Flashback on
Sore itu gadis berseragam putih abu-abu berjalan memasuki rumah dengan lesu, perut lapar, serta nilai ulangan yang menurun membuatnya tidak bersemangat.
"Nare pulang"
Salsa yang mendengar suara anaknya pun lari tergesa-gesa dari arah dapur bersiap menyambut anaknya.
"Anak ibu udah pulang, gimana sekolahnya?" sambut Salsa
"bad" jawab Nare singkat
"Gapapa kalo sekarang kamu gagal, jadiin pelajaran, besok jangan sampai gagal lagi" ucap Salsa lembut sambil mengelus kepala anaknya.
"Papa mana ma?" tanya Nare
"Dikamar, sana samperin gih"
Nare menganggukkan kepalanya dan mulai menuju ke kamar orang tuanya untuk menemui sang ayah.
Sesampainya dikamar orang tuanya Nare tidak melihat tanda-tanda kemunculan ayahnya, hanya ada percikan air yang berarti sang ayah sedang dikamar mandi.
Pandangan Nare beralih ke meja diatas nakas samping tempat tidur orang tuanya.
Unknown
Mas, kapan kamu kesini?
Aku kangen
Pesan dari nomor tak dikenal dengan tidak diberi nama muncul di layar handphone ayahnya.
Dengan menahan sesak didadanya Nare membuka pesan tersebut dan terus mengscroll hingga ke pesan sebelumnya.
Kamu lagi apa mas?
Kok ga kesini?
Istriku nanti curiga
Aku kangen
Iyaa sabar yaa.
Dan masih banyak lagi. Jika dihitung dari awal mereka bertukar pesan, sudah sebulan lebih 1 minggu mereka bertukar pesan. Merasa muak, Nare keluar dari kamar orang tuanya dan tak lupa membawa ponsel sang Ayah.
•••
"Udah ketemu ayah, Re?" tanya sang ibu.
"Lagi mandi" jawab Nare sambil menatap manik mata ibunya.
Ibu kuat banget batin Nare.
"Anak ayah udah pulang, gimana sekolahnya?" tanya Aidan yang baru turun dari tangga.
Nare yang ditanya sang ayah hanya diam sambil menatap ayahnya penuh kekecewaan.
"Oh iya handphone ayah mana ya bu?" tanya Aidan kepada istrinya
Brakk
Belum sempat Salsa menjawab pertanyaan suaminya Nare lebih dulu melempar handphone sang ayah yang masih menyala menampilkan roomchat sang ayah dengan selingkuhannya.
"Tuh, tadi ada chat dari SELINGKUHAN ayah" jawab Nare sengaja menekankan kata selingkuhan.
Salsa yang tidak percaya dengan omongan putrinya segera meraih handphone Aidan.
Betapa terkejutnya ia setelah mengetahui perbuatan bejad suaminya.
Plakk
Nare melayangkan tamparan keras kepada sang ayah.
"NARE" bentak Ibu merasa tak percaya dengan sikap putrinya
"APA?!" teriak Nare
"APA GA CUKUP PA?! PAPA SIKSA AKU SELAMA INI BUAT BELAJAR, BUAT JADI YANG TERBAIK, NUNTUT AKU SUPAYA MAU NGIKUTIN MAU PAPA HA?!" teriak Nare
"APA HARUS SAKITIN IBU JUGA?!" teriak Nare
"Nare ini salah paham" ujar Aidan
"Salah paham? udah ada bukti pa, tinggal tunggu aja ada perempuan nangis-nangis dateng kesini karena hamil anak papa" ujar Nare dengan tatapan meremehkan
"NARE JAGA YA MULUT KAMU" Bentak Aidan kepada putrinya
"BUAT APA?!" tanya Nare berteriak dengan air mata yang mulai membasahi pipi chubby nya
"Buat apa aku jaga mulut sama orang yang gabisa jaga hati?" lirih Nare
"Aku kecewa sama papa" lanjutnya sambil berlari meninggalkan rumah entah kemana.
Setelah kejadian itu Aidan dan Salsa memutuskan untuk memulai lembaran baru di Malang, terkadang ke Jakarta untuk menjenguk Nare. Alasan Nare tidak ikut bersama kedua orang tua nya adalah tidak ingin satu rumah dengan tukang selingkuh katanya.
Flashback off
Dan disinilah Nare sekarang di sebuah taman kota di pagi hari yang masih tampak sepi. Memutar kembali memori masa lalu yang terkadang hal yang menyenangkan, tapi juga menyakitkan.
Drtt...drtt..
Suara dering telepon membuat Nare tersadar dari lamunannya. Nare mulai melihat handphone digenggamannya yang tertera nama bosnya dilayar tersebut.
"Halo"
"Kamu dimana?"
"Ditaman"
"Gak ngantor?"
"Saya ambil cuti sehari dulu yaa pak"
"Enggak"
"Saya ga bawa mobil pak, kalo kesana naek ojek online atau taksi, abis uang gajian saya"
"Saya jemput"
"Tap-"
Tut..tut
Belum selesai Nare berbicara telepon sudah dimatikan sepihak oleh Arga
"Dih ngeselin dimatiin" gumam Nare kesal
Nare kembali duduk termenung dengan mata menjelajahi sekitar taman yang sepi, hingga matanya berhenti di satu titik dimana mobil seseorang yang dikenalnya.
Tak lama seseorang itu menghampiri Nare dengan badan tegap dibaluti dengan jas formalnya.
"Gak sopan kamu nyuruh saya" ucap seseorang itu sinis kepada Nare.
"Saya ga minta ya pak!" ucap Nare ngegas.
"Ayo" ajak Arga
"Kemana?"
"Kantor" jawab Arga singkat
"Ck, kerja terus kerja terus, tipes gue lama-lama" gerutu Nare yang masih dapat didengar oleh Arga
"Berisik" ucap Arga
Nare yang mendengar itu hanya mendengus kesal.
•••
Siang ini Nare disibukkan dengan pekerjaan kantor nya saat sedang fokus tiba-tiba Arga berdiri di depan nya dengan tatapan penuh kecemasannya.
"Ayo ikut saya" ucap Arga tiba-tiba
"Kemana pak?!" tanya Nare panik melihat Arga berjalan tergesa-gesa sambil mencekal tangannya.
"Ke Rumah Sakit, Mama drop lagi" ucap Arga
Setelah Sampai di parkiran mereka berdua memasuki mobil milik Arga, Arga langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ya Allah lindungi hamba ya Allah, hamba belom mau mati muda belom dapet anak tunggal kaya raya ya Allah. Batin Nare
•••
Setelah sampai di Rumah Sakit mereka langsung berlari ke ruangan Mama Wina. Terlihat ada dokter dan para perawat yang menangani Mama Wina.
Arga yang melihat mamanya berjuang didalam sana hanya bisa menundukkan kepala nya. Nare yang melihat Arga begitu rapuh berinisiatif untuk memeluk Arga.
Arga awalnya terkejut dengan perlakuan Nare, namun setelahnya ia menerima pelukan Nare. Harum nya rambut Nare membuatnya tenang dan nyaman berada di pelukan Nare.
"Mama sha" lirih Arga diceruk leher Nare
"Iyaa kita berdoa semoga mama baik-baik aja yaa pak" ucap Nare sembari mengusap-usap punggung Arga.
Ceklek
Suara pintu terbuka membuat mereka melepaskan pelukannya.
"Dok, gimana keadaan mama saya dok?" tanya Arga begitu melihat dokter keluar dari ruangan mamanya.
"Maaf jika boleh tau, kamu yang namanya Arga?" tanya dokter
"Iyaa saya Arga dok"
"Tadi bu Wina sempat memanggil nama anda, jadi lebih baik anda masuk sekarang, temui mama anda" ucap Dokter tersebut
"Baik dok, sha saya kedalem dulu yaa" pamit Arga kepada Nare dan langsung melangkahkan kakinya ke dalam ruangan Mama Wina.
"Iyaa pak"
"Kalau begitu saya juga permisi" pamit Dokter tersebut kepada Nare.
•••
"Ma" ucap Arga ketika melihat mamanya menatap ke arahnya sambil melambaikan tangannya menyuruh nya untuk mendekat.
"Iyaa ma ini Arga, kenapa ma?" ucap Arga yang langsung menggenggam tangan sang mama
"Kamu udah fikirkan apa yang mana bilang semalam?" tanya Mama Wina yang membuat Arga terdiam.
Flashback on
Setelah mengantar Nare ke rumahnya dengan selamat, Arga memutuskan untuk kembali ke Rumah Sakit.
"Assalamualaikum" ucap Arga ketika sampai diruang rawat mamanya
"Wa alaikumsalam, kamu antar Nare sampai rumah kan Ar?" tanya Mama Wina penuh selidik
"Iyaa ma, ga percayaan banget sama anak sendiri" sinis Arga kepada Mama Wina
"Sini kamu duduk samping mama, mama mau ngomong serius sama kamu" ucap Mama Wina kepada anak semata wayangnya.
Arga yang sudah nyaman duduk di sofa yang berada di ruangan mamanya berdecak kesal sambil berjalan menghampiri brankar sang mama.
"Mau ngomong apa ma" ucap Arga malas
"Kamu kapan nikah Ar?" tanya Mama Wina
"Kapan-kapan" jawab Arga malas yang dihadiahi tarikan ditelinganya oleh Mama Wina
"Kamu ini, kalo ditanya orang tua tuh jawab yang serius!" omel Mama Wina yang masih setia menarik telinga anaknya.
"Aduh iyaa ma ampun, ini lepas dulu ma sakit" ucap Arga
Mama Wina yang mendengar ucapan Arga langsung melepaskan tarikannya dengan mencebikkan bibirnya.
"Makanya kamu tuh kalo dibilangin nurut" ketus Mama Wina
"Iyaa ma, maaf" ucap Arga yang masih mengusap telinganya
"Kalo mama minta kamu nikah sama Nare, kamu mau Ar?" tanya Mama Wina
Arga yang mendengar pertanyaan mamanya membulatkan matanya kaget.
"Mama apaansih, Nare sekretaris Arga" ucap Arga kesal
"Loh kenapa emang? kalian serasi kok, lagian mana ada Ar kalo cuman sekedar sekretaris sampai kamu bawa kesini ketemu mama" ucap Mama Wina
"Yaa kan i-tu a-anu" ucap Arga gugup
"Ona anu ona anu, udah deh ngaku aja kamu" ketus Mama Wina
"Apasih ma" ucap Arga salting
"Mama udah tua Ar, mama juga sakit, mama cuman mau liat kamu nikah, kamu ngertiin dong Ar" ucap Mama Wina dengan mata berkaca-kaca
"Sekarang yang mama percaya buat kamu cuma Nare Ar, kamu mau ya nikah sama dia?" lanjutnya dengan tatapan memohon
"Nanti Arga pikirin lagi yaa ma, mama sekarang istirahat, Arta tidur di sofa" ucap Arga sambil menyelimuti Mamanya
Sepanjang malam yang dilakukan Arga hanya memikirkan ucapan Mamanya, hingga akhirnya ia beranjak dari duduknya dan mulai melaksanakan sholat istikharah di masjid Rumah Sakit. Berharap ada petunjuk dari Allah SWT.
Flashback off
"Udah ma, udah Arga pikirin" jawab Arga yang masih setia menggenggam tangan Mamanya.
"Apa jawaban kamu Arga?"
"Arga akan nikahin Nare ma, setelah mama keluar dari Rumah Sakit" ucap Arga yakin dengan keputusan nya.
"Iyaa lusa mama keluar dari rumah sakit" ucap Mama Wina dengan mata berbinar
"Iyaa makanyaa mama cepat sembuh yaa ma" ucap Arga dengan mata berkaca-kaca.
Ceklek
Tak lama suster datang menghampiri Arga.
"Maaf mengganggu waktunya, tapi Pak Arga harus menemui Dokter Andra (Dokter yang menangani Mama Wina) sekarang diruangannya" ucap Suster sambil tersenyum simpul
"Baik dok"
"Ma Arga ke ruangan dokter dulu ya, didepan ada Naresha nanti Arga suruh dia masuk" ucap Arga
"Iyaa"
•••
Sedari tadi Nare duduk dengan cemas di bangku depan ruangan Mama Wina.
Ceklek
Mendengar suara pintu terbuka Nare langsung bangkit dari duduknya
"Gimana keadaan mama pak?" tanya Nare dengan cemas
"Mama udah sadar, kamu masuk temani mama dulu ya, saya mau ke ruangan dokter" jawab Arga
"Iyaa pak"
Setelah Arga pergi ke ruangan Dokter Andra, Nare langsung masuk ke ruangan Mama Wina.
"Assalamualaikum"
"Wa alaikumsalam, Nare sini sayang" sambut Mama Wina dengan senyuman manisnya
"Mama gimana keadaannya? apa yang sakit?" tanya Nare khawatir
"Mama baik-baik aja Nare, kamu kalo kaya gini jadi mirip menantu beneran" goda Mama Wina
"Ah mama bisa aja"
Mama Wina terkekeh melihat tingkah Nare yang membuatnya gemas
"Ma, kalau boleh tau ayah nya pak Arga kemana yaa?" tanya Nare pelan
"Ayah nya Arga sudah meninggal sejak Arga kuliah" ucap Mama Wina dengan tersenyum getir
"Mama maaf, Nare ngga tau" ucap Nare merasa bersalah
"Gapapa, wajar kalau kamu mau tau" ucap Mama Wina sambil mengusap kepala Nare
"Kamu anak tunggal ya Re?" tanya Mama Wina
"Enggak, aku punya kakak cowok tapi dia gak di Indonesia. Di New York sama istrinya"
"Oalaah, pantesan yaa kamu sendirian di sini" ucap Wina
Nare menyengir lucu. "Hehe iyaa"
"Ma , aku mau tanya boleh?" tanya Nare berhati-hati.
"Boleh atuh, kamu mau tanya apa sayang?" tanya Wina
"Nama ayahnya pak Arga pak Gara yaa Ma?"
Wina mengangguk seraya tersenyum. "Iyaa"
"Kamu sudah ada jawaban buat yang kemarin mama minta Re?" tanya Mama Wina
"Sudah Ma" jawab Nare
"Nare mau ma" lanjutnya
"Kamu… serius?" tanya Mama Wina ragu
"Nare serius ma" ucap Nare dengan mengangguk yakin
"Alhamdulilah Ya Allah" ucap Mama Wina
"Mama mau kalian menikah secepatnya ya Re, biar mama bisa liat kalian nikah"
"Iyaa ma" ucap Nare dengan mata berkaca-kaca
"Makanya mama cepat sembuh ya, Nare sedih kalau mama sakit" lanjutnya
"Iya mama pasti sembuh"
Ceklek
"Ma, Sha" ucap Arga ketika memasuki kamar mamanya
"Mama harus secepatnya dioperasi" ucap Arga
"Mama mau ya dioperasi, biar mama cepat sembuh, katanya mau lihat Nare nikah" bujuk Nare
"Iyaa mama mau" ucap Mama Wina sambil tersenyum manis
"Kita operasi sekarang yaa ma?" tanya Arga yang dibalas anggukan oleh Mama Wina
Setelah melihat mamanya mengangguk Arga segera menemui dokter untuk segera melakukan operasi.
•••
Setelah memutuskan untuk operasi, saat ini Mama Wina sedang dibawa ke ruang operasi. Nare ikut mengantar bersama Arga, sedari tadi Nare tak berhenti menyemangati Mama Wina.
"Semangat mama" ucap Nare pelan setelah sampai di depan ruang operasi
Sudah 3 jam Nare dan Arga duduk di depan ruang operasi menunggu Mama Wina dengan penuh kecanggungan, tidak ada yang memulai obrolan diantara keduanya.
Ceklek
Dokter Andra keluar, pertanda operasi telah selesai.
"Dok, gimana dok, operasi mama saya lancar kan?" tanya Arga cemas
"Alhamdulilah operasi berjalan lancar, sekarang ibu Wina sudah boleh dipindahkan ke ruang inap" ucap Dokter Andra
Arga dan Nare yang mendengar ucapan Dokter Andra menghela nafas lega.
"Terimakasih dokter" ucap keduanya
"Sama-sama"
Tak lama kemudian para perawat datang mendorong brankar Mama Wina yang hendak dipindahkan ke ruang pemulihan.
•••
Setelah Mama Wina dipindahkan, di sinilah Nare sekarang. Karena belum di perbolehkan untuk masuk oleh dokter, Nare duduk di bangku yang telah disediakan di depan ruangan Mama Wina. Sedangkan Arga sudah pergi entah kemana sejak 30 menit yang lalu tanpa berpamitan kepada Nare. Dan Nare yang sudah lelah mulai memejamkan matanya, Namun gagal karena ada seseorang berdiri tepat di depannya.
"Makan dulu" ucap Arga yang tiba-tiba berdiri di depan Nare sambil menyodorkan nasi bungkus.
"Iyaa, bapak ga makan?" ucap Nare
"Saya nanti"
"Ini nasi nya kebanyakan, gimana kalau kita makan berdua saya ga bakal habis pak" ucap Nare
Arga yang mendengar ucapan Nare awalnya mengernyit heran, namun setelahnya tetap membenarkan ucapan Nare.
"Sendoknya cuma satu, Sha" ucap Arga.
"Yaudah satu berdua juga sendoknya" ucap Nare santai.
"Maksud kamu?" tanya Arga heran.
"Ya, saya suap terus nanti bapak suap, kaya gitu" ucap Nare menjelaskan
"Kelamaan, sini kamu saya suapin" ucap Arga final
"Bapak... serius?" tanya Nare ragu yang dibalas anggukan oleh Arga
"Buruan buka mulut" ucap Arga yang sudah siap menyuapi Nare.
Dan akhirnya mereka makan dengan khidmat dengan Arga yang setia menyuapi Nare.
•••
"Kamu gak pulang?" tanya Arga setelah mereka selesai makan
"Jam berapa sekarang?" ucap Nare
"Sudah jam enam , sebentar lagi Maghrib" jawab Arga
"Saya sholat dulu deh pak" ucap Nare yang mulai beranjak dari duduknya menuju ke Musholla
"Bareng" ucap Arga yang mulai menyamakan langkah Nare
"Habis sholat kamu pulang?" tanya Arga
"Gatau, saya males pulang" jawab Nare
"Kalau mau pulang bilang, saya antar" ucap Arga
"OHH IYA MOBIL SAYA MASIH DI KANTOR PAK" pekik Nare
"Jangan teriak-teriak Naresha" sinis Arga
"Iyaa maaf, terus gimana dong pak?" tanya Nare berbisik
"Gak usah bisik-bisik juga" ucap Arga sambil menarik hidung Nare
"Akh sakit" ucap Nare sebal
Arga yang mendengar itu terkekeh geli melihat Nare kesal membuatnya gemas sampai ingin dibungkus bawa pulang.
•••
Setelah melaksanakan sholat maghrib mereka kembali ke ruangan Mama Wina kembali duduk di depan ruangan dengan diam tak ada yang berniat membuka suara lebih dulu.
"Kamu sudah tau permintaan mama saya kan Sha?" tanya Arga yang akhirnya membuka suata di antara keduanya.
"Emm... sudah pak" jawab Nare gugup
"Gimana jawaban kamu?" tanya Arga
"Saya menerima nya pak" jawab Nare
"Saya hanya ingin menikah satu kali seumur hidup Sha" lirih Arga
"Kalau kamu merasa terpaksa sebaiknya tidak perlu dilakukan Sha" lanjutnya
"Saya gak terpaksa pak" ucap Nare tegas
"Soal perasaan, saya ga pernah main-main pak meskipun kita memang ga saling mencintai, saya percaya kalau cinta bisa datang karena terbiasa" lanjutnya
"Mama minta kita menikah secepatnya Sha, apa kamu siap untuk itu?" tanya Arga
"Siap gak siap saya harus siap" ucap Nare tegas
"Saya menerima bapak untuk jadi suami saya bukan asal menerima pak, semalam saya istikharah dan saya rasa ini jawaban dari Allah untuk saya" lanjutnya
Mama saya ga salah pilih kamu, Sha Batin Arga.
"Ayo saya antar pulang" ucap Arga.
"Baru jam delapan, nanti aja " ucap Nare .
"Perjalanan dari sini ke rumah kamu lumayan Sha, belum macetnya" ucap Arga.
"Yaudah ayo, tapi saya belum pamitan sama Mama."
"Mama belum sadar, nanti saya aja yang salamin" ucap Arga.
"Nanti mama sendirian dong pak?" tanya Nare.
"Enggak, nanti ada adiknya mama yang datang kesini temani mama" jawab Arga.
"Yaudah ayo pulang" ucap Nare berjalan mendahului Arga.
Arga langsung menyamakan langkahnya sambil menggenggam tangan Nare.
Nare yang mendapat perlakuan tersebut terkejut bukan main, jantungnya mulai berdetak kencang karena perlakuan Arga.
•••
"Kamu tinggal di rumah sendiri?" tanya Arga ketika mobil nya berada di tengah kemacetan.
"Tadi nya iya, tapi ibu sama papa saya balik ke Jakarta kemarin" jawab Nare
Arga yang mendengar jawaban Nare hanya mengangguk-anggukkan kepala nya.
"Macet banget yaa pak" ucap Nare yang mulai jenuh
"Kan saya udah bilang Sha"
Karena lelah dan mulai mengantuk Nare memutuskan memejamkan matanya.
Setelah 30 menit menempuh perjalanan akhirnya mobil Arga berhenti di depan rumah milik Nare. Arga menoleh ke samping berniat untuk memberitahu Nare, namun tanpa sengaja ia malah memperhatikan wajah Nare dengan lekat. Ditatapnya sangat lama wajah indah milik Nare.
"Naresha" ucap Arga yang mulai membangunkan Nare setelah puas menatap wajahnya.
"Sha" ucap Arga mulai mengguncangkan bahu Nare pelan.
"Emm" gumam Nare yang mulai membuka matanya.
"Bangun, udah sampai" ucap Arga sambil tersenyum merasa lucu melihat wajah Nare.
"Udah sampe ternyata" ucap Nare setengah sadar sambil mengucek matanya.
"Jangan di kucek, perih nanti" ucap Arga yang mulai menjauhkan tangan Nare.
"Udah sana, nanti kamu dimarahin ibu kamu" suruh Arga.
"Emang saya anak kecil" ucap Nare kesal dan langsung keluar dari mobil Arga.
Arga yang melihat Nare merajuk terkekeh pelan yang membuat Nare semakin kesal dengan kelakuan bos sekaligus calon suami nya itu.
"Saya masuk ya pak, bapak gak mau ikut masuk juga ketemu calon mertua?" tanya Nare sambil menaik turunkan alisnya menggoda Arga.
"Besok saya kesini lagi" ucap Arga.
"Yaudah sana buruan pergi kasian mama sendirian" ucap Nare.
"Ngusir?" sindirArga.
"Iyaa udah sana ah" ketus Nare.
Arga langsung melajukan mobilnya tak lupa membunyikan klakson pertanda pamit pergi.
Setelah melihat mobil Arga menjauh Nare langsung masuk ke dalam rumah.
•••
"Assalamualaikum" salam Nare ketika memasuki rumah.
"Wa alaikumsalam" jawab Ibu dan Papa yang sedang menonton TV.
Nare langsung menghampiri dan mencium tangan kedua orang tuanya.
"Kamu kok baru pulang? ini sudah malam loh Re, lembur?" tanya Aidan. Namun, Nare tetap diam seolah tak mendengarnya.
"Re, kalau ditanya orang tua dijawab" sinis ibu kepada Nare
"Lembur" ucap Nare berbohong
Nare yang tadinya berniat ke kamarnya, seketika berhenti dan kembali ke ruang keluarga untuk membicarakan tentang dirinya dan Arga.
"Aku mau nikah"