“The purpose of our lives is to be happy.”
— Dalai Lama.
.
.
.
.
2020
New York City, U.S.A
Bunyi peringatan dari Apple watch miliknya menandakan bahwa heart rate pria itu sekarang terlalu tinggi akibat jogging paginya. Pemiliknya kemudian berhenti seraya mengatur nafasna, lalu menyalakan fitur ECG untuk mengecek kesehatannya saat ini. Setelah itu, ia berlari masuk ke dalam mansion-nya untuk bersiap memulai hari.
“Good morning, Sire. Apa ada makanan yang anda inginkan untuk sarapan kali ini?” tanya Robert—butler kepercayaan Ashton.
“Sesuatu yang baik untuk kesehatan jantungku, Robert. Sepertinya aku berlari terlalu semangat hari ini,” jawab Ashton sambil menaiki tangga menuju kamarnya.
“As you wish, Sire.” ujar Robert dan menghilang dari jarak pandanga Ashton.
Ashton segera membersihkan dirinya di bawah pancaran shower, menikmati setiap aliran air yang membasahi tubuh atletisnya. Ia melilitkan handuk pada pinggangnya dan berjalan menuju walk-in closet berisi ratusan jas, dasi, ikat pinggang, sepatu, dan jam tangan mewah milik Ashton yang tertata rapi memenuhi seluruh ruangan.
Pertama, ia mengenakan kemeja putih Tom Ford, lalu membuka laci berisi ratusan dasi dan membutuhkan sedikit waktu untuk memilih dasi yang tepat baginya hari ini, sampai matanya berlabuh pada dasi hitam dari Stefano Ricci. Setelah itu, ia mempadupadankan dengan vest berwarna light grey dari Cesare Attolini dan Armani suit berwarna senada.
Kakinya melangkah menuju laci lain di sisi kanan walk-in closet, menyebabkan pantulan kemewahan koleksi jam tangannya. Ia memilih jam tangan Rolex bercorak silver.
Sebelum keluar kamar, ia membuka laci tempat penyimpanan puluhan mobilnya tersimpan rapi. Jemarinya bergerak bingung memilih mobil apa yang harus ia kendarai hari ini, sampai akhirnya pilihan hatinya terjatuh pada Audi R8 Spyder terbaru dari koleksinya.
Suasana yang cerah harus dinikmati dengan mobil tanpa atap. Terlebih dengan koleksi teranyar yang baru tiba beberapa hari lalu.
Ia pun keluar dari kamar menuju ruang makan. Seperti hari-hari sebelumnya, sudah tersedia aneka jenis masakan dan segelas jus untuk membuka harinya.
Tidak ada yang mencintai dirinya sebesar Ashton mencintai dirinya sendiri. Selain bisnis, ia juga sangat memerhatikan kebugaran dan kesehatan tubuhnya melebihi apapun di dunia ini. Rutinitas olahraga dan makan makanan bernutrisi adalah kewajiban baginya. Meskipun kecintaannya pada alkohol tidak akan pernah bisa ia hilangkan.
“Apa ini, Robert?” tanya Ashton setelah Robert sudah memberikan alas pada pahanya.
“Egg Benedict, Blue Cheese Quiche dengan pinggiran gandum, serta beet juice, Sire.”
Ashton mencoba satu per satu menu sarapannya pagi ini seraya menilai perpaduan rasa yang meledak di mulutnya. Sementara Robert dan para koki menunggu reaksi tuan mereka dengan gugup di dapur.
Ashton kemudian melirik Robert datar, “Kurangi beberapa gram untuk takaran blue cheese-nya, ini terlalu pekat sehingga tidak baik untuk kesehatanku. Lalu pinggiran gandum ini terlalu crispy, tolong kurangi waktu memanggangnya atau apapun itu sehingga tidak sekering ini lagi. Dan untuk egg benedict-nya…kuning telurnya terlalu cair, aku ingin itu lebih padat untuk selanjutnya.” komentar Ashton.
Robert dengan telaten mencatat semua kritik dan masukan Ashton kemudian tangannya mengadah menujuk beet juice yang belum mendapatkan komentar apapun. “Apa ada kekurangan yang perlu kami perbaiki untuk jus ini, Sire?”
“Tidak, aku cukup puas dengan jus ini.”
Pujian itu sontak membuat semua karyawan Ashton membuang nafas lega, karena mendapat pujian dan kata ‘puas’ dari Ashton bagaikan mencari intan di pasir pantai. Robert tersenyum senang, “Kami akan mempertahankan kualitas ini, Sire.”
Ashton mengusap mulutnya dari sisa makanan kemudian bangkit berdiri. “Aku akan menyuruh sekretarisku untuk mengabarimu jika aku akan makan malam di rumah.”
Robert membungkuk hormat. “Have a nice day, Sire.”
* * * * *
Kegagahan mobil sport merah terlihat memasuki pelataran lobi REXFORD Department Store dari kejauhan. Melihat itu, seketika para staff—yang sudah menunggu kedatangannya di depan pintu masuk selama 30 menit—langsung merapikan pakaian mereka, mulai berbaris, dan berdiri tegak untuk menyambut pengendara mobil itu.
Kemudian mobil itu pun berhenti tepat di depan lobi department store. Para pegawai wanita menahan nafas—seperti yang selalu mereka lakukan setiap pagi—menunggu kemunculan sosok pria yang berada di balik kemudi dari balik pintu tidak sabar.
Pria yang ditunggu-tunggu itu pun keluar dari mobil, lengkap dengan setelan jas Armani, jam tangan mahal, sepatu kulit hitam, wangi aftershave yang begitu jantan, serta ketampanan bak pahatan seni membuat semua yang melihatnya terbang tinggi ke langit ke tujuh.
Meskipun dalam pekerjaan terkenal bertangan besi sekaligus dingin, namun tidak ada makhluk di muka bumi yang dapat menyangkal bahwa penampilan fisik Ashton Rexford sempurna.
“Selamat pagi, Mr. Ashton Rexford. Apa pagi anda menyenangkan?”
Ashton hanya mengangguk asal lalu berjalan melewati seluruh staff yang ada di depan lobi. Melihat pemilik department store ini sudah membuka pintu masuk, seketika semua yang ada di sana membungkuk hormat mengiringi setiap langkah kaki Ashton semakin masuk ke dalam. Para pegawai lainnya berjalan mengekorinya di belakang.
Situasi yang sama pun terjadi saat pria itu masuk ke dalam department store, seluruh karyawan di sana sudah berjejer rapi menyambut kedatangan CEO mereka. Bungkuk hormat para karyawan mengiringi setiap langkah pria itu menuju kantornya di lantai tertinggi gedung ini. Setelah Ashton memasuki lift, para karyawati akan berkumpul dan mengaggumi ketampanan CEO mereka dari jauh.
Sekretaris itu dengan gesit segera berjalan mendahului Ashton untuk membukakan pintu ruang kerjanya. Para petinggi lainnya bergerak gesit untuk menyiapkan rapat tepat setelah Ashton dan sekretarisya masuk ke dalam ruangannya.
Pemandangan New York City terlihat memantul indah di balik tembok kaca yang menghiasi sekeliling ruangan kerjanya. Ashton pun duduk di kursi kebesarannya dan mulai membuka dokumen-dokumen yang sudah tersedia di mejanya dengan rapi.
Ia ingin semua pekerjaannya tersusun dengan rapi. Kerapian menurutnya menunjukan etos kerja yang baik, dan Ashton sangat menegaskan hal itu dalam sistem kerjanya selama ini.
“Apa jadwalku hari ini? Kuharap sesuatu yang menyenangkan dan tidak membosankan,” tanyanya pada sang sekretaris yang berdiri di depannya menunggu perintahnya.
Daniel—sekretaris kepercayaan Ashton—segera mengecek jadwal Ashton pada tablet miliknya. “Anda beruntung karena hari ini jadwal anda tidak terlalu padat, Sir. Pukul 10, anda akan memimpin rapat Annual Summer Sale untuk menyambut musim panas dua bulan ke depan. Pukul 11.30 anda akan menemui calon investor anda di Pine & Dine Restaurant. Jadwal anda hari ini tidak padat. Anda tinggal menandatangani dokumen-dokumen di meja Anda. Dan untuk jadwal tambahan…sepertinya anda harus menemui kolega bisnis yang sudah diatur oleh Mrs. Rexford siang ini.”
Pena di tangan Ashton berhenti saat mendengar itu, “Ibuku mengatur pertemuan lagi?” ia memandang sekretarisnya dan mendesah pelan. “Sayang sekali hari ini tidak sesibuk bayanganku, sepertinya aku tidak akan bisa mengelak dari ibuku. Apa kau yakin tidak ada pekerjaan lain yang bisa membuatku—”
“…tidak menghadiri kencan buta dengan kolega bisnis Anda?” sambung Daniel dengan senyum geli penuh pengertian.
Ashton mengangguk lemah menandakan bahwa tebakan sang sekretaris tepat sasaran. “Tepat sekali. Meskipun aku sudah menolak rencana perjodohan dengan segala cara, tapi ibuku itu tetap mengatakan omong kosong tentang pernikahan dan anak. Karena itu aku menghindarinya.”
Daniel hanya tersenyum sementara Ashton kembali sibuk membaca dokumen di tangannya. Seketika, keningnya mengerut membaca semua tuAlicen di sana. Ashton mengangkat dokumen itu tinggi-tinggi emosi, “Apa aku masih mempekerjakan orang sebodoh ini? Sebaiknya ia berdoa agar aku tidak memecatnya siang nanti,”
Ashton kembali membuka dokumen lainnya dan menunjukan ekspresi yang sama. “Apa dia pikir ini tahun 90-an? Bagaimana marketing plan mereka bisa seburuk ini? Apa mereka pantas bekerja di Rexford Department Store dengan kemampuan seperti ini? Aku benar-benar akan mengamuk siang ini.”
Kemudian, Ashton menatap sekretarisnya dengan senyum tipis mematikan. “Karena hari ini aku sedang ingin berbaik hati, sampaikan pada mereka semua bahwa sebentar lagi aku akan menghabisi mereka hari ini, jadi bersiaplah.”
Daniel berusaha menahan senyum dan hanya menundukan kepala mengiyakan perintah atasannya. “Baik, Sir. Akan saya laksanakan,”
* * * * *
Somewhere in Caribbean Sea (Di atas Laut Karibia)
Elena’s POV
Bunyi alarm yang menyebalkan kembali bergema ke seluruh kamar, memaksaku untuk tertarik dari bunga tidur seketika. Sialnya, mimpi itu terlalu berharga dan indah bagiku untuk ditinggalkan hanya karena aku harus bekerja dalam beberapa menit ke depan.
Mataku masih terasa berat ketika pada akhirnya aku harus menerima fakta bahwa aku harus membuka mataku dan—seperti dugaanku—melupakan mimpi itu. Meskipun samar-samar aku masih mengigatnya.
Dalam mimpi itu, aku bermimpi berdansa dengan seorang pria tampan di atas kapal pesiar Tangan kami terkait satu sama lain, tubuh kami bersatu dalam alunan musik klasik, dan mata kami saling memandang dengan binar hangat cinta abadi.
Aku mengumpat pelan setelah mengingatnya. Sejak kapan aku memikirkan cinta dan pria?
Sepertinya ini efek setelah menonton film La La Land semalam. Film yang membuatku mengabiskan kripik kentangku dengan putus asa setelah melihat akhir cerita yang sad ending.
Aku memang tidak pernah memikirkan hubungan romansa dengan pria, tapi bukan berarti aku menyukai sad ending.
Setelah berdiam diri memandangi langit-langit di atas tempat tidur kabinku selama kurang lebih sepuluh menit, aku berhasil mengumpulkan tenaga untuk duduk lalu bangkit berdiri. Mengangkat tanganku dan sedikit merenggangkan otot-ototku yang terasa kaku setelah tidur sepanjang malam.
Kakiku melangkah menuju jendela kecil di atas mejaku. Aku tersenyum ketika udara pagi serta pemandangan—yang selalu sama setiap harinya—kembali menyapaku dan memberiku energi untuk memulai hari dan menghasilkan uang; birunya lautan luas di depan mata.
Setelah menyiapkan segala perlengkapan yang kubutuhkan, aku keluar dari kamar menuju kamar mandi umum bagi para crew kapal.
“Good morning!” sapaku hangat melihat teman-temanku yang juga baru selesai membersihkan diri.
“Morning, babe!” Sapa mereka balik.
“Kau menonton apa semalam? Aku mendengar suara tangisanmu, Bodoh!” tanya Lisa—tetangga kiri cabin-ku seraya tersenyum mengejek.
Aku pun tertawa malu mendengarnya, “Apa sangat kencang?”
“Dan menganggu acara teleponku dengan Dan. Tapi tenang, kau bisa membayarnya dengan menemaniku berbelanja lingerie saat kita besandar nanti. Aku ingin mengejutkan pacarku tercinta itu setelah pulang nanti.”
“Deal!” balasku lalu masuk ke dalam salah satu ruang mandi. Setelah selesai, aku segera berlari menuju kamarku untuk berdandan dan bersiap kerja.
Aku mengaplikasikan eyeshadow berwarna cokelat muda dan kuberi gradasi dengan warna putih, hanya sedikit. Memberi blush berwarna pink muda agar wajahku terlihat lebih segar sepanjang hari, tak lupa menambahkan sedikit highlighter pada puncak hidungku untuk efek hidung tinggi. Terakhir, kuusapkan lipstick berwarna bold red ala Taylor Swift untuk mempercantik penampilanku hari ini.
Makeup selesai, sekarang waktunya aku mengenakan seragamku; sebuah kemeja dan blazer putih yang dipadupadankan dengan rok pensil berwarna hitam selutut.
Oh astaga, bagian perutnya sedikit ketat. Lain kali tolong ingatkan aku agar tidak makan seperti orang kelaparan sepanjang malam.
Aku mengambil alat pengeriting rambut, kemudian mulai menata rambutku agar curly di bagian bawah untuk membuat kesan stylist. Sebagai sentuhan terakhir, aku mengikat rambut hitam panjangku ala ponytail.
Pantulan seorang wanita dewasa dengan tingkat kepercayaan diri yang tumpah ruah balas menatapku seraya tersenyum bersemangat. Aku kembali memeriksa kancing pada blazer putihku sebelum berbalik menuju pintu. Tidak lupa mengenakan stiletto hitamku dengan cepat dan segera keluar kamar tidur.
Hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan—setidaknya kuharap begitu.
* * * * *
Waktu makan siang merupakan rush hour dan salah satu jam tersibuk bagi seluruh karyawan di Lion Heart Cruise. Karyawan hilir mudik mengantarkan makanan dan mengarahkan para tamu menduduki meja-meja yang tersedia di restoran.
Berusaha tersenyum lebar, kulangkahkan kakiku dengan cepat dengan mata terus memindai setiap sisi ruangan mencari meja dan kursi kosong. Aku baru bisa bernafas lega ketika berhasil mengantarkan satu keluarga mendapatkan tempat duduk. Menyadari tamu itu membawa bayi, aku segera menawarkan bantuan agar semua tamuku bisa makan siang dengan nyaman. “Apa anda memerlukan kursi balita untuk putri anda, Nyonya?”
Tamu itu mengangguk dan aku bergerak gesit segera memberikannya dan membantu sang ibu mendudukan putrinya di kursi. Tamu itu tersenyum berterima kasih padaku, “Terima kasih..”
Aku balas tersenyum lalu membungkuk pamit untuk kembali mengurus tamu-tamu lainnya yang masih membutuhkan tempat untuk makan. Kesibukan ini berlangsung sekitar dua jam mengingat ada ribuan tamu dengan perut berbunyi kelaparan. Pada akhirnya, semua pelayan baru bisa bernafas lega karena jam makan siang akhirnya berakhir di pukul dua siang.
“Astaga, aku ingin pingsan rasanya.” keluh Mia, rekan kerjaku saat berada di deck kapal tempat para pekerja beristirahat. “Hari ini adalah hari pertamaku datang bulan, pinggangku seakan ingin patah.”
Mendengar itu, Elena hanya bisa menepuk-nepuk punggung rekannya pura-pura prihatin. “Aku hanya mau mengingatkan bahwa malam ini ada pool party sebagai penutupan acara, jadi kita akan lembur lagi.” tukas Eira yang sukses membuat temannya semakin mengeluh.
“Aku sudah tidak sabar ingin pulang,” desah rekan kerja lainnya seraya menyantap makanannya, “Kakakku baru saja melahirkan, setiap hari kami video call dan anaknya sangat lucu. Aku seharusnya mengambil kontrak empat bulan sepertimu, Elena.”
Aku menggeleng karena menyetujui fakta itu. “Apa kubilang? Menurutku empat bulan adalah kontrak yang paling ideal. Karena itu aku bingung melihat kalian terus mengambil enam bulan.”
“Tentu saja karena gajinya! Apa lagi kalau ambil kontrak enam bulan, kita bisa mendapat 60 hari libur. Sedangkan seperti kau hanya mendapat libur 20-25 hari. Tidak sebanding.”
“Aku hidup sendiri tanpa keluarga, waktu luang tidak terlalu berarti banyak bagiku. Karena orientasi hidupku adalah liburan,” kataku dramatis seraya mengepalkan tangan ke atas, “Lagi pula, terbiasa bekerja di laut membuatku merasa aneh terlalu lama menghabiskan waktu di daratan.” sahut Elena lagi.
Rekan-rekannya saling menatap dan baru tersadar akan hal itu. “Benar juga itu. Tapi apa kau tidak ada keinginan lain? Contoh, seperti Mia yang sebentar lagi akan menikah.”
“Atau seperti Lisa yang sudah berpacaran lima tahun.” sahut yang lainnya.
“Benar, aku sedang menabung untuk biaya pernikahanku, jadi aku harus bekerja bagai kuda agar bisa mengadakan pesta pernikahan yang meriah dan megah.” ungkap Mia sambil membayangkan pesta pernikahannya dengan mata berbinar.
“Mengapa kau buang-buang uang untuk itu? Lebih baik gunakan uangmu untuk biaya hidup nanti, kau tahu. Belum lagi jika kau nanti punya anak.”
Mia bersedekap, “Tidak, tidak. Kami tidak berencana untuk memiliki anak. Setidaknya saat ini,”
Sebuah fakta yang sangat kusetujui. “Kurasa juga lebih baik jangan memiliki anak dulu, biaya hidup sekarang mahal. Hiduplah untuk diri sendiri,”
“Sudah, sudah jangan bahas ini lagi. Membuatku semakin pusing saja. Sekarang lebih baik ceritakan apa ada “tangkapan mata” siang ini?”
Aku tidak dapat menahan diri untuk berdecak seraya menggelengkan kepala mendengar itu. Mereka memang sering membahas tentang tamu-tamu tampan yang berada di kapal pesiar. Para crew wanita sering mengatakan itu sebagai “cuci mata” setelah terkurung di kapal selama berbulan-bulan.
Aku menatap jendela di luar sana. Deburan ombak yang bergulir terpampang nyata menghiasi mataku selama empat bulan terakhir ini. Menikmati pemandangan yang selalu kulihat setiap bekerja. Tapi sebentar lagi semua akan berakhir, karena perjalanan kali ini adalah perhentian terakhirku sebelum mendapat libur 20 hari.
Setelah libur, aku akan kembali bekerja on board. Berbeda dengan teman-temanku yang memiliki orientasi pada uang, aku selalu menganggap pekerjaanku sebagai perjalanan mengelilingi dunia secara gratis, karena selama ini sudah puluhan negara disambrangiku melalui jalur lautan. Karena itu, aku sangat menikmati pekerjaan ini.
Jika tidak ada halangan, aku berencana akan terus bekerja di kapal pesiar sampai akhir hidupku.
TO BE CONTINUE
Chapter 1 dari setiap ceritaku selalu menceritakan kehidupan kedua karakter utama dulu ya, tujuannya agar kalian bisa melihat betapa kontrasnya kehidupan mereka. Semoga kalian suka :D
Yang baca buku pertama? Yes, ini Daniel yang "mantanya" Kiara :D
Bad news! Novel ini tidak bisa ikut lomba cerita CEO-nya karena sinopsis ini udah di submit SEBELUM contest diumumin :( jujur aku sedih bgt dan down juga karena ini gak bisa buat lomba makanya update lama, padahal aku udah persiapin karakter Ashton sebaik mungkin untuk seorang CEO hehe :(
Tapi aku yakin ada jalan kesuksesan lain untuk novel ini, doakan aja ya, siapa tahu novel ini bisa satu juta pembaca HEHEHE AMIN!