There's always going to be the circumstances you can't plan for. There's always the unexpected relevance and the serendipity.
Jason Silva
* * * * *
Ashton mengamati sekilas kamar mewah yang akan menjadi tempat kediamannya selama beberapa hari ke depan. Warna cokelat, hitam, dan putih mendominasi ke seluruhan ruangan, Sebuah king size bed bertengger gagah di tengah ruangan, menghadap langsung pada sentuhan indahnya biru cerah lautan yang terpampang jelas di balik jendela balkon kamarnya.
Sejauh ini ia puas dengan ruangan yang akan ia tempati ini.
“Mr. Rexford, layanan kamar kami tersedia 24 jam, sehingga jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa menghubungi nomor yang tertera pada buku tamu melalui telepon ini.” ujar Elena menjelaskan sesingkat mungkin agat tidak membuang waktu customer dan dirinya sendiri karena di luar sana masih banyak tamu VVIP yang harus ia antar ke kamar.
Ashton tidak menjawab dan langsung berjalan ke ruangan kerja yang ada di kamar. Elena akhirnya menunduk hormat untuk terakhir kalinya sebelum berjalan ke arah pintu. “Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Sir?”
“Apa kalian memiliki proyektor untuk rapat?” tanya Ashton setelah memerhatikan ruang kerja dan tidak membutuhkan alat-alat yang dibtuuhkan untuknya melakukan teleconference jarak jauh.
Elena mengangguk mengiyakan. Lion Heart Cruise sudah mengantisipasi hal-hal seperti ini mengingat tamu mereka adalah para kaum sosialita atas yang sibuk. “Tentu kami memilikinya, Sir. Apa anda ingin kami menyiapkan proyektor di ruangan anda segera?”
Ashton mengangguk cepat, “Ya, secepat mungkin karena itu benda yang sangat kuperlukan selama di sini. Ah, apa kalian menyediakan 1996 Dom Pérignon Rose Gold? Sudah berapa lama itu disimpan di kapal ini?”
“Baik, saya akan segera menghubungi layanan kamar untuk membawakan benda yang anda minta dan juga memeriksa persediaan stock 1996 Dom Pérignon Rose Gold kami,”
Pertama, Elena memasukan nomor kamar Ashton pada tabletnya lalu mengetik barang-barang atas permintaan pria ini. Elena juga menambahkan peralatan tulis yang kemungkinan dibutuhkan untuk pekerjaan seperti notebook dan pena. Barulah setelah itu ia dengan gesit mencari jenis champagne yang diminta Ashton. Ia pun kembali tersenyum formal saat melihat hasil pencariannya. “Kami menyediakan 1996 Dom Pérignon Rose Gold untuk pelayaran ini, Sir. Untuk penyimpanan, semua bahan-bahan makanan dan minuman yang ada pada kapal ini fresh dan baru masuk ke kapal tadi pagi, Sir.”
“Kalau begitu bawakan champagne itu bersama dengan proyektornya. Aku ingin dua botol.”
Elena menunduk hormat. “Baik, Sir. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?”
“Itu saja.”
“Kalau begitu saya permisi dulu, Sir. Jika anda membutuhkan bantuan, anda bisa menghubungi kami melalui telepon. Have a nice day, Mr. Rexford.” tutup Eira kemudian menghilang di balik pintu.
Begitu pintu tertutup, Ashton segera merapikan barang-barangnya. Memasukan setiap pakaian ke dalam lemari dan meletakan perlengkapanannya di ruang kerja. Ashton menyalakan iPad-nya dan menghubungi Daniel di seberang sana.
“Selamat pagi, Mr. Rexford.” sahut Daniel.
“Beritahukan padaku perkembangan department store hari ini.”
* * * * *
“Semua tamu sudah di antar ke kamar mereka. Beserta seluruh barang-barang mereka yang sangat banyak dan berat.” lapor Mia sambil merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Elena mengangguk, matanya masih sibuk memeriksa daftar tamu pesta ulang tahun Stella Remington. “Bagaimana persiapan untuk pesta penyambutan tamu malam ini?”
“Aku dengar—”
“Kau tak akan percaya dengan apa yang akan kukatakan!” seru Lisa dari balik pintu dan menghampiri para karyawan tepat saat Mia ingin menjawab pertanyaan Elena. “Ini mungkin salah satu pesta orang kaya favoritku! Lihat, tadi aku baru saja mengantar seseorang ke ruangannya, tebak siapa itu?”
“Pejabat di negeri ini?”
“Atau semua pengusaha yang menjadi tamunya? Hampir seluruh tamu di sini adalah pengusaha, Lisa.”
Lisa memutar matanya jengkel, “Untuk apa aku berfoto dengan seorang pengusaha?”
Pernyataan itu langsung menarik perhatian mereka semua. “Foto apa?”
Begitu Lisa mengeluarkan ponselnya, semuanya langsung shock dan histeris. “Kau berfoto dengan Antonio?” jerit salah satu dari mereka dan serempak mengerumuni Lisa heboh.
Lisa mengangguk sombong. “Tentu saja. Oh! Kami saling merangkul pinggang masing-masing. Harus kuakui, keseksiannya jauh berkali-kali lipat meningkat saat kita melihatnya langsung!”
Semua kru wanita mendesah mendamba sekaligus iri mendengarnya. “Seharusnya aku stand by di bagian pengantaran tamu!”
“Sepertinya pacarku menelepon di saat yang tidak tepat.” sesal seseorang lainnya.
“Aku tidak sabar melihat aksi panggungnya di pesta penyambutan nanti.”
“Orang kaya memang hidup di dunia yang berbeda dengan kita.”
Elena memijat keningnya sebelum melerai mereka semua. “Okay, guys, hentikan. Fokus pada pekerjaan karena para tamu mulai berjalan-jalan di sekitar kapal, dan juga sebentar lagi makan siang dan restoran membutuhkan banyak back up.” lalu Elena beralih menatap Lisa, “Dan kau sedikit melanggar protokol kita, Lisa. Seharusnya kau bersikap professional karena bagaimana pun, Antonio adalah tamu kita. Tapi karena aku orang baik, kali ini aku membiarkanmu. Come on, kembali bekerja!”
Mereka semua tersenyum geli lalu serentak mengangkat tangan mereka ke atas memberikan hormat pada Elena. “Siap, laksanakan, komandan!” ledek mereka pada Elena, seperti biasanya.
Wajah Elena memerah malu, “Kenapa kalian selalu melakukan ini padaku setiap aku menasehati kalian?”
Mia memijat bahu Elena seraya tertawa kecil. “Karena kau, Elena Winslow—seorang Junior Assistant yang sangat berbakat hingga mendapat julukan ‘Most Wanted Crew’ dan Best Employee tahun lalu—terlalu serius sekarang. Relax, babe. Kita akan kembali bekerja.”
“Bukan seperti itu, tapi—”
“We know, we know!” sahut Lisa riang, “Kami mengerti posisimu, Elena. Menyebalkan menjadi tangan kanan boss, bukan?”
Elena melirik kanan dan kirinya sebelum diam-diam mengangguk, “Seharusnya aku tidak terlalu rajin tahun lalu.”
Mereka pun tertawa mendengar keluhan pertama Elena setelah naik jabatan, dan beriringan keluar ruangan untuk melayani para tamu lagi.
* * * * *
Ashton menghela nafasnya ketika merasakan makanan yang masuk ke dalam mulutnya kini benar-benar tidak sesuai standar lidahnya. Lobsternya terlalu matang untuknya, black truffle-nya terlalu banyak—meskipun banyak orang bersyukur karena itu, dan wine-nya tidak terlalu cocok bagi seleranya.
Ia pun mengangkat tangannya memanggil seorang pelayan yang lewat. “Yes, Sir? Ada yang bisa saya bantu?”
“Ada sekian complain yang harus kuberikan pada mereka mengenai makanan saya.” kemudian Ashton menunjuk lobster itu dengan pisau di tangannya. “Berapa temperature kalian dalam memasak lobster ini?”
Pelayan itu mengecek kertas di tangannya lalu menjawab, “140 derajat Fahrenheit sesuai standar International, Sir.”
“Well, sepertinya seleraku sedikit berbeda dengan tamu lainnya karena menurutku itu terlalu matang. Bisa aku mendapatkan potongan yang baru? Aku tidak bisa menikmati lobster ini karena sangat tidak sesuai dengan seleraku.”
Pelayan itu berusaha tersenyum tipis lalu mengangguk. “Tentu saja, Sir. Permisi,” ujarnya sopan seraya mengangkat piring itu dari depan Ashton, “Apa ada yang lainnya, Sir?”
“Kurangi black truffle-nya, karena aromanya menjadi terlalu pekat bagi indera penciumanku, artinya itu sangat menganggu. Dan juga…apa kau ada pilihan wine yang lain? Kombinasi antara lobster dan rekomendasi wine dari koki kalian tidak sesuai dengan lidahku, kurasa champagne akan lebih cocok untuk menemani hidangan tersebut. Bisa tolong kau panggilkan koki atau siapapun yang bisa mengurus ini semua?”
Kejadian itu berlangsung tepat saat Elena selesai memeriksa bagian deck kapal dan masuk memeriksa ruang makan. Mata Elena bertemu dengan milik pelayan yang tampak gugup dan terlihat membutuhkan bantuan.
Elena pun dengan sigap berjalan menuju meja Ashton seraya menyiapkan iPad-nya. Gadis itu terkesiap melihat bahwa tamu yang sedang complain ini adalah Ashton, tamu yang di antarya beberapa jam yang lalu.
“Selamat siang, Mr. Rexford. Ada yang bisa saya bantu?”
Ashton menghela nafas lalu bersedekap. “Apa aku harus mengulangi perkataanku lagi?” sindirnya dingin.
Pelayan itu langsung mengisi ketidak tahuan Elena. “Mr. Rexford memiliki beberapa keluhan mengenai menu yang dihidangkan siang ini. Pertama, lobster miliknya terlalu matang, lalu black truffle yang terlalu banyak menghancurkan aroma makanannya, dan terakhir kombinasi antara lobster dan wine yang di rekomendasikan para chef kurang cocok dengan selera beliau, ia lebih prefer champagne.”
“Apa Sunny ada di dalam?” tanya Elena sambil berbisik. Sunny adalah Assistant Food and Beverage Manager di Lion Heart Cruise, yang bertugas untuk melakukan pengawasan terhadap semua fasilitas produksi makanan dan minuman, dan juga restoran serta kualitas makanan.
“Sekitar satu jam yang lalu, Ms. Sunny izin ke klinik kapal pesiar karena perutnya sakit akibat datang bulan. Jadi semua urusan dapur saat ini di bawah control Head Chef. Sedangkan, Mr. Rexford tidak suka dengan wine pemberian koki kita. Apa yang harus kita lakukan, Ms. Winslow?” bisik sang pelayan kebingungan.
Elena mengigit bibirnya bingung. Mau tidak mau ia harus membantu waitress yang tidak mengerti apa pun ini. Kemudian Elena kembali mengalihkan perhatiannya pada Ashton yang menunggu. “Maaf menunggu lama, Mr. Rexford. Saat ini Asisstant F&B Manager kami sedang tidak ada di tempat, sehingga saya akan mengambil alih tugasnya untuk sementara.” kemudian Elena menekan aplikasi menu pada iPad-nya, “Apa anda memiliki jenis champagne yang anda inginkan khusus untuk memakan lobster? Jika memang ada, kami menyediakan list champagne yang dapat anda pilih dan nikmati sesuai selera anda, silakan anda lihat terlebih dahulu.”
Ashton menaikan alisnya dan memutuskan untuk mengikuti saran Elena. Tangannya bergerak melakukan swipe pada layar iPad Elena untuk memilih wine yang dia inginkan. Ia pun berhenti ketika menemukannya. “Ini, I prefer something like this.”
“Piper-Heidsieck Rare Le Secret Goldsmith,” Elena kemudian memesankannya ke sistem lalu tersenyum formal pada Ashton, “Champagne anda akan kami sajikan dalam kurun waktu lima menit, dan untuk lobster sendiri perkiraan waktunya dalah 10 sampai 15 menit. Saya juga ingin memastikan; apakah proyektor dan semua perlengkapan yang anda butuhkan sudah diantar staff kami ke kamar anda, Sir?”
Mendengar itu, Ashton mendongak dari ponselnya dan menatap wajah Eira lekat-lekat. Sikap mengenali langsung menyelimuti mata cokelat Ashton. “Ah, kau Elena yang tadi?”
Elena tersenyum, “Benar, Sir.”
“Semua sudah ada di kamarku.” ujar Ashton mengiyakan.
“Saya senang mendengarnya. Apa ada lagi yang bisa saya bantu, Sir?”
“Tidak, kau boleh pergi.”
“Baik, Sir. Semoga pelayanan kami dapat memuaskan anda, have a good day, Mr. Rexford.” pamit Elena membungkuk lalu berjalan tergesa menuju dapur dan memeriksa daftar pesanan makanan yang ditempelkan. “Untuk meja nomor 7, tolong pastikan masak sesuai permintaannya. Customer ini cukup banyak permintaan.”
“Atau istilah lainnya adalah rewel…” sahut suara seorang wanita dari balik pintu. Elena mendesah lega lalu berlari menghampirinya. “Kau tidak apa-apa? Kudengar kau sakit?”
Sunny tersenyum menenangkan, “Hanya kram perut sedikit. Aku memang seperti ini biasanya saat hari pertama.”
“Kau yakin bisa berdiri seharian di dapur?” tanya Elena khawatir.
“Tenang saja, aku sudah terlatih untuk ini. By the way, kudengar customer itu tadi complain banyak. Aku lega kau bisa menanganinya,”
“Lebih tepatnya aku harus memutar otakku agar ia bisa terpuaskan,” Elena mengeluarkan iPad-nya dan menunjukan pesanan Ashton. “Aku yang mengantar tamu itu ke kamar dan memang sejak awal seperti itulah sifatnya; terlalu perfeksionis dan banyak complain. Aku sudah menjelaskan di kertas pesanan mengenai detail permintaannya, pastikan semua yang nanti tersaji di piring sesuai dengan apa yang ia minta. Dia tidak akan segan untuk kembali meminta dibuat ulang.”
“Tipikal orang kaya,” gerutu Sunny, “Sekali lagi, terima kasih atas bantuanmu Elena.”
Elena pun melambai pada Sunny, “Kalau begitu aku pergi dulu, ada yang harus kuperiksa lagi.” pamit Elena dan meninggalkan area dapur.
Kebisingan dan kesibukan para waitress yang hilir mudik menyambangi setiap sisi ruangan dengan pesanan para tamu kembali terlihat. Namun, mata Elena kembali memandang Ashton yang sudah menikmati champagne-nya dengan tangan kiri sibuk menghubungi seseorang. Ia mengerjap tersadar dan langsung keluar memerika sisi deck lainnya.
* * * * *
Hingar bingar suara musik terdengar di tengah-tengah kapal yang sudah dipenuhi banyak orang. Seperti biasanya saat seseorang menyewa seluruh kapal untuk acara pribadinya, pesta pembukaan di adakan di kolam renang yang terdapat pada deck paling atas kapal pesiar.
Pool party itu dihadiri oleh semua tamu undangan. Pakaian mewah nan elegan yang sebelumnya mereka kenakan kini ditanggalkan dan berganti dengan sesuatu yang lebih casual, seperti sundress dan ada beberapa dari mereka mengenakan bikin dilapisi sarong satin.
Semua yang ada di sana berpesta pora dengan iringan musik ala DJ. Suasana semakin ricuh akan tepuk tangan meriah ketika pemilik pesta, Stella Remington, naik ke atas panggung dengan senyum percaya diri khasnya. Musik dihentikan untuk membiarkan tuan rumah memberikan kata sambut.
“Sebagai penyelenggara, aku sangat bersyukur dapat melihat setiap tamu dapat menikmati pesta penyambutan ini,” kata Stella memulai kata sambutannya, “anggaplah kapal pesiar ini seperti rumah kalian sendiri. Lakukanlah apapun yang kalian ingin lakukan, manfaatkan semua fasilitas di tempat ini sesuka hati kalian, karena Remington Group yang akan menanggung semua biayanya.”
Pengumuman itu sontak membuat para tamu undangan bersorak bahagia serempak, mereka terus bertepuk tangan kegirangan mendapatkan liburan gratis seperti ini. Tidak hanya tamu undangan, bahkan karyawan Lion Heart Cruise ikut bergumam kagum mendengarnya.
Apalagi tamu undangannya adalah sosialita dengan gaya hidup yang tinggi, tentunya mereka juga terbiasa melakukan apa saja tanpa memikirkan biaya. Entah berapa miliarakan Stella Remington habiskan untuk menjamu para tamunya di pesta ulang tahun mewah ini.
Tidak lama kemudian, pelayan-pelayan datang membawa nampan berisi crystal glass yang berisi champagne untuk dibagikan pada setiap tamu undangan yang hadir di sana, termasuk Ashton.
“Well, aku tidak mau terlalu lama merusak kegembiraan kalian untuk berpesta semalaman. Karena itu,” Stella mengangkat crystal glass berisi champagne tinggi-tinggi. “Mari kita bersulang untuk membuka pesta lima hari lima malam ini! Cheers!”
“Cheers!”
Tak lama setelah mereka menyesap champagne tersebut, tiba-tiba kembang api bertebaran menghiasi langit malam. Seluruh tamu undangan berdecak kagum akan keindahannya, beberapa dari mereka tampak merekamnya dengan ponsel mereka.
“Enjoy the party!” pekik Stella terakhir kalinya dan meninggalkan panggung, kembali diiringi tepuk tangan meriah semua orang.
Mengikuti perkataan Stella, semua orang mulai berpesta sepuas hati mereka. Suasana memanas ketika beberapa stripper mulai menaiki panggung dan menari untuk menghibur para kaum adam yang ada di sana.
Tapi berbeda dengan mereka, Ashton justru sibuk memainkan iPad-nya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat ia tunda di salah satu meja bar di sisi kolam renang. Ia tidak memedulikan hal lain, bahkan tidak menyadari beberapa kaum hawa memerhatikannya dengan mata berbinar mendamba.
Sampai salah satu dari mereka akhirnya memberanikan diri untuk duduk di sisi Ashton—yang masih tidak tahu menahu mengenai niat wanita itu.
“Hai…”
Mendengar panggilan itu, Ashton menoleh lalu memerhatika penampilan wanita itu dari atas sampai bawah. “Ada apa, Nona?”
Wanita itu tersenyum centil lalu melipat kakinya, sengaja membuat punca dress-nya naik terlalu tinggi hingga menapakan pahanya yang putih dan mulus. “Apa kau butuh seorang teman malam ini?”
Pria itu tersenyum sinis. Ia terlalu bosan dengan hal-hal tidak berguna seperti ini. Tanpa banyak bicara, Ashton menggeser iPad-nya tepat di depan wanita itu. “Apa kau mengerti apa yang tertulis di sana?”
“Huh?” wanita itu melirik sekilas dengan kening berkerut kemudian menggeleng. “Memang apa itu?”
Ashton mengambil kembali iPad-nya seraya menyeringai dingin. “Artinya tidak ada yang berguna dari kehadiranmu dalam hidupku. Jadi lebih baik anda pergi sekarang, carilah orang yang berminat.”
Wanita itu menghela nafas kesal, membanting tas tangannya ketika meninggalkan Ashton. Tidak lupa menabrak bahu Ashton secara sengaja. Ashton hanya mengusap-ngusap punggungnya tidak peduli dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tak lama, ia kembali berdecak frustasi. Seharusnya ia tidak datang ke pesta ulang tahun bodoh ini. Matanya mengedarkan sekelilingnya, namun terhenti saat melihat sosok yang dikenalnya sedang sibuk mengatur para pelayan dan memastikan semua berjalan dengan baik melalui HT di tangannya.
Sebuah ide pun muncul di otak cemerlang Ashton, lalu ia memanggil bartender di depannya. “Apa kau bisa tolong panggilkan wanita itu?”
“Wanita?” bartender itu mengikuti arah pandang Ashton lalu bertanya memastikan, “Maksud anda Ms. Elena Winslow?”
“Benar, benar. Tolong panggilkan dia. Ada yang ingin saya bicarakan.”
“Baik, Sir. Tunggu sebentar.” Bartender itu pun mengangguk mengerti dan menggunakan HT untuk memanggil Elena. Mendengar itu, Elena menoleh ke arah meja bar dan berjalan mendekatinya. “Ada apa?” tanya Elena pada sanga bartender.
Bartender itu menunjuk Ashton. “Tuan ini memanggil anda,”
Barulah perhatian Elena teralih pada Ashton, eskspresi mengenali membasuhi wajah Elena yang langsung tersenyum dan menghampiri Ashton sopan. “Selamat malam, Mr. Rexford. Ada yang bisa saya bantu?”
“Ms. Elena, sepertinya saya membutuhkan bantuan anda.”
“Bantuan saya?”
* * * * *
Tepat pukul delapan pagi, Ashton bangun dari tidurnya dan segera bersiap untuk mulai bekerja. Meskipun ia saat ini tidak berada di rumahnya atau tidak bisa ke kantor secara langsung, namun kebiasaan yang sudah ia terapkan tetap berjalan seperti biasanya.
Setelah berkutat selama 20 menit, Ashton keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya. Ia mengaplikasikan berbagai produk skincare ke wajahnya seraya mengeringkan rambut basahnya.
Kegiatannya terhenti ketika ia mendengar suara bel pintu kamarnya. Ashton bersedekap bingung, ia tidak memanggil layanan kamar. Pria itu pun keluar dari kamar mandi dan berjalan ke pintu. “Siapa?”
Ashton pun segera membukakan pintu. Namun jantungnya terasa turun ke bawah ketika melihat siapa yang ada di depannya.
Elena sekarang berdiri tepat di depan pintu Ashton bersikap professional, namun segalanya luruh ketika melihat apa yang ada di hadapan mata telanjangnya. Matanya melebar dan tanpa sadar bergerak naik turun dengan mulut tercengang lebar. Elena pun sontak terbatuk-batuk tidak menyangka akan melihat pemandangan ini.
“Ms. Winslow, a-apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ashton terbata karena masih syok Elena melihat ketelanjangannya.
Elena menggaruk rambutnya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dan wajahnya memerah malu. “A-ah itu, sa-saya,” Elena kembali berdeham kemudian berhasil kembali mengeluarkan senyum formalnya, “Selamat pagi, Mr. Rexford. Saya, Elena Winslow, akan membantu dalam pekerjaan anda selama anda ada di kapal pesiar ini.”
TO BE CONTINUE
Happy 1k readers! Terima kasih kalian mau baca novel ini :D
Untuk yang bingung kira-kira Rexford Department Store itu semewah mall apa sih kalau di Indonesia? Kira-kira kelasnya setara mall Pacific Place lah yang ada di bilangan Jakarta, yang isinya barang-barang branded seperti Dior, LV, Chanel, Burberry, dsbnya.