidak percaya dengan perilaku putrinya.
Setelah mengatakan kalimat panjang lebar berharap Nare akan mendengarkan dan merenungkan apa yang ia lontarkan tadi, Salsa memutuskan untuk kembali ke kamar.
"Pipi kamu merah, papa obatin ya?" tawar Aidan dengan tangan yang mulai terulur mengusap pipi Nare, namun langsung di tepis dengan Nare.
"Papa ambil batu es dulu" pamit Aidan yang mulai berjalan ke dapur.
Setelah 5 menit mengambil es batu dan kain, Aidan kembali ke ruang keluarga. Dapat dilihat Nare sedang terdiam menatap kosong ke depan.
"Papa obatin dulu yaa" ucap Aidan sembari menempelkan kain yang berisi es batu tersebut ke pipi Nare yang memerah.
"Kamu tau Re? papa kangen banget kita bisa berinteraksi kaya gini" ucap Aidan.
"Dulu kamu selalu nangis kalo ada yang luka, selalu mau papa gendong, setiap papa pulang dari kantor pasti kamu udah ada di depan pintu nunggu papa pulang" lanjutnya dengan terkekeh hambar.
"Sekarang kamu udah mau nikah aja" lirih Aidan.
"Papa minta maaf, maaf selalu nuntut kamu ini itu, maaf atas segala kesalahan papa 3 tahun lalu" lanjutnya.
"Papa janj… " belum sempat Aidan melanjutkan kalimatnya, Nare sudah berdiri lebih dulu dari duduknya dan berlalu pergi ke kamarnya.
Sebelum pergi tadi Nare sempat menatap datar ayahnya. Aidan yang di tatap seperti itu oleh anaknta sendiri merasa sesak luar biasa di dadanya. Karena kesalahannya di masa lalu, ia kehilangan sosok anaknya yang dulu ia kenal.
•••
Keesokan paginya Nare bangun lebih pagi daripada biasanya saat sedang bersiap dering handphone mengalihkan perhatian nya, tanpa pikir panjang Nare langsung mengangkat panggilan tersebut
"Halo"
"Kamu ngantor?" tanya Arga di seberang sana
"Kalo saya ga ngantor nanti saya jatuh miskin pak" ucap Nare yang masih setia mencatok rambut nya.
"Saya jemput "
" Tumben"
"Latihan"
"Latihan apa?"
"Jadi suami yang baik"
"Pak Arga sehat kan?" tanya Nare yang merasa aneh dengan sikap bosnya itu
"Wal afiat Alhamdulillah"
"Buruan siap-siap nya saya ga suka nunggu"
Tutt...tut...tutt...
Panggilan diputus sepihak oleh Arga. Sedangkan Nare terdiam heran dengan sikap bosnya. Kemana perginya Arga yang dingin?, pikirnya. Setelah dirasa rapi dan siap untuk bekerja Nare keluar kamar menuju dapur untuk sarapan.
Dapat dilihat ayahnya sedang memperhatikan sang ibu yang sedang memasak untuk sarapan mereka.
"Udah rapi? duduk dulu, dikit lagi ibu selesai masaknya" ucap ibu yang dibalas anggukan kecil oleh Nare.
Akhirnya Nare memutuskan untuk mendudukkan dirinya di bangku samping Aidan. Seketika keheningan menyelimuti mereka. Tidak ada canda tawa lagi seperti dulu, tidak ada yang bawel dan merengek karena digoda oleh ayahnya.
"Kamu berangkat sama siapa? mobil kamu ayah liat gak ada di garasi" ucap Aidan memulai pembicaraan
"Sama… “
Ting nong
Suara bel memotong perkataan yang akan dilontarkan oleh Nare. Karena penasaran siapa yang datang, Nare bergegas menuju pintu utama.
"Loh pak Arga?"
"Kamu udah siap?"
"Bapak kok cepet banget?"
"Loh emang kenapa? kamu belum siap atau gimana?"
"B-bukan gitu, saya udah siap tapi belum sarapan"
"Yauda sana sarapan saya tunggu"
"Siapa Re?" teriak ibu dari dalam.
"Suruh masuk aja tamunyaa" lanjut ibu kembali berteriak.
"Ayo masuk dulu pak, sekalian sarapan" ajak Nare.
"Ngga usah gak pa-pa, saya tunggu disini" tolak Arga karena masih merasa belum siap untuk bertemu kedua orang tua Nare.
"Gak pa-pa atuh, sekalian pendekatan sama calon mertua" ledek Nare sambil menaik turunkan alisnya. Yang dibalas sentilan kecil di keningnya
"Akh sakit" keluh Nare.
"Lebay" jawab Arga singkat dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah Nare.
Kedatangan Arga ke meja makan membuat Salsa berteriak heboh. Sedangkan Aidan menatap Arga dengan tatapan mengintimidasi.
"Aduuh kasep pisan, siapa ini, Re?" tanya Salsa heboh.
"Bos Nare ma" jawab Nare dengan malas.
"Duduk pak" ucap Nare mempersilahkan Arga untuk bergabung sarapan bersama
"Ayo atuh sarapan dulu, bareng-bareng biar enak" ucap Salsa yang dibalas anggukan serta senyuman tipis oleh Arga.
"Kamu kok ga bilang punya bos ganteng, Re" ucap Salsa dengan berbisik yang berada di samping Nare.
"Makan bu, diem" ucap Nare berbisik merasa jengah dengan sikap heboh ibunya.
Salsa yang mendengar ucapan Nare menyebikkan bibirnya kesal.
"Pa, Bu Nare berangkat yaa" pamit Nare ketika sudah selesai sarapan, begitupun dengab Arga.
"Bareng berangkatnya?" tanya Aidan.
"Iya" balas Nare dan mulai mencium tangan keduanya yang diikuti oleh Arga.
"Assalamualaikum" pamit keduanya.
"Wa alaikumsalam"
"Hati-hati" teriak Salsa dengan melambaikan tangannya.
Setelah mobil Arga tak terlihat, keduanya hanya diam, hingga Salsa membuka suara.
"Cocok yaa mereka pa?" tanya Salsa dengan mata berbinar membayangkan jika Arga jadi menantunya.
"Hmm, udah ah aku juga mau berangkat ke kantor" ucap Aidan mengalihkan pembicaraan.
"Yaudah sana berangkat" ucap Salsa yang dibalas tatapan tajam oleh suaminya.
"Ngusir?" tanya Aidan sinis.
"Loh engga, tadi kan katanya mau ke ke kantor dari pada telat kan mending kamu cepetan jalannya" ucap Salsa dengan senyuman terpaksa.
Aidan yang mendengar itu menyebikkan bibirnya kesal sambil mengulurkan tangannya menyuruh salim dan langsung diterima dengan baik oleh Salsa.
"Assalamualaikum" pamit Aidan.
"Wa alaikumsalam hati-hati"
Setelah mobil Aidan tak terlihat dari pandangannya, Salsa langsung masuk ke dalam rumah dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
•••
"Mama gimana keadaan nya pak?" tanya Nare ditengah-tengah keheningan di dalam mobil.
"Tadi sehabis saya antar kamu pulang, ga lama mama sadar, dan Alhamdulillah udah mulai mendingan" ucap Arga yang masih fokus menyetir.
"Alhamdulilah kalo gitu, nanti saya gabisa kesana dulu ya pak, tolong sampaikan ke mama" ucap Nare.
"Iyaa gapapa nanti saya sampaikan"
Setelah 30 menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di kantor. Keduanya turun dari mobil berbarengan yang membuat karyawan yang melihat menatap terheran-heran kepada keduanya. Bisikan-bisikan mulai terdengar, yang membuat Nare sedikit tidak nyaman. Arga yang menyadari jika Nare tidak nyaman langsung menatap pegawai nya tajam.
"Kerja. Jangan gosip" tekan Arga kepada pegawai nya, dan jangan lupakan tatapan mautnya.
"Iyaa pak" jawab mereka yang langsung berpura-pura mengalihkan perhatian nya kepada berkas-berkas yang berada disana.
Nare yang melihat itu diam-diam tersenyum puas karena merasa terlindungi.
Mampus lo pada umpat Nare dalam hatinya.
Sedangkan Yani menatap Nare tajam sambil berbicara Lo hutang penjelasan sama gue tanpa suara yang membuat Nare menelan ludahnya susah payah.
"Saya langsung kerja ya pak" ucap Nare yang dibalas anggukan singkat oleh Arga.
•••
Jam makan siang pun tiba, hal ini membuat Nare meregangkan otot-otot nya sambil menghela nafas lega, akhirnya batinnya.
"NARE" pekikkan milik Yani membuat Nare menoleh dengan memutar kedua bola matanya.
"Apa?" jawab Nare malas.
"Lo hutang penjelasan ajg" umpat Yani.
"Penjelasan apa si yan?" tanya Nare jengah dengan Yani yang selalu kepo tingkat dewa.
"Kok lo bisa bareng pak Arga?" tanya Yani sinis.
"Y-ya karena kita ada urusan" ucap Nare terbata karena gugup.
"Urusan apaan pagi-pagi kaya tadi?" tanya Yani dengan tatapan tidak percaya.
"Y-ya adalah urusan. Udah deh ayo cari makan" ucap Nare mencoba mengalihkan pembicaraan.
Sedangkan Yani masih menatap Nare dengan tatapan sinisnya seolah masih belum puas dengan penjelasan yang Nare ucapkan tadi.
Makan siang berlalu, kini Nare kembali disibukkan dengan pekerjaan nya yang lumayan banyak.
Kring...kring...kring
Bunyi telepon kantor di meja nya membuat Nare menghentikan tangannya yang sedang membolak-balikkan berkas.
"Selamat siang dari PT. Zafran’s Group" ucap Nare
"Keruang saya sekarang" ucap seseorang di seberang sana.
Tanpa diberitahu Nare sudah sangat hafal dengan suara seseorang tersebut, siapa lagi kalau bukan bos killer nya.
Tut...tut..tut...
Belum sempat mengiyakan perkataan bosnya telepon lebih dulu ditutup sepihak oleh Arga. Hal itu membuat Nare menggeram kesal.
Belom jadi suami aja udah songong, gimana kalau jadi beneran nanti, batin Nare
Dengan menghela nafas lelah, akhirnya Nare beranjak dari duduknya dan mulai melangkah menuju ruangan bos nya.
Tok...tok...tok
"Masuk" teriak Arga dari dalam sana.
"Permisi pak" ucap Nare setelah diperbolehkan masuk oleh Arga.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Nare dengan sopan.
"Duduk" titah Arga dengan mata melirik kursi di depannya.
"Ada apa ya pak? saya ada bikin salah?" ucap Nare yang mulai mendudukkan dirinya di kursi yang ditunjuk Arga tadi.
"Kapan saya bisa kerumah kamu?" tanya Arga.
"Kerumah saya? ngapain?" heran Nare.
"Ngelamar" ucap Arga singkat, padat, dan, jelas.
Mendengar ucapan Arga barusan membuat Nare merasa tersengat di jantungnya. Dengan berdehem pelan untuk menutupi rasa gugupnya akhirnya Nare membuka suara.
"Emm saya gatau pak" ucap Nare pelan
"Kenapa gak tau hm?"
Mampus damage nya ga maen-maen bos, batin Nare
"Saya belum bicarain ini dengan ibu dan ayah saya" ucap Nare berbohong, mana mungkin ia bilang bahwa ayahnya tidak setuju dirinya akan menikah.
"Bicarakan dengan keluarga kamu secepatnya, sebelum mama saya pulang dari rumah sakit" ucap Arga dengan suara beratnya.
"Baik pak"
"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya permisi" pamit Nare.
"Hmm silahkan."
Setelah dipersilahkan oleh Arga, Nare segera keluar dari ruangan tersebut sambil memikirkan bagaimana caranya ia akan membicarakan dengan kedua orang tuanya, terlebih kepada ayahnya yang sangat menentang dirinya untuk menikah di usia nya sekarang ini.
•••
"Kamu bener gamau ikut saya ke Rumah Sakit?" tanya Arga saat melewati meja Nare tepat saat jam pulang kantor.
Nare yang awalnya fokus membereskan meja nya langsung mendongak ketika ada suara seseorang.
"Iyaa pak, besok aja saya kesana nya. Salam buat mama yaa pak" jawab Nare.
Arga yang mendengar jawaban Nare hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedikit terbesit rasa kecewa ketika Nare tidak ikut bersama nya.
"Bapak ngapain masih disini? katanya mau ke rumah sakit" heran Nare ketika masih mendapati bos nya berdiri di samping meja kerjanya.
Arga yang mendengar suara Nare terpelonjak kaget. Namun tetap berusaha menormalkan keadaannya stay cool.
"Saya nunggu kamu" ucap Arga singkat.
Nare menganggukkan kepalanya "Saya udahan kok, ayo."
Arga berjalan mendahului Nare. Sedangkan Nare berusaha menyamakan langkahnya dengab Arga, bukannya memelankan langkahnya Arga malah sengaja mempercepat langkahnya mengerjai Nare.
"Ih pak tungguin saya" teriak Nare kesal karena tidak bisa menyamakan langkahnya dengan Arga.
Arga yang mendengar teriakkan Nare tertawa terbahak-bahak hingga matanya meyipit.
Nare yang melihat itu dibuat terpana, untuk pertama kalinya ia melihat bos dingin nya tertawa hingga seperti itu.
"Ekhem" Arga berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Sedangkan Nare berusaha untuk menahan tawanya karena melihat wajah Arga yang menurutnya lucu saat gugup. Moment yang langka, batin Nare
"Saya kira bapak ga bisa ketawa loh" ucap Nare sambil tersenyum geli.
"Diam kamu" ketus Arga yang justru membuat Nare tertawa kecil.
Tak terasa mereka sudah sampai di parkiran. Sedikit kecewa merasa waktu yang mereka lalui begitu cepat.
"Saya ke mobil saya pak" ucap Nare yang diangguki oleh Arga
"Bapak hati-hati"
"Kamu juga"
Akhirnya mereka berpisah menuju mobilnya masing-masing dengan tujuan yang berbeda.