Qenna bangun sebelum alarm dan langsung berlari ke kamar mandi. Biskuit tawar yang tadi malam diingatkan Sindy untuk ditaruh di dekat bantal masih utuh di bungkusnya, dan ia baru ingat setelah perutnya kosong. Ia duduk di tepi kasur sambil mengunyah satu keping pelan-pelan, menunggu dunia berhenti miring.
"Kamu bisa," gumamnya pada langit-langit. "Cuma periksa. Cuma dengar apa kata dokter."
Ketika ojek yang dipesan Sindy berhenti di depan pagar, Qenna sudah rapi dengan blus longgar dan kerudung tipis yang jarang ia pakai. Ia memilih blus itu sengaja. Tidak ada yang perlu melihat ke arah perutnya, termasuk dirinya sendiri.
***
Ruang tunggu klinik itu berwarna krem dan hangat, dengan poster bayi tertawa di tiap dinding. Qenna duduk di kursi paling pojok, mengapit tas jinjingnya di pangkuan, mata terpaku pada lantai. Di seberangnya, sepasang suami istri muda berbagi satu ponsel. Si suami mengelus punggung istrinya yang perutnya sudah membukit, dan si istri bersandar tanpa berpikir, seolah bahu itu memang tempatnya dari dulu.
"Jangan lihat ke sana," bisik Sindy.
"Aku tidak lihat."
"Matamu hampir juling, Qen." Sindy menyodorkan formulir pendaftaran. "Isi ini. Dan jangan terlalu lama di kolom suami."
Qenna menerima pulpen. Kolom nama, umur, alamat, dan tanggal haid terakhir terisi lancar. Di kolom nama suami, ujung pulpen berhenti di atas kertas, meninggalkan titik biru kecil yang melebar. Ia mengosongkannya, lalu menyerahkan formulir ke meja pendaftaran sebelum sempat berubah pikiran.
Namanya dipanggil lima belas menit kemudian.
Dokter kandungan itu perempuan paruh baya dengan rambut pendek beruban dan kacamata menggantung di rantai. Ia menyapa Qenna seperti menyapa tetangga sebelah, tanpa tergesa. Pertanyaannya pun biasa. Kapan haid terakhir, apa saja yang dirasakan, apa ada nyeri, apa ada bercak. Qenna menjawab satu per satu, dan Sindy yang duduk di kursi sebelah sesekali menambahkan, "Mualnya parah, Dokter, sampai muntah di kantor."
"Normal di usia segini, walau tetap melelahkan." Dokter mencatat. "Kita lihat dulu ya. Berbaring di sini."
Qenna naik ke ranjang periksa. Seprainya kertas, dingin dan berkeresek. Perawat menyingkap bajunya sebatas perut dan mengoleskan gel bening yang membuatnya terkesiap. Sindy berdiri di samping kepalanya dan menggenggam tangannya.
"Tarik napas, Mbak. Rileks saja."
Layar di sudut ruangan menyala. Garis-garis abu-abu bergerak, bergeser, berkabut. Qenna tidak mengerti apa yang ia lihat, hanya menangkap bayang gelap yang membesar dan menyempit seperti riak air.
"Nah, ini dia." Dokter menunjuk sebuah bentuk kecil di tengah layar, bulat sedikit lonjong seperti kacang. "Ini kantungnya, dan ini bakal bayi Ibu. Ukurannya kira-kira sesuai sembilan minggu. Dengar."
Ia menekan sesuatu. Ruangan mendadak dipenuhi bunyi yang cepat dan halus, tak-tak-tak-tak.
Qenna berhenti bernapas.
"Itu detak jantungnya," kata dokter, suaranya melembut. "Sekitar seratus enam puluh kali semenit. Bagus, kuat."
Qenna menatap layar tanpa berkedip. Bayang kecil itu berkedip pelan di tengah, dan bunyi itu terus berlari, tak mau berhenti, tak pernah minta izin. Ada makhluk hidup yang berdenyut di dalam tubuhnya sendiri. Sembilan minggu ia hidup tanpa tahu, dan makhluk itu tetap bertahan, tetap berdetak, tetap memilih ada.
Air matanya jatuh tanpa suara. Mulanya satu, lalu mengalir ke pelipis dan masuk ke telinga. Ia tidak mengusapnya.
"Sin," katanya serak. "Dia hidup."
"Iya, Qen." Suara Sindy pun bergetar. "Dia hidup."
"Ini bukan tangis sedih, kan?" Qenna tertawa kecil di sela isak. "Aku tidak tahu ini tangis apa."
"Ini tangis bahagia, Sayang," ujar dokter sambil tersenyum. "Banyak yang begitu kalau pertama kali dengar."
Perawat mengusap gel dari perut Qenna, lalu mereka kembali ke meja. Dokter mengetik di komputer, menarik laci, dan menulis resep dengan tulisan yang hanya bisa dibaca apoteker.
"Jadi, Bu Qenna," katanya tanpa mengangkat wajah. "Bapaknya hari ini tidak ikut?"
Pertanyaan itu ringan, hampir rutin. Tetapi Qenna merasakan punggungnya menegang. Sindy sudah menarik napas untuk menjawab, namun Qenna lebih dulu.
"Sedang tidak bersama saya, Dokter."
Dokter menoleh. Matanya memandang Qenna sekejap, lalu Sindy, lalu kembali ke layar. Tidak ada penghakiman di sana, hanya pengertian yang diam. "Baik. Tidak apa-apa. Yang penting Ibu sehat dan ada yang menemani."
"Ada, Dokter. Sahabat saya ini." Qenna melirik Sindy yang buru-buru menunduk.
"Bagus." Dokter menyodorkan resep. "Ini vitamin dan asam folat, diminum rutin. Untuk mual, makan sedikit tapi sering, jangan menunggu lapar. Kalau pagi sulit, taruh biskuit tawar di dekat bantal dan makan sebelum bangun. Jahe hangat boleh."
"Baik, Dokter."
"Satu lagi. Ibu bekerja?"
"Cleaning servis, Dokter."
"Nah." Dokter menurunkan kacamatanya. "Tolong dengarkan saya baik-baik. Jangan mengangkat beban berat, ember penuh, atau galon. Hindari bahan pembersih yang keras, cairan pemutih, pembersih kloset, apa pun yang baunya menusuk. Selain tidak enak untuk mual Ibu, itu tidak baik untuk bayi yang sedang membentuk dirinya. Bisa dipindah tugas?"
Qenna terdiam. "Mungkin bisa. Saya akan bicarakan dengan atasan."
"Bicarakan hari ini kalau bisa. Dan kontrol lagi bulan depan, atau lebih cepat kalau ada bercak darah atau nyeri hebat."
Mereka keluar membawa amplop hasil USG. Di dalamnya ada selembar foto hitam putih yang buram, dengan bentuk kecil bulat di tengah dan tulisan angka di tepi. Qenna memandanginya begitu lama sampai tidak sadar sudah berdiri di depan apotek.
"Aku tebus obatnya, kamu duduk," perintah Sindy, mendorongnya ke bangku di depan kaca. Dalam sepuluh menit ia kembali membawa kantong putih berisi botol-botol kecil, lalu menggandeng Qenna menyeberang ke warung bubur ayam di seberang jalan.
***
Bubur itu datang mengepul, ditaburi bawang goreng dan sedikit seledri. Anehnya, hidung Qenna tidak menolak. Ia menyuap sesendok, lalu sesendok lagi, lebih cepat dari yang ia duga.
"Nah, lihat," ujar Sindy puas. "Anakmu tahu apa yang dia mau."
"Anakku?" Qenna berhenti mengunyah. Kata itu terdengar asing di mulutnya sendiri, seperti baju yang belum pernah dipakai.
"Iya, anakmu. Kamu mau panggil apa lagi, calon keponakanku?"
Qenna tertawa pendek, lalu cepat-cepat menutup mulut karena pemilik warung menoleh. "Tadi dokter bilang jangan angkat ember dan jangan pakai pembersih keras. Itu seluruh pekerjaanku, Sin."
"Makanya Pak Armand berkata Pak Hans yang atur tugasmu. Percaya padaku, Pak Hans paling pintar kalau soal mencari alasan." Sindy menyeruput teh hangatnya. "Tinggal kamu terima saja, tidak usah berpikir ini hutang budi."
"Aku tetap merasa berhutang."
"Itu karena kamu orang baik. Orang baik selalu begitu." Sindy menunjuk mangkuk dengan sendoknya. "Habiskan dulu."
Ponsel Sindy bergetar di meja ketika Qenna sudah hampir menandaskan separuh mangkuk.
Sindy membaca layar, wajahnya berubah geli sekaligus segan. "Pak Hans."
"Ada apa?"
"Dia tanya kita sudah selesai belum. Tulisnya, Pak Armand menitip tanya soal hasilnya, tapi 'jangan dipaksa kalau Qenna belum mau cerita'." Sindy membaca ulang pelan, menirukan nada Hans. "Dia bahkan pakai tanda kutip. Pasti Pak Armand yang mendiktekan."
Qenna menunduk menatap foto di pangkuannya. Bayang kecil itu masih di sana, bergerak di sela abu-abu. Sebagian dirinya ingin menunjukkan foto ini kepada seseorang, kepada siapa pun, memamerkan detak itu sampai semua orang di dunia ikut mendengar. Tetapi orang yang paling berhak sedang tidur di rumah lain, di sebelah perempuan lain.
"Balas apa?" tanya Sindy.
Qenna melipat foto itu, memasukkannya ke amplop, lalu memeluknya di dada.
"Bilang saja sehat," katanya. "Itu saja."