"FAN!"
Samudra kaget melihat kondisi temanya yang sudah jauh dari kata baik.
BUGH
BUGH
2 pukulan sekaligus mendarat tepat di kepala kevan, mulut nya sedikit sobek karena pukulan Samudra yang sangat keras.
Kevan terdorong ke tembok, dia menahan dirinya agar tidak tumbang, "haha pahlawan kesiangan lo?" Ketawa pecah dari mulut kevan dan teman teman nya seakan meremehkan Samudra.
"Mau lo apa?" Samudra yang masih menahan emosinya.
Kevan kembali membetulkan posisi tubuh nya dan mendekati Samudra dengan rahang yang mengeras, "kenapa? Emang lo mau lakuin apa hah?"
"Gua tanya masalah lo sama temen gua apa!" Samudra yang sudah tersulut emosi sehingga kata kata nya penuh dengan bentakan dan tekanan.
"Jangan pura pura b**o lo! Dasar penyakitan!" Tawa lepas kembali dari kevan dan teman teman nya.
BUGH
BUGH
BUGH
Pukulan bertubi tubi dari tangan Samudra yang mendarat di bagian kepala dan perut kevan, membuat teman teman nya ikut tersulut emosi.
Kini Samudra yang menjadi sasaran pelampiasan kemarahan mereka, Teman temanya menahan tangan Samudra, dan memegangi nya dengan kuat.
Ayolah, 4 lawan 1 siapa yang bisa.
BUGH
BUGH
Samudra tumbang tersungkur ke lantai, pukulan pukulan oleh kevan berhasil membuat Samudra kalah.
Kevan menarik kerah baju Samudra dengan kasar.
"Sini lo! Lemah!"
Lagi lagi Samudra terkena pukulan yang tak henti henti dari tangan kevan dan teman temanya.
Galaksi time
Galaksi yang sebenarnya dari tadi sudah beres dengan panggilan alam nya, kembali duduk santai di sofa.
Sambil meminum teh yang telah di buatkan oleh bi inah.
Galaksi belum sadar jika tadi Samudra diam diam keluar tanpa ijin.
Seakan tersadar jika dari tadi ada yang janggal, Galaksi bergegas ke kamar Samudra untuk mengecek.
Begitu kaget nya ia melihat Samudra tidak ada di kamar.
Bodoh nya dia meninggalkan kunci motor sport milik Samudra di atas laci samping tempat tidurnya.
Ia berkali kali menelpon namun sama sekali tidak dijawab oleh Samudra.
Galaksi sangat pintar, ia mengingat pesan chat yang ada di handphone Samudra, tempat bertemu, alamat, serta nama gedung nya.
"Ah b**o banget gw, kenapa tadi pake acara ada panggilan alam lagi arghh." Galaksi berlari mencari kunci Mobil sport milik nya di kamar nya.
Ia mengambil jaket dan Handphone yang ada berada di atas meja belajar nya.
Galaksi melesat begitu saja setelah pamit kepada bi inah.
Ia menggunakan GPS untuk mencari alamat gedung itu, "s**l, jalanan pake macet lagi." Galaksi terus membunyikan klakson mobilnya supaya mobil mobil didepannya segera maju.
saat jalanan sudah mulai lengang, ia menancapkan gas full, "semoga ga ada apa apa sama Samudra." Galaksi masih dihantui dengan rasa khawatir, ia takut kejadian 3 tahun lalu terulang lagi.
Galaksi sudah sampai di gedung tersebut langsung berlari mencari keberadaan Samudra dan Zalfan, gedung itu sangan besar dan luas, ada 5 lantai di gedung itu yang setiap lantai tentu saja jalanya ber belat belit.
"SAMUDRA!" teriak Galaksi yang berharap ada jawaban dari adik satu satu nya itu.
Galaksi meluruh dilantai, ia menghela nafas sejenak untuk melepaskan pikiran pikiran negatif yang terus menghantui nya.
Galaksi kembali menelpon Samudra berkali kali, namun tetap, hasilnya nihil, handphone Samudra sudah tidak aktif.
ia sangat berharap tuhan masih melindungi adiknya dan temannya, jika ada sesuatu yang terjadi pada Samudra ia bersumpah tidak akan memaafkan dirinya.
sudah hampir 5 menit Galaksi mencari tempat Samudra dan temannya, sampai ia mendengar tawa yang sangat keras di ruangan paling ujung dan paling kotor.
tanpa berfikir lagi Galaksi langsung melesat ke ruangan tersebut, dan
BRAK
Galaksi menendang papan yang menghalangi jalan untuk masuk, ia membeku di ambang pintu setelah ia melihat kondisi Samudra yang meringkuk lemah dilantai dan terus dipukuli oleh kevan dan teman temannya tanpa ampun.
BUGH
BUGH
"kak..." Samudra melirih meminta tolong kepada kakak nya sebelum kegelepan merenggut kesadaranya.
Galaksi menarik kerah baju kevan dan membantingnya ke lantai, "b******k lo! berani nya keroyokan!"
Galaksi tak hiraukan kevan yang meringis kesakitan karena dibanting olehnya sangat keras. ia membuka tali yang mengikat tangan Zalfan dan segera menghampiri adiknya itu.
Zalfan hanya luka luka saja di bagian tangan dan wajah, sedangkan yang menjadi korban adalah Samudra.
Galaksi menepuk nepuk pipi Samudra pelan berharap Samudra bangun dari tak sadar nya, "dek bangun dek..." Zalfan yang meluruh dilantai dengan badan yang sangat lemas berusaha menahan supaya air mata nya tidak jatuh.
kevan? dia tadi kabur sejak melihat Galaksi, karena tau jika Galaksi salah satu anggota OSIS di bidang HAM.
Galaksi menggendong Samudra dan membawanya ke rumah sakit, Zalfan pun akan ikut diperiksa nanti.
"dra, maafin gw, semua ini karna salah gw, bangun dra lo orang yang kuat" Zalfan yang sedari tadi di landa kekhawatiran dan penyesalan terus saja menggoyangkan tubuh Samudra.
Galaksi melihat sekilas ke kaca mobil untuk melihat kondisi Samudra yang tak kunjung sadar, "fan, coba cek nafasnnya masih teratur kan?" titah Galaksi kepada Zalfan untuk memastikan jika Samudra masih bernafas dengan teratur.
Zalfan mengecek nafas Samudra, syukurlah, ia masih bernafas dengan teratur. "gw tau lo kuat dra."
tak lama ada pergerakan dari Samudra, Samudra mengerjap ngerjapkan mata nya untuk menyeseuaikan netra nya dengan cahaya dan pening yang masih ada.
eghh
Zalfan kaget ketika ada suara dari Samudra ia langsung mengecek keadaan Samudra yang tidur di atas paha nya, "Dra bangun dra, kita mau ke rumah sakit sekarang."
"kak aksi, Samudra udah sadar."
"Alhamdulillah"
"kak, langsung pulang kerumah." tolak Samudra yang tidak ingin dibawa ke rumah sakit.
"tapi adek harus diperiksa, takut ada apa apa."
"gua bilang pulang." dengan nada dingin dan penuh penekanan.
Tidak ingin ada perdebatan lagi, akhirnya Galaksi mengalah, ia memutar balik untuk pulang ke rumah.
"Tapi kamu serius gapapa dek?" Galaksi yang masih khawatir dengan keadaan Samudra menoleh ke arah Samudra.
Samudra hanya berdehem tanpa menjawab pertanyaan dari kakak nya itu.
Motor Samudra? tentu akan diambilkan oleh satpam rumah nya.
"Bantuin gua bangun" Titah Samudra kepada Zalfan.
Zalfan membantu Samudra untuk duduk dengan benar, Samudra mengecek ponsel nya yang ternyata dari tadi masih di non aktifkan.
"hmmm hmmmm kek ada yang kurang gitu, apa yee" Ledek Zalfan karena Samudra sama sekali diam setelah ia membantunya untuk duduk.
"thanks." Samudra yang masih fokus pada ponselnya.
"untung gw sayang sama lu dra" kekeh Zalfan
Samudra bergidik ngeri mendengar perkataan Zalfan barusan, sedangkan Galaksi yang sejak tadi fokus pada jalanan akhirnya terkekeh mendengar 2 bocah dibelakangnya.
Mobil Galaksi sudah terparkir di dalam garasi, dan mereka berjalan masuk ke dalam rumah.
ralat, bukan mereka, hanya Galaksi dan Zalfan, karena Samudra lebih dulu meninggalkan mereka berdua.
Samudra masuk ke kamar nya untuk mandi, karna bajunya sedikit terkena darah. Zalfan ikut membersihkan diri di kamar mandi khusus tamu, dan pinjam baju Samudra untuk salinnya.
setelah semua selesai dengan urusan masing masing, mereka berkumpul di ruang tv untuk menikmati hari minggu dengan santai.
sudah pasti mereka ingin melupakan kejadian tadi, karena jika dipikirkan tidak akan ada faedahnya, itu semua kata Galaksi karna malas untuk memikirkannya.
tidak ada yang membuka pembicaraan satu pun, Samudra yang sibuk menonton mba Irene di yout*b, Zalfan yang sedang asik membaca komik milik Samudra, dan Galaksi yang menonton film aksi di TV.
Sampai ada salah satu yang merasa bosan, dan mendapatkan topik pembicaraan.
"Fan" Panggil Galaksi
"iya kak?" Zalfan yang merasa terpanggil, akhirnya menoleh ke arah Galaksi.
"Ada masalah apa kalian sama kevan?"
Zalfan melirik kepada Samudra, namun Samudra hanya berdehem.
"Anu kak... emm, apa ye gw lupa hehe." Jawab Zalfan yang gugup.
"dek? cerita sama kakak" Tanya Galaksi kepada adiknya yang masih hanya fokus pada handphone nya.
"Kapten basket." Jawab Samudra singkat tanpa melirik kakak nya.
"hah?"
"Jadi gini kak, kan bentar lagi semester 2, otomatis yang kelas 12 udah mulai berhenti kan ikut ikut eskul? nah pas pemilihan kapten banyak senior yang dukung buat jadiin Samudra jadi kapten, gw wakilnya"
"terus apa masalahnya?"
"Kevan ga terima, jadi ngancem Samudra." Jelas Zalfan.
"kek anak kecil aja si kevan, Bocil SD aja pemilihan KM gaada bantahan." kekeh pelan Galaksi.
"kak laper." Samudra tiba tiba bersuara.
Entah kenapa tawa Zalfan meledak pada saat itu, Dan Galaksi hanya tertawa karena dari tadi Samudra diam sepertinya karna lapar.
"Mau makan apa dek hm?"
"serah."
Galaksi langsung menuju ke dapur untuk minta tolong kepada bi inah membuatkan makanan, dan kembali lagi ke ruang TV.
"Btw, sekolah mulai nerima lagi murid pindahan kak?" Zalfan akhirnya kembali membuka topik yang dari tadi hanya hening.
"Iya, karna ada juga kan dari sekolah kita yang pindah, jadi perkelas nya ngga merata." Galaksi menjawab pertanyaan Zalfan dengan jelas.
"Dra, luka lu? Udah ga perih?" Zalfan menanyakan luka yang ada di bawah bibir Samudra.
"Ga."
"Sekali lagi sorry ye." Zalfan yang tidak ingin canggung walaupun masih ada perasaan yang tidak enak di hatinya.
Persahabatan sudah seharusnya saling melengkapi, bisa dibilang satu rasa, jangan hanya karena sebuah kekurangan membuat pahit rasa persahabatan, ingat itu, teman memang mudah dicari, tapi sahabat yang setia? Siapa yang bisa tahu jika dia tulus?
"Ini den makanannya." Bi inah yang selesai membuatkan makanannya, langsung membawanya ke ruang TV, karna 3 pemuda ini bisa dibilang mager jika harus makan di meja makan.
Bi inah kembali ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan lain yang sempat di tunda tadi.
Samudra langsung saja memakan dengan lahap omlet yang telah dibuatkan bi inah nya itu, Galaksi dan Zalfan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Samudra.
"Pelan pelan ntar kalo keselek kita mampusin." Kekeh Galaksi yang berusaha menggoda adik nya itu.
"Gua bukan bocah." Jawab Samudra singkat.
"Dimakan ya kak." Zalfan yang juga memakan omlet dengan sopan.
"Habisin ya adek adek ku zeyeng."
"Lebay." Timpal Samudra.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, apa memang tidak terasa dengan hangat nya berkumpul dengan orang orang yang kita sayangi?
"Ah udah jam 4." Zalfan yang mengecek jam di tanganya.
"Ga nginep aja?" Tanya Galaksi.
"Besok school kak, ada tugas yang belum beres juga hehe." Jawab Zalfan sopan yang menghargai Galaksi sebagai kakak kelasnya.
"Mau pulang sekarang?" Samudra ikut bertanya
"Iya, btw motor gue tadi sekalian di bawain ga si? Apa gue kesana lagi?" Zalfan yang baru saja menyadari bahwa dari tadi melupakan motornya.
"Udah tadi sekalian." Jawab Galaksi
"Yaudah gue pamit ya dra, kak."
"Hati hati." Pesan Galaksi
"Yoo." Zalfan keluar dan mengendarai motor sport miliknya.
Setelah Zalfan sudah pulang, hening pun mulai merajai kembali.
Tidak ada satu pun yang membuka pembicaraan, semuanya sibuk dengan pikirannya masing masing.
Sampai Galaksi membuka pembicaraan terlebih dahulu, "Dek, besok ada murid baru, kemungkinan masuk kelas kamu."
Samudra melirik nya sekilas dan melanjutkan menonton weekly idol NCT, "cewe cowo?"
"Cowo" jawab galaksi sambil melanjutkan menonton film aksi kesukaannya.
"Bukannya di kelas gua yang kurang cewe?" tanya Samudra lagi.
"Iya tau, tapi kan yang datang nya cowo harus gimana lagi? yakali harus jadiin cewe dulu." Galaksi terkekeh sambil mengacak ngacak rambut adiknya.
"sat." Samudra yang kesal karna tertanggu oleh kakak nya itu.
"Santuy elah, sensi banget, untung sayang." Galaksi terus menggoda adiknya, sedangkan Samudra bergidik ngeri mendengarnya.
"Amit amit kakak gua stress." Samudra meninggalkan kakak nya dan langsung melesat ke kamar nya.
"NGEDOAIN KAKAK STRES HAH?!" teriak Galaksi yang tak terima disebut stress oleh adiknya.
"bacot." timpal Samudra
Samudra merebahkan tubuhnya di kasur king size miliknya, ia menatap langit langit kamarnya sambil sesekali memejamkan matanya untuk menahan rasa pening di kepalanya yang dari tadi sebenarnya masih sakit.
Ia mengecek ponsel nya, memasangkan headset dan memutar musik untuk lebih rileks, lagu yang ia putar adalah "strong-one direction". Tak terasa ia terlelap, sampai dengan mimpinya.
Ponsel nya bergetar membuatnya terbangun, ia melihat lockscreen nya yang terdapat ada panggilan dari seseorang.
"ayah?"
Samudra bingung sekarang, ia bingung akan mengangkatnya atau tidak, di satu sisi ia sangat merindukan kedua orang tuanya, tapi di sisi lain ia juga kecewa terhadap orang tuanya.
Samudra meng klik tombol merah yang artinya menolak telpon itu, ia sebenarnya berharap, jika ayah nya menelpon lagi berarti ayahnya masih sayang terhadap dirinya.
tapi hasilnya nihil, ayah nya tidak menelpon lagi bahkan mengirim pesan pun tidak, Samudra berdecak kesal, ada rasa kecewa lagi yang terus ia rasakan selama ini, semua yang ia harapkan masih belum bisa tercapai.
Samudra melamun beberapa saat, ia tidak menyadari jika kakak nya sudah berada dikamarnya.
"Dek? adek gapapa kan?" Tanya Samudra sambil menepuk pelan pundak adiknya.
Samudra mengelus dadanya dan melirik kakak nya sekilas.
"Gua kaget."
"kalo mau masuk kamar orang tu permisi dulu, jangan maen masuk aja, kalo gua mati ngedadak gimana? lo mau kak?" lanjut Samudra dengan tatapan dingin dan malas.
"Kamu kaget? iya maap, tadi udah di ketuk berapa kali ga di buka buka, ga ada jawaban juga." jelas Galaksi. "Kakak khawatir makanya masuk." jelas Galaksi lagi."
"hm."
"mau ngapain kesini?" Tanya Samudra
"Tadi kenapa ngelamun? lagi mikirin apaan? ga sakit kan?"
"kepo banget lo kak"
"cuma nanya emang ga boleh?"
"mikirin tugas, kenapa ya gua aja yang selalu cepet ngerjain tugas, cape jadi pinter mulu." Jawab Samudra ngawur.
"Dih dih, najis lu de." kekeh Galaksi, namun Galaksi masih tidak percaya dengan perkataan adiknya.
"hm."
Galaksi memainkan ponselnya, sedangkan Samudra kembali merebahkan tubuhnya.
"kak."
"Hm?"
"ayah ga ada nelpon ke kakak?" tanya samudra sambil terus menatap langit langit kamarnya.
"ngga ada, emang kenapa? mau kakak telponin?"
"ga. cuma nanya."
"emang kenapa deee?"
"kecewa." jawab Samudra samar namun masih sedikit terdengar oleh Galaksi.
"hah?"
"gua ngantuk mau tidur."
"ngusir kakak?"
"Ya."
Galaksi berdecak kesal langsung meninggalkan adiknya.
Samudra mengacak ngacak rambutnya lalu pergi ke toilet untuk sikat gigi dan cuci muka.
Galaksi mencoba mengecek ponsel nya berharap ayah atau bunda nya ada menelpon, tapi tidak sama sekali.
Galaksi merebahkan tubuh nya yang lelah, ia harus extra menjaga adik satu satu nya dan menjadi punggung keluarga nya.
Galaksi memejamkan matanya dan bertemu alam mimpi nya, mungkin saja mimpi nya indah dan menghilangkan rasa lelah nya.