“Your dreams get perfect assistant if it goes connecting with great people.”
― Israelmore Ayivor, Shaping the dream
* * * * *
FLASHBACK to Opening Party
“Ms. Elena, sepertinya saya membutuhkan bantuan anda.”
“Bantuan saya?”
“Apa kapal pesiar ini menyediakan tersedia layanan sekretaris cadangan atau semacamnya?” tanya Ashton akhirnya, “Saya sangat membutuhkan seseorang untuk membantu saya dalam mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan dalam teleconference. Biasanya itu pekerjaan sekretarisku atau ARPA, tapi aku terpaksa tidak mengajak mereka karena aku tidak mau terlihat jelas bahwa aku tidak memedulikan acara ini. Akibatnya, aku sedikit kesulitan mengatur semuanya sekarang.”
Elena menggaruk kepalanya dengan senyum canggung, “Well, untuk itu…sebenarnya kami tidak menyediakannya, unfortunately. Namun, saya bisa membicarakan ini pada atasan saya agar ada solusi terbaik untuk permasalahan anda, Mr. Rexford.”
“Terima kasih, Ms. Elena. Aku hanya membutuhkan seseorang yang cekatan dan bisa mengatur semuanya dengan baik. Ah, aku juga butuh seseorang yang tepat waktu dan bisa menjaga confidential information dalam semua dokumen yang ada di tangannya. Tidak peduli itu pria atau wanita. Tentunya, aku akan menggajinya.”
“Saya mengerti, Sir. Akan saya perhatikan tentang itu.”
One day after the Opening Party (Satu hari setelah pesta pembukaan)
“Jadi, Mr. Ashton Rexford membutuhkan seorang asisten untuk membantunya?” tanya Sammy—boss Elena—dari balik meja kerjanya.
Elena mengangguk. “Benar. Melihat karakternya setelah beberapa kali berhadapan dengannya, dia bukan orang yang mudah meminta bantuan jika tidak mendesak. Jadi...here I am.”
Sammy bertopang dagu memikirkan keputusan yang terbaik, “Berarti anggap saja ini special service untuk tamu kita dan kebetulan sekali semua tamu di sini adalah pengusaha. Ada yang terpandang, ada juga yang masih kelas kecil. Artinya kita harus memeriksa dulu…apakah dia cukup spesial untuk mendapatkan semua itu?” ungkap Sammy lalu ia pun segera mengetik sesuatu pada laptopnya.
Mata pria itu membulat sempurna sebelum mendongak menatap Elena menganggukan kepalanya. “Ashton Rexford. Dia adalah CEO dari Rexford Department Store yang terkenal itu. Kau tahu department store itu bukan?”
“Wow…” gumam Elena mendengar informasi baru itu. Rexford Department Store adalah department store tersohor dan menjadi salah satu mall favorit Elena saat ingin menghabiskan uang. Selama ini ia membayangkan pemiliknya adalah pria pendek bertubuh tambun, namun ternyata siapa sangka pemiliknya merupakan jelmaan dewa-dewa Yunani. “Tentu, setiap ada diskon, aku akan menghabiskan uangku di sana.” tandas Elena.
“Jadi tentu saja artinya dia termasuk kategori tamu spesial, sangat spesial! Karena itu kita harus membantunya demi image perusahaan ini, bukan?”
“Apa ini artinya anda setuju untuk mencari kandidat yang cukup baik untuk membantu Mr. Rexford?”
Sammy mengacungkan telunjuknya pada Elena. “Tepat sekali. Dan sepertinya kita tidak perlu mencarinya lagi.” gumam Sammy sambil menatap Elena dengan tatapan penuh arti. Manik mata Elena membesar menyadari maksud di balik tatapan itu lalu menunjuk dirinya sendiri, “Maksud anda…aku orangnya?”
“Bingo! Kriteria yang ia inginkan sangat cocok denganmu, jadi untuk apa mencari orang lagi jika kita sudah mendapatkannya? Lagi pula, kau sepertinya sudah cukup “mengenali” sifat Mr. Rexford dan tahu harus berbuat apa, jadi lebih baik kau saja, Elena.”
Elena masih menganga tak percaya dengan perubahan situasi ini. “Ta-tapi bagaimana pekerjaanku di kapal pesiar? Rundown pesta ulang tahun Ms. Stella Remington sangat padat sehingga aku harus memastikan semuanya berjalan lan—”
“Dan aku sebagai bossmu juga rekan-rekan bawahanmu adalah orang yang tepat untuk menggantikan tugasmu sementara waktu. Jadi, fokuskan diri untuk membantu Mr. Rexford untuk sementara waktu. Ah,” Sammy membuka laci pada mejanya dan mengeluarkan beberapa brosur beserta list harga paket, “Sepertinya kau bisa menjadi sales juga dalam hal ini. Berikan ide padanya tentang mengadakan pesta di kapal pesiar atau apapun itu. Di situ sudah tertera nomor ponselku.”
Wanita itu memutar bola matanya lalu tersenyum mengejek. “Apa aku akan mendapat jatah dari kemungkinan promosimu, Sammy?”
“Karena itu kau harus bekerja keras mempromosikan kapal pesiar ini, okay?”
Well, pilihan apa lagi yang dimiliki Elena selain mengikutinya?
END of FLASHBACK
.
.
.
Suasana di sekitar keduanya tampak begitu canggung setelah peristiwa yang tidak disengaja beberapa menit lalu di depan pintu kamar Ashton. Mereka berusaha saling mengalihkan pandangan agar tidak bertemu sembari kaki mereka beriringan memasuki ruang kerja di kamar Ashton.
Ashton segera berjalan melewati Elena untuk mengambil beberapa berkas, lalu meletakannya di depan Elena. “Sebelum teleconference mulai, kau bisa sedikit membaca dulu mengenai perusahaanku untuk mengetahui lebih dalam. Dan jangan tersinggung, tapi kau harus menandatangani sesuatu sebelum menyentuh semua ini,”
Pria itu mencabut iPad dari stop kontak lalu membuka sebuah dokumen dan meletakannya pada tangan Elena. “Kau harus menandatangani kontrak bahwa semua informasi yang kau lihat, dengar, baca, dan ketahui—di ruangan ini atau selama kau menjadi asistenku—tidak akan pernah keluar ke pihak luar manapun. Jika hal itu terjadi, aku akan menuntutmu sesuai dengan tertulis pada kontrak perjanjian yang akan kau tanda tangani itu.”
“Apa?” Elena langsung merampas iPad tersebut dan membaca setiap poin yang tertulis di sana. “Anda tidak mengatakan tentang ancaman itu saat meminta bantuanku, Mr. Rexford.”
“Memang,” balas Ashton lugas, “Tapi jika kau tidak berniat melakukan apapun, seharusnya kau tidak masalah dengan ini semua.”
Dalam hati, Elena menyetujui perkataan Ashton. Tidak ada alasan baginya untuk memberitahu apapun yang akan disaksikannya nanti Tangannya pun bergerak mengambil pena digital dan menandatangani surat perjanjian itu. Ashton tersenyum formal seraya meraih iPad-nya kembali. “Terima kasih atas kerja samanya, Ms. Elena.” kata Ashton dengan tangan terulur.
Elena melirik tangan itu kemudian membalas menjabat tangan Ashton—yang terasa begitu besar dan hangat dibandingkan dengan miliknya. Elena berdeham pelan untuk menghilangkan perasaan gugup yang tiba-tiba menerpanya. “Terima kasih atas kepercayaan anda, saya berharap dapat membantu anda sebaik mungkin dalam lima hari ke depan.” balas Elena tegas.
“Kau sekarang sudah bisa membaca semua dokumen itu dan mempersiapkannya sementara aku akan mengganti pakaianku menjadi lebih…professional,” tandas Ashton kembali canggung menyadari ketelanjangannya dan bergegas keluar dari ruang kerja.
Begitu Ashton menutup pintu, Elena langsung berbalik dan mengipasi wajahnya yang semakin memanas. Ia yakin wajahnya sekarang merah bagaikan kepiting rebus di dapur kapal ini.
“Harus kuakui….that body tho….” gumam Elena, tapi sedetik kemudian kesadarannya kembali menyelimuti pikirannya dan ia menampar pipinya sendiri. “Sadar, Elena, sadar! Dia sekarang bossmu dan kau harus bekerja!” tandasnya dan segera membongkar dokumen-dokumen di meja tersebut.
* * * * *
Elena menopangkan dagu pada tangannya di atas meja, menghela nafas untuk kesekian kalinya dalam beberapa jam terakhir setelah seluruh pusat perhatiannya difokuskan pada tumpukan dokumen dan rapat melalui teleconference yang terpampang jelas pada proyektor di hadapanya.
Matanya terasa begitu berat, namun ia berusaha membuatnya tetap terbuka sebelum pria di sampingnya kembali menegurnya untuk kesekian kali.
Apa sekarang waktu yang tepat baginya untuk menyesali ini semua?
Suara alarm memecah konsentrasi keduanya. Elena menggigit bibirnya dan menunduk meminta maaf pada Ashton—yang meliriknya sedingin es di kutub—sebelum bergegas mengambil ponsel di tas tangannya.
‘Lunch time, baby!’ tertulis di layar ponsel Elena. Elena melirik jam yang menunjukan pukul dua siang. Jam biasanya ia mendapat jatah makan siangnya.
“Hmm…Mr. Rexford, sekarang sudah jam dua siang.”
Ashton sekilas melirik Elena sebelum memfokuskan diri pada deretan tulisan pada dokumen di tangannya lagi, “Lalu?”
Mulut Elena terbuka tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Artinya…ini jam makan siangku…atau mungkin anda juga.”
“Makan siang bisa menyusul, sekarang ada pekerjaan penting yang menung—”
Perkataan Ashton terpotong oleh suara perut Elena yang berdentum nyaring, menyebabkan situasi di antara keduanya kembali kikuk. Jika biasanya Elena akan menutup wajahnya malu, sekarang ia sedikit bersyukur dan hanya menyengir tipis. “Sepertinya…perutku tidak dapat menunggu, Mr. Rexford.” kata Elena sambil mengerjapkan mata memohon.
* * * * *
Setiap karyawan yang berlalu lalang di sepanjang koridor kapal tidak dapat melepaskan pandangan ingin tahu mereka saat berpapasan dengan Ashton dan Elena. Berbeda dengan Ashton tidak menyadarinya karena sibuk dengan ponsel berisi pekerjaan, Elena berusaha untuk meredam tatapan menggoda rekan kerjanya dengan memelototi mereka satu per satu. Sementara Ashton dan Elena tidak berbincang sama sekali sepanjang perjalanan menuju restoran.
Elan tersenyum formal lalu mengulurkan tangannya ke depan untuk Ashton. “Silakan anda masuk untuk memesan makanan anda, Mr. Rexford. Saya permisi,”
Saat Elena akan melangkah, Ashton sontak menghalanginya. “Kau mau pergi ke mana?”
“Makan siang,” Elena menunjuk petunjuk di ujung lorong, “semua karyawan makan di lantai dasar. Itu seperti pantry ribuan karyawan Lion Heart,” jelas Elena.
“Selama kau membantuku di sini, kau akan makan bersamaku.” ujar Ashton menggunakan jarinya untuk menyuruh Elena mengikutinya masuk ke restoran mewah tersebut. Elena pun menghela nafas mengalah dan berjalan mengekori Ashton dan duduk di seberang pria itu.
Seorang pelayan menghampiri mereka dengan membawa dua buku menu di tangannya. “Selamat siang, Tuan dan Nyonya. Ada yang bisa saya—” perkataannya terhenti begitu menyadari wanita itu adalah Elena. “Elena, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya spontan, Elena hanya melambai kecil seraya menyengir canggung.
“She’s with me,” terang Ashton akhirnya, “aku memintanya membantuku selama beberapa hari ke depan, jadi aku harus mengapresiasinya dengan mengajaknya makan bersama.”
Pelayan itu melirik Elena kembali sebelum kembali memasang senyuman professional-nya. “Very well, Sir. Apa anda sudah siap memesan?”
Ashton menunjuk satu menu dan sang pelayan mencatatnya dengan sigap. Lalu perhatiannya beralih pada Elena, “Bagaimana denganmu, Ele—maksudku, Ms. Winslow?”
“Hmm..aku…”
Sejujurnya Elena mengutuki dirinya sekarang. Ia sering membayangkan bagaimana rasa dari makanan seharga ratusan hingga ribuan dollar ini di lidahnya. Namun setelah melihat menunya langsung, ia tidak tahu harus memesan apa.
“Aku pesan classic carbonara saja, thank you.”
Pelayan itu pun pamit undur diri dan barulah Elena bisa menghela nafas lega, tanpa menyadari Ashton menyadari hal itu. “Ada apa?”
“Huh?”
Ashton menunjuk hidung Elena, “Kau baru bisa membuang nafasmu setelah dia pergi. Ada apa? Kalian mantan kekasih atau apa?”
“Oh bukan,” Elena menggeleng seraya tertawa kecil, “Hanya merasa aneh saja dilayani oleh sesama rekan kerja sendiri.”
Kening Ashton mengernyit tipis mendengar jawaban Elena dan memilih kembali memusatkan perhatiannya pada bisnisnya hingga makanan dihidangkan untuk keduanya. Terlihat Ashton menghela nafas lagi, memainkan alat makannya dengan kesal sebelum memanggil pelayan. Elena pun bertanya lebih dulu, “Apa ada masalah, Mr. Rexford?”
Namun sebelum Ashton sempat menjawab, pelayan yang sebelumnya melayani keduanya kembali datang. “Ya, apa ada yang bisa saya bantu, Sir?”
Ashton menunjuk makanannya emosi. “Tolong panggilkan koki kalian, ada beberapa complain yang ingin aku sampaikan padanya.”
Pelayan itu hanya bisa membungkuk lalu pamit berjalan ke dapur, sementara Elena menyadari betapa perfeksionisnya seorang Ashton Rexford. Dalam dua hari, ia sudah melihat Ashton dua kali melakukan complain dengan makanan masakan koki. Sejujurnya ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib koki di rumah pria ini.
Ashton dan Elena kembali makan dalam keheningan hingga Elena memutuskan untuk memutus tali kecanggungan ini.
“Aku salah satu pelanggan di department store anda, Mr. Rexford.”
Informasi itu sukses menarik perhatian Ashton dan pria itu tersenyum tipis. “Benarkah? Apa alasanmu memilih department store kami, Ms. Winslow?”
Elena tersenyum mendengar Ashton memanggil namanya seperti itu dan meneruskan perkataannya. “Berbagai promosi dan discount, tentu saja. Meskipun tentu saja Louboutin-ku tidak mengenal kata itu.”
Senyuman bangga terpatri di wajah tampan Ashton. “Seleramu cukup tinggi. Sepertinya aku mendapatkan asisten yang tepat selama berada di sini.”
Elena membalas senyum itu. “Terima kasih atas pujiannya, Mr. Rexford. Tapi anda pantas mendapatkannya setelah aku sekarang bisa melihat langsung kerja keras anda selama ini, tak heran promosi kalian selalu menarik perhatian setiap wanita.”
“Artinya kau akan menghabiskan uangmu di department store kami saat musim panas nanti?” tanya Ashton memastikan.
Anggukan Elena semakin membuat senyum Ashton melebar. “Oh, tentu saja, Mr. Rexford. Kau lihat,” Elena mengeluarkan ponselnya, menampilkan aplikasi online Rexford Department Store pada Ashton, “Bisa anda lihat sendiri bahwa keranjang belanjaanku sudah sepenuh ini? Aku bersumpah akan membeli semuanya saat aku mendapatkan gajiku, karena bagaimana pun, itu sebuah kewajiban para wanita.”
Tangan Ashton bergerak menuju kantung celananya, mengambil dompet tebalnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas dan sebuah kartu. Ia pun meletakannya tepat di hadapan Elena. “Souvenir spesial untuk pelanggan setia Rexford Department Store.”
Secepat kilat Elena menyambar semua itu dan matanya membulat tak percaya dengan apa yang dipegangnya saat ini. Kakinya lemas terasa ingin pingsan mendapat semua ini. “VIP Membership? Voucher discount 50%? Apa anda serius tentang ini, Mr. Rexford?”
“Tentu saja. Anggap saja itu bonus sekaligus kompensasi karena aku terlambat mengajakmu makan siang. Itu special voucher yang khusus untukku dan bisa digunakan di toko serta cabang manapun, meskipun aku tidak pernah memakainya.”
Tangan Elena berusaha menutup mulutnya yang tidak berhenti menganga lebar karena tersiram hujan keberuntungan di siang hari. Elena kembali menggoyangkan voucher di tangannya pada Ashton. “A-apa itu artinya voucher ini bisa digunakan untuk berbelanja merk-merk seperti Dior, LV, Burberry, Louboutin, dan sejenisnya?”
Anggukan kepala Ashton terlihat bagaikan gendang emas di kepala Elena, senyum sumringah langsung terpatri di wajah cantiknya. Ia pun membungkuk penuh syukur pada “malaikat” yang memberikannya. “Terima kasih banyak, Mr. Rexford.”
Ashton hanya mengangguk kecil kemudian melanjutkan makan siangnya, begitu pun dengan Elena yang tidak berhenti tersenyum lebar. Wanita itu menghela nafas kesal saat ponselnya kembali bergetar saat ia berusaha makan, tanpa sadar menarik perhatian Ashton. “Apa kau ada urusan setelah ini, Ms. Winslow?”
“Tidak ada, apa ada masalah?”
Ashton menunjuk ponsel Elena di meja. “Ponselmu tidak berhenti bergetar sejak tadi, itu cukup mengangguku. Aku tidak suka makan dalam kebisingan.”
“Ah,” Elena segera meraih ponselnya lalu menunduk sungkan, “Maafkan saya, Mr.Rexford. Kalau begitu saya permisi ke belakang sebentar untuk mengangkat telepon ini.”
Ashton hanya mengibaskan tangannya mengusir Elena, dan wanita itu pun segera berlari menuju kamar mandi. Nama “Stupid Housekeeper” terpampang nyata di layar ponselnya sebelum Elena mengangkatnya. “Alice! Aku sedang bersama Mr. Rexford sejak tadi! Kenapa kau terus menghubungiku? Apa kau tidak mengerti bahasa kasar dari tidak mengangkat telepon adalah ‘Jangan Ganggu Aku’?” tanya Elena kesal.
“Sorry, babe. Aku hanya penasaran bagaimana hasilnya. Apa kau berhasil?”
Mendengar itu, reflek Elena mengintip Ashton dari kaca di pintu toilet wanita—sedang menyampaikan complain -nya pada koki—memastikan pria itu tidak memerhatikannya sebelum lanjut tertawa penuh kemenangan. “Alice, aku tak percaya ini benar-benar terjadi, tapi…KITA BERHASIL!” pekik Eira sambil melompat-lompat kegirangan saat menyampaikan kabar gembira ini.
“Apa?! Kau serius? Dia memberimu apa?” terdengar nada bicara Alice menggebu-gebu penasaran.
“Sembah sujudlah padaku karena mulai hari ini, Miss Alice, kita secara resmi menjadi member VVIP Rexford Department Store! Dan kau tahu kabar bahagia lainnya? Kita tidak perlu menabung lagi untuk berbelanja LV dan Louboutin karena….Mr. Rexford memberiku voucher discount yang bisa dipakai untuk toko-toko itu!”
Terdengar suara benda jatuh di seberang sana dan akhirnya pekik kegirangan pun keluar dari mulut Alice. “Aku…aku tidak menyangka ini akan terjadi pada kita. Buktikan perkataanmu bukan bualan semata, foto semuanya! Tunggu, tunggu. Kalau kita resmi menjadi member VVIP di Rexford Department Store, itu artinya…kita bisa menikmati segala fasilitas VVIP Rexford Department Store termasuk….”
“….VVIP lounge, VVIP special package, VVIP gift setiap pembelanjaan, dan juga…”
Alice menepuk tangannya teringat sesuatu. “…dan juga Rexford Department Store VVIP Annual Party!”
Menyadari semua keuntungan yang mereka dapatkan secara mendadak, mereka pun bersamaan membuka mulut dan… “AAAAA!” keduanya memekik serempak dan melompat-lompat kembali di tempat mereka masing-masing.
“Aku tidak percaya ini benar-benar berhasil. Kau harus terus melakukan yang terbaik dari yang terbaik! Jadilah asisten terbaik untuknya, Elena!
“Well, aku akan melakukan pekerjaan yang sangat baik selama lima hari ke depan. Siapa yang tahu mungkin dia akan memberikan sesuatu lagi, bukan?”
“Benar, benar. Kita membutuhkan lebih banyak voucher lagi untuk belanja di musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Ah, kalau bisa pancing dia agar memberimu kau voucher agar kita bisa belanja sampai bertahun-tahun kemudian. Kau dengar itu!”
Elena berdecak, “Aku mengerti. Sudahlah, aku tutup dulu panggilan ini. Aku tidak enak meninggalkan Mr. Rexford terlalu lama di luar.”
“Ah, benar juga. Okay, see you! Jangan lupa kirimkan foto kartu dan voucher itu! Dengar tidak!”
Elena pun mematikan panggilan telepon keduanya, merapikan penampilannya yang sedikit berantakan akibat melompat-lompat seperti kelinci, lalu membuka pintu dan keluar dari kamar mandi. Ia pun kembali menunduk tak enak saat tiba di depan Ashton—yang sudah menunggunya sejak tadi. “Maafkan saya karena membuat anda menunggu lama, Mr. Rexford.”
“Tidak masalah. Pekerjaan hari ini sepertinya sudah selesai, asistenku mengatakan tidak ada jadwal lainnya.”
“Ah, begitu…” gumam Elena. “Lalu bagaimana dengan saya?”
Ashton bersedekap tenang. “Hari ini pekerjaanmu sudah selesai, kau boleh kembali mengerjakan pekerjaanmu di kapal karena aku bisa memeriksa semuanya lagi sendiri setelah kau selesai makan.”
Elena tampak berpikir mendengar perintah Ashton, lalu diam-diam melirik pria itu sebelum akhirnya ia mengeluarkan pemikirannya. “Bagaimana kalau saya menemani anda melakukan hal lain?”
Kening Ashton mengerut tak mengerti. “Hal lain? Apa maksudmu?”
* * * * *
“Bagaimana? Sesekali refreshing sedikit cukup me ‘kan, Mr. Rexford?”
Ashton terkekeh pelan, tangannya ia masukan pada kantong celananya sembari matanya menikmati suasana ramai di dek kapal. Penumpang kapal mengunjungi berbagai toko duty free yang terdapat di sebelah kiri dan kanan Ashton. Tidak hanya pertokoan, kapal pesiar ini juga menyediakan berbagai macam hiburan yang dapat dinikmati berbagai kalangan dan usia.
“Maafkan jika saya lancang, tapi apa anda pernah berjalan-jalan menikmati suasana kapal pesiar selama anda berada di sini?”
Ashton menggeleng. “Aku tidak tahu ada waktu untuk itu. Tapi setelah melakukannya, aku bisa melihat bahwa suasana di sini mirip dengan department store-ku. Anggap saja ini adalah salah satu bagian dari memerhatikan lawan dari dekat.” tandas Ashton datar.
Selama bertahun-tahun bekerja di kapal pesiar, bertemu dan melayani pria dari keluarga konglongmerat merupakan makanan sehari-harinya, tapi ini pertama kalinya ia melihat seseorang tampak begitu kaku seperti ini. Tidak bisa menikmati liburan, tidak terlihat bersama para wanita-wanita di sampingnya, dan juga tidak bertingkah yang merugikan orang lain. “Lalu apa yang kau lakukan selama di sini?” tanya Elena penasaran.
“Aku menghabiskan waktu di ruang kerja, lalu makan, dan kembali bekerja sampai malam. Kau lihat sendiri pekerjaanku sangat menumpuk. Aku tidak mungkin meninggalkan begitu saja hanya untuk melakukan hal-hal tidak penting seperti berkeliling kapal pesiar.”
Wanita itu bersiul kagum. Ashton memang sedikit berbeda dengan pria berjabatan tinggi lainnya. “Apa semua hal yang anda lakukan selalu terpusat pada bisnis anda, Mr. Rexford?”
“Tentu saja,” jawab Ashton menggebu-gebu, “uang dan bisnis selalu menjadi prioritasku. Jika bukan keduanya, lalu apalagi?”
Elena bergumam pelan, “Lalu kenapa anda bersedia mengikuti saya sekarang?”
Ashton mengendikkan bahunya cuek, “Karena pekerjaan sudah selesai, jadi aku bisa menoleransinya. Mungkin aku akan membaca semuanya lagi nanti sebelum tidur agar aku bisa tidur tenang,”
Tidak dapat menahannya lagi, Elena lalu tertawa keras sambil berusaha menutup mulutnya. Ashton memandangi Elena keheranan. “Kenapa kau tertawa?”
Elena memejamkan mata berusaha menghentikan tawanya lalu membungkuk menyesal. “Maafkan saya, tapi apa anda pernah melakukan hal lain selain bekerja?”
Otak Ashton memproses pertanyaan itu dengan kening berkerut. Pertanyaan yang menarik, ia pun berusaha mengingat-ngingat bagaimana ia menjalani hari-harinya selama ini yang hanya dipenuhi satu hal; bekerja. Sontak, Ashton tersadar akan hal itu lalu menggeleng pelan, “Tidak, sepertinya tidak.”
“Aku tidak percaya ini,” Elena tidak tahu harus berkata apa mendengarnya, “Mr. Rexford, apa anda tidak pernah terpikirkan bahwa selama ini anda dikelilingi fasilitas yang dapat anda nikmati untuk bersenang-senang? Apa kau memiliki…hobi? Tolong katakan kau memilikinya.”
Kembali, otak Ashton memproses pertanyaan itu lalu menggeleng. “Aku tidak ada waktu untuk itu. Setiap waktu sangatlah berharga bagiku. Hobiku adalah melihat nilai saham perusahaanku terus naik dan mengalahkan pesaing kami.”
“Hidup anda datar sekali,” tukas Elena asal, lalu terpikirkan suatu ide untuk Ashton, “Ah! Bagaimana kalau selama anda di sini, kita sedikit mengubah kebiasaan itu?”
“Apa maksudmu?”
Elena mengambil ponselnya dan membuka jadwal yang sempat dikirimkan oleh Daniel, sekretaris Ashton, “Anda lihat, setiap hari pekerjaan anda menumpuk di siang hari, sementara di sore hari anda sudah tidak memiliki jadwal. Kita bisa mengisi waktu luang tersebut dengan…berkeliling kapal pesiar sampai pukul delapan malam saja. Aku adalah pegawai di sini, jadi tenang saja, anda berada di tangan yang tepat. Bagaimana?” tanya Elena kemudian mengulurkan tangannya, karena ia tahu bagaimana Ashton menyikapi segalanya sebagai hubungan bisnis.
Ashton menatap dalam manik mata Elena yang berbinar bersemangat saat menyampaikan ide tersebut. Bagaimana wanita itu menyampaikan aspirasinya dengan menggebu-gebu dengan tangan terkepal seolah sedang berusaha membujuknya melakukan bisnis yang menguntungkan.
Namun, apa yang ia tawarkan bukanlah bisnis dan uang, melainkan sebuah kegiatan yang selama ini ia anggap kekanak-kanakan.
Mata Ashton melihat ke sekelilingnya, orang-orang yang berjalan hilir mudik dengan tawa gembira serta obrolan. Mereka tampak lepas menikmati apa yang ditawarkan di tempat ini. Meskipun terdengar konyol dan tidak akan pernah terpikirkan oleh Ashton—jika bukan wanita di depannya yang mengatakannya, ia juga ingin merasakan semua ini.
Sudah lama sejak terakhir kali ia menikmati waktu untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan bisnis.
Mungkin ini bisa menjadi sesuatu yang patut dicoba.
Setidaknya di sini tidak ada yang bisa menilainya sebagai seseorang yang sempurna.
Ashton menyeringai tipis dan menjabat tangan Elena tegas. “Baiklah, kita lakukan itu selama tidak menganggu bisnisku.”
“Deal!” ujar Elena percaya diri.
Senyum keduanya melebar dengan mata saling menatap dalam satu sama lain.
Sepertinya lima hari ke depan akan menyenangkan.
TO BE CONTINUE
Seperti yang kubilang, Elena bukan tipikal perempuan polos lemah lembut, dia wanita yang suka belanja dan boros, meskipun dia bukan orang kaya. Aku suka bgt karakter dia HEHE
Tapi tenang ya, dia bukan gold digger dsbnya, cuma dia suka belanja jadi tadi itu semacam kode ke Ashton WKWKWK