"They were alike, they were. Both predators, both dangerous and both vain. And they each found the other fascinating.”
― Kady Cross, The Girl in the Steel Corset
* * * * *
“Kali ini berapa lama kau akan berlayar? Rasanya kau baru kembali kemarin, sekarang sudah akan berlayar lagi..”
Elena tampak berpikir dengan tangan sibuk memakai seragam kerjanya. Ia kemudian memeriksa kembali paspor di tasnya sebelum menjawab, “Sama seperti biasanya, hanya empat bulan. Aku yakin akan mengumpulkan banyak uang!” kata Elena penuh semangat.
“Oho! Dasar wanita ambisius.” canda sahabatnya Alice lalu melirik lima buah koper yang disiapkan Elena, “Tidak biasanya kau membawa koper sebanyak ini, memang berapa negara yang kau kunjungi?”
Senyuman Elena semakin cerah mengalahkan sinar mentari pagi itu. “Sekitar dua puluh negara. Tapi kudengar, kali ini akan ada pesta ulang tahun jika aku tidak salah ingat. Biasanya, para pegawai mendapatkan champagne dan wine ribuan dollar sisa para tamu undangan. Kami semua paling senang jika ada pesta,”
Alice berdecak kagum. “Orang kaya memang memiliki dunia yang berbeda dari kita. Berapa biaya mengadakan pesta ulang tahun di kapal pesiar?”
“Tidak usah membayangkan, kau akan pusing sendiri dengan nominalnya.” balas Elena kemudian mendesah bahagia. “Aku keliling dunia dan dibayar, sudah kubilang ini pekerjaan yang menyenangkan. Sayang sekali kau mabuk laut.”
“Dan juga pekerjaan yang bisa membuatmu cuci mata,” Alice kemudian mendekat penasaran, “Apa di atas kapal banyak pria tampan kaya raya?”
Elena menyeringai penuh kemenangan. “Terlalu banyak, karena itu jangan salahkan aku jika aku tidak tertarik untuk berpacaran. Mereka rata-rata menyebalkan.”
“Karena itu kau terus menolak Ryan?”
Pergerakan Elena terhenti kemudian ia memberi tatapan setajam silet pada Alice. “Aku tidak tertarik pacaran, Alice. Sudah berapa kali aku mengatakan ini?”
Alice mengendikan bahunya, “Well, dia pria yang baik. Orang buta pun tahu betapa dia menyukaimu sebagai wanita,”
Elena memutar bola matanya tak peduli, “Sudah jangan banyak bicara, bantu aku membawa koper-koper ini. Ryan baru saja mengirim chat mengatakan dia sebentar lagi sampai, aku tidak mau merepotkannya lebih banyak lagi jika dia sampai harus naik ke sini untuk membantu mengangkat koper-koperku.”
“Ck, malangnya nasib teman kita itu. Sudah masuk friendzone selama sekian tahun, dijadikan supir pula.” sindir Alice dan kembali mendapat tatapan kesal Elena. Elena hanya menggelengkan kepala tak menjawab dan mereka turun ke lobby apartment.
Tepat saat mereka tiba di lobby, Ryan berjalan masuk dan terkejut saat berpapasan. “Kenapa kalian tidak menungguku di atas? Aku bisa membantu kalian dengan koper-koper ini,”
Alice melirik Elena jahil, “Sahabat tercinta kita ini tidak mau menyusahkan pria yang sudah ia friendzone sejak dulu. Karena itu ia memaksa untuk turun sendiri,” sindir Alice dan kembali mendapat tatapan mengancam Elena.
Ryan hanya tersenyum tipis mendengarnya. “Aku sudah biasa untuk masalah itu, hatiku sudah kebal,” kemudian ia menatap Elena lembut, “Apa kau sudah siap berangkat?”
Elena mengangguk, “Sudah, tinggal jalans aja. Thank you, Ryan. Maaf aku terus merepotkanmu.”
“Tenang saja, semakin kau merepotkannya, semakin dia senang. Maka itu, bukalah hatimu untuknya,” ujar Alice semakin memanasi situasi yang ada.
Elena menyenggol tangan Alice jengkel lalu berjalan membawa satu koper menuju mobil Ryan. Ryan mengikuti langkah Elena, tapi tidak lupa berbalik menghadap Alice seraya mengacungkan ibu jarinya. Alice tertawa pelan lalu berbisik dengan bahasa bibir, “Good luck!”
* * * * *
“Sepertinya perjalanan kali ini akan menyenangkan,” kata Ryan setelah mendengar tentang pesta ulang tahun Stella Remington.
“Sangat. Meskipun orang kaya rata-rata menyebalkan, tapi diet ekstrim mereka sangat membawa kebahagiaan bagi perut miskin kita.”
Keduanya pun tertawa karena kekonyolan mereka sendiri, hingga mobil mereka mulai mendekati pantai. Elena mendesah bahagia birunya riak air laut kembali menyapanya setelah tidak berjumpa selama tiga minggu. Ia memang sangat menikmati pekerjaannya.
Begitu mesin mobil Ryan mati, Elena segera membuka pintu dan berlari keluar. Elena segera membuka bagasi mobil dan mengeluarkan barangnya satu per satu dengan semangat. “Aku akan kembali menghasilkan uang, liburan tanpa dibayar sangat tidak menyenangkan,” ujar Elena asal.
Setelah semua barang berhasil diturunkan, Elena menghambur ke pelukan hangat Ryan. “See you in four months!” kata Elena dan langsung berlari menuju kapal.
Namun, langkahnya terhenti ketika Ryan menarik tangannya kembali. “Elena, tunggu.”
“Huh?” Elena kembali duduk dan memandangi Ryan—yang tampak gugup—bingung, “Ada apa?”
Ryan memejamkan mata seraya mengatur nafasnya, jantungnya sedari tadi berdetak cepat hingga ia sulit konsentrasi. Sejujurnya, ia bersyukur keduanya bisa sampai di bibir pantai dengan selamat.
Elena menarik nafas shock saat Ryan tiba-tiba berlutut di hadapannya sambil mengenggam sebuah beludru merah. “Ryan, apa yang kau lakukan?” Elena berusaha menarik Ryan berdiri, “Jangan seperti ini, semua orang memerhatikan kita.”
Namun Ryan menggeleng dan mendongak menatap wanita yang dicintainya dalam. “Elena, aku tahu ini sedikit keterlaluan. Kau bahkan tidak mencintaiku dan aku tahu tentang prinsip hidupmu bahwa kau tidak mau menikah. Tapi, tadi malam aku merasa…aku harus melakukan ini sebelum kau pergi berlayar hari ini, entah mengapa.”
Cincin bertahtakan permata mewah menyinari mata Elena dengan segala keindahannya. Mata Elena bertemu dengan miliki Ryan yang menatapnya penuh harapan. “Hari ini aku melamarmu di tempat yang paling kau sukai—pantai dan laut, karena kau sudah menjadi tempat favoritku di dunia ini. Elena Winslow, will you marry me?”
“Ryan, aku…” Elena membasahi bibirnya yang terasa kering karena lamaran tak terduga ini. “Aku…aku…tidak bisa. Aku sudah menjelaskan padamu bahwa selama ini aku hanya bisa menganggapmu sebagai kakak sekaligus teman baikku. I don’t deserve you. Kau berhak mendapatkan wanita yang tulus mencintaimu sepenuh hati. Aku…aku bukan wanita untukmu, Ryan.”
Meskipun sudah mengetahui jawaban apa yang akan diterimanya, namun Ryan tidak bisa menutupi perasaan hancur yang kembali menghantamnya dengan kejam, seolah berusaha menyadarkan Ryan pada kenyataan di depan matanya. Namun seperti tahun-tahun sebelumnya, Ryan tetap tersenyum tipis lalu menyerahkan kotak beludru itu ke tangan Elena. “Kalau begitu simpanlah cincin ini.”
“Ryan, jangan seperti ini. Aku tidak bisa menerima cincin ini, mungkin di luar sana ada wanita yang berhak menyematkannya pada jari mereka, dan itu bukan aku,” ujar Elena berusaha menolak semua itu, namun Ryan mengenggam tangan Elena erat.
“Berikanlah aku kesempatan untuk memiliki hatimu, Elena. Perjalanan selama empat bulan ini mungkin akan mengubah semuanya, kita tidak tahu permainan takdir apa yang sedang kita jalani, bukan? Apapun jawaban yang akan kau katakan…aku sudah siap untuk itu. Aku akan bersiap diri dan bersikap layaknya pria ketika kau menerima atau menolakku. So, apa kau bersedia memberiku kesempatan?”
Dalam situasi seperti ini, sejujurnya Elena tidak tahu harus berbuat apa. Ketulusan dan kasih sayang yang Ryan berikan padanya dan juga Alice terlalu banyak, ia sudah menjadi kakak bagi keduanya selama ini dan Elena sangat bersyukur karena itu.
Sayangnya, Elena tidak bisa menganggapnya sebagai seorang pria, bahkan setelah bertahun-tahun Ryan mengharapkan cintanya.
Tapi, apakah ini bisa berubah? Apa keseriusan Ryan kali ini bisa mengubah perasaan Elena padanya? Elena pun tidak tahu dan ia bimbang. Matanya mengadah untuk menatap Ryan memandanginya penuh harap—pandangan yang selalu ia dapatkan dari pria ini.
Elena pun menghela nafas lalu bersuara, “Aku…akan memikirkannya.” ujar Elena setelah mempertimbangkannya baik-baik.
Senyuman kebahagiaan Ryan menghangatkan hati Elena. Pria itu membuang nafasnya yang tak sadar sudah ditahannya sejak tadi. “Thank you, Elena.”
“Dengan satu syarat; jika sebelum aku kembali ada wanita yang mencintaimu sepenuh hati, kau harus membuka hatimu untuknya. Karena…aku tidak akan berjanji bahwa aku akan menerima lamaran ini setelah aku pulang nanti.”
Ryan mengangguk setuju. “Deal.”
“Karena itu,” Elena menyerahkan kembali kotak beludru itu pada Ryan. “Aku rasa aku belum berhak memiliki ini, kau harus menyimpannya.”
Tidak perlu menunggu lama, kotak itu kembali berada di tangan Elena. Ketika Elena ingin membantah, Ryan mengangkat telunjuknya tegas. “Aku membuat cincin ini khusus untukmu. Tidak ada wanita lain yang berhak memilikinya selain dirimu. Jadi…simpanlah. Itu akan menjadi pengingatmu bahwa setelah kau mendarat, kau harus menjawab perasaanku.”
Mendengar penjelasan tersebut, Elena akhirnya memasukan kotak itu pada tas tangannya lalu tersenyum penuh syukur. “Baiklah, terima kasih atas semua yang kau lakukan padaku selama ini, Ryan.”
“Don’t ever thank me for that, Elena” [Jangan pernah berterima kasih karena itu, Elena.]
* * * * *
Ashton menjauhi ponsel dari telinganya akibat teriakan ibunya dari seberang sana. “Aku harus menghadiri pesta ulang tahun putri tunggal Remington Group, Ma. Jadi lupakan apa pun rencanamu itu.”
“Kenapa kau tidak bilang pada Mama kalau kau ada acara? Lalu apa yang harus Mama katakan pada teman Mama dan putrinya?”
Ashton mendesah kesal. Ibunya memang tidak pernah mengerti batas, “Tentu saja untuk menghadiri pesta kolega bisnis kita, lalu apa lagi?”
Pamella Rexford—ibu dari Ashton Rexford—berteriak emosi. “Mau sampai kapan kau seperti ini, Ashton Rexford? Mama tahu kau saat ini sedang fokus pada pekerjaanmu, tapi Mama sudah ingin menimang cucu! Apa kau tidak kasihan pada ibumu ini? Apa kau tahu beberapa hari yang lalu, ibumu tercinta ini kembali menambahkan botox di pipinya?”
Mendengar perkataan itu untuk kesekian kalinya, Ashton hanya bisa menghela nafas lelah. “Ma, for God’s sake, aku baru berumur 26 tahun. Kau membuatku merasa seperti pria lansia yang sudah tidak mampu lagi memberikan cucu padamu beberapa tahun ke depan. Lagipula, apa kau tidak lelah terus memberiku wanita-wanita itu setiap saat? Kau simpan di mana stock wanita-wanita itu? Apa kau memiliki gudang sendiri untuk mereka? Bahkan, aku sudah tidak bisa mempercayai standarmu lagi setelah kau membawa wanita dengan otak kosong seperti Cassandra Peyton.”
Mrs. Rexford terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Kau bilang putri tunggal Remington Group? Siapa namanya? Apa dia single? Jika iya, kau harus mendekatinya, Ashton. Wanita itu pasti adalah menantu ideal bagi semua orang, bagaimana pun dia dari Remington Group. Pikirkan peluang bisnis yang mampu kita jaring jika kau menikah dengannya. Ah, setelah ini aku akan mencari profile wanita itu segera.”
Ashton berdecak kesal mendengar perkataan ibunya yang terus berputar. “Kalau tidak ada hal penting yang ingin dibicarakan lagi, aku akan matikan telepon ini.”
“Ah, aku sudah menemukannya! Namanya Stella Remington. Ashton, dengarkan Mama, selama di sana kau harus mendekati Stella—”
Panggilan itu pun terputus dan Ashton kembali memusatkan perhatiannya pada jendela di sampingnya. Ibunya tanpa henti selalu memberikan wanita-wanita untuk ia nikahi, alasannya karena ia ingin segera menimang cucu. Ashton tertawa meremehkan membayangkan betapa konyolnya hal itu.
Birunya laut di bibir pantai mulai menyapa matanya seiring dengan mobil mewahnya semakin mendekati sisi pelabuhan. Dibanding dengan setelan Armani yang setiap hari selalu melekat di tubuhnya, kini Ashton mengenakan baju casual dengan polo biru serta celana pendek berwarna khaki. Tak lupa, kacamata hitam bertengger tegas menghalangi sinar matahari yang menyilaukan mata.
Sejujurnya, Ashton tidak begitu suka menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, ia lebih suka berkutat pada pekerjaannya dan memastikan bahwa REXFORD Department Store menjadi nomor satu di antara para saingannya.
Namun hari ini pengecualian. Karena Gordon Remington merupakan salah satu kolega penting, ia harus menghormatinya dengan menghadiri undangan ini. Menjaga hubungan bisnisnya merupakan suatu kewajiban baginya.
Saat Ashton turun dari mobil, para tamu undangan dari kalangan sosialita kelas atas terlihat memadati pintu masuk kapal pesiar ini. Ia pun merapikan penampilannya, sementara supir serta sekretarisnya membanti mengeluarkan koper-koper Ashton dari bagasi mobil. Kemudian keduanya menghampiri Ashton dan menyerahkan koper tersebut.
“Sampai kapan acara ulang tahun ini berakhir?” tanya Ashton.
“Menurut undangan pada e-mail, kapal pesiar akan kembali berlabuh minggu depan pada hari Sabtu dan akan tiba di pelabuhan pada pukul empat sore, Sir.” jawab Daniel.
Ashton mengangguk mendengarnya. “Jemput aku tepat waktu, aku tidak akan memberikan toleransi keterlembatan.”
Daniel membungkuk paham, “Saya mengerti, Sir. Selamat menikmati liburan anda.”
Ashton langsung melirik Daniel tajam. “Liburan apa? Aku tetap akan bekerja di sana, Daniel.”
“Saya sangat tahu, Sir. Bahkan anda menyiapkan satu koper lainnya berisi semua dokumen yang harus anda periksa.”
“Aku akan meminta mereka menyiapkan ruangan kerja atau sejenisnya,” kemudian Ashton pun menepuk bahu Daniel santai, “Aku pergi dulu.”
Daniel kembali membungkuk hormat mengiringi punggung Ashton yang menjauh pergi darinya untuk berkumpul bersama para tamu lainnya.Wajah-wajah yang tampak familiar dalam dunia Ashton. Mereka bersama-sama mengikuti arahan awak kapal menuju ruang tunggu VVIP. Terlihat para pelayan kapal pesiar pun mulai menghampiri tamu satu per satu agar dapat di antarkan ke ruangan mereka masing-masing.
“Selamat pagi, Sir. Bisa saya melihat undangan anda?” sambut salah seorang pelayan di ruang tunggu dengan ramah.
Ashton menyerahkan tiketnya untuk di scan petugas. Sementara para tamu undangan lainnya sibuk bercengkrama dan berbaur dengan relasi mereka, Ashton memilih duduk di salah satu sofa untuk mengecek nilai saham REXFORD Department Store. Meskipun ia akan terjebak di kapal pesiar ini selama beberapa hari, namun ia akan tetap memantau dan bahkan memimpin rapat melalui video conference.
Sejujurnya, ia mulai mempertanyakan keputusannya untuk menghadiri pesta ini.
Di sisi lain, Elena mendesah kesal setelah mendapat complain dari salah seorang tamu yang diantarnya. “Di daftar tamu memang tertulis Ms. Roxanne bukan Mrs. Halstein, apa salahku jika membaca sesuai yang didaftarkan tuan rumah? Memang orang kaya itu sangat menyebalkan.” gerutu Elena dengan mata terpejam berusaha meredam kekesalannya.
Sedetik kemudian, senyum formalnya kembali tercipta untuk menyapa tamu lainnya. Ia memeriksa kembali daftar tamu dan menghampiri rekannya yang bertugas untuk memeriksa kedatangan tamu. “Apa ada tamu yang perlu kuantar lagi?”
Rekannya kemudian mengecek komputer di depan ruang tunggu lalu mengangguk. “Mr. Ashton Rexford sudah datang. By the way, dia sangat tampan!”
Elena menyikut tangan rekannya geli. “Sudah berapa kali kau bicara begini hari ini?” tanyanya geli, “Oh iya, dan tidak semua orang tampan itu baik! Aku tadi baru selesai mengantar pria tampan bernama Lucas Halstein dan istrinya. Kau tahu apa yang dia lakukan? Memarahiku karena salah menyebut nama istrinya. Bayangkan, memarahaiku! Wanita itu pasti memiliki hati setebal baja karena menikah dengan pria seunik itu. Astaga, jika dia bukan tamu VVIP, rasanya aku ingin membenturkan kepala besarnya itu ke deck kapal.”
Rekannya hanya tertawa lalu menepuk-nepuk punggung Elena prihatin, “Sudah, sudah. Jangan mengomel terus. Kali ini dia datang sendiri, jadi tidak akan mengomel karena salah menyebut nama istrinya.” ejeknya.
Saat masuk ke ruang tunggu, Elena segera mengedarkan pandangannya mencari wajah yang tersedia di aplikasinya. Saat matanya menemukan posisi tamu itu, Elena segera berjalan menghampiri pria itu. "Mr. Rexford?"
“Woah..” tanpa sadar Elena bergumam kagum melihat keindahan di depan matanya. Mata cokelat mudanya sanggup melelehkan hati kaum hawa yang melihatnya, hidung aristokrat itu tinggi menjulang, seimbang dengan rahang tajamnya terpahat sempurna. Semuanya semakin terlihat sempurna dengan tubuh atletis yang tersembunyi di balik kaus polo biru itu.
Pria ini mungkin salah satu pria tertampan yang pernah ia temui selama ini. Dan seperti yang ia sudah katakan sebelumnya; setiap harinya, ia bertemu dengan pria tampan.
Elena berdeham kikuk menyadari betapa konyolnya ia saat ini di depan tamu, kemudian segera memberikan senyum hangat nan profesionalnya pada Ashton. "Selamat datang di Lion Heart Cruise, Mr. Rexford. Nama saya Elena Winslow, saya bertugas untuk mengantarkan anda ke kamar, mari tuan ikuti saya.”
TO BE CONTINUE
Adegan Lucas marah-marahnya akan ada di buku cetak ya, di sini kagak ada WKWKWK
Tapi kalo kalian ingat, Elena adalah orang yang mengantar Lucas dan Kiara ke kamar di Chapter 43: The Cruise :D
Btw, untuk yang tanya "Kak, kok gak update tiap hari sih?" Karena cerita ini belom SIGNED. Aku akan update tiap hari setelah SIGNED hehe, harap bersabar ya ;)