Pagi pagi sekali sudah ada keributan di rumah kediaman dua remaja laki laki yang sangat tampan itu, sepertinya sudah seperti rutinitas pagi hari.
"Kak, lama banget sih!" Gerutu anak laki laki itu yang sudah tak sabar menunggu kakaknya keluar dari kamar mandi.
SAMUDRA BUMI RADISTA
"Sabar dek, bentar lagi, sana duluan aja makan nya, nanti kakak pasti nyusul, ya kali kakak ga nyusul, dasar" Ledek seorang pemuda yang ada di dalam kamar mandi itu, tak tahan dengan tekanan yang terus di ocehkan oleh adik kesayangan nya itu .
GALAKSI VANOZ RADISTA
"Bacot." Timbal samudra yang tidak mau kalah omong dengan kakaknya.
Akhirnya samudra turun kebawah untuk sarapan lebih dulu.
Samudra kembali melamunkan masa masa kecil yang hangat dengan kasih sayang kedua orang tua.
Berbeda dengan kehidupan yang sekarang, hanya sepi tanpa rasa.
Lamunan samudra buyar saat pundaknya di tepuk oleh orang yang sudah pasti ia sangat mengenalnya.
Galaksi yang sejak awal memang sudah mengerti apa yang sedang adiknya lamunkan, namun tetap saja ada rasa khawatir yang tertanam pada dirinya.
Puk, Galaksi menepuk pundak adiknya pelan
"Oy dek, diem diem bae, makan noh nasinya, ntar keburu dingin trus ga dimakan jadi mubadzir."
"Gausah ngagetin bisa ga?" Dengan nada dingin khas nya.
Samudra memang sensitif dengan apa pun yang mengganggunya saat dia sedang melamun, semuanya mengagetkan dan Galaksi memang sudah tahu betul dengan itu.
"Iya maaf, yodah makan noh."
Yang hanya dibalas oleh sang adik, Galaksi hanya bisa geleng-geleng dengan tingkah adiknya itu.
Memang sejak awal mereka tinggal hanya berdua, samudra sikap sangat jauh beda dengan samudra yang dulu.
Dulu samudra sangat manja sekali, dan sekarang menjadi keterbalikan yang sangat sulit di ubah, sekalipun kakak nya sendiri.
Kurang lebih 10 menit mereka menikmati sarapan, seperti biasanya, suasana nya sepi, tanpa ada yang membuka suara sedikitpun.
Mereka bersiap pergi ke sekolah, tentunya sekolah mereka sama, karna samudra dan Galaksi hanya beda satu tahun.
Kini, Samudra kelas 11, sedangkan kakak nya, Galaksi dia sudah kelas 12.
Mereka menyalimi bi inah, yang samudra anggap bahwa bi inah lebih baik daripada bunda nya sendiri.
"Bi, kita berangkat dulu ya." Galaksi yang lebih dulu menyalimi tangan wanita itu dan di ikuti oleh adik nya.
Samudra hanya tersenyum tipis, tipis sekali kepada wanita paruh baya yang sangat disayanginya itu.
"Assalamu'alaikum" Ucap Galaksi dan Samudra bersamaan.
"Iya, waalaikumsalam, hati hati ya, belajar yang pinter pinter, Kakaknya jagain ya adek nya" Jawab bibi inah.
Mereka berangkat menggunakan mobil dengan Galaksi yang menyetir.
Ya, Samudra masih belum diizinkan oleh Galaksi untuk bisa menyetir sendiri ke sekolah, karna ada satu perihal yang terus di takuti nya.
[]---------••••---------[]
Sampai di parkiran sekolah, kedua famous sekolah itu langsung menerima banyak sorotan mata kagum dari para fans nya.
Samudra yang bodo amat dengan hal itu, dia memilih mendahului kakak nya untuk pergi ke kelas.
"Cih maen tinggal aja, ga pamit dulu gitu."
"Hm."
"Hmmm hmmmmm" Ledek Galaksi.
Samudra tidak menggubris sama sekali celotehan kakak nya itu, samudra memilih langsung pergi ke kelas, karna memang hari senin jadwalnya ia piket kelas.
Di sepanjang koridor yang ramai dengan para cewe cewe yang sering ghibah, samudra banyak mendapatkan sapaan dari mereka yang bahkan tak dikenal nya.
Samudra yang tidak peduli dan tidak suka dengan hal itu, hanya langsung mempercepat langkahnya menuju ke kelas.
Sesampainya dikelas ia langsung dapat sapaan dari sahabatnya itu.
"Wesss pagi broo."
"Hm."
"Untung gue udah kebal sama perkataan lu yang super duper bikin naik tensi." Sindir Zalfan yang tetap tidak digubris oleh Samudra.
Samudra hanya memainkan ponsel nya, memutar mutar, bolak balik menekan tombol menu lalu keluar lagi, lalu mematikannya.
"Ga ada kerjaan banget si lu dra."
"Diem lo."
"Eh gue pengen curhat cuyy."
Samudra hanya menaikan satu alisnya menandakan apa.
"Semalem gue chatingan sama cewe."
Samudra hanya melirik sekilas, menunggu lanjutan dari sahabatnya.
"Terus gue kek nya baru sebentar udah dibikin nyaman aja sama tu cewe." Memang Zalfan adalah tipe orang yang mudah nyaman dengan siapa pun, ada yang bilang dia playboy namun tak sedikit juga yang menyukainya.
Zalfan pernah bilang ia ingin mencari yang sefrekuensi dengannya. ya sama atuh fan
"Hm"
"Menurut lo, gue lebih baik langsung tembak atau tunggu nanti aja kasih jeda gitu, tapi kalo kelamaan takut keburu ada yang embat."
"Kalo nanya soal begituan gausah nanya ke gua, gua ga ngerti."
"Cih lu mah, lu tu lumayan buat jadi fakboy atau playboy dra, lu ganteng gini tapi belum ada yang punya."
"Bodo."
Bel berbunyi menandakan kelas akan segera di mulai, samudra fokus mengeluarkan buku mata pelajaran nya bertepatan hari ini adalah ulangan matematika, salah satu mata pelajaran yang di sukainya.
Disaat yang lain bilang jika Matematika membunuhmu, lain dengan Samudra yang bilang jika tidak bisa hidup tanpa ada nya Matematika.
hmm orang pinter mah bebas yh bun.
"Dra mau ke kantin?" Bisik Zalfan
"Diem lo, gua lagi ngerjain."
"Nanya doang oy."
"Hm."
Tidak lama mereka langsung dapat teguran dari guru matematika nya itu.
"Hey kalian berdua, kalian kerja sama?!"
"Ngga bu, saya sudah beres."
Samudra langsung berdiri berjalan menuju meja guru untuk memberikan hasil ulangan nya.
Samudra sangat santai saat di tegur oleh gurunya, Kakaknya pernah bilang jika di tegur atau di marahi, gausah panik kalau kita memang tidak salah.
Sudah pasti guru nya itu langsung menerima dengan baik hasil ulangan nya Samudra, lagipula Samudra satu satu nya murid kelas 11 yang sangat pintar dan menyukai mapel matematika.
Di satu sisi, Zalfan kesusahan dengan soal nya itu, Samudra meninggalkan nya karna ulah nya sendiri.
"s**l gue belum beres, si Samsudin maen tinggal aja."
.
Dikantin Samudra dan Galaksi memilih duduk di pojok dekat tembok.
"Mau pesen apa lu din?"
"Nama gua Samudra bukan Samsudin."
Zalfan ngakak hingga orang disekitarnya memerhatikan mereka berdua.
Zalfan kembali mengatur image cool nya.
"Iyaa Samudra... Mau pesen apaan cepet, gue udah laper banget."
"Soto, es teh."
"Sipp, dra bayarin gue ye, bokap sama nyokap gue lagi keluar kota, gua di kasih jatah cuma setengah."
"Hm."
Zalfan langsung memesankan makanan, sedangkan Samudra kembali memikirkan yang sulit ditebak oleh orang orang.
Di sisi lain, Samudra merasa dari tadi seperti ada yang memerhatikan dirinya, membuat ia tak nyaman.
Samudra menengok ke sebelah nya ada 3 cewe yang sedang berbisik sambil memerhatikan dirinya.
Samudra tidak ambil pusing, ia langsung memainkan ponsel nya.
Semakin tak nyaman dengan itu, Samudra akhirnya buka suara.
"Liatin apa kalian?." Tentu dengan nada dinginnya itu.
Otomatis ketiga cewe itu langsung salah tingkah dan membuang muka seolah tak tahu jika Samudra berbicara pada mereka.
"Cih" Samudra kembali memainkan ponsel nya, dan melanjutkan game nya.
"Oy dra, liat si aksi ga?" Tiba tiba saja menepuk pundak nya dan tentu membuat Samudra kaget hingga ponsel nya hampir terjatuh.
"Yehh ditanya malah diem, liat si aksi ga???" Sekali lagi laki-laki itu menanyakan keberadaan kakaknya itu.
"Gausah ngagetin."
"Lah lo kaget?" Tanya sekali lagi laki-laki itu sambil terkekeh.
"Gua lagi pokus maen tepuk aja, otomatis gua kaget lah." Solot Samudra tetap dengan nada dingin nya.
"Iye iye sorry ye dra, liat kakak lo gak oy? Dari tadi kagak di jawab jawab."
"Ga"
"Yeuu anjing, dari tadi kek ngomong kek gtu."
Samudra hanya diam
"Kalo lo ntar liat langsung bilangin ye, di tunggu sama gue di koperasi siswa."
"Iya kak."
"Yaudah gue mau lanjut ya, thanks."
"Hm ya."
Tak lama Zalfan kembali sambil membawa dua es teh, karna sudah pasti soto akan di bawakan oleh bibi kantin.
"Kak erik ngapain tadi? Gue liat tadi sempet ngomong sama lu."
"Nanyain kakak gua."
"Kirain apaan"
Samudra tidak menjawab lagi omongan sahabat nya itu. Dan memilih meminum es teh nya itu.
"Eh kak Aksi sama lo kok beda banget?"
"Hm?" Samudra yang tak mengerti pertanyaan sahabat nya itu.
"Maksud gue, lo tuh beda banget sama kakak lo, kakak lo keliatannya lebih humble sama orang orang, tapi lo kebalikan nya, dingin, bodoamat orang nya." Jelas Zalfan
"Emang kalo adik kakak harus sama?" Tanya samudra menekan.
"Ga juga sih hehe"
"Ck"
"Udah gosah di pikirin kali ah, makan noh, gua dh laper."
"Tinggal makan, susah amat."
"cih dasar beruang kutub."
.
Bel kebahagiaan pun berbunyi, bagi para siswa, bel pulang itu adalah sebuah kebahagiaan wkwk.
Samudra yang keluar kelas paling dulu, langsung menuju ke parkiran dimana mobil kakaknya terparkir.
Samudra ingin pulang cepat kali ini, tapi karna kakak nya memegang jabatan sebagai ketua OSIS, hari ini galaksi pulang lebih lama karna ada rapat yang mendadak.
Samudra hanya menunggu sambil termenung, memikirkan hal hal yang di anggap negatif oleh kakak nya.
Hampir lebih dari 2 jam samudra menunggu di parkiran, lebih tepatnya di dekat pos penjaga.
Galaksi selesai dengan rapatnya, ia langsung berlari menuju parkiran, karna ia tahu, kalau adik nya itu pasti sudah menunggu lama.
"Lama banget lo kak." Tanya samudra tanpa menatap sama sekali ke arah kakak nya itu.
"Kan adek udah tau, kalo kakak ada rapat dadakan dek, yaudah maapin kakak ya, udah gausah cemberut gitu."
"Apa si, gua cape nunggu tau ga?" Samudra yang makin menekan kakak nya itu, dan rahang nya pun ikut mengeras.
"Iya sekali lagi kakak minta maaf dek."
"Ntar ntar gausah larang gua buat pulang sendiri, percuma juga gua punya motor tapi kagak di gunain."
"Tapi kakak masih khawatir sama kamu dek, kakak ga mau kejadian dulu keulang lagi cuma gara gara kakak kurang merhatiin kamu." Jelas galaksi panjang lebar yang berharap akan di mengerti oleh adek nya.
"Serah." Samudra langsung masuk ke mobil tanpa menatap sama sekali wajah kakak nya itu.
Galaksi geleng geleng kepala melihat tingkah adik nya yang sudah lama tidak berubah berubah.
Didalam mobil tidak ada yang membuka pembicaraan, masing masing hanya fokus pada pikirannya sendiri.
Samudra yang dari tadi merasakan hal aneh dalam tubuhnya, dia merasa lemas hari ini.
Samudra memilih untuk tidur agar rasa pening nya itu menghilang.
Galaksi memang sudah khawatir sejak tadi melihat adiknya yang lebih pucat kali ini, tapi dia memilih untuk menanyakan nya nanti karena tidak enak juga jika harus bertanya sekarang karna melihat adik nya yang sudah memejamkan mata.
Mobil Galaksi tiba sampai depan gerbang rumah yang langsung di bukakan oleh satpam.
"Adek... Bangun udah nyampe." Galaksi yang berusaha membangunkan adik nya yang terlihat pulas tidur di dalam mobil.
"Eunghh" Samudra yang setengah sadar akhirnya terbangun.
"Cepetan nanti mandi dulu, terus makan, jangan lupa di minum juga obat nya, habis itu langsung tidur lagi."
"Ya."
Samudra langsung melenggang masuk kedalam rumah.
Didalam kamarnya, samudra kembali melamun, ia merasa takut, namun tidak berani bercerita kepada kakak nya.
Pening itu kembali terasa, samudra hanya memijat pangkal hidung mancungnya.
"Plis jangan lagi." Ringis samudra
"Adek lagi apa?" Teriak Galaksi dari luar kamarnya.
"Apaan si, mau mandi gua."
"Cepetan turun makanan nya udah siap kata bi Inah."
"Berisik lu kak, iya."
Setelah rasa peningnya sedikit hilang, samudra langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Habis 25 menit samudra berada di dalam kamar mandi, sampai kakak nya kembali memanggil.
"ADEK, KENAPA LAMA BANGET..." teriak galaksi karena berada di lantai bawah, sedangkan kamar kamar berada di lantai 2.
"apaan si gua lagi di baju, sabar."
Samudra memakai celana panjang hitam dan kaos putih polos, serasi dengan warna kulitnya, dengan rambutnya yang masih sedikit basah, Samudra langsung melesat ke ruang makan. Kakak nya ternyata masih menunggu Samudra, ia tidak mau makan mendahului adik nya, karena Galaksi pun ingin memastikan jika samudra makan dengan baik.
"belum makan kak?"
"belum, nungguin adek ini"
samudra tidak menjawab lagi, ia langsung memakan nasi dengan telur mata sapi nya yang telah di sediakan bi inah sebelumnya. seperti biasa, tidak ada yang ingin membuka pembicaraan saat makan, hanya hening yang menemani mereka makan.
Galaksi yang lebih dulu habis ia langsung membuka pembicaraan.
"dek."
Samudra hanya melirik sekilas lalu kembali pada makanan nya.
"cih kakak nya di cuekin mulu huu" ledek Galaksi.
"tidur sono kak udah malem." Jawab Samudra, entah kata kata dari mana Samudra bisa mengatakan hal itu yang memang sama sekali tidak pernah ia katakan selama ini pada kakaknya.
Galaksi yang sedang minum s**u rasa vanilla itu langsung tersedak karna kaget dengan apa yang di dengarnya.
"uhhuk... uhuukk... aa-pa tta tadi? uhukk uhukk" Galaksi masih tidak percaya memastikan jika ia tidak salah dengar dengan susah payah.
"minum." Samudra kembali bicara dengan nada dingin seperti biasanya.
"tadi kakak ga salah denger kan dek? BWAHAHA..." Galaksi yang selesai bergelut dengan batuk nya kembali menanyakan dan langsung tertawa lepas.
"lupain aja, gua mau tidur."
Galaksi masih tertawa sampai di kamar dia masih ngakak dengan kata kata yang tadi adik ucapkan, ah lebih tepatnya dia ngakak dengan nada bicara adiknya itu. dasar.