There are at least two kinds of games. One could be called finite, the other infinite. A finite game is played for the purpose of winning, an infinite game for the purpose of continuing the play.
- James P. Carse
* * * * *
Plakat raksasa bertuliskan Boom Ba Yah Laser Tag menyapa kedatangan Elena dan Ashton. Kemudian, salah seorang staff membungkuk memberi hormat meyambut tamu baru mereka, “Selamat datang di Boom Ba Yah Laser Tag. Sebelum masuk, kami akan menjelas—Tunggu, Elena? Kenapa kau di sini dan mengapa kau datang bersama tamu kita?” seperti reaksi pelayan di restoran kemarin.
Elena baru akan menjawab, namun Ashton kembali mewakilkannya, “Dia bersamaku. Aku memintanya selama beberapa hari ke depan membantuku dalam pekerjaan. Karena itu secara teknis, dia sedang tidak bekerja untuk kapal kalian.” jelas Ashton tidak ingin dibantah.
“Ah, begitu. Maaf atas ketidaktahuan saya,” staff itu masih memandangi Elena sebelum memasang kembali senyum profesionalnya, “Kalau begitu, mari tuan dan nyonya, ikuti saya menuju ruang ganti pakaian.”
Begitu mereka masuk ke dalam, arena bermain dipenuhi banyak anak remaja yang sedang bersiap – siap, sementara calon pemain berusia sepantaran dengan Ashton dan Elena tidak terlalu banyak. Menyadari hal tersebut, Ashton pun menoleh pada Elena meminta pertanggung jawaban, “Ini permainan anak kecil, Ms. Winslow. Kenapa kau malah mengajakku ke sini?” protes Ashton malu.
Elena menggeleng, “Tidak, Mr. Rexford. Laser tag bisa dimainkan oleh berbagai kalangan dan umur, hanya dilihat dari tinggi badan dan itu tidak menjadi masalah bagi kita berdua. Artinya, kita masih masuk kualifikasi. Tenang saja,” ujar Elena menenangkan Ashton.
Masuk lebih dalam, Ashton dan Elena pun diantar ke sebuah ruangan berisi layar LED raksaksa. Di sana juga sudah ada beberapa orang yang berkumpu untuk menunggu jumlah pemain cukup. Kedatangan Ashton dan Elena menjadi pelengkap tim ini.
“Salam tembak dari Boom Ba Yah Laser Tag Keputusan kalian sangat tepat untuk bermain di arena ini. Sebelum bermain, saya akan menjelaskan beberapa peraturan dan tata cara bermain laser tag di Lion Heart Cruise.”
Kemudian, staff itu membawa sebuah senapan yang akan menjadi senjata utama mereka untuk bermain kelak. “Arena bermain Boom Ba Yah Laser Tag berbentuk sebuah labirin gelap yang dibantu oleh lampu-lampu neon di sepanjang labirin. Goal utama permainan ini adalah menembak lawan kita menggunakan senjata laser tag yang ada di tangan saya. Dari senjata ini, akan keluar sinar infra merah yang biasanya kita tembakan rompi para pemain. Jika kita berhasil menembak lawan kita, rompi lawan kita akan ada bercak warna tim lawan, dan peserta dikatakan gugur. Siapa yang paling banyak mengalahkan lawan, itulah yang akan menjadi pemenangnya.”
Beberapa staff berdatangan dari belakang membawa tumpukan rompi, senjata laser tag, dan juga HT. “Kami sudah membagikan peralatan yang anda butuhkan selama permainan. Silakan kenakan rompinya terlebih dahulu sebelum saya lanjut bicara,”
Seluruh pemain pun mengikuti arahan pembicara tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Elena untuk memakainya, namun berbeda dengan Ashton yang tampak sedikit kesulitan.
“Rompi anda terbalik, Mr. Rexford.” tegur Elena.
“Ah, benar ‘kah?” Ashton tampak malu menyadari hal tersebut dan berusaha melepaskannya. Melihat itu, Elena berinisiatif untuk membantu Ashton melilitkan tali pengaman di sekitar pinggang pria itu.
“Selesai! Anda sudah siap bertarung!” gurau Elena lalu mendongak ke atas, melupakan fakta bahwa jarak di antara keduanya sangatlah tipis. Ketika Ashton menunduk membalas tatapannya, dunia di sekitar mereka seolah mengabur dan hanya mereka berdua yang tinggal mengisi alam semesta ini. Elena tenggelam dalam keindahan mata Ashton yang menghipnotisnya.
Efek ini tidak hanya dirasakan oleh sang wanita, Ashton pun tidak mampu melepaskan pandangannya dari manik mata Elena yang berpendar indah di bawahnya. Hal yang membuatnya linglung adalah fakta bahwa ia menyadari apa yang sedang ia lakukan, namun ia tidak sanggup menghentikan percikan ini.
“Saya lihat kalian semua sudah menggunakan rompinya, kalau begitu kita langsung ke penjelasan detail-nya ya,”
Mendengar suara keras sang pembicara, Ashton dan Elena langsung menjauhkan diri dari satu sama lain. Untuk kesekian kalinya, Elena merasakan debaran jantungnya yang berpacu keras seiring dengan aliran darah memerah di pipinya.
Sementara Ashton mengipasi rompinya panik. “Kenapa udara di sekitar sini jadi sangat panas?” bisik Ashton.
“Untuk mempercepat waktu, kita langsung membagi tim; nomor genap menjadi satu tim, begitu pun juga nomor ganjil. Kelompok genap silakan ” perintah staff di sana.
Ashton dan Elena saling melihat nomor masing – masing, dan ternyata nomor mereka ganjil dan genap. Mereka tidak menjadi tim, tapi lawan. Keduanya pun tertawa lalu Ashton mengeluh, “Aku tidak menyangka kita akan berpisah seperti ini, padahal aku ingin mengandalkanmu selama permainan, Ms. Winslow.”
“Ini berarti anda harus mandiri untuk menembaki lawan, lebih tepatnya menembaki aku. Kalau begitu, sampai jumpa di arena permainan, Mr. Rexford.” salam Elena sambil melambai, lalu berjalanan berlawanan arah ke tim genap.
Berbeda sekali dengan Elena yang bisa langsung membaur dengan timnya, Ashton memilih untuk menutup mulutnya sepanjang kegiatan diskusi strategi mereka. Hingga akhirnya, seorang anak berusia 10 tahun mengamati Ashton tajam-tajam. Menyadari itu, Ashton langsung mengangkat dagunya tinggi – tinggi sambil melipat tangannya, “Kenapa kau melihatku seperti itu?”
Anak kecil itu menggeleng lalu melipat tangannya di d**a, mengikut gerakan Ashton. “Paman, apa kau bodoh dan tidak mengerti dengan trik permainan ini?” ejeknya sambil menyengir usil.
“Apa?! Paman? Bodoh?” Ashton rasanya ingin mengamuk di tempat mendengar penghinaan dari anak kecil, “Aku adalah pemimpin perusahaan tekemuka di Amerika, beraninya kau mengataiku bodoh, anak kecil.” omel Ashton jengkel.
“Lalu mengapa kau diam saja dan tidak bersuara? Sudah bodoh, masih tidak mau mengaku lagi. Sepertinya kau akan menyusahkan tim kami, Paman Tua, merepotkan sekali” gerutu anak itu sambil menggelengkan kepalanya dan menjauh dari Ashton.
“Anak kecil itu benar-benar!”
Harga diri Ashton mengamuk dalam hati mendengar hinaan tersebut, terlebih pelaku yang menghinanya adalah anak kecil yang bahkan belum menginjak usia remaja.
Ashton Rexford yang terkenal perfeksionis dan tidak pernah melakukan kesalahan diejek oleh anak kecil.
Ia sangat bersyukur Daniel tidak ada di sisinya saat ini, karena meskipun Daniel menghormatinya sebagai atasan, asistennya itu tidak segan untuk mengomentari dirinya terhadap apapun.
Ashton membuang muka emosi, namun tanpa sengaja pandangannya kembali bertemu dengan milik Elena—yang ternyata sejak tadi tidak berhenti memerhatikannya. Wanita itu mengerjap canggung karena ketahuan memerhatikan Ashton, tersenyum malu, lalu kembali mengobrol dengan timnya.
Tidak menyadari bahwa gesture kecil itu mampu mengembalikan senyum dan mood Ashton yang beberapa saat lalu memburuk.
Suara staff kembali terdengar, “Baiklah, mari kita mulai permainan. Sebelumnya, kami akan menutup mata kalian terlebih dahulu.”
Semua pemain pun diberi penutup mata berwarna hitam, mereka saling berbaris untuk digiring menuju sebuah ruangan. Saat penutup mata mereka dibuka, hanya kegelapan dengan semburat lampu-lampu neon menjadi alat penerang mereka.
“Semua sudah siap? Dalam hitungan ketiga, silakan berpencar dan jadilah pemenang! Tiga, dua, satu! Salam tembak Boom Ba Yah!” terdengar suara perintah tersebut dari speaker sebagai tanda permainan dimulai.
Setiap tim mulai berpencar ke seluruh labirin untuk mencari tim lawan, begitu pun dengan Ashton. Jiwa perfeksionis tidak tahan menahan diri untuk keluar, memacu adrenalin Ashton untuk menjadi pemenang.
Karena Ashton Rexford tidak dapat dikalahkan oleh siapapun, apalagi oleh anak kecil.
Tidak, harga dirinya tidak akan membiarkan itu terjadi.
Ia pun berjalan mengendap-ngendap, melangkah dengan hati-hati agar lawan tidak mengetahui keberadaannya.
“Tembak!” tiba-tiba terdengar suara dari depan dan beberapa anak kecil mulai menembaki Ashton.
Ashton langsung bersembunyi ke salah satu tempat persembunyian terdekat. Ia pun segera mengangkat pistolnya tinggi-tinggi untuk mulai balas menembaki mereka dari balik persembunyiannya. Ia terpaksa bersembunyi karena kalah jumlah.
Tidak lama kemudian, Ashton melihat tembakan datang dari belakangnya dan mengenai tim lawan. Begitu Ashton menoleh, ia melihat beberapa anggota timnya berdatangan membantunya.
Anak kecil yang tadi mengatainya bodoh menjadi salah satu diantaranya dan sekarang menatap Ashton kesal. “Paman, kalau tahu tidak bisa bermain, jangan pergi sendiri. Seperti dugaanku, kau ternyata memang bodoh.” kata anak kecil itu sambil menggeleng kesal melewati Ashton.
“Aku tidak bodoh, ini pertama kalinya aku bermain!” balas Ashton tidak terima, tapi tidak ada pilihan lain selain mengikuti anak kurang ajar itu.
Ashton bersama timnya kemudian berjalan menyusuri lorong dengan tangan bersiap jika suatu saat ada serangan mendadak. Mata mereka juga sambil mencari jalan keluar dari labirin ini agar bisa memenangkan permainan.
Tiba – tiba dari arah kiri datanglah tembakan dari tim lawan, seorang anggota tim Ashton pun gugur. Begitu melihat anggotanya menghilang satu, tim Ashton pun semakin gencar menembaki lawan. Mereka saling menembak sambil berlari menuju pintu keluar, hingga akhirnya salah satu dari mereka berhasil mengenai Ashton.
“APA-APAAN!” Ashton memaki kesal melihat rompinya sudah terkena warna tim lawan, “Berani-beraninya kalian mengalahkanku!” maki Ashton lagi tapi tentu saja mereka tidak meladeninya karena sibuk bertanding.
Sampai akhirnya, tim Elena berhasil mendapatkan bendera di ujung pintu keluar dan mengibarkannya dengan penuh kemenangan. “YAY! Kita menang! Kita menang!” sorak sorai tim Elena terdengar ketika berhasil memenangkan permainan setelah menumbangkan Ashton dan seorang temannya lagi. Elena pun ikut bersorak dan bertepuk tangan terbawa euforia kemenangan tersebut.
Melihat pemandangan menyebalkan itu, Ashton berkacak pinggang emosi. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan.
“Aku mengajukan babak dua!” ungkap Ashton sambil berteriak lantang.
Anak kurang ajar kembali bersuara di samping Ashton, “Paman terlalu bodoh, kita tidak akan bisa menang.”
“Siapa bilang?” pekik Ashton semakin jengkel karena diremehkan kembali untuk kesekian kalinya. Ashton menunjuk setiap orang di tim lawan dengan telunjuknya, “Ayo kita bermain sekali lagi jika kalian berani!” tantang Ashton menggebu-gebu.
Tim Elena saling bertatap-tatapan sebelum serentak berkacak pinggang, mengangkat dagu mereka tinggi-tinggi, “Baik, siapa takut? Kami akan mengalahkan kalian lagi, terutama kau, Paman Bodoh.” jawab salah satu
“Bermimpilah setinggi langit. Tidak akan kubiarkan kalian menang kali ini, pegang kata-kataku!” balas Ashton kemudian mengangkat senjatanya lagi dan berjalan menuju tempat mereka awal berkumpul.
Ia akan membuktikan bahwa Ashton Rexford tidak pernah kalah.
* * * * *
Ashton tidak bisa berhenti tersenyum semenjak keluar dari tempat permainan laser tag tersebut. Kepalanya tanpa henti membayangkan kejadian beberapa menit yang lalu, dimana ia tampak kacau dan tidak tahu apapun tentang permainan itu. Bahkan ia tanpa berpikir panjang langsung mengajukan untuk bermain ulang karena timnya kalah. Ashton tidak pernah mengenal kata itu selama hidupnya, sehingga tidak boleh ada rekor kekalahan dalam dirinya, termasuk dalam permainan laser tag. Membayangkan akhirnya ia bisa menang untuk kedua kalinya membuat senyuman di wajah tampannya itu semakin melebar.
“Benar bukan apa kataku? Permainan ini memang cocok untuk semua orang,” sahut Elena, yang sejak tadi tidak berhenti memerhatikan Ashton.
Senyum di wajah Ashton pun menular pada Elena, wanita itu turut senang karena Ashton bisa keluar dari zona nyamannya dan mencoba hal baru yang terlihat konyol, kekanak – kanakan, tapi mampu menghibur hati kesepian pria perfeksionis ini.
Menyadari sikapnya sejak tadi, Ashton segera berdeham menjaga image dan kembali mengangkat dagunya, “Aku tidak mengerti maksudmu, Ms. Winslow.” balas Ashton.
“Sepertinya di department store anda ada permainan ini, di lantai satu. Aku dan temanku pernah bermain di sana dan itu seru sekali. Saat pulang nanti, kau harus mencobanya, Mr. Rexford.”
Ashton mengibaskan tangannya di udara untuk menolak saran Elena, “Ini akan menjadi pertama dan terakhir kalinya bagiku memainkan permainan anak kecil seperti ini,” tegas Ashton sekali lagi.
Elena hanya tersenyum tipis dan mereka meneruskan perjalanan mereka. Mata mereka melihat rombongan pekerja sedang sibuk membawa dan memindahkan berbagai jenis dekorasi ruangan ke ball room. Ball room yang menjadi tempat acara ulang tahun Stella Remington.
“Saya baru ingat bahwa besok adalah pesta ulang tahun Ms. Stella Remington. Apa anda akan tetap bekerja, Mr. Rexford.”
Ashton mengangguk sambil menatap Elena seolah wanita itu berkepala tiga, “Tentu saja aku tetap bekerja, tapi mungkin tidak akan selama biasanya. Aku biasanya selalu tidur sebelum pesta, karena pesta sangat menghabiskan energiku.”
“Itu artinya saya tidak perlu membantu anda besok?” tanya Elena untuk memastikan.
“Tidak perlu, untuk besok aku bisa menyiapkan semuanya sendiri, karena kita berdua sudah mengejar semua urusan penting dalam dua hari ini. Aku sengaja melakukannya agar bisa sedikit bersantai saat tanggal pesta ulang tahunnya.”
“Begitu ya…” Elena pun mengangguk paham, “Kalau begitu saya akan kembali bertemu dengan anda di pesta, karena artinya aku bisa membantu karyawan lainnya melayani para tamu undangan.”
Ashton diam bergeming mendengar perkataan Elena, karena jiwanya terlarut dalam keindahan mata Elena yang terus berbinar tak mengenal waktu. Tanpa menyadari ekspresi tersebut, Elena melirik jam raksaksa di tengah – tengah kapal menunjukan pukul delapan malam.
Artinya, sekarang adalah waktunya mereka berpisah…untuk hari ini.
“Sudah jam delapan malam, itu artinya kita bisa akhiri waktu luang kita hari ini.” gumam Elena seraya tersenyum sedih. Tunggu, mengapa ia harus sedih?
Ashton sontak langsung menoleh pada jam itu dengan emosi. Kenapa waktu cepat sekali berjalan? Dia bahkan tidak menyadarinya betapa cepatnya hari berlalu.
Melihat Ashton yang hanya diam bergeming, Elena mengasumsikan inilah tandanya untuk pergi, “Kalau begitu, saya pergi dulu. Sampai jumpa besok malam, Mr. Rexford.” salam Elena membungkukan badan hormat, lalu melangkah pergi dari tempat Ashton berdiri.
Ashton tidak mampu melepaskan pandangannya dari punggung menjauh Elena, bagaimana pundak itu naik dan turun seiring oksigen bergantian masuk ke dalam tubuh Elena, bagaimana tubuh Elena semakin lama semakin kecil seiring dengan langkahnya yang membawa wanita itu semakin menjauh darinya.
Ia tidak mengerti perasaan apa ini, namun ia tidak rela Elena pergi darinya sekarang.
Sebelum Ashton dapat berpikir panjang, suara lantangnya memecah jarak di antara mereka. “Ms. Winslow!”
Mendengar namanya diserukan begitu keras, Elena membalikan badannya untuk menatap Ashton yang sekarang sudah berlari dan berdiri tepat di depannya. Jantung Elena tanpa permisi kembali berdetak tak karuan merasakan kedekatan tubuhnya dengan Ashton. “Ya? Ada apa, Mr. Rexford?”
“Bagaimana…bagaimana kalau kau pergi bersamaku ke pesta besok?”
Perasaan itu lagi. Perasaan ketika seluruh dunia berpendar di sekeliling kalian dan hanya menyisakan Elena dan Ashton yang saling menatap dalam.
Elena berusaha mengumpulkan nyawanya kembali kemudian berbisik tak percaya, “Apa?”
“Kau dan aku…kita…pergi bersama ke pesta ulang tahun itu. Apa kau…mau?”
* * * * *
ELENA’s POV
Dengan tas tangan di pundak, langkah kakiku berusaha terlihat santai saat memasuki pusat perbelanjaan yang tersedia di kapal pesiar ini. Berbeda dengan pikiranku yang terus berkelana sejak tadi pagi dan tidak dapat berhenti melompat - lompat memikirkan kemungkinan yang akan terjadi nanti malam.
Saat Ashton mengajakku tadi malam, aku tidak bisa menolaknya.
Atau lebih tepatnya, aku tidak ingin menolaknya.
Sepertinya aku benar – benar sudah hilang akal karena berani menerima tawaran ini, padahal aku tahu aku tidak memiliki gaun pesta untuk dikenakan. Siapa yang menyangka seorang karyawan biasa sepertiku akan menghadiri pesta ulang tahun konglongmerat Amerika, bukan sebagai pelayan, tapi sebagai tamu?
Rasanya sungguh aneh, namun di satu sisi aku sangat menantikan ini.
Karena Lion Heart Cruise adalah salah satu perusahaan kapal pesiar termewah di dunia, tidak heran jika merk – merk ternama seperti Gucci, Prada, Dior, Channel, dan sejenisnya yang mengisi setiap tenant untuk pakaian. Well, sepertinya aku harus mengeluarkan tabunganku untuk membeli dress—dengan harga yang pasti jauh lebih mahal dari pakaian biasa.
Setelah memikirkan panjang lebar, aku pun masuk ke salah satu toko dan langsung disambut oleh pelayan di sana. “Selamat siang, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?”
“Dress,” aku menjawab pelan, “Aku membutuhkan dress untuk pesta nanti malam.”
Pelayan itu tersenyum lebar, tangannya dengan sopan mengarahkanku pada satu section di ujung kiri, “Tentu saja kami menyediakan beragam dress yang pantas untuk dikenakan anda. Mari, Nyonya, ikuti saya.”
Kami pun berjalan beriringan sampai akhirnya tibalah di section berisi long dress beragam warna dan motfi tergantung dengan indahnya di sana. Tanganku pun mulai bergerak memilih mana dress terbaik untuk menjadi identitasku malam ini.
Tapi itu tidak cukup membantu, karena aku tetap bingung harus memilih yang mana di antara keindahan ini.
Menyadari kebingunganku, pelayan itu menunjuk dress di tangan kananku, “Saya rasa dress ini akan sangat cocok untuk anda, Nyonya. Warna kulit anda yang putih akan terlihat sangat kontras dengan dress ini, anda akan terlihat sangat feminim dibaliknya.”
Aku memerhatikan kembali dress yang dimaksud pelayan toko ini. Bagian atas dress tersebut berbentuk Sabrina berwarna hitam, sedangkan bagian pinggang dan kaki dibalut oleh sebuah kain berwarna beige yang dilapisi bahan tulle payet berwarna navy blue.
Gaun ini terlalu anggun bagi seorang Elena Winslow.
Dan aku menginginkannya.
Aku menoleh pada pelayan tersebut, “Apa aku boleh mencobanya dulu sebelum menentukan pilihan?”
“Tentu saja, silakan anda mencobanya di ruang ganti.”
Tanpa berlama – lama lagi, aku pun mengikuti arahan sang pelayan toko dan segera mencoba dress anggun ini pada tubuhku.
Semoga Ashton tidak malu berjalan bersamaku di pesta nanti malam.
* * * * *
Kuletakan beberapa paper bag hasil perburuanku hari ini di pusat perbelanjaan. Mataku melirik jam dinding di kamarku yang menunjukan pukul tiga sore. Kalkulator di otakku pun mulai bekerja keras menghitung durasi waktu untuk bersiap dan berdandan.
Pesta di mulai pukul tujuh malam, artinya aku memiliki waktu kurang lebih sekitar empat jam. Namun, karena Ashton tidak menoleransi keterlembatan, aku harus sudah sampai di depan kamarnya minimal pukul setengah tujuh malam. Perjalanan menuju kamar Ashton bisa memakan waktu hampir setengah jam, artinya ia harus keluar kamar maksimal pukul enam.
Kesimpulannya adalah aku hanya memiliki waktu tiga jam untuk bersiap.
Cukup panjang, setidaknya itulah harapanku.
Aku pun segera mengambil perlengkapan mandiku dan berlari – lari menuju kamar mandi. Beberapa rekan yang melihatku terlihat kebingungan dengan gerak – gerikku. “Kenapa kau mandi di siang hari, Elena?”
“Mr. Rexford—orang yang kubantu selama beberapa hari ini—juga memintaku menemaninya ke pesta.” kataku dari bilik kamar mandi.
Aku dapat mendengar suara kekehan mereka sebelum salah satu dari mereka membuka suara, “Go get it, girl! Seorang billionaire mengajakmu berkencan di pesta? Aku yakin dia tertarik denganmu. Jangan lepaskan kesempatan emas menjadi Mrs. Rexford.”
Aku kembali menghela nafas pasrah. Kenapa semua orang yang kuceritakan tentang ini berkata hal yang sama semua? Alice pun semalam berkata seperti ini.
“Apa yang kalian bicarakan? Aku hanya bersikap professional di sini, kebetulan memang ia tidak membawa pasangan ke pesta ini. Mungkin karena itu ia meminta tolong padaku.”
“Ya, ya, ya. Terus berdalihlah sepuasmu, Elena Winslow. Tapi satu yang pasti; kau bisa meminum champagne – champagne itu langsung tanpa menunggu sisa seperti kita. Bersiap mabuk and get laid, babe!”
[Get laid: sebuah kata yang sering digunakan oleh orang Barat pada sesama teman untuk mendeskripsikan bercinta.]
Aku terbata tidak tahu harus berkata apa lagi. “Aku dan Mr. Rexford tidak ada hubungan apa – apa!” teriakku keras, namun mereka pura – pura tidak mendengarku dan langsung keluar dari kamar mandi. Aku pun meneruskan acara berbersihku.
Setelah menghabiskan waktu hampir empat puluh lima menit, aku pun selesai mandi dan kebali berlari terbirit – b***t menuju kamar tidurku. Hal pertama yang kulakukan adalah mengeringkan rambut panjangku hingga setengah kering, lalu membiarkannya mongering alami sembari aku mengaplikasikan skincare.
Untuk pesta malam ini, aku menyiapkan kulitku dengan berbagai skincare untuk melindunginya dari berbagai produk makeup.
Makeup malam ini akan jauh lebih formal dari biasanya.
Setelah skincare, pertama aku mulai mengaplikasikan primer dari Chanel sebagai dasar yang ideal untuk acara formal seperti ini. Jika biasanya aku hanya memakai BB cream, kali ini aku memilih menggunakan foundation dari Estee Lauder agar makeup-ku bisa tetap tahan hingga malam hari.
Jika biasanya aku memilih warna netral seperti cokelat dan matte, kali ini aku ingin sesuatu yang lebih berani seperti glitter. Setelah mempertimbangkan dengan baik, aku mengambil eyeshadow berwarna dark pink, lalu kuaplikasikan pada ujung luar mata. Tak lupa, aku mengambil glitter eyeshadow berwarna putih dan meletakannya di bagian kelopak dalam mata. Untuk melengkapi area mata, aku membubuhkan eyeliner, bulu mata palsu, dan diakhiri dengan mascara hitam pekat.
Aku tersenyum lega melihat makeup mataku sudah selesai.
Kemudian, aku pun beralih kepada highlighter, blush on, dan juga bedak.
Saat melirik deretan lipstick-ku, kebingungan melandaku. Kuperhatikan makeup mata dan juga bajuku, kemudian memutuskan untuk memakai lipstick berwarna merah darah.
Kupegang rambutku segera dan bisa mendesah lega karena akhirnya rambutku sudah kering. Aku pun menyatok rambutku, kemudian mulai menatanya agar membentuk curly di bagian bawah. Sebuah gaya rambut yang tampak sederhana namun elegan, sangat cocok untuk pesta kali ini.
Jam dinding menunjukan pukul setengah enam. Wow, aku tidak sadar telah berdandan selama hampir dua jam. Tidak menunggu lama lagi, aku segera membuka handuk yang melilit tubuhku dan memakai dress itu.
Pantulan seorang wanita balas menatapku pada cermin. Aku mengerjap tak percaya bahwa ini adalah diriku. Kumainkan sedikit dress-ku, lalu berputar – putar di depan cermin. Perlahan, semburat kebahagiaan dan senyumku terbit begitu saja pada pantulan cermin di depanku.
Siapa yang menyangka seorang Elena Winslow pun bisa berdandan sampai berubah seperti ini hanya dengan sentuhan makeup?
“Oh astaga!” Aku melompat kaget ketika mendengar suara alarm di ponselku berdering nyaring. Aku sengaja memasang alarm untuk mengingatkan waktu, tapi di luar dugaan aku sudah selesai sebelum waktu maksimal yang sudah kutentukan.
Setelah mengenakan sepatu high heels andalanku, aku pun keluar dan berjalan menuju deck kapal tempat kamar Ashton berada. Buku-buku jariku sejak tadi tidak berhenti saling meremas, aku merasakan kegugupan yang tidak kumengerti asalnya dari mana. Semakin langkahku bergerak menuju tujuanku saat ini, semakin jantungku menari – nari dengan iringan gemuruh drum.
Meskipun aku berusaha tidak memikirkannya, akal sehatku terus memaksaku untuk memikirkan berbagai kemungkinan yang ada. Namun semua kemungkinan itu memiliki satu titik temu; Ashton Rexford.
Bagaimana reaksi Ashton saat melihat penampilanku yang sekarang?
Apa Ashton akan menyukai penampilanku ini? Atau justru sebaliknya?
Apa penampilanku cukup layak untuk menjadi ‘pasangan’ Ashton malam ini?
Ini semua tidak berlebihan ‘kan?
Hujan pertanyaan terus membanjiri pikiranku hingga tanpa sadar kedua kakiku telah membawaku sampai di depan pintu kamar Ashton.
Kutarik nafasku dalam – dalam menguatkan mental untuk menerima segala bentuk judgment dari pria perfeksionis yang menunggud di balik pintu ini. Jariku pun memencet tombol bel kamar, menunggu pintu terbuka dengan hati berdebar.
Tiba-tiba aku terpikirkan sebuah skenario unik. Aku wanita, tapi aku yang datang ke kamar sang pria untuk menjemputnya ke pesta. Ini bagaikan kisah dongeng dengan alur terbalik, dimana sang tuan putrilah yang menjemput pangeran berkuda putih menuju pesta dansa.
Dongeng yang sangat unik dan orisinil.
Aku masih terus membayangkan skenario-skenario kelanjutan dari ini sebelum aku mendengar suara pintu dibuka dari dalam. Tubuhku sontak menegang, kurapikan penampilanku kembali, dan berdiri tegak menunggu kemunculan Ashton dari balik pintu.
Kucengkram dress-ku erat-erat untuk menahan diri agar tidak menganga lebar melihat penampilannya saat ini. Sekarang, aku setuju dengan pemikiranku beberapa saat yang lalu.
Ashton Rexford memanglah seorang pangeran sempurna.
Mataku tidak dapat menahan diri untuk menilai penampilannya saat ini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rambut Ashton yang biasanya dibiarkan turun, kini terangkat menampakan keningnya yang bersinar. Tubuh atletis dan menjuntainya dibalut dengan setelan tuxedo berwarna navy blue, membuat mata Ashton semakin menyala.
Penampilan pria itu sungguh sanggup menggetarkan setiap wanita yang melihatnya.
Aku mengerjap menyadari sesuatu; warna pakaian kita malam ini senada tanpa disengaja.
Ternyata malam ini—meskipun hanya sekejap saja—mereka memanglah pasangan pangeran dan putri di pesta dansa.
Setelah menilai penampilannya, mataku kembali naik dan terkejut ketika Ashton juga mengamatiku dengan tatapan yang tak dapat kuartikan.
Astaga, apa penampilanku seburuk ini? Tapi tidak ada waktu lagi untuk mengganti pakaian, lagipula aku hanya punya satu dress!
“Bagaimana pe-penampilanku?” pertanyaan itu begitu lugas keluar dari mulutku tanpa bisa kutahan.
“Cantik…you look so beautiful…”
Oh Tuhan, kuatkan jantungku dan jangan sampai aku pingsan sebelum pesta dimulai!
TO BE CONTINUE
CHAPTER DEPAN 4000 KATA LEBIH, JADI TENANG AJA YA!
Awalnya malah 5000 kata, tapi sekarang ga bisa terlalu panjang sepertinya.
Chapter terakhir di tahun 2020, see you next year ya! Semoga novel ini segera SIGNED supaya aku bisa tiap hari update :D
Novel ini akan kuupdate lagi tanggal 2 Januari ya, HAPPY NEW YEAR!