Keluarga Argadhika ingin mengadakan pesta, atau lebih disebut syukuran karena Danie sudah kembali di tengah-tengah mereka dan sekaligus merayakan pernikahan Deenan dan Danie yang tiga tahun lalu hanya ijab saja. Deenan kira Danie akan protes saat makan malam tadi, tapi gadis itu diam saja. Menghormati Ghea yang tampak bersemangat mengatur pesta dan juga tema seperti apa yang akan dipakai.
Danie memang tidak protes saat kumpul keluarga, tapi gadis itu mendiami Deenan sepanjang jalan menuju pulang ke apartemen.
"Gue juga nggak tahu nyokap pengen bikin pesta, Danie." Sambil menyetir dengan kecepatan sedang, Deenan bersuara.
Danie tetap menatap keluar jendela. "Lo sama gue akan bercerai, seharusnya pesta itu nggak perlu."
"Siapa yang akan menceraikan lo? Nggak ada, dan gue males berantem."
"Lo males berantem," ulang Danie pelan. "Itu alasan lo mempertahankan pernikahan?"
"Bukan itu maksud gue."
"Terus apa?"
Deenan tidak menjawab. Ia memindahkan gigi, menyalip sebuah taksi, dan kembali menatap jalan.
Danie menghela napas dan bersandar. Di luar jendela, papan-papan reklame berlalu satu per satu, terang dan tidak ada hubungannya dengan apa pun.
"Deen."
"Hm."
"Gue mau lo dengerin gue baik-baik, karena gue cuma mau ngomong ini sekali." Danie menoleh. "Gue nggak benci lo."
Deenan melirik sekilas.
"Gue tahu gue kelihatan kayak benci. Gue ngomong kasar, gue diem berhari-hari, gue terbang ke London cuma buat nyakitin orang yang nggak salah apa-apa." Suaranya bergetar sedikit. "Tapi gue nggak benci lo, Deen. Gue cuma capek jadi orang yang salah pilih."
"Lo nggak salah pilih."
"Gue salah pilih waktu." Danie tersenyum tipis ke arah kaca. "Gue milih lo di waktu lo belum bisa milih gue balik. Itu bukan salah lo, dan bukan salah gue juga. Cuma... salah waktu."
Mobil itu berhenti di lampu merah.
Untuk pertama kalinya sepanjang perjalanan, Deenan menoleh sepenuhnya.
"Terus sekarang gimana?"
"Sekarang," Danie mengangkat bahu, "kita dateng ke pesta itu, kita senyum ke tamu-tamu, terus kita pulang."
"Dan setelah itu?"
Lampu berubah hijau.
Danie tidak menjawab.
***
Pesta itu diadakan Sabtu sore di halaman belakang rumah keluarga Argadhika.
Ghea benar-benar tidak main-main. Ada tenda putih, ada rangkaian bunga di sepanjang jalan masuk, ada pemain biola yang disewa entah dari mana. Tamu-tamu berdatangan sejak pukul empat, sebagian besar kerabat yang bahkan Deenan sendiri tidak hafal namanya.
Danie mengenakan gaun sederhana warna gading, dengan tongkat penyangga yang sudah tidak selalu ia butuhkan tetapi tetap ia bawa. Ia berdiri di samping Deenan selama satu jam penuh, menerima ucapan selamat, menjawab pertanyaan yang sama belasan kali, dan tersenyum setiap kali ada yang berkata "alhamdulillah ya, Nak, akhirnya sadar."
Pada jam kedua, ia pamit ke kamar dan duduk di tepi ranjang selama sepuluh menit hanya untuk mengistirahatkan kakinya.
Ketika ia turun kembali, ia melihat Rhea berdiri di dekat pintu masuk.
Danie berhenti di anak tangga terakhir.
Rhea memakai blus abu-abu sederhana dan tidak membawa apa-apa selain tas kecil. Perempuan itu jelas tidak berencana lama; ia berdiri di ambang, tidak masuk sepenuhnya, seperti orang yang datang hanya untuk menyerahkan sesuatu.
Ghea yang lebih dulu melihatnya. "Rhea? Astaga, Nak, lama nggak ketemu!"
"Selamat sore, Tante. Maaf datang tanpa dikabari."
"Ya nggak apa-apa! Ayo masuk, makan dulu—"
"Bentar aja, Tante." Rhea tersenyum. "Saya cuma mau ngasih ini."
Ia menyerahkan sebuah kotak kecil terbungkus kertas cokelat.
Dan pada saat itu, matanya menemukan Danie di anak tangga.
Keduanya saling menatap cukup lama sampai Ghea menyadari sesuatu dan memutuskan, dengan kebijaksanaan seorang ibu, untuk mendadak teringat bahwa ia harus mengecek dapur.
Danie menuruni anak tangga terakhir.
"Lo dateng," ucapnya.
"Gue diundang."
"Sama siapa?"
"Aji." Rhea mengangkat bahu. "Dia pikir dia lagi bantuin. Gue rasa dia bego."
Danie tertawa. Benar-benar tertawa, pendek dan mengejutkan dirinya sendiri.
"Gue mau minta maaf," ucapnya kemudian. "Soal yang di London."
"Nggak usah."
"Rhea—"
"Gue serius." Rhea menggeleng. "Lo ngomong gitu waktu lo lagi hancur, dan gue kebetulan berdiri paling deket. Gue udah pernah ngomong yang jauh lebih jahat ke orang yang jauh lebih nggak salah."
Danie menunduk.
"Gue cuma mau ngasih satu hal ke lo, terus gue pulang," lanjut Rhea. "Boleh?"
"Boleh."
Rhea melangkah lebih dekat dan menurunkan suaranya.
"Tiga hari sebelum lo jatuh, Deenan ke bandara Heathrow."
Danie mengangkat wajahnya.
"Dia nanya, apa gue mau dia tinggal di London." Rhea menatapnya lurus. "Dan sebelum gue sempat jawab, dia bilang satu kalimat lagi. Katanya, sebenarnya dia berharap gue jawab enggak, karena dia udah beli tiket balik buat besok paginya."
Sesuatu di dada Danie berhenti.
"Dia udah beli tiketnya, Danie. Sebelum nanya." Rhea tersenyum, dan senyum itu punya sesuatu yang sudah selesai di dalamnya. "Dia nggak ke sana buat milih gue. Dia ke sana buat berhenti milih gue."
"Kenapa lo baru cerita sekarang?"
"Karena waktu lo dateng ke apart gue, lo cuma mau denger kalau gue menang." Rhea mengangkat bahu. "Orang yang lagi mau pergi nggak bakal denger apa pun yang bikin dia harus tinggal."
Danie menelan ludah beberapa kali.
"Rhea."
"Gue pulang ya." Rhea mundur selangkah. "Kotaknya jangan dibuka pas rame-rame. Isinya cuma foto lama. Gue nyimpen itu lima tahun dan gue capek nyimpennya."
"Rhea—"
"Danie." Perempuan itu berhenti di ambang pintu dan menoleh sekali terakhir. "Gue lima tahun jadi bayangan di rumah tangga orang. Gue nggak mau lima tahun lagi. Jadi tolong, buat gue juga: putusin sesuatu. Apa pun. Asal jangan gantung."
Lalu ia pergi.
***
Danie menemukan Deenan di halaman samping, jauh dari tenda, berdiri sendirian sambil melonggarkan dasinya.
"Gue nyariin lo," ucap Danie.
"Gue butuh napas."
"Gue juga."
Mereka berdiri berdampingan cukup lama, memandangi pagar rumah dan jalanan komplek yang mulai gelap. Dari arah tenda, suara biola dan tawa terdengar samar-samar, milik dunia lain.
"Rhea dateng," ucap Danie.
"Gue lihat."
"Lo nggak nyamperin."
"Nggak."
"Kenapa?"
Deenan menoleh. "Karena gue nggak mau."
Danie menatapnya lama.
"Deen, gue mau nanya satu hal. Terakhir. Dan gue mau lo jawab tanpa mikirin gimana jawabannya kedengeran."
"Tanya."
"Kalau gue nggak pernah jatuh dari gedung itu," Danie menarik napas, "lo bakal ada di mana sekarang?"
Deenan tidak langsung menjawab.
Ia memandangi jalanan komplek itu, kedua tangannya di saku, dan ketika akhirnya bicara, suaranya lebih rendah daripada biasanya.
"Di ruang tamu rumah kita," katanya. "Nungguin lo pulang kerja sambil latihan ngomong."
Danie mengerjap. "Apa?"
"Gue balik dari London hari Selasa. Lo jatuh hari Jumat." Deenan menelan ludah. "Hari Rabu gue ke rumah, dan lo lagi nggak ada. Hari Kamis gue ke rumah lagi, dan lo nggak mau keluar kamar. Hari Jumat gue mau ke sana lagi, dan gue lagi nyusun kalimatnya di mobil waktu telepon itu masuk."
Danie merasakan sesuatu naik ke tenggorokannya.
"Kalimat apa?"
"Kalimat yang harusnya gue bilang lima tahun lalu."
"Bilang sekarang."
"Nggak."
"Deen—"
"Nggak, Danie." Deenan menggeleng, dan matanya merah. "Karena kalau gue bilang sekarang, di pesta ini, setelah semua yang terjadi — lo bakal denger itu sebagai orang yang baru bangun dari koma. Dan gue nggak mau lo dengernya kayak gitu."
"Terus kapan?"
"Setahun."
Danie tertawa lewat air matanya. "Lo dan setahun lo."
"Setahun," ulang Deenan. "Dan kalau setelah setahun lo tetep mau pergi, gue tanda tangan. Beneran. Gue udah minta pengacara siapin, dan gue bakal isi tanggalnya sendiri di depan lo."
"Lo bakal nyesel."
"Mungkin."
"Lo bakal benci gue."
"Nggak akan."
"Lo—" Danie berhenti.
Karena Deenan sudah mengulurkan tangannya. Terbuka, telapak menghadap ke atas, menunggu, tanpa memaksa.
Persis seperti yang tidak pernah pria itu lakukan selama lima tahun.
Danie memandangi tangan itu lama sekali.
Ia memikirkan lima tahun. Ia memikirkan delapan bulan dalam gelap. Ia memikirkan Rhea yang membakar guntingan koran di atas wastafel, dan ayah Deenan yang menyuruh menyiapkan draf, dan kalimat yang tidak jadi diucapkan di dalam mobil pada hari Jumat.
Ia memikirkan bahwa ia sudah menghabiskan seluruh masa mudanya menunggu satu orang.
Dan bahwa hari ini, untuk pertama kalinya, orang itu yang menunggu.
Danie meletakkan tangannya di atas telapak tangan Deenan.
"Setahun," ucapnya.
Deenan menutup genggamannya, dan bahunya turun seperti seseorang yang akhirnya diizinkan meletakkan sesuatu yang terlalu lama ia angkat.
Dari arah tenda, terdengar Ghea memanggil-manggil nama mereka berdua, dan suara tawa kerabat yang menyahut, dan biola yang berpindah ke lagu berikutnya.
"Ayo," kata Danie sambil menarik tangan itu. "Nyokap lo bisa ngamuk."
"Bentar."
"Apa lagi?"
Deenan menoleh padanya.
"Gue pulang," ucapnya.
Danie berhenti melangkah.
Dua kata yang selama enam belas malam terakhir selalu diucapkan Deenan di ambang pintu apartemen, dan selama enam belas malam itu pula Danie selalu menjawabnya dengan satu dengungan tanpa mengangkat wajah.
Kali ini Danie mengangkat wajahnya.
"Selamat datang," jawabnya.
TAMAT