“Drink and dance and laugh and lie, Love, the reeling midnight through, For tomorrow we shall die! (But, alas, we never do.)”
― Dorothy Parker
* * * * *
ASHTON’s POV
Sejak beberapa saat yang lalu, aku tidak bisa duduk diam di satu tempat. Kakiku terasa gatal sehingga aku terus berjalan hilir mudik di ruanganku sendiri tanpa tahu harus berbuat apa. Mataku tampak gelisah seiring dentang jarum jam yang semakin mendekat ke angka enam.
Elena akan tiba dalam beberapa menit lagi.
Oh astaga, apa yang harus kusiapkan untuk menyambutnya?
Pertanyaan itu kerap mengintaiku sepanjang siang. Aku bahkan tidak bisa memejamkan mataku barang sedetik pun karena aku tidak bisa berhenti memikirkan berbagai opsi terbaik mengenai apa yang harus kulakukan untuk Elena.
Sebenarnya satu kesalahanku; Elena yang datang ke kamarku, bukan sebaliknya. Tapi tentu saja itu bukanlah kemauanku, namun Elena sendiri yang menolaknya semalam ketika aku menanyakan harus menjemputnya di mana. Wanita itu berkata bahwa area ruang tidur karyawan hanya khusus staff, tamu sepertinya tidak diperkenankan masuk.
Kedua telingaku selalu siap siaga mendengar suara bel berbunyi. Kuperhatikan penampilanku lagi untuk memastikan semuanya terlihat sempurna, karena Ashton Rexford harus selalu perfeksionis terhadap segala hal.
Meskipun aku tidak mau mengakuinya, perasaan gugup—yang bahkan tidak pernah kurasakan saat berhadapan dengan siapapun—kembali membanjiri sekujur tubuhku.
Aku tertawa tak percaya dengan ini. Seorang Ashton Rexford gugup hanya karena seorang wanita akan datang ke kamarnya? Elena bahkan bukan calon investor atau orang penting dalam bisnis ini, tapi tubuhku bereaksi seperti ini saat memikirkan malam ini aku akan pergi ke pesta bersama seorang wanita?
Tidak, tidak mungkin.
Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini terhadap siapapun, karena aku tidak tertarik dan mengizinkannya. Namun Elena Winslow mampu mendobrak segala hal yang tidak pernah kulakukan dan rasakan hanya dalam beberapa hari.
Entah sihir apa yang digunakannya padaku.
Suara bel dari balik pintu membuat jantungku berdegup kencang. Kubasahi bibirku yang terasa kering, kulirik kembali pantulan diriku pada cermin sebelum berjalan untuk membukakan pintu bagi Elena.
Segala ekspektasiku akan bagaimana wujud Elena malam ini luruh lantah, karena tidak ada yang dapat menandingi penampilannya sekarang.
Mataku tidak bisa berhenti memandangi pemandangan di depan mataku kini. Elena terlihat sangat menawan dengan dress-nya serta makeup yang mempercantik wajahnya. Aku tidak sanggup berkata-kata dan hanya diam bergeming.
Kebungkamanku perlahan menyebabkan ekspresi Elena sedikit muram, ia pun menunduk mengamati penampilannya sendiri sebelum membuka suara, “Bagaimana pe-penampilanku?” tanyanya, suaranya pekat akan keraguan.
Apa dia baru saja meragukan penampilannya? Dia terlihat seperti peri saat ini.
Aku menelan salivaku gugup, suaraku pun mulai terdengar memecah keheningan di antara kita. “Cantik…you look so beautiful…” ungkapku tanpa banyak bicara.
Sepertinya aku melakukan sesuatu yang tepat, karena kemurungan Elena kini sirna diganti semburat merah yang mengintip malu – malu pada kedua pipinya.
Kutarik nafasku sekali lagi sebelum melangkah keluar, memisahkan jarak di antara kami. Aku pun merentangkan tanganku, “Bagaimana denganku?”
Elena tersenyum lebar sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. “Anda terlihat sangat tampan, Mr. Rexford. Bagai pangeran kuda putih yang dijemput oleh Princess Elena.”
Aku tertawa mendengar candaannya, “Kaulah penyebab aku menjadi pangeran dijemput, bukan menjemput.”
Elena mengangkat kedua bahunya pasrah. “Mau bagaimana lagi? Anda dilarang masuk ke area khusus karyawan,”
“Kalau begitu izinkan aku setidaknya melakukan ini,” aku pun menyerahkan lenganku agar ia bisa meraihnya. Elena tampak terkejut dengan sikapku malam ini dan ia mencari jawaban itu di wajahku. Aku tersenyum lalu meraih tangannya dan melingkarkannya pada lenganku, “Bukankah pangeran harusnya menggandeng tuan putri ke pesta dansa seperti ini?”
Tingkah konyol—yang lagi-lagi tidak pernah kulakukan pada siapapun—membuat Elena tertawa keras. Wanita itu mengeratkan tangannya padaku lalu tersenyum tipis. “Ayo, kita ke pesta dansa, Prince Ashton.” candanya mengikuti skenario dadakan kami.
“As you wish, Princess Elena.” balasku.
Kami pun berjalan berdampingan menuju pesta ulang tahun Stella Remington.
* * * * *
AUTHOR’s POV
Seperti prediksi Elena, pesta ulang tahun Stella Remington sangatlah berkelas dan mewah. Ball room di kapal pesiar sudah disulap bernuansa putih dan silver. Dekorasi berbentuk awan putih beserta benda-benda langit lainnya membuat ball room ini bagaikan istana khayangan. Kemewahan itu tidak berhenti di sana, di bagian dalam ball room bunga-bunga berbagai warna berkilauan menyambut para tamu undangan.
“Woah, ini indah sekali…mungkin ini salah satu acara termewah di sini,” gumam Elena tak berhenti menganga terkagum melihat kemewahan ini.
Di sampingnya, Ashton tersenyum tipis dan terus menggandeng Elena menuju meja-meja bundar tempat para tamu duduk. Mereka berdua pun diarahkan menuju meja yang sudah diatur sesuai dengan nama Ashton, kemudian duduk menunggu acara dimulai. Keduanya melempar senyum formal pada orang-orang yang duduk di meja bersama mereka.
Mata Elena tanpa sengaja bertemu pandang dengan milik beberapa staff yang sejak kedatangannya tidak berhenti memerhatikannya dengan tatapan beragam. Tentu saja ada dari mereka yang tersenyum menggoda, namun ada juga yang melempar tatapan sinis. Teman-teman akrabnya di kapal ini memberitahu padanya bahwa ada beberapa staff yang iri karena orang sepertinya dipilih oleh Manager membantu Ashton, bahkan sekarang ia dapat duduk di antara kaum sosialita kelas atas untuk menikmati jamuan makan malam Stella Remington.
Elena hanya bisa menghela nafas kesal.
Memang siapa yang memaksa untuk memilih dirinya? Dia bahkan sudah meminta managernya untuk mencari kandidat asisten yang lebih baik darinya.
Apa mereka pikir dia memaksa untuk membantu Ashton?
Belum selesai kekesalannya pada rekan kerjanya, sepasang suami istri datang menghampiri meja mereka. Tapi yang menjadi masalah adalah bahwa ternyata mereka adalah pasangan Halstein. Lucas Halstein adalah pria yang memarahi Elena beberapa hari lalu karena Elena salah menyebut nama istrinya saat ditugaskan mengantarkan pasangan ini ke kamar.
Mr. dan Mrs. Halstein duduk bersama mereka. Kebetulan yang sangat, sangat menyenangkan.
“Ada apa dengan ekspresimu?”
Pertanyaan Ashton menarik Elena dari alam bawah sadarnya. Elena mengerjap, “Huh? Ekspresi apa?” tanya Elena.
Ashton menunjuk wajah Elena, keningnya mengerut tak mengerti dengan perubahan sikap Elena sejak duduk tadi. “Kau terlihat tidak nyaman. Ada apa? Apa kau kedinginan?” tanya Ashton terdengar khawatir.
“Oh,” Elena mengusap tengkuknya malu, “tidak, tidak ada apa-apa, Mr. Rexford.” balas Elena menenangkan pria itu. Ia tidak mungkin memberitahu Ashton tentang masalah tidak penting ini.
Meskipun begitu, Ashton tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Elena. Mengamati setiap inchi wajahnya wanita di sampingnya dengan seksama. Tak menyadari waktu terus bergulir, hingga Lucas dan istrinya duduk. Mata Ashton membulat menyadari siapa mereka dan langsung bangkit berdiri, “Mr. Halstein, saya tidak tahu anda diundang juga ke acara ini,” Ashton mengulurkan tangannya pada Lucas Halstein.
“Ah, Mr. Rexford?” Lucas Halstein tersenyum lalu membalas jabatan tangan Ashton, “Begitulah, perusahaan kami juga cukup…bersahabat dengan Remington Group.” jawab Lucas tampak ragu.
Perhatian Ashton beralih pada wanita di sisi Lucas, pria itu kembali mengulurkan tangan pada istri Lucas, “Selamat atas pernikahan anda, Mrs. Kiara Halstein. Saya belum sempat mengucapkannya saat Anniversary Party Halstein Group waktu itu.”
“Terima kasih, Mr. Rexford,” Kiara tersenyum ramah lalu menatap Elena dengan tatapan ingin tahu, “Apa ini istri anda?” tanyanya polos.
Lucas, Ashton, dan Elena serentak menoleh pada Kiara dengan ekspresi yang berbeda-beda. Ashton tercengang di tempat, Elena tidak dapat berhenti mengerjapkan matanya tidak tahu harus berkata apa, sedangkan suami Kiara memejamkan mata menahan malu karena perilaku istrinya.
Elena pun tertawa keras untuk mencairkan suasana canggung di antara keempatnya, “Bukan, saya bukan istri Mr. Rexford. Saya hanyalah assistant pribadi beliau, Mrs. Halstein.”
“Oh astaga,” Kiara menutup mulutnya malu, semburat merah pun mewarnai kedua pipinya menyadari ia salah bicara, “Maafkan aku, kukira kalian adalah suami istri karena duduk bersampingan. Seharusnya aku tidak langsung main menebak tanpa tahu faktanya. Sekali lagi, maafkan aku.” sesal Kiara.
Lucas mengacak-acak rambut Kiara gemas lalu ikut tersenyum menyesal pada Ashton dan Elena, “Maafkan istri saya, Mr. Rexford. Kecintaannya pada novel terkadang membuatnya sering berimajinasi berlebihan dan asal berbicara tanpa berpikir dulu,” sindir Lucas.
“Hei! Kenapa kau bilang begitu!?” protes Kiara reflek. Kiara pun kembali menutup mulutnya malu karena mengatakan itu di depan Ashton dan Elena.
Tersadar dari kekagetannya, Ashton tersenyum tipis untuk menenangkan Kiara yang panik karena kesalahannya. “Tidak apa-apa, Mr. Halstein, Mrs. Halstein. Elena sangat membantu saya selama di sini, sehingga saya memutuskan untuk mengajaknya.” jelas Ashton.
Percakapan mereka harus terhenti karena suara lantang MC pesta malam ini menggelegar memecahkan setiap interaksi para tamu di ball room ini dengan pengumuman penting.
“… tanpa menunggu lama lagi, mari kita sambut dengan meriah our Birthday Girl, Ms. Stella Remington.”
Semua tamu pun bertepuk tangan ketika Stella Remington mulai menaiki panggung di damping ayahnya, Gordon Remington. Gadis itu tampak cantik dengan gaun berwarna putih yang bertabur permata berwarna-warni, membuat penampilannya bak malaikat. Setelah mengantar putri kesayangannya, Gordon pun pergi lalu turun dari panggung.
“Selamat ulang tahun, Ms. Remington.” ucap sang MC.
Stella tersenyum kepada sang MC, “Terima kasih banyak, Leisie.”
“Karena anda adalah ratu dari segala ratu dalam beberapa hari ini, mungkin ada kata-kata yang ingin anda sampaikan pada rakyatmu?” tanya MC tersebut dan semua orang pun tertawa pelan mendengarnya, tak terkecuali Stella.
Stella mengangguk, berjalan ke tengah-tengah panggung penuh percaya diri lalu membuka acara malam ini dengan kata sambutannya, “Good evening, ladies and gentlemen. Selamat datang dan terima kasih atas kehadiran kalian di pesta ulang tahun saya kali ini. Apa kalian menikmati jamuanku selama beberapa hari terakhir ini? Aku harap kalian menikmati semua fasilitas di sini dengan gembira. Bisa dibilang, perayaan tahun ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tapi saya bersyukur setiap tamu undangan bersedia meluangkan waktu berharga anda untuk turut berpartisipasi dalam merayakan kebahagiaan saya in,” manik mata Stella kemudian menyisir kerumunan di depannya sampai menemukan sosok yang dicarinya, senyumnya sekarang melebar, “Tapi pesta kali ini sangat spesial karena saya bisa merayakannya bersama dengan orang yang saya cintai, dan melihatnya hadir di pesta ini memberikan perasaan gembira yang tak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata.”
Berbeda dengan reaksi semua orang yang berbisik-bisik ingin tahu siapa yang dimaksud sang tuan rumah, Ashton justru mengepalkan tangannya kegirangan untuk merayakan kemenangannya setelah mendengar ungkapan hati Stella.
Stella Remington sudah mencintai pria lain.
Artinya ibunya tidak bisa memaksanya untuk berkencan buta dengan wanita ini.
Bukan berarti Stella Remington tidak cantik. Stella sangat cantik, tapi ia tidak tertarik berhubungan dengan siapapun saat ini.
Satu masalah selesai!
“Aku baru merasakan kebahagiaan itu di tahun ini, tapi aku berharap perasaan ini akan terukir abadi di hatiku. Salah satu harapanku untuk ulang tahun ini adalah kita semua bisa kembali berkumpul bersama-sama seperti malam ini untuk tahun-tahun berikutnya. Once again, thank you for coming!” tutup Stella diakhiri dengan tepuk tangan meriah.
Beberapa pelayan menarik kue ulang tahun raksaksa ke tengah panggung agar Stella bisa meniupnya. MC juga kembali naik ke atas panggung lalu berseru lantang, “Mari semuanya, kita menyanyikan ‘Happy Birthday’ untuk Ms. Stella Remington.”
Musik orchestra pun mulai mengalun lembut ke seluruh penjuru ball room, kemudian seluruh orang di sana mulai menyanyi, "Happy birthday to you...happy birthday to you...happy birthday to you...happy birthday to you, Stella!”
Suara tepuk tangan memenuhi ruangan setelah Stella meniup lilin dan konfeti berwarna warni dilepaskan. Stella kemudian kembali berbicara, “Izinkan aku untuk menghibur kalian semua dengan permainan violin. Meskipun masih amatiran, tapi aku sudah berlatih ini sejak lama. Kuharap kalian dapat menikmatinya,”
Setelah itu, Stella menunjukkan kebolehannya dalam bermain violin. Alunan merdu violin kembali membuat para tamu terkagum akan kesempurnaan Stella Remington, termasuk Elena sendiri. Dia bagaikan pasir di pantai jika dibandingkan dengan Stella. Kembali, tepuk tangan meriah menjadi hadiah tak kasat mata untuk mengapresiasi penampilan apik Stella.
Stella mengambil mic kembali untuk menutup kata sambutan darinya, “Kalau begitu, silakan nikmati pesta ini dan sampai berjumpa besok lagi saat pesta penutupan. Kita akan terus berpesta selama kalian masih ada di sini. Cheers everyone, enjoy your night!”
“Besok pesta penutupan,” tukas Elena pada Ashton karena ia pun baru ingat, “apa besok anda masih ada pekerjaan?” tanya Elena yang langsung dijawab dengan anggukan Ashton, “Tapi tenang saja, pekerjaaannya tidak sebanyak dua hari kemarin, karena aku memang sengaja menumpuknya di awal.” balas Ashton.
Para pelayan pun mulai berdatangan menyajikan appetizer kepada setiap tamu, yaitu puff pastry yang diisi dengan lobster dan caviar. Begitu menyendokan makanan itu ke mulutnya, ekspresi Ashton menjadi jengkel. Ia segera memanggil pelayan lalu mengomentari makanan itu, “Ini terlalu lembek untukku, aku ingin pinggiran pastry-nya yang lebih garing.” protes Ashton.
Pelayan tersebut kemudian membungkuk meminta maaf lalu segera pergi ke dapur sambil membawa piring Ashton. Aksi protes Ashton tidak berhenti sampai di situ, ketika main course datang, yaitu Kobe Strip Steak, pria itu kembali memanggil pelayan karena tidak puas dengan makanannya. “Tingkat kematangan yang kuinginkan adalah medium well, tapi apa yang kudapat? Lihat, warna di tengah daging masih terlalu merah. Aku ingin yang baru.” protes Ashton kembali. Pelayan yang melayani Ashton hanya dapat menahan kesal sambil meminta maaf, dan kembali melakukan permintaan Ashton. Kejadian ini terus berlanjut sampai makanan penutup.
Elena berdecak sambil menggeleng tidak tahu harus bicara apa lagi melihat sikap Ashton. Ia kira Ashton hanya seperti ini saat hari pertama karena memang masakannya tidak enak, tapi ternyata ia selalu melakukan ini setiap kali makan. Ada saja kekurangan dalam setiap masakan yang disajikan di depannya. Elena benar-benar merasa kasihan dengan koki di rumah pria perfeksionis ini sekarang?
“Mr. Rexford, apa saya boleh memberikan anda sedikit saran?” Elena pun akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan ganjalan dalam hatinya ini, “Mengapa anda tidak mencoba menerima kekurangan dalam setiap masakan yang disajikan?”
Ashton kini menatap Elena tajam. “Kenapa aku harus melakukan itu?” balas Ashton dingin.
Elena membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa kering karena sikap Ashton. Jelas pria itu tidak suka dikomentari tentang ini, tapi ia harus melakukannya demi kebaikan Ashton sendiri. “Terkadang ada keindahan di balik ketidaksempurnaan akan sesuatu. Apa keindahannya? Mungkin jika kita melihat dari sisi makanan, di belakang sana ada banyak koki yang berusaha keras untuk memuaskan hati para pelanggan. Mungkin hasilnya tidak sempurna, tapi mereka sudah melakukan yang terbaik dan itu adalah sebuah nilai plus.”
Meskipun logika Ashton berusaha menolak perkataan tersebut, namun di satu sisi Ashton tidak bisa mengabaikan perkataan wanita ini. Pria itu pun mencondongkan tubuhnya, bertopang dagu sambil menyeringai dingin. “Seharusnya kau menjadi motivator, bukan staff kapal pesiar, Ms. Winslow.” balas Ashton.
Pria ini benar-benar! Elena mengomel dalam hati.
Wanita itu sudah bersiap membalas perkataan Ashton, tapi terpaksa membatalkan niatnya ketika tiba-tiba tuan rumah acara, Stella Remington, menghampiri meja mereka dan langsung memeluk Ashton erat. “Ashton, terima kasih telah datang ke pesta ulang tahunku,” sapa Stella hangat.
Ashton membalas pelukan Stella dengan canggung, menepuk-nepuk punggung wanita itu pelan “Tentu saja aku harus mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung pada customer VVIP kami, Ms. Remington.”
Stella mendekatkan bibirnya pada telinga Ashton untuk berbisik, “Artinya, apa aku akan mendapatkan hadiah spesial dari Rexford Department Store?”
Ashton ikut berbisik, “Anda bisa mengecek bonus poin di membership card anda, Ms. Remington. Saya yakin itu akan menyenangkan hati anda.”
Mendengar hadiah itu, Stella langsung tertawa kegirangan. “Setelah pesta ini berakhir, aku akan segera menghabiskan poin itu,” seperti pasangan Halstein, pandangan Stella juga turun kepada Elena, “Siapa dia? Aku tidak tahu kau sudah punya kekasih.”
“Ah, ini Elena, dia asisten pribadiku.” ujar Ashton sambil menyandarkan tangannya pada bahu Elena, sedangkan Elena hanya tersenyum canggung.
Ekspresi di wajah Stella berubah masam mendengarnya, “Ternyata tidak hanya dia yang membawa asisten pribadi ke sini,” gumam Stella kaku sambil melirik tajam pasangan di belakang Ashton, tapi sedetik kemudian ia kembali tersenyum ramah, “Kalau begitu aku permisi dulu, enjoy the party,” pamit Stella lalu menghampiri Lucas dan Kiara.
Musik classic bersenandung mengalun lembut, mengundang setiap pasangan di sana untuk berdansa di tengah-tengah ball room, seperti tradisi pesta pada umumnya. Elena terkejut ketika melihat Lucas bangkit berdiri dan justru menggandeng Stella menuju lantai dansa, meninggalkan istri—yang terlihat—sangat disayanginya duduk sendirian di sampingnya.
Elena berdecak kesal. Berani-beraninya pria itu memarahinya karena salah menyebut nama istrinya, tapi memilih wanita lain untuk berdansa?
Konyol sekali!
Bahkan sekarang istrinya langsung pergi ke luar ruangan. Siapa yang tidak sakit hati melihatnya?
“Itu tradisi.” ujar Ashton tiba-tiba dari samping.
Elena menoleh menatap Ashton tidak mengerti, “Apa?”
Ashton menunjuk Lucas dan Stella dengan dagunya, “Aku tahu apa yang ada dipikiranmu, Ms. Winslow. Tapi, Stella pasti meminta Mr. Halstein untuk berdansa dengannya. Tuan rumah berhak untuk itu,” jelas Ashton.
“Ah, begitu ya? Maaf, aku tidak tahu tentang tradisi di pesta,” ungkap Elena malu sambil mengusap tengkuk.
“Kau ingin tahu rasanya?” Ashton pun berdiri, kemudian mengulurkan tangannya ke depan wajah Elena, “Aku bisa membantumu merasakan juga tradisi di pesta. Ayo kita berdansa.”
Mata Elena membulat sempurna, terpaku melihat tangan Ashton yang menunggu uluran tangannya. Ia tidak menyangka Ashton akan melakukan ini.
“Aku tidak bisa berdansa…” bisik Elena, jantungnya saat ini melompat-lompat tanpa alasan hanya karena sikap Ashton sekarang.
“Kita bisa hanya perlu berputar-putar di sana,” jawab Ashton asal dan sukses membuat tawa renyah Elena terdengar merdu. Hati Elena berdesir lembut ketika ia meraih tangan Ashton dan keduanya berpegangan tangan berjalan menuju tengah ball room.
Keduanya pun merapatkan tubuh mereka, saling menatap satu sama lain dengan senyuman. Ashton membantu membentangkan tangan kiri keduanya yang saling terpaut, lalu membantu meletakan tangan kanan Elena ke bahu kanannya, sementara tangan kanan Ashton meraih punggung Elena lembut. Ashton pun mulai membimbing Elena berdansa perlahan.Tanpa sadar, Elena berusaha menahna nafasnya agar tidak terlalu terlihat memburu.
Kekehan pelan pria itu menyadarkan Elena. “Apa aku sedang berdansa dengan patung?”
“Huh?” Elena menganga tidak menangkap maksud ucapan Ashton.
Ashton menggoyangkan tangan Elena, “Aku bisa merasakan kau sangat kaku dalam genggamanku, Ms. Winslow.” ejek Ashton pelan.
Pipi Elena pun merona malu, ia berusaha mengatur nafasnya agar lebih relaks. Perlahan, otot-otot tubuhnya mulai berusaha mengikuti setiap gerakan tubuh Ashton. Perubahan itu membuat Ashton tersenyum bangga dan mereka pun berdansa seiringan dengan pasangan lainnya di sekitar mereka.
“You’re a good dancer, Mr. Rexford,” puji Elena tulis.
[Kau penari yang handal, Mr. Rexford.]
Ashton tertawa kecil, “Apa aku perlu membuka kursus berdansa khusus untukmu, Ms. Winslow?”
Elena menggeleng geli, “Aku yakin biayanya akan sangat mahal dan aku tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun.”
Mendengar itu, Ashton pun mengangguk pelan. “Sepertinya akan seperti itu,” balasnya dan keduanya pun tertawa bersama.
“Terima kasih,” perkataan Elena berhasil membuat Ashton memusatkan perhatiannya pada wanita itu, Elena mendongak menatap langit-langit bertaburkan lampu crystal terharu, “Aku bisa merasakan momen seperti ini. Biasanya saat pesta seperti ini, aku bahkan tidak sempat menikmati keindahan suasananya karena sibuk bekerja. Menjadi orang kaya memang menyenangkan, ya.” canda Elena dan Ashton hanya tertawa pelan mendengarnya.
Kemudian Ashton terdiam, namun matanya menatap wajah cantik Elena lekat-lekat. “Kalau begitu aku perlu berterima kasih juga padamu.”
“Berterima kasih karena apa?” tanya Elena penasaran.
Kedua insan itu saling menatap lekat, berusaha mencari jawaban di balik manik mata dan senyuman masing-masing. “Karena telah mengomeliku tentang makanan. Sejauh ini, hanya kau yang berani sejujur itu menegurku. Jadi aku mengapresiasi keberanianmu itu, Elena.”
Begitu namanya terlepas dari bibir Ashton, Elena merasa dirinya terbang ke langit ke tujuh. Ia tidak bisa mengalihkan matanya dari milik Ashton—yang juga terus terkunci pada matanya, tidak mengalihkan pandangannya pada hal lain. Elena pun berusaha mencairkan tegangan ini dengan memukul d**a Ashton bercanda, “Anda benar-benar konyol, Mr. Rexford.”
“Ashton,” Alis Elena mengangkat tidak mengerti maksud ucapan pria itu sampai kelanjutan perkataannya membuat jantung Elena berhenti berdetak seketika. “Mulai sekarang kau boleh memanggilku Ashton, Elena.”
Elena tertegun selama beberapa saat. Otaknya tidak bisa memproses semua hal ini dalam sekali hentakan. Ini masih terasa seperti mimpi baginya.
“Ba-baiklah….Ashton.” gumam Elena, langsung mengigit bibirnya setelah mengatakan itu karena masih tidak percaya ia bisa menyebutkan nama itu langsung di depan muka Ashton. Elena harus mengakui ia tidak pernah merasakan perasaan ini terhadap pria manapun.
Tanpa Elena sadari, Ashton juga merasakan hal yang sama.
Ashton tersenyum bahagia mendengarnya. Namanya terdengar sangat indah saat Elena menyebutkannya, lagi-lagi hal yang ia tidak pernah rasakan dengan orang lain selain Elena.
Di bawah gemerlapnya lampu crystal serta alunan musik klasik, keduanya terlarut dalam dansa mereka, berputar dan saling mengenggam satu sama lain seolah takut jarak akan memisahkan mereka. Setiap detik mereka habiskan sebaik mungkin untuk dapat merasakan kedekatan tubuh mereka.
Hanya satu permasalahan mereka saat ini; kebungkaman. Kebungkaman menjadi penghalang mereka untuk saling mengungkapkan apa yang mereka rasakan saat ini. Realita yang berusaha mereka hindari dan tidak mau akui suatu saat akan berbalik mencabik mereka.
Namun itu bukanlah masalah, setidaknya untuk saat ini.
* * * * *
Ashton dan Elena berhenti tepat di depan pintu bertuliskan tanda ‘AREA KHUSUS STAFF LION HEART CRUISE’, di mana pintu itu akan mengarahkan pada lorong kamar para staff, termasuk kamar Elena.
Elena membuang nafasnya sedih lalu mendongak, berusaha tersenyum ketika menatap Ashton, “Terima kasih karena telah mengajakku ke pesta, aku sangat menikmati setiap detiknya. Kau seharusnya tidak perlu mengantarku sampai sini,”
Setelah pesta berakhir, Elena berencana untuk langsung kembali ke kamar karena tumitnya terasa lelah memakai high heels sepanjang malam. Namun tidak seperti biasanya, kali ini Ashton ingin mengantarnya ke kamar. Meskipun Elena sudah menolaknya, namun sikap keras kepala Ashton akhirnya membuat Elena luluh dan membiarkan pria itu melakukan apapun yang ia inginkan.
Ashton membalas senyum tersebut dengan tidak kalah lebar, “Anggap saja ini sebagai hadiah karena selama beberapa hari bertahan menghadapiku.”
Kekehan Elena terdengar hangat di telinga Ashton, binar mata wanita itu menunjukan betapa bahagianya ia saat ini. “Besok hari terakhir, bukan? Lusa pagi kapal ini akan tiba di Manhattan Cruise Terminal.”
[Manhattan Cruise Terminal adalah pelabuhan khusus untuk penumpang kapal pesiar yang terletak di Hudson River, New York City, Amerika.]
Perkataan Elena merupakan sebuah fakta yang langsung menampar keduanya di tempat. Mata mereka bertemu sendu, seolah saling menyampaikan apa yang berada di lubuk hati mereka yang terdalam melalui manik mata.
“Kalau begitu kita harus melakukan perayaan perpisahan yang meriah, benar bukan?” balas Ashton pelan.
Elena menarik garis bibirnya sedih dan mengangguk, “Apa yang harus kita lakukan untuk merayakan perpisahan ini?” ujar Elena berusaha bercanda, namun justru hatinya terasa di panah oleh busur api panas yang membuatnya ingin menangis.
“Apa ada hal lain yang ingin kau lakukan di kapal ini?” tanya Ashton.
Elena menggeleng, “Aku tidak tahu ingin melakukan apa lagi. Menonton film dengan setumpuk popcorn pun tidak masalah bagiku,” canda wanita itu.
Ashton memasukan tangannya pada kantong celananya, menunduk tampak berpikir keras, “Aku akan mengurusnya besok, kita akan bertemu di air mancur yang terletak di tempat hiburan kapal ini. Sekarang sudah malam, kembalilah ke kamar.”
Elena melirik jam tangannya. Benar, sekarang sudah hampir pukul dua belas malam. Pesta Stella jauh lebih lama dibanding yang ia perkirakan.
“Kalau begitu, aku pamit dulu. Selamat malam…Ashton,” kata Elena dan berjalan menuju pintu. Astaga, Elena masih merasa aneh memanggil Ashton dengan sebutan informal seperti itu.
Itu menjadi tanda bagi Ashton untuk mundur perlahan, tapi pandangannya masih terus terpaku pada Elena, “Selamat malam, Elena. Have a nice dream…”
Elena pun memutar gagang pintu itu dan masuk ke dalam. Namun sedetik kemudian, Elena kembali berbalik, mengintip dari sela-sela pintu dengan tangan melambai pada Ashton dengan malu-malu, “Sampai jumpa besok…”
Tangan Ashton sudah terasa gatal di sisi tubuhnya untuk membalas lambaian itu. Namun, harga dirinya berteriak marah dan menahan gerakan otot tubuhnya itu, sehingga Ashton hanya dapat tersenyum tipis dan mengangguk sekali. “Sampai jumpa besok, Elena.” kata Ashton. Pria itu masih berdiri di sana, hingga sampai pintu tertutup sepenuhnyalah, kaki Ashton baru bergerak menjauh.
Sementara Elena masih sibuk mengatur nafasnya dengan punggung tersandar di balik daun pintu. Ia kembali mengipasi wajahnya yang terasa panas, reaksi yang hanya bisa ia rasakan karena Ashton Rexford. Tangannya sekarang bergerak memegang dadanya yang masih bergemuruh ricuh di sana.
Menyadari hatinya mulai meneriaki suatu perasaan yang tidak pernah ia rasakan, Elena segera menggelengkan kepalanya keras-keras. “Tidak, tidak. Ini hanya euforia semata. Aku tidak mungkin menyukainya dalam waktu empat hari,” Elena kemudian memukul-mukuli kepalanya sendiri penuh frustasi, “Bodoh, bodoh! Buang pikiran ini jauh-jauh! Elena, buang!”
Ternyata, “penyiksaan diri” yang Elena lakukan sebelumnya tidak berhasil menakhlukkan hatinya. Sepanjang malam, matanya seolah tidak mengenal waktu dan terbuka lebar sepanjang malam. Malam ini, pikiran Elena terlalu rumit untuk ditenangkan.
Dan Elena tahu apa alasan pemberontakan hatinya ini; sosok Ashton Rexford—CEO Rexford Department Store yang perfeksionis, ambisius, dan dingin, namun membuatnya merasakan sensasi yang tak pernah ia alami sebelumnya.
“AAAA! AKU PASTI SUDAH GILA!” pekik Elena sambil menendang-nendang selimutnya dan mengubur wajahnya di bantal.
TO BE CONTINUE
Maaf ya, kemarin ga ke upload ya ternyata?
Kenapa aku panjang kali lebar bgt di pesta Stella? Karena di blurbnya aja ada bahas soal pesta ini, jadi artinya kejadian ini penting ya. Pentingnya kenapa? Ini adalah titik balik hubungan #ElenAshton. Liat, di sini mereka udah mulai panggil nama kan? WKWKWKWK
Btw, sekali lagi aku tekankan kenapa belum bisa tiap hari update = BELUM SIGNED.