“Each new day is an invitation to an adventure of your own making.”
― Steven Redhead, Life Is a Dance
* * * * *
AUTHOR’s POV
“Aku pulang!” teriak Elena riang begitu membuka pintu apartment-nya seraya merentangkan tangan lebar-lebar. Alice—teman sekaligus roommate Elena—langsung memekik dan lari memeluk Elena erat-erat, “Astaga, akhirnya kau pulang. My favorite girl is here!”
Kedua wanita itu saling berpelukan dan melompat-lompat di depan pintu. Mereka kemudian tertawa bersama lalu Alice membantu menarik koper Elena masuk. “Setelah 4 bulan tidak bertemu denganmu, kau masih seperti ini saja.”
“Memang kau berharap aku berubah jadi Wonder Woman atau apa?” ledek Eira.
“Haha, lucu sekali,”
Elena mengamati studio apartment mereka yang tampak bersih. “Tidak salah memang aku berbagi rumah bersama denganmu, kau membantuku menjaganya dengan baik.”
Elena dan Alice sudah bersahabat sejak kecil karena orang tua mereka bersahabat. Setelah sama-sama lulus sekolah, mereka berdua memilih merantau dan mengadu nasib ke New York City. Mereka mulai mengumpulkan uang dengan menjadi pelayan, namun Elena menemukan lowongan untuk bekerja di kapal pesiar. Berbekal tekad tinggi, Elena mempertaruhkan nasib dengan melamar sebagai pelayan di kapal pesiar karena tergiur gajinya empat tahun lalu, sedangkan Alice tidak bisa karena ia mabuk laut.
Setelah bertahun-tahun bekerja keras dan menabung, mereka akhirnya bisa membeli satu unit studio apartment untuk menjadi tempat tinggal mereka. Karena Elena jarang pulang, Alice seolah menjadi penguasa utama apartment ini.
Alice pun melihat jam dan kembali melompat gembira, “Sebagai bayaran karena telah menjaga apartment ini, ayo traktir aku seperti biasanya!”
Elena mendengus. “Jadi ini alasan utamamu sangat senang aku pulang, kan? Ya sudah, ayo kita ke mall, aku juga ingin menghabiskan uang.”
Selama beberapa jam, Elena dan Alice sibuk berkeliling Rexford Department Store untuk berbelanja pakaian-pakaian model terbaru. Setelah itu, mereka memilih makan malam di salah satu restoran di sana, mengisi kekosongan selama empat bulan perpisahan mereka.
“Apa ada pria yang menarik hatimu kali ini?” tanya Alice seraya memutar pastanya dan memasukannya ke mulut. “Aku mohon jawab iya. Kau empat bulan bertemu dengan ribuan pria tampan,”
Kening Elena mengernyit, “Mengapa kau berpikir begitu? Tentu saja tidak. Sudah kubilang aku tidak tertarik berhubungan dengan pria manapun,” balas Elena cuek.
“Woah..” Alice menatap Elena kagum, “Jadi kau masih tetap memegang prinsipmu untuk tidak memiliki pasangan, menikah, dan memiliki anak?”
Perkataan Alice dijawab anggukan tegas Elena. “Iya. Aku berencana tidak menikah apa lagi memiliki anak. Lebih baik fokus pada diri sendiri dan bersenang-senang seumur hidup sampai tua,” Elena melirik ke arah kantong belanjaannya dengan merk-merk terkenal, “Kau bayangkan jika aku punya anak, sepertinya aku tidak bisa menikmati hidup dengan berbelanja LV, Dior, Channel seperti sekarang.”
Beginilah kehidupan seorang Elena Winslow. Menjadi anak tunggal dan terbiasa hidup sendiri sejak orang tuanya meninggal membuat mindset hidup Elena berubah total; ia memilih hidup untuk dirinya sendiri dan menyenangkan dirinya sendiri.
Elena tidak pernah tertarik menjalin hubungan romantis dengan pria atau pun berpikir untuk menikah. Apa lagi setiap harinya Elena harus melihat, mendengar, dan mengetahui berbagai masalah hidup orang di sekitarnya karena cinta dan keluarga. Menurutnya, tidak ada yang salah dengan wanita memilih tidak menikah. Karena itu ia tidak tertarik sama sekali dengan kedua hal itu.
Mendengar penjelasan Elena untuk kesekian kalinya, Alice hanya mendesah pasrah. “Kau benar-benar terdengar seperti wanita modern abad 21. Malangnya nasib Ryan yang setia menunggumu selama bertahun-tahun.”
Elena sontak terdiam dan hanya tersenyum kecut, memilih mengabaikan perkataan Alice yang penuh akan sarkasme.
Inilah hidup Elena Windslow dan ia puas dengan hidupnya saat ini. Elena hanya ingin bersenang-senang dan menghamburkan uang yang ia dapat dari kerja kerasnya di kapal selama ini.
* * * * *
“Ia adalah putri tunggal Peyton Industries, ibunya seorang dokter mata terkenal, dan kakeknya adalah professor di Univeristy of Callain. Dia sendiri sedang merintis karir menjadi artis dan model. Jangan membuat kesalahan, Ashton. Dia calon menantu ideal.”
Ashton menghela nafas saat melihat ciri-ciri wanita yang disebutkan ibunya melalui telepon sedang menunggu di ruangan VVIP di restoran Michelin Star langganannya setiap melakukan blind date. Hampir setiap minggu, ibunya akan menyodorkan wanita di bawah hidungnya untuk dinikahi. Wanita itu tersenyum sejuta dollar begitu pandangan keduanya bertemu dan mengedipkan matanya centil pada Ashton.
Seperti dugaannya, wanita menjengkelkan lainnya yang kebetulan berasal dari keluarga kaya raya. Terlalu sering bertemu dengan spesies kaum hawa sejenis ini, Ashton sudah sangat mengenali mereka meskipun wanita-wanita ini belum membuka mulutnya.
“Ms. Casssandra Peyton?”
“That’s me!” Wanita itu tersenyum kegirangan melihat Ashton berjalan mendekat. “Halo, Mr. Ashton Rexford, you can call me Sandra. Akhirnya kita bisa bertemu malam ini.”
Ashton memilih membungkam mulutnya, menarik kursi di depan wanita ini dan duduk. Tanpa memerhatikan Sandra lagi, ia langsung membuka menu di depannya. “Apa anda sudah memesan makanan?”
Sandra kembali tersenyum manis. “Aku ingin menunggu kehadiranmu sebelum memesan makanannya.”
Kembali, Ashton tidak meladeni ucapan wanita itu dan hanya menyeringai sinis. Alunan musik klasik mulai terdengar memenuhi ruangan hening, bahkan suara champagne yang dituang di gelas kaca tampak terdengar jelas. Dentingan gelas kristal menjadi satu-satunya interaksi mereka sejauh ini. Karena setelah menenggak champagne, Ashton mengacuhkan kehadirannya bagaikan patung penghias ruangan.
Mereka pun menyantap makanan mereka dengan suasana canggung karena Ashton sejak tadi tidak bersuara. Sandra yang merasa risih akhirnya berusaha tersenyum dan memulai perbincangan. “Apa kau tidak penasaran tentangku sedikit pun?”
Pada akhirnya, Ashton tersenyum formal seraya memandang Sandra lekat-lekat. “Baiklah, Ms. Peyton. Aku akan memulai dari pertanyaan basic; apa pendidikan terakhirmu dan berapa GPA-mu?”
Mata Sandra mengerjap tak menyangka mendapat pertanyaan ini, namun ia berusaha terlihat tenang dan tersenyum terpaksa. “Aku pernah kuliah di Columbia University mengambil Finance and Economics. Tapi matematika selalu membuatku menguap bosan, karena itu aku keluar dan memilih menjadi artis.”
Sandra melompat kecil ketika Ashton meletakan alat makannya kasar ke meja mendengarnya. “Dengan kata lain…kau tidak pintar, begitu?”
“Well, aku akui bahwa aku memang tidak terlalu pintar di sekolah. Tapi tenang saja, aku mahir berakting dan modeling. Kau pasti akan kagum melihatnya,”
Ashton menggeleng tak percaya mendengarnya. Bisa-bisanya Mama mempertemukanku dengan wanita seperti ini? Batin Ashton memaki kesal dan memutuskan untuk mengakhiri pertemuan ini secepat mungkin.
Wanita itu menopangkan dagunya dengan tangan dan terus memerhatikan Ashton penuh kekaguman.“Apa kau tahu alasanku ingin menemuimu?”
Ashton hanya melirik wanita itu sekilas dan memilih melanjutkan makan malamnya. Namun sikap dingin itu tak menjadi halangan bagi Sandra untuk menebar pesonanya. “Sejujurnya, aku tertarik datang ke blind date ini karena kau sangat tampan dan pria idealku. Sejak melihat fotomu, aku langsung tertarik denganmu. Bahkan tadi malam aku tidak bisa tidur,” Sandra memilih menopangkan dagunya seraya tersenyum genit, “Bagaimana? Apa menurutmu aku cocok menjadi istrimu?”
Pisau dan garpu di tangan Ashton seketika berhenti bergerak, kepala Ashton mengadah menatap Anella tak percaya. “Apa kau bilang?”
“Menikah denganmu. Bagaimana? Kapan kita akan menikah?”
Ashton mendengus mendengarnya lalu bangkit berdiri. Sandra tampak kebingungan melihatnya. “Ada apa? Kau mau kemana?”
“Dalam seminggu, aku bisa bertemu satu sampai dua wanita. Artinya, dalam sebulan aku bertemu delapan wanita. Satu tahun hampir 100 wanita dan aku sudah melakukan ini selama dua setengah tahun. Tapi, kau wanita terkonyol yang pernah kutemui. Waktuku terlalu berharga untuk dihabiskan dengan wanita konyol sepertimu.”
“Apa? Wanita konyol?” Sandra melotot kesal.
“Ya, wanita konyol,” kata Ashton terang-terangan, “Kita baru saja bertemu setengah jam yang lalu dan kau sudah membicarakan pernikahan. Membayangkan menikah denganmu saja sudah membuatku sesak nafas. Jangan lupakan tentang keenggananmu untuk belajar. Maafkan aku jika terkesan konservatif, tapi aku ingin istriku adalah wanita yang cerdas agar kami dapat bertukar pikiran, bukan bertukar gossip.”
Tangan Sandra terkepal dan ia pun ikut berdiri dari tempatnya, dagunya terangkat tinggi saat menghampiri Ashton. “Dengar, Ashton. Jika aku berkata tertarik denganmu, maka aku tertarik denganmu. Aku akan tetap berusaha mendekatimu, ingat itu.”
Ashton kembali hanya menyeringai penuh ejekan sebelum angkat kaki dari ruangan VVIP itu. Cassandra mendengus sebal melihatnya dan membanting makanan di meja makan hingga semuanya jatuh ke lantai.
* * * * *
Ashton melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Baru kali ini ia pergi kencan buta dan bertemu wanita sejenis itu. Daniel membungkuk hormat lalu membukakan pintu mobil untuk Ashton. Pria itu kini bisa bernafas lega setelah mobil berjalan menjauhi restoran. Daniel memerhatikan bosnya melalui kaca spion. “Apa anda membutuhkan sesuatu, Sir?”
Ashton menggeleng dengan mata terpejam. “Tidak. Bacakan saja jadwalku selanjutnya.”
“Anda dijadwalkan meninjau proses perbaikan REXFORD Department Store di Time Square, Sir. Ah ya,” Daniel teringat sesuatu dan akhirnya membukakan undangan yang diterima Ashton sejak kemarin, “Sir, anda diundang untuk menghadiri ulang tahun putri dari Remington Group. Undangannya di kirim via e-mail sekitar satu jam yang lalu.”
Ashton membuka matanya dan menatap Daniel, “Pesta ulang tahun putri Remington Group? Kapan?”
“Tepatnya dua minggu dari sekarang, Sir.”
Ashton tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk. “Segera konfirmasi kedatanganku. Remington Group merupakan kolega penting sehingga tidak masalah waktuku terbuang di sana selama beberapa jam untuk menjaga image.”
“Ta-tapi, Sir, pesta ini diadakan di kapal pesiar dan memakan waktu kurang lebih satu minggu.” jelas Daniel membuat Ashton menganga tak percaya. “Pesta ulang tahun apa yang diadakan satu minggu? Katakan pada mereka aku tidak bisa hadir,” ujar Ashton akhirnya.
Daniel berdeham. “Maaf jika saya lancang, Sir, tapi saya sudah mengumpulkan beberapa data yang anda butuhkan. Berdasarkan hasil pengamatan saya, nilai saham Remington Group meningkat cukup tajam dalam kurun waktu enam bulan, selain itu kerja sama mereka dengan Halstein Group juga berdampak baik pada kedua perusahaan. Saya juga memeriksa list VVIP Member REXFORD Department Store dan menemukan bahwa Stella Remington merupakan salah satu customer tetap department store ini, bahkan tahun lalu menjadi Top Spender. Menurut saya, kehadiran anda di pesta ulang tahun Stella Remington dapat berdampak baik bagi REXFORD Department Store, Sir.”
Ashton mengangkat alisnya mengapresiasi kegesitan Daniel. “Kau semakin mengerti aku, Mr. Connor. Baiklah, konfirmasi kedatanganku segera.”
Daniel mengangguk mengerti. “Kalau begitu saya akan menghubungi pihak Remington Group bahwa anda akan hadir. ” kata Daniel kemudian mengetik e-mail tersebut.
“Urus semua detail tentang acara itu, aku hanya ingin datang tanpa repot.” perintah Ashton dan kembali mendapat anggukan mengerti dari Daniel. “Baik, Sir.”
TO BE CONTINUE
Next chapter akhirnya dua insan ini akan bertemu pemirsa! See you! :D
Follow ya i********: aku @kkezzgw