"Hei, Boss!" Aji menepuk bahu Deenan yang sengaja membuat kopinya menunggu lama, nyaris dingin. Pemiliknya lantas menggeser cangkir menjauh dan bertindak seolah tidak melamun, menyapa Aji balik. "Gimana liburannya di London?"
Bahkan itu nggak terasa seperti liburan. "Good," jawab Deenan singkat dan tentu saja Aji kurang percaya karena pemuda itu memasang ekpresi meledek. "Gue ke sana bukan honeymoon, Ji. Berhenti berpikir berlebihan."
"Gue nggak berpikir apa-apa, Boss!" Sekarang Aji memasang wajah serius. "Tapi kalau misalnya mau honeymoon juga nggak pa-pa kan sama istri sendiri."
Melihat Deenan diam saja, Aji jadi merasa salah bicara.
"Hubungan gue sama istri nggak baik-baik aja, Aji. Boro-boro honeymoon, dia terus minta cerai." Deenan juga pusing memikirkannya. "Dia mungkin emang benci gue."
Aji menaruh cangkirnya sendiri dan menarik kursi di seberang meja Deenan.
"Boleh gue ngomong sesuatu yang mungkin bikin lo mecat gue?"
"Nggak."
"Oke, gue ngomong." Aji mencondongkan badan. "Gue kerja sama lo empat tahun, Boss. Dan selama empat tahun itu, gue nggak pernah sekali pun denger lo nyebut nama istri lo di kantor. Nggak sekali."
Deenan mengangkat wajahnya.
"Terus tiba-tiba dia jatuh, dan lo ngilang tiga minggu, dan pas lo balik lo jadi orang yang beda." Aji mengangkat bahu. "Anak-anak pada bilang lo jadi lebih enak. Gue bilang lo jadi lebih takut."
"Takut."
"Iya. Takut." Aji menatapnya lurus. "Orang yang lagi berusaha itu geraknya beda sama orang yang lagi nebus. Yang berusaha itu maju. Yang nebus itu cuma nutupin."
Deenan menyandarkan punggungnya ke kursi dan memandangi langit-langit ruangannya cukup lama.
"Dia bilang gue milih dia cuma gara-gara dia koma," ucapnya akhirnya.
"Bener nggak?"
"Nggak."
"Lo yakin?"
"Gue yakin."
"Terus kenapa lo nggak bilang ke dia?"
"Karena dia nggak akan percaya."
"Lo belum coba."
"Aji." Deenan menoleh. "Gue lima tahun bikin dia nggak percaya sama gue. Lo pikir satu kalimat bisa benerin itu?"
"Ya nggak." Aji berdiri dan merapikan kemejanya. "Tapi nol kalimat juga nggak akan."
Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti dengan tangan di gagangnya.
"Oh iya, Boss."
"Hm?"
"Tadi pagi gue ketemu Rhea di lift."
Punggung Deenan menegang.
"Dia kerja di lantai sebelas gedung ini," lanjut Aji, nadanya sengaja dibuat seringan mungkin. "Gue cuma mau lo denger dari gue, bukan dari gosip pantry."
Pintu tertutup pelan.
Deenan duduk sendirian di ruangannya selama hampir sepuluh menit tanpa bergerak.
***
Ia tidak turun ke lantai sebelas hari itu.
Ia juga tidak turun keesokan harinya, dan hari berikutnya, dan hari berikutnya lagi. Ia mengambil jalur tangga darurat setiap kali harus ke lantai bawah, sesuatu yang ia lakukan dengan sangat sadar dan sangat memalukan, sampai suatu sore Aji memergokinya di anak tangga lantai tujuh dan hanya menggeleng-geleng tanpa berkata apa-apa.
Yang Deenan lakukan setiap malam, sebagai gantinya, adalah pulang.
Bukan pulang jam sebelas seperti dulu. Pulang jam tujuh. Kadang setengah tujuh.
Ia akan membuka pintu apartemen, menemukan Danie di sofa dengan buku atau ponsel, dan mengucapkan satu kalimat yang sama setiap hari.
"Gue pulang."
Dan Danie akan menjawab, tanpa mengangkat wajah, "Hm."
Itu saja. Dua minggu berturut-turut.
Deenan memasak — buruk, tapi ia memasak. Danie memakannya — sedikit, tapi ia memakannya. Sinta datang dua kali sehari, memuji perkembangan Danie yang katanya jauh lebih cepat dari perkiraan dokter, dan setiap kali Sinta berkata begitu, Deenan menangkap sesuatu di mata Danie yang membuat perutnya dingin.
Karena semakin cepat Danie pulih, semakin dekat hari ketika gadis itu tidak lagi punya alasan untuk tinggal.
Malam keenam belas, Deenan pulang membawa dua kotak dari kedai bakso yang dulu selalu mereka datangi sebelum menikah.
Danie melihat kotak itu, lalu melihat Deenan.
"Kenapa?" tanya Deenan.
"Nggak apa-apa."
Mereka makan di meja yang sama untuk pertama kalinya sejak London. Tidak ada yang bicara selama sepuluh menit penuh, hanya bunyi sendok dan suara televisi yang tidak ditonton siapa pun.
"Deen."
Deenan mengangkat wajahnya terlalu cepat, dan langsung membenci dirinya sendiri karena itu.
"Rhea di Jakarta," ucap Danie.
Sendok Deenan berhenti.
"Gue tahu."
"Gue tahu lo tahu." Danie mengaduk kuahnya pelan. "Gue cuma pengen lo tahu kalau gue tahu. Biar kita nggak usah main-main."
"Danie, gue nggak ketemu dia."
"Gue nggak nanya."
"Gue tetep mau bilang."
Danie akhirnya mengangkat wajahnya, dan tatapan itu — datar, lelah, tanpa amarah sama sekali — jauh lebih menyakitkan daripada kalau gadis itu berteriak.
"Deen, gue capek." Suaranya pelan. "Gue capek jadi orang yang harus lo yakinin tiap hari. Gue capek ngeliat lo pulang jam tujuh terus mikir 'sampai kapan'. Gue capek nunggu hal baik dan siap-siap buat hal buruk di waktu yang sama."
"Kasih gue satu tahun. Gue udah bilang—"
"Gue tahu apa yang lo bilang." Danie meletakkan sendoknya. "Dan gue mau nanya sesuatu. Kalau setahun ini lewat, dan gue tetep minta cerai, lo beneran bakal tanda tangan?"
Deenan membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi.
Dan jeda itu — dua detik yang seharusnya tidak ada di sana — sudah cukup menjadi jawaban.
Danie tersenyum kecil, seolah baru saja memenangkan sesuatu yang tidak ia inginkan.
"Ya udah," katanya sambil berdiri. "Makasih baksonya."
Ia berjalan ke kamar kanan dan menutup pintunya pelan-pelan, yang entah bagaimana terdengar jauh lebih buruk daripada kalau dibanting.
Deenan duduk sendirian di meja itu, memandangi dua mangkuk yang masih setengah penuh.
Ponselnya bergetar.
Nyokap: Deen, mama mau bikin syukuran buat Danie. Sekalian resepsi kalian yang dulu nggak sempet. Jangan nolak dulu, mama udah booking tempatnya.
Deenan menatap layar itu lama sekali.
Lalu ia mengetik satu kata dan menekan kirim.
Deenan: Oke.
Bukan karena ia setuju.
Tapi karena, untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, ia butuh sesuatu yang memaksa Danie tetap berada di ruangan yang sama dengannya sedikit lebih lama.