“Live your truth. Express your love. Share your enthusiasm. Take action towards your dreams. Walk your talk. Dance and sing to your music. Embrace your blessings. Make today worth remembering.”
― Steve Maraboli, Unapologetically You: Reflections on Life and the Human Experience* * * * *
“Aku tidak tahu kenapa bisa berteman dengan wanita sebodoh dirimu, Elena.”
Malam itu, Alice menelepon Elena karena sudah tidak sabar ingin mendengar tentang Ashton Rexford. Tapi tentu saja, bukan Alice namanya jika tidak mengomeli dirinya untuk hal yang tak perlu. Elena hanya membuang nafas tipis kembali mendapat petuah tentang hal yang sama. “Sudah kukatakan aku tidak tertarik untuk melakukannya.”
“Kenapa kau tidak mau? Astaga! Seharusnya kau mendekatinya dan malam ini kalian bisa bermalam bersama! Apa kau ini anak kecil yang harus kuajari hal-hal dasar seperti itu?”
Elena meletakan keripik kentangnya dan tangannya menyambar ponsel yang ia letakan di meja dengan emosi. “Kau pikir aku sedang menjual diri atau apa!” bentak Elena kesal.
“Ini bukan tentang menjual diri, tapi kau baru saja melewatkan golden ticket menuju hidup enak selamanya, Elena! Ah, bicara tentang hidup enak, aku dengar…Ryan melamarmu sebelum kau berangkat,”
Pertanyaan itu membuat ingatan Elena terlempar kembali ke kejadian beberapa hari lalu saat Ryan melamarnya di pantai. Matanya tanpa sadar bergerak mencari dan akhirnya menemukan benda yang dicarinya duduk manis di sudut mejanya; kotak beludru merah berisi cincin dari Ryan. Kotak yang belum sempat ia sentuh lagi karena kesibukannya.
“Ya, dia memang melamarku beberapa hari yang lalu.”
Keheningan terdengar sejenak di seberang sana sebelum Alice bersuara kembali, “Jadi apa kau akan menolaknya kembali untuk kesekian ribu kalinya atau pada akhirnya jawabanmu berubah?”
Ia pun meraih kotak itu dan membukanya, kembali melihat cincin permata itu kembali menyinari matanya. Jemari Elena mengusapnya perlahan, dan setiap sentuhan semakin membuat hatinya bergejolak.
Menolak pria yang kita tidak sukai memanglah mudah, tapi tidak jika pria tersebut adalah sahabatnya sendiri.
Sahabat yang menemani dan melindunginya disaat Elena menghadapi kesusahan selama ini.
Sahabat yang membantunya dalam berbagai hal.
Elena tahu ia mungkin tidak akan pernah ada di sini—bekerja di kapal epsiar dengan gaji ribuan dollar—jika tidak ada Ryan dalam hidupnya.
Tapi untuk pasangan hidup? Elena masih belum yakin dengan jawaban apa yang harus ia katakan agar tidak merusak persahabatan mereka; apapun jawabannya nanti.
“Halo? Elena? Apa kau masih di sana?”
Suara besar Alice menariknya kembali ke dunia nyata. Ia pun berdeham pelan, “Sorry, ya aku mendengarmu.”
Terdengar helaan nafas Alice di seberang telepon, “Elena, aku menyayangi kalian berdua. Selama ini aku mendorong kalian bersama karena aku tahu Ryan sangat menyayangimu, dia rela melakukan apapun demi kebaikanmu. Aku tidak akan ikut campur untuk keputusanmu kali ini, tapi aku hanya ingin kau memutuskan semua ini dengan baik, terutama untuk masa depanmu. Itu saja yang bisa kukatakan untuk mendukung kalian, apapun keputusan yang kau ambil, Ryan pasti akan menghargai itu.”
Elena memejamkan matanya dan kembali mengusap cincin di tangannya. Cincin tidak pernah terasa seberat ini sebelumnya.
Benar, ia harus memikirkan ini semua baik-baik, karena ia sudah berjanji untuk memberikan jawabannya saat pulang nanti pada Ryan.
“Aku akan memikirkan semua ini. Terima kasih atas dukunganmu, Alice.”
* * * * *
Ini adalah hari kedua sejak Elena bekerja membantu Ashton, mengatakan ini hal yang mudah adalah suatu kebohongan. Perfeksionis dan bertangan dingin adalah sikap Ashton. Elena melihat ekspresi tegang pada setiap wajah yang ada di balik proyektor tersebut, padahal posisi mereka saat ini terbentang lautan samudera di depan mereka, tapi murkaan Ashton tidak mengenal jarak.
Kini Elena mau tidak mau membayangkan bagaimana keadaan jantung mereka harus menghadapi pemimpin sekeras Ashton?
Tapi lagi, Ashton bisa berbuat seperti ini karena memang kecerdasannya sangat membuat Rexford Department Store berkembang pesat beberapa tahun ini.
“Ms. Winslow,” Ashton memanggil asisten dadakannya tersebut sambil menyerahkan setumpuk dokumen, “Ini list calon-calon tenant yang akan mengisi toko di department store kami. Tolong sortir menjadi tiga terbaik. Aku ingin membandingkan opini setiap orang.”
“Baik, Sir.” Elena pun membuka dokumen-dokumen tersebut dan langsung menarik nafas terkejut. “Wow, 3598 proposal? Ini proposal yang kalian tumpuk selama satu tahun atau apa? Kenapa banyak sekali?”
Ashton menghela nafas lalu menarik dokumen itu, menunjuk bagian kanan atas di mana terdapat tanggal kapan proposal ini dikumpulkan. Elena kembali tercengang melihat tangga yang tertera di sana. “Proposal sebanyak ini dikumpulkan selama seminggu?” tanya Elena syok, yang hanya dijawab anggukan santai Ashton.
“Setiap harinya Rexford Department Store bisa menerima puluhan bahkan ratusan proposal untuk mengisi kios yang kosong. Sedangkan tempat yang kosong mungkin hanya sekitar dua sampai tiga setiap bulannya, bahkan kadang tidak ada. Karena itu kita harus melihat usaha mana yang paling menjanjikan untuk mengisi tempat tersebut.”
Elena mengangguk lalu bertanya lagi, “Jadi tenant yang saya pilih saat ini adalah mereka yang akan mendapatkan tempat tersebut?”
Sekali lagi, Ashton menggeleng, “Tidak, tiga terbaik milikmu belum tentu sama dengan tiga terbaik milik tim khusus untuk mengatur ini. Mereka nanti akan berdiskusi lagi mana yang terbaik dari yang terbaik untuk mengisi tenant tersebut. Lalu dalam rapat bulanan, mereka akan menyampaikan hasil keputusan itu untuk mendapat persetujuanku.”
Penjelasan tersebut justru membuat Elena memiliki pertanyaan tersendiri. “Aku jadi penasaran. Jika kau memang memiliki tim untuk menilai ini, kenapa meminta pendapatku? Aku amatiran.”
“Karena kau salah satu pelanggan kami, aku ingin melihat insight langsung dari konsumen secara langsung mengenai apa yang ingin mereka lihat di Department Store kami. Meskipun penilaianmu tentunya subyektif, tapi tetap itu bisa membantu kami.”
Elena mengangguk setuju, “Benar juga, apalagi orang sepertiku yang senang belanja meskipun kaum rakyat miskin,” Elena membuka setiap lembar itu dan mendesah kagum. “Wah, tidak heran anda tidak bisa menikmati waktu luang.”
“Kau bilang setelah kita bekerja kau akan mengajakku berjalan-jalan di sekitar sini. Apa itu…jadi?”
Elena mendongak, mata keduanya bersinggungan kembali di tengah desiran ombak laut di luar sana. Elena mengalihkan pandangannya kembali pada dokumen untuk menahan debaran jantungnya. “Tentu saja, itu adalah ide saya untuk mengajak anda menikmati waktu untuk diri sendiri. Saya akan berusaha keras untuk memilih ini secepat mungkin.”
“Tidak perlu terburu-buru, kau harus memilih dengan tepat. Seperti yang sudah kau tahu, aku tidak menoleransi kesalahan.” tegas Ashton lagi dan Elena hanya bisa mengangguk pelan.
Sementara Elena memilih tenant terbaik menurutnya, Ashton kembali melakukan rapat-rapat bersama dengan petinggi Rexford Department Store. Tentunya teriakan amarah kembali terdengar dari mulut Ashton saat semuanya tidak sesuai dengan harapannya.
Well, Elena rasa bekerja di Rexford Department Store lalu mendapat gaji melimpah tujuannya untuk menanggulangi biaya berobat jantung para staff.
“Elena, sepertinya kau mengerjakannya di luar saja. Kau membuat perhatianku…teralihkan.”
“Ah, baik,” Elena pun bangkit dari duduknya sambil membereskan semua perlengkapannya lalu membungkuk sopan, “Kalau begitu ijinkan saya untuk mengerjakan ini di balkon kamar anda, Mr. Rexford.” ujar Elena yang hanya djawab anggukan sekali Ashton.
Elena pun berjalan dan membuka pintu kaca yang memisahkan antara kamar tidur dan balkon. Menikmati hembusan angin laut yang menerpanya, Elena pun merapatkan tangannya pada kertas-kertas di pelukannya lalu berjalan ke arah tempat duduk.
Tapi tentu saja perhatiannya teralihkan pada laut biru yang membentang mengelilingi mereka. Ia pun menyandarkan punggungnya lalu mengangkat tangannya lepas. “Tidak heran semua orang rela mengeluarkan uang demi menikmati fasilitas ini. Pertama kalinya aku bisa bersantai tanpa memikirkan apapun di sini.” gumam Eira, masih terpana dengan pemandangan di depan mata telanjangnya.
Kemudian ia menampar pipi untuk menyadarkan diri sendiri agar kembali fokus. Elena pun kembali memusatkan semua konsentrasinya pada setiap proposal di tangannya. Untuk amatiran seperti dirinya, semua memang terlihat sulit namun Ashton mengatakan mana saja faktor penting yang harus ia lihat, sehingga sekarang ia bisa mengerjakannya lebih cepat.
“Oh…” mata Elena langsung terpaku pada sebuah nama yang tertera di sana, “Sepertinya aku pernah melihat brand ini. Di mana ya?” gumam Elena.
Wanita itu membuka i********: lewat ponselnya, mulai mencari nama brand tersebut dan menemukannya. Matanya bersinar senang mengingat di mana ia pernah melihatnya. “Benar juga. Pantas aku mengenalinya. Sepertinya brand ini bisa kumasukan dulu di rekomendasiku.” ungkap Elena dan melakukan perkataannya segera.
Beberapa jam pun berlalu begitu saja, terdengar pintu kaca balkon terbuka dan datanglah Ashton menghampiri Elena yang masih belum menyadari kehadirannya. Pria itu tersenyum tipis melihat ketekunan Elena.
Alasan ia menerima Elena sebagai orang yang membantunya di sini adalah karena ia melihat Elena cukup telaten dalam pekerjaannya, ia dapat menilai itu hanya dari beberapa kali pertemuan dengan Elena; tiga kali tepatnya.
Belum lagi, Elena mampu mengimbangi dan memprediksi apa yang ia inginkan dan butuhkan, sama seperti Daniel—sekretaris Ashton yang tidak ikut naik ke kapal pesiar.
Merasakan sosok bayangan di sisi kirinya, Elena pun menoleh dan langsung melepaskan earphone miliknya saat melihat Ashton ada di sana memerhatikannya. “Mr. Rexford…”
Ashton pun berjalan menghampiri Elena, “Bagaimana hasil kerjamu? Apa kau sudah memilih tiga terbaik dari semuanya?”
Elena menggeleng menyesal, “Belum semua, tapi aku menemukan nama sebuah brand yang kukenal,” Elena pun menunjukan nama di proposal dengan konten yang ada di i********:-nya, “Sepertinya dia cukup layak untuk masuk rekomendasiku. Pivoines adalah sebuah brand baru yang berhasil menarik perhatian dunia fashion melalui peragaan busana pertama mereka di New York Fashion Week tahun lalu. Meskipun belum terkenal, namun menurut saya prestasi ini sudah cukup baik bagi seorang aspire designer.”
CEO Rexford Department Store ikut mengamati perkembangan brand yang dimaksud Elena, lalu menyambar kertas di meja. Memerhatikan faktor-faktor lainnya sebelum berani memutuskan memasukan brand ini pada rekomendasi. Beberapa saat kemudian, Ashton pun mengangguk setuju. “Aku melihat peluang brand ini cukup baik. Kau boleh memasukannya di rekomendasimu untuk pertimbangan.”
Elena pun segera melaksanakan perintah Ashton, mengetikan nama bran tersebut pada kolom rekomendasi miliknya.
“Apa pekerjaan anda sudah selesai, Mr. Rexford?” tanya Elena karena melihat Ashton kini bersandar pada pembatas balkon untuk menikmati keindahan samudera di depannya.
“Sudah, ada apa?”
Elena pun menepuk tangannya sekali lalu bangkit berdiri. “Seperti saran saya kemarin, artinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberi otak anda waktu istirahat sejenak.”
Ashton baru teringat lagi akan hal itu. “Ah, benar ‘kah?”
“Benar, Mr. Rexford. Sekarang,” Elena menunjuk setelan formal Ashton lalu mengggeleng pelan, “Akan lebih baik jika anda juga mengganti pakaian anda menjadi yang lebih santai…dan informal. Anggap saja hal tersebut sebagai upaya mengganti suasana tegang setelah rapat menjadi relaks untuk hiburan.”
Ashton dan Elena masih berdiam diri, saling memandang satu sama lain memberi kode. Elena menghela nafas pelan karena Ashton tidak kunjung beranjak dari tempatnya. “Kenapa anda diam saja, Mr. Rexford?” tanya Elena bingung.
Sedangkan yang ditanya hanya menggeleng dengan senyuman kecil mengejek. “Kalau begitu, silakan anda menunggu di ruang kerja. Bagaimana aku mengganti pakaian jika kau terus berdiam diri di kamarku, Ms. Winslow?”
Oh ya ampun!
Elena bisa merasakan pipinya terasa panas menahan malu setelah menyadari kebodohannya. Wanita itu pun balas tertawa canggung sambil menutup mulutnya, “Maafkan saya, anda benar juga. Kalau begitu, saya permisi dulu, Mr. Rexford.” pamit Elena dan langsung berlari cepat menuju ruang kerja Ashton, terdengar pintu dibanting keras-keras oleh sang oknum.
Ashton tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa geli melihat tingkah wanita itu, ia pun segera berjalan ke arah lemari bajunya untuk mengganti setelannya.
Sementara, Elena di dalam ruang kerja tersebut mengatur nafasnya sambil memegang dadanya yang bergemuruh kencang. Ia pun merutuki diri sendiri dengan menampar pipinya sendiri. “Kenapa kau hobi sekali membuat malu diri sendiri, Elena Winslow? Kau harus bersikap bagaimana saat keluar nanti? Ah! Benar-benar memalukan!” omel Elena tanpa henti pada dirinya sendiri.
* * * * *
Elena kembali membawa Ashton ke deck kapal di bagian hiburan untuk para tamu undangan. Suasana ramai yang familiar seperti kemarin sore kembali menjadi peramai keheningan keduanya, mereka berjalan beriringan tanpa banyak bicara sejak tadi.
Karena tidak tahu harus berbuat apa lagi, Elena berjalan ke tempat customer service untuk mengambil brosur yang tersedia di meja. Setelah mengambilnya, ia pun kembali ke sisi Ashton dengan brosur terbuka lebar.
“Mr. Rexford, berikut adalah fasilitas - fasilitas yang ditawarkan kapal pesiar kami untuk menghibur para tamu undangan sekalian. Silakan anda memilih ingin ke mana, anda bebas memilih yang mana saja karena Ms. Stella Remington yang akan membayar semua tagihan tamu undangannya—meskipun saya tahu itu bukan masalah bagi anda.”
Ashton pun mengambil brosur tersebut dan membacanya seksama. Di sana tertera berbagai jenis atraksi hiburan yang menggoda untuk dicoba, seperti escape room, permainan laser tag atau tembak – tembakan, casino, billiard, golf, wahana ekstrim, planetarium, pertunjukan teater, taman hiburan, bowling, bioskop, dan bahkan sebuah submarine kecil yang bisa disewa untuk melihat indahnya biota laut di bawah mereka.
Kapal pesiar raksaksa ini bagaikan hiburan berjalan yang kaya akan fasilitas hiburan.
Kening Ashton mengerut bingung dan sekarang alam bawah sadarnya sadar akan sebuah fakta; sudah lama sekali ia tidak melalukan hal – hal yang menyenangkan seperti ini. Tentu ia melakukannya, namun sangat jarang. Lagipula, tidak ada orang yang bisa ia ajak untuk melakukan semua ini.
Sampai akhirnya, Elena Winslow memberanikan diri untuk mengajaknya.
Setelah memilih sekian menit dan belum menemukan jawaban, Ashton pun menyerah. “Aku tidak tahu harus memilih apa.”
“Pilihlah yang menurut anda akan menyenangkan dan tentunya menghibur hati anda.” saran Elena.
Ashton pun berusaha memilih kembali, namun tetap ia tidak tahu harus memilih yang mana. Ia pun menyerahkan kembali brosur itu ke tangan Elena sambil menatap wanita itu dalam. “Bagaimana kalau aku sedikit mengubah aturan dari waktu luang ini?” ujar Ashton.
“Huh? Apa maksud anda?”
“Karena secara teknis, kau pun juga sedang menikmati waktu luang setelah bekerja. Jadi, kau juga bisa memutuskan untuk pergi kemana pun yang kau mau. Ah,” Ashton meninjau kembali foto-foto permainan di sana. “Selama ini ‘kan kau bekerja di sini, hanya memantau kesenangan yang orang lain rasakan. Beritahu aku, Ms. Winslow, diantara semua hal ini, fasilitas apa yang ingin kau coba?”
Elena langsung menganga mendengarnya. Selama ia bekerja di sini, ia tidak pernah membayangkan akan mendapat pertanyaan seperti itu. Ia pun melirik kembali brosur yang menampilkan foto – foto fasilitas di Lion Heart Cruise.
Kalau boleh jujur, Elena ingin mencoba semuanya. Semuanya!
Siapa yang tidak ingin mencoba semua fasilitas mewah ini?
Terlebih untuk saat ini, semua yang mereka lakukan gratis karena ditanggung oleh tuan rumah. Fakta tersebut membuat Elena tersenyum tipis, matanya mengamati setiap foto itu lagi lalu menjawab. “Ada beberapa sebenarnya, tapi di antara mereka, ada yang tidak bisa kunikmati.”
Jawaban itu membuat Ashton bingung kembali. “Mengapa kau tidak bisa menikmatinya?”
Elena mengendikan bahunya santai. “Karena aku sudah tahu jawaban – jawaban dari permainan tersebut. Contoh,” Elena menunjuk salah satu foto yang ada di brosur, tepatnya fasilitas escape room, “Aku selalu ingin mencoba bermain escape room di sini, karena misinya sangat menarik dan waktunya cukup panjang; 120 menit. Tapi sayangnya, aku sudah tahu bagaimana memecahkan misteri dan teka – teki yang ada, sehingga aku tidak bisa bermain itu di sini.”
Ashton bergumam paham. Tentu saja Elena sudah tahu jawaban dari misi – misi tersebut, Elena sudah bekerja di sini selama bertahun – tahun. “Lalu selain escape room, apa kau ingin bermain yang lain?”
Setelah berpikir matang – matang, Elena pun menunjuk foto yang menampakan permainan tembak – tembakan. “Ini. Aku ingin main laser tag. Apa…anda tertarik, Mr. Rexford?”
“Laser tag…” Ashton bergumam membayangkannya lalu mengangguk, “Baiklah, ayo kita coba permainan laser tag. Aku juga belum pernah mencobanya.”
“Great! Mari kita ke sana, Mr. Rexford.” ujar Elena memimpin jalan menuju tempat laser tag.
TO BE CONTINUE
MOHON MAAF SEMUANYA! Aku lagi ga sempet buka Dreame akhir-akhir ini sampe ga bisa upload, semoga ga pada lupa ya sama cerita ini :D
Next chapter janji ga lama!