Pagi pagi sekali samudra bangun lebih awal, Samudra memilih untuk kali ini ia yang akan membuatkan sarapan nya sendiri, bukan karena apa apa Samudra ingin buat sendiri, tapi ia berfikir untuk hanya mencobanya, 'Hanya Mencobanya.
Samudra mencari cari bahan yang bisa ia jadikan makanan, mau bagaimana lagi, ia gunakan yang ada saja di kulkas, Samudra sempat berfikir sejenak, apakah sekalian untuk sarapan kakak nya?
Ya. Dia punya seorang kakak, orang yang tak punya hati saja yang membuat sarapan hanya untuk dirinya, jadi samudra membuat lebih banyak makanan.
Ah bukan makanan, lebih tepatnya menambah porsi makanan.
Bi inah yang selesai dengan rutinitas pagi nya itu yaitu membereskan rumah, ia kaget melihat majikan muda nya itu sedang memasak sendiri, ia menghampiri samudra yang tengah fokus pada pekerjaanya.
"Dek..." Ucap Bi inah sangat lembut tidak ingin membuat kaget tuan muda nya yang sudah ia anggap sebagai anak nya sendiri.
"Eh, Pagi bi." Jawab Samudra dengan senyum tipis nya, sangat tipis sekali, namun sudah bisa terlihat sangat manis.
"Loh, sini biar sama bibi aja." Bi inah yang berusaha mengambil pisau dari tangan Samudra yang sedang mengiris daun bawang.
"Dikit lgi tanggung."
"Tuh mata adek udah merah gitu, perih pasti tuh matanya ngiris bawang." Bi inah yang khawatir karena matanya perih saat mengiris bawang.
"Cuma gini doang."
Lanjutnya Samudra mengambil 2 butir telur dari kulkas, Samudra memang sangat jarang memasak, tapi jangan remehkan kemampuan masak nya.
Waktu kecil ia pernah membantu bunda nya memasak, sampai membuat kue ulang tahun untuk kakak nya.
Tapi kali ini sangat berbeda, semenjak bunda nya menjadi orang yang mencintai pekerjaan nya, Samudra jarang lagi di perhatikan oleh orang tua nya.
Ia sangat menikmati tahap demi tahap cara memasaknya, ya, walaupun hanya masak nasi goreng, pasti kakak nya sangat senang karena telah dibuatkan oleh adiknya sendiri.
Kurang lebih 20 menit Samudra memasak, Galaksi tampaknya sudah bangun dan bersiap untuk shalat shubuh.
Galaksi lebih dulu mengecek adik nya, ia pergi ke kamar Samudra sebelum ia mandi, karena Galaksi ingin Samudra tidur dengan cukup.
Galaksi yang berjalan ke arah kamar Samudra terhenti, karna dari jauh sudah terlihat jika pintu kamar adiknya sedikit terbuka, padahal Samudra selalu menutup rapat kamarnya walaupun jarang dikunci.
"Adek, udah bangun?" Panggil Galaksi sambil berjalan ke arah kasur Samudra.
Ia mulai bingung, kenapa sama sekali tidak ada jawaban.
"Lah anjir, dia udah bangun." Galaksi langsung ngibrit mencari Samudra.
"Adekkk" Teriak Galaksi dari lantai 2, karena letak dapur agak jauh dari kamar mereka berdua, di lantai 1 dekat sekali dengan kebun halaman belakang rumah.
"Tuh kak aksi nyariin hahaha." Kekeh bi Inah yang melihat Samudra santai santai saja saat di panggil.
"Biarin aja, ntar juga kesini sendiri." Jawab Samudra yang sangat santai dan tidak melupakan nada dinginya.
Galaksi yang dari tadi muter muter mencari adiknya seakan paham, pasti Samudra sudah ada di dapur.
"Ah b**o gue, kenapa dari tadi bukanya langsung cari ke dapur aja njir." Galaksi berlari ke dapur untuk memastikan.
"Adekkk, dari tadi dipanggil bukanya nyaut, kakak jadinya khawatir adek ga ada di kamar." Galaksi yang ter engah engah masih menyesuaikan nafasnya.
"Lebay." Samudra sama sekali tidak ada rasa bersalah.
galaksi memukul bahu samudra tidak terlalu keras "laknat lu dek, awas aja kalo minta uang jajan tambahan." Galaksi sengaja menyenggol bahu adik nya, walaupun pelan tetap saja Samudra tergerak sedikit dan telur yang di kocoknya tumpah.
"GALAKSI!!!" galaksi kabur untuk menghindar amarah Samudra
"GA AKAN GUA KASIH AWAS AJA LO" Samudra yang masih tak terima karena celananya terkena telur walau hanya sedikit.
"BODO AMAAAAT" ledek galaksi yang sudah berada jauh di ruang TV, kebetulan sekarang hari minggu, jadi mereka menghabiskan waktu dirumah untuk bersantai.
Samudra menghela nafas sambil membersihkan telur yang jatuh ke lantai, tadinya bi inah ingin membantunya, namun langsung di tolak oleh Samudra.
Samudra terus mengelap dan mengepel lantai dengan wip*l supaya tidak meninggalkan bau telur di dapur. Samudra sangat telaten membersihkan nya, setelah selesai bergelut dengan telur, Samudra melanjutkan menggoreng nasi yang dari tadi sudah bi inah pisahkan.
Galaksi tidak kalah rajin dengan Samudra, ia juga membersihkan rak rak yang berdebu, dan merapikan ulang barang barang yang berjejer.
Galaksi bernyanyi kecil, sangat kecil, sampai ia temui poto keluarga yang waktu dulu Samudra masih sangat manja berbeda dengan sekarang. Hati begitu terhayat mengingat masa masa orang tua nya yang belum sibuk dengan dunia pekerjaan. Di samping poto itu ada Album sedang dengan debu yang mengotori nya.
Galaksi mengambilnya lalu membuka satu per satu lembar, tak sadar jika ia dari tadi tersenyum, melihat gambar dirinya dengan Samudra yang mulutnya kotor karena es krim, di situ terlihat wajah Samudra yang cemberut dan wajah Galaksi yang sedang tertawa.
sudah 25 menit Galaksi melihat isi dari album tersebut, dan dari tadi Samudra juga sudah beres dengan pekerjaan nya.
ah ralat, bukan pekerjaanya, namun yang ia kerjakan sendiri.
"Nasgor nya gua abisin aja, ga ada yang mau juga." Samudra mengode Galaksi yang tidak sadar jika ada ia di dekatnya.
"dih dari kapan adek berdiri disitu? kek pocong loh." Galaksi yang baru menyadari dan langsung tertawa.
"hm." Samudra meninggalkan kakaknya yang masih tertawa, ia mengacak ngacak rambutnya yang sedikit lembab oleh keringat.
ia melihat handphone sang kakak nya yang tersimpan di meja makan, entah itu sengaja atau lupa, Samudra tidak ambil pusing. tiba tiba saja handphone nya berdering, bukan handphone milik Galaksi, tapi milik Samudra.
ia merogoh ke saku celana untuk mengambil handphonenya, tidak lama ia mengangkat telepon dari no tak dikenal.
"siapa?." Galaksi yang sudah duduk di depan Samudra menanyakan siapa yang menelpon, karena melihat wajah Samudra yang nampak bingung juga.
"salah sambung, fans gua kali." Samudra tidak sedang melawak, tapi Galaksi tersedak nasi goreng saat mendengarnya.
"pens pala lo peang." Galaksi mengambil minum lalu melanjutkan makanya.
"dasar syirik." Samudra menyinduk satu sinduk nasi goreng lagi, dan meminum s**u hilo alpukat yang sudah di sediakan oleh bi inah.
"habisin dulu makan nya, baru habis itu diminum s**u nya, dasar bege."
"bodo."
Galaksi mengusap d**a nya dengan sabar melihat tingkah laku adiknya yang super mirip dengan beruang kutub yang berada di kutub utara maupun selatan. dingin.
setelah semuanya selesai, bi inah merapikan piring piring yang ada di meja, Samudra ingin membantu bibi nya yang sudah ia anggap sebaga ibu sendiri, namun ada telepon dari temannya yang meminta Samudra menemui nya.
Samudra menepitkan handphone nya di antara telinga dan bahu nya, karena tangannya sedang mengambil jaket dan tangan satunya mencari sesuatu.
"mana si anjing, kok ga ada." Samudra mengoreh laci lemarinya mencari sesuatu yang hilang.
Galaksi dari tadi berdiri di ambang pintu sambil memerhatikan Samudra yang belum sadar kehadirannya. "nyari apaan sih dek?."
"anu.. itu.. ish mna si anjir."
"hm? kunci motor?"
Samudra menoleh ke arah Galaksi, suasana hening, Galaksi pun menatap malas adik nya. "mau kemana? ntar kakak yang antar."
"dih ogah, gua udh gede."
"adek gak inget? kakak ga akan ngijinin kamu bawa motor sendiri samp-"
"SAMPE APA?! GUA JUGA BISA JAGA DIRI KAK!"
Galaksi belum sempat menyelesaikan bicara nya, sudah lebih dulu di potong oleh Samudra.
"ADEK!"
"KENAPA!" balas Samudra yang tak kalah dengan nada tinggi nya.
Galaksi sangat ingin memarahi adiknya, bukan tanpa alasan, ada suatu alasan yang sampai sampai Galaksi tidak mengijinkan Samudra untuk mengendarai motor sendiri.
Samudra menundukkan kepala nya, dan memejamkan netra nya sebentar, tangannya memegang erat pada ujung meja belajar miliknya. Galaksi yang melihat Samudra seperti itu, cepat cepat menopang badannya dan membawa nya duduk di kasur king size milik Samudra.
"adek pelan pelan! jangan kayak gitu!" Galaksi yang terus menenggakkan kepala Samudra ke atas sambil terus berucap istighfar.
"hoshh... hoshhh... shhh." rambut Samudra sudah lembab karena keringat yang membasahinya, ia terus memegang erat tangan kakaknya seperti ia tidak mengijinkan kakaknya untuk melepaskannya.
"iya dek, kayak gitu, jangan dipaksain, sekarang kamu baringan." Galaksi membantu Samudra berbaring, dan membenarkan bantal.
"maaf."
"untuk apa?, sekarang adek istirahat dulu, jangan kemana mana."
"hm." Samudra memejamkan mata nya untuk beristirahat sejenak, yak, walau kini baru jam 9 pagi, tidak ada salah nya untuk beristirahat.
Galaksi meninggalkan Samudra untuk beristirahat, ada kekhawatiran yang terus menghantui pikiran Galaksi, tapi ia harus terlihat tenang.
Samudra mendengus kesal, dan mengacak ngacak rambutnya frustasi, ia meraih handphone nya yang ada di laci samping tempat tidurnya, ia membuka roomchat pribadinya dengan teman yang tadi mengajak Samudra untuk menemui nya, Samudra memberitahu jika ia tidak bisa menemui nya sekarang dengan alasan ada urusan yang lebih penting.
Galaksi duduk di sofa untuk melepas penatnya sejenak, ia melihat ke jam dinding yang masih jam 09.26, sebenarnya ia sudah tau isi chat dari teman adik nya itu, tadi ia tak sengaja mengambil hp nya saat Samudra sedang dituntun ke tempat tidurnya.
"siapa?" tanyanya pada diri sendiri.
"ga mungkin Samudra bikin ulah, dia anak nya nolep." Galaksi sedikit terkekeh mengingat sikap adiknya yang begitu bodo amat dengan sekitar.
"terus tadi apa maksud nya?" Galaksi yang masih tidak percaya dengan chat itu.
ia menenggakan kepala ke atas, dan mengusap wajahnya kasar, "hahhh, positive thinking aja gw."
+62 81*********
Lo dimana anjing? Ngaret lo, takut? Temen lo lagi sekarat.
Aws aj klo tmn gua knp² bgst!
Gw tunggu 5 menit dri skrg.
Read.
Samudra menghela nafas panjang, ia memikirkan bagaimana caranya supaya bisa keluar tanpa sepengetahuan kakak nya, ia mengambil kunci motor sport miliknya di laci, sepertinya kakak nya lupa untuk mengambil nya tadi.
Galaksi mendapat panggilan alam, ia berlari ke toilet untuk memenuhi panggilan nya. :v
Samudra diam diam mengintip dari pintu kamar nya, di ruang TV kosong, sama hal nya dengan di ruang tamu.
Ia cepat cepat keluar melalui pintu utama, Samudra berlari ke garasi untuk mengambil motor sport nya yang masih baru.
Ralat, bukan baru, tapi baru baru ini baru di pakai.
Samudra menancapkan gas full motornya, kebetulan jalan tidak begitu ramai, sehingga ia bisa dengan mudah menyelip kanan kiri.
Hampir saja Samudra telat datang, namun dengan gerak cepat nya ia bisa sampai dengan tepat waktu.
Samudra sekarang berada di bangunan tua, sepertinya mirip dengan kantor yang sudah lama sekali tidak terpakai.
Ia berlari mencari keberadaan sahabat nya yang sedang di sandra oleh seseorang yang biadab.
Kevan, yak, kevan yang menyandra Zalfan,entah karna alasan apa kevan menyandra Zalfan.
Samudra menggedor setiap pintu, namun sampai sekarang belum ada yang benar.
Ia berlari kembali ke lantai dua, memeriksa tiap ruangan tanpa terkecuali.
"KALIAN DIMANA ANJING?!" Teriak Samudra yang sudah mulai jengkel karena merasa di permainkan oleh kevan dan teman temanya.
"Kalo sampe temen gua kenapa kenapa, gua ga bakal tinggal diem van." Samudra yang masih mencari keberadaan Zalfan akhirnya dapat notice dari kevan.
+62 81*********
Lantai 3 ruangan paling ujung tanpa pintu.
Bngst!
Gercep atau?
Read.
Tanpa berfikir lagi, Samudra langsung melesat ke lantai 3, dan mencari di setiap ujung ruangan yang tidak memakai pintu.
Tidak lama, Samudra langsung menemukan ruangan yang dimaksud oleh kevan
Dari jarak kurang lebih 15 meter, sudah bisa terdengar berisik ketawa kevan dan teman teman nya.
Samudra langsung melabrak masuk tanpa aba aba.
Ia di kejutkan dengan keadaan Zalfan yang begitu kacau, "FAN!"