Sop ayam di meja makan sudah tidak mengepul ketika Rafa tiba pukul sembilan malam. Alin menunggu dengan dua piring tertata rapi, satu mangkuk nasi, dan senyum yang terlihat latihan.
"Maaf, rapat tadi molor," ujar Rafa sambil melonggarkan dasi.
"Tidak apa-apa. Aku panaskan lagi." Alin sudah setengah berdiri.
"Jangan, begini saja."
Mereka makan nyaris tanpa bicara. Sendok beradu pelan dengan piring, kulkas berdengung di sudut. Alin sesekali melirik suaminya, menunggu komentar yang tidak datang-datang.
"Papa bertanya apa laporan kuartal sudah siap," katanya akhirnya. "Beliau mau lihat hari Senin."
"Sudah hampir selesai. Tinggal angka pengeluaran proyek."
"Bagaimana sopnya?"
"Enak."
Alin meletakkan sendoknya. "Kamu sudah makan tiga suap dan belum sekali pun minum. Itu artinya terlalu asin."
Rafa mendongak. Perempuan di depannya tersenyum tipis, tidak getir, hanya jujur. "Bohongmu rapi, Mas, tapi sopku tidak ikut berbohong."
"Alin, aku ...."
"Sudah. Habiskan sebisamu, besok aku belajar lagi." Ia membereskan piring sebelum Rafa sempat membantu.
***
Jam dinding di ruang tengah menunjukkan lewat pukul satu dini hari ketika Rafa menyerah pada tempat tidurnya. Ia keluar kamar tanpa menyalakan lampu, berjalan telanjang kaki di lantai yang masih berbau cat baru, lalu duduk di sofa yang belum seminggu dipasang. Rumah ini terlalu rapi. Bantal-bantalnya belum pernah ditiduri, dapurnya belum pernah dipakai memasak lebih dari mi instan. Tiap sudutnya masih menunggu penghuni yang betul-betul tinggal.
Ponselnya tergeletak di meja kaca. Rafa mengambilnya, mengusap layar, dan jempolnya sudah tahu ke mana harus pergi sebelum kepalanya sempat melarang.
Galeri. Album bernama "Lama". Ia menggulir ke bawah, melewati foto kantor, foto proposal, foto struk-struk tak penting, sampai berhenti pada sebuah potret perempuan yang tertawa memegang es kelapa di warung pinggir jalan. Rambut lurusnya terbang tertiup angin. Matanya menyipit seolah sedang memarahi si juru foto yang terlalu lama memilih sudut.
Qenna.
Rafa menatap foto itu sampai layar meredup sendiri. Lalu ia menyentuhnya lagi, menekan ikon tempat sampah, dan menjawab ya ketika ponsel bertanya apa ia yakin. Fotonya lenyap. Yang berikutnya juga. Yang berikutnya lagi, sampai album itu tinggal kotak kosong bertuliskan angka nol.
Satu menit. Dua menit.
Ibu jarinya bergerak ke folder "Baru dihapus", menekan sebuah foto, memilih Pulihkan. Dan seluruh album itu kembali, satu per satu.
"Kamu masih bangun."
Rafa tersentak. Ia sudah lupa kapan seseorang terakhir memanggilnya dengan nada selembut itu tanpa menginginkan sesuatu. Alin berdiri di ambang lorong dengan kardigan abu-abu menutupi daster, rambut digelung asal. Wajahnya tidak marah. Dada Rafa terasa sesak. Ketenangan itu justru membuatnya tak berkutik.
"Maaf, aku membangunkanmu."
"Tidak. Aku memang terjaga dari tadi." Alin berjalan perlahan dan duduk di ujung sofa yang lain, menyisakan jarak dua bantal di antara mereka. Ia tidak menyalakan lampu. Cahaya dari layar ponsel di tangan Rafa memantul di wajahnya yang tenang. "Kamu bersembunyi di sini sudah tiga malam, Mas."
"Aku tidak bersembunyi. Pikiranku saja sedang penuh. Urusan perusahaan." Rafa menyadari kebohongan itu terdengar tipis bahkan di telinganya sendiri.
Alin tidak menyahut. Pandangannya turun sekilas ke ponsel, ke foto yang masih terbuka. Ia tidak berusaha mengintip, tetapi tidak juga pura-pura tidak melihat.
"Dia masih di kepalamu?" tanyanya lembut.
Rafa menutup layar. Pertanyaan itu mestinya bisa dijawab dengan satu kata, tetapi lidahnya menolak mengucapkan yang mana pun.
"Aku tidak akan marah," lanjut Alin. "Aku cuma ingin tahu kamu menikah dengan perempuan yang punya hati penuh atau perempuan yang hatinya masih berkunjung ke tempat lain."
"Dia perempuan yang kutinggalkan dengan cara yang salah," ucap Rafa akhirnya. Pelan, nyaris untuk dirinya sendiri. "Itu saja yang bisa kubilang sekarang. Aku tidak punya pembelaan, Alin. Aku bahkan tidak yakin aku boleh punya perasaan apa pun tentang dia."
Alin menatap tirai yang bergoyang tertiup angin dari jendela terbuka. Ia tidak segera menjawab.
"Mama bilang urusan istri pertamamu sudah beres," ujarnya kemudian. Tidak sebagai tuduhan. Lebih seperti meminta sebuah angka yang dijanjikan kepadanya dikonfirmasi. "Aku percaya karena Mama bilang begitu dan karena kamu tidak membantah. Tapi aku jadi tidak yakin kalau kamu sendiri tidak pernah menyebutnya begitu."
Lehernya terasa kaku. Rafa mengusap tengkuk. "Beres menurut Mama."
"Itu bukan jawaban, Mas."
"Aku tahu." Ia menunduk. "Beri aku waktu. Aku akan cari tahu."
Alin menghela napas panjang dan berdiri. Di dekat Rafa ia berhenti sebentar, tangannya tertahan di udara, seolah hendak menyentuh bahunya lalu mengurungkan niat. "Aku bukan musuhmu. Ingat itu. Tidurlah, besok kamu ke kantor jam delapan."
Setelah pintu kamar menutup pelan, Rafa baru sadar tangannya gemetar.
Ponsel di genggamannya bergetar tepat saat ia hendak meletakkannya. Nama di layar: Mama.
Pukul satu lewat dua puluh. Rafa menimbang, lalu menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga.
"Kenapa belum tidur?" Suara Mama Jamilah jernih, tanpa jejak kantuk. Perempuan itu tak pernah kelihatan tidur.
"Mama yang menelepon tengah malam."
"Mama tahu kamu terjaga. Sopir Mama lewat depan rumahmu tadi dan lampu ruang tengahmu masih menyala." Sedikit jeda. "Hapus nomor perempuan itu."
Rafa membeku. "Siapa maksud Mama?"
"Jangan pura-pura bodoh. Qenna. Hapus nomornya, hapus fotonya, hapus apa pun yang masih kamu simpan. Kamu sudah punya istri, dan istrimu itu anak Pak Hendro. Satu saja bocoran, satu saja pesan yang nyasar, dan urusan kita berantakan."
"Dia tidak pernah menghubungi Rafa, Ma. Dia tidak mengganggu siapa pun."
"Justru karena tidak mengganggu, tidak ada alasan menyimpan."
"Ma ...." Rafa menelan ludah. Ada kalimat yang sudah di ujung lidah, kalimat yang tidak pernah berani ia ucapkan, dan ia mengucapkannya dengan suara tertahan. "Aku tidak mau diperintah soal ini. Kali ini saja, biarkan aku yang memutuskan."
Hening di ujung sana. Cukup lama sampai Rafa mengira sambungan terputus.
"Rafa," sapa Mama, hanya itu, dengan nada yang menurun satu tingkat, nada yang selalu membuat ruang di sekitar Rafa mengecil sejak ia kecil. "Mama mengurus semuanya demi siapa?"
Sebenarnya Rafa tahu persis jawaban yang Mama inginkan. Ia hanya tidak ingin mengucapkannya.
"Demi aku," katanya. Dua kata itu terasa seperti kerikil.
"Pintar. Alin sudah tidur?"
"Sudah." Kebohongan kedua dalam sepuluh menit, dan kali ini lebih mudah keluar.
"Jangan buat dia curiga. Perempuan yang mulai curiga itu merepotkan, dan Pak Hendro bukan orang yang sabar kalau anaknya merasa dipermainkan. Senin pagi beliau menunggu laporan keuangan, jangan sampai ada angka yang salah. Dan jangan lupa apa yang sudah kita sepakati." Mama menutup tanpa salam.
Rafa menurunkan ponsel. Layarnya meredup. Di luar jendela, seekor kucing menyeberang gelap sambil mengibaskan ekor.
Kucing itu tidak kembali. Rumah kembali sunyi, dan dalam sunyi itu Rafa mengenali sesuatu yang sudah lama ia hindari: ia tidak sedang menyesali Qenna sebagai kenangan. Ia menyesali dirinya sendiri, laki-laki di kamar hotel Denpasar yang sempat mengecup kening seseorang lalu pergi membawa satu tiket.
Ia membuka aplikasi kontak dan mencari nama yang ia hafal letaknya. Jempolnya sudah menyentuh tombol hapus ketika ia berhenti, lalu menutup kontak itu begitu saja.
Ia beralih ke aplikasi catatan. Kursor berkedip di layar kosong, dan Rafa mengetik pelan, satu huruf demi satu:
Telepon panti. Tanya kabar Qenna. Hanya itu.
Ia membaca tulisan itu dua kali, menyimpannya, dan menaruh ponsel di meja dengan layar menghadap ke bawah.