Telepon panti berdering sampai nada sambung ketujuh sebelum akhirnya diangkat. Suara Andin terdengar terengah, seperti baru berlari dari halaman belakang.
"Halo, panti asuhan. Oh, Kakak Qenna!"
"Andin, Ibu ada? Tolong panggilkan sebentar."
"Ibu belum pulang, Kak. Tadi subuh pulang, masak, terus berangkat lagi bawa tas besar. Katanya mau ke tempat yang harus Ibu datangi." Andin menurunkan suara. "Ibu tidak bilang ke mana. Muka Ibu seperti waktu marah sama tukang listrik yang menipu, tapi lebih tenang. Kakak tahu Ibu ke mana?"
Dada Qenna mengencang. "Tidak apa-apa, Din. Nanti Kakak telepon lagi."
Ia mematikan sambungan, dan untuk beberapa detik hanya berdiri di pantry lantai bawah sambil meremas ponsel. Besok pagi Ibu temui mertuamu. Kalimat itu terdengar seperti kalimat ancaman yang tidak serius ketika diucapkan di kontrakan semalam. Sekarang kalimat itu menjadi sesuatu yang berat dan nyata di tengah siang.
Hans lewat membawa gelas kopi. Ia hanya memerlukan satu pandangan. "Ada apa?"
"Pak, saya perlu izin keluar dua jam. Urusan keluarga. Saya akan ganti."
"Pergilah." Hans tidak bertanya lebih jauh. "Saya yang menjelaskan kalau ada yang mencari."
Ojek membawanya melewati dua lampu merah dan satu jembatan. Sepanjang jalan Qenna memegang pegangan besi di belakang jok dengan kedua tangan dan menahan napas tiap kali motor mengerem, bukan karena takut jatuh, tetapi karena kini ada yang harus ia lindungi tiap kali tubuhnya terguncang. Ia menggumamkan sebuah doa pendek berulang-ulang sampai motor berhenti di sebuah halte di pinggir jalan besar, seratus meter dari gerbang kompleks mewah itu. Qenna hanya tahu satu halte yang cukup dekat untuk dijangkau dengan angkot dan cukup jauh untuk tak terlihat dari gerbang. Ia melompat dari boncengan, membayar sambil gemetar, dan memandang berkeliling.
Seorang perempuan paruh baya duduk di bangku besi, punggung tegak, tas besar di pangkuan. Kerudung krem. Kedua tangannya menggenggam tali tas begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Bu."
Ibu Aisyah menoleh. Wajahnya tak berdarah. Bibirnya bergerak, tetapi tak ada suara yang keluar sebelum Qenna berlutut di depannya.
"Ibu ke sana. Ibu betul-betul ke sana." Qenna mencengkeram lutut Ibu Aisyah. "Qenna sudah bilang jangan, Bu. Sudah Qenna bilang semalam. Kenapa Ibu tidak ...."
"Kamu berhak menyembunyikan dirimu, Nak." Suara Ibu Aisyah bergetar, namun tiap katanya padat. "Itu hak kamu. Ibu tidak akan menyentuhnya. Tapi kamu tidak berhak menyuruh Ibu diam ketika kamu dihina. Ibu bukan tembok."
"Qenna cuma tidak mau Ibu terluka ...."
"Terlukanya Ibu itu urusan Ibu." Ibu Aisyah menarik tangan Qenna dari lututnya dan menggenggamnya. Dingin, tapi mantap. "Ibu tidak minta apa-apa dari mereka. Ibu tidak menyebut kehamilanmu. Itu milikmu, dan Ibu menjaganya. Ibu hanya mengatakan satu kalimat supaya perempuan itu tahu kamu punya orang."
"Apa kata dia?"
"Dia hanya memberi Ibu lima belas menit," kata Ibu Aisyah datar. "Dia menyebut kita 'anak buangan'. Ibu sudah mendengar yang lebih buruk dalam hidup."
Qenna menunduk. Kemarahan yang tadi melonjak mendadak kehilangan arah, tersisa hanya rasa bersalah yang pekat. Ia membayangkan perempuan yang membesarkannya duduk sendirian di ruangan marmer putih itu, ditatap sinis, dan memilih tidak membalas.
"Maafkan Qenna, Bu."
"Ibu yang minta maaf sudah melanggar permintaanmu." Ibu Aisyah mengusap pipi Qenna dengan ibu jari. "Tapi Ibu tidak menyesal. Satu kalimat itu perlu diucapkan."
Mereka terdiam. Bis kota lewat, menyisakan debu dan bau knalpot.
"Atasanmu tahu kamu hamil?" tanya Ibu Aisyah tiba-tiba, seperti membaca apa yang berkeliaran di kepala Qenna.
"Pak Armand. Dia tahu dari dokternya, Bu, waktu Qenna pingsan." Qenna menunduk. "Dia baik. Dia bilang pekerjaan Qenna aman."
"Orang baik itu anugerah." Ibu Aisyah memiringkan kepala. "Tapi kebaikan juga bisa menagih tanpa sadar, kadang dari yang memberi, kadang dari yang menerima. Suatu hari Ibu ingin bertemu dengan orang baik itu."
"Bu, dia atasan Qenna saja."
"Ibu belum bilang apa-apa." Ibu Aisyah tersenyum miring sebentar, lalu senyum itu hilang.
"Ada satu hal lagi," ujar Ibu Aisyah pelan. "Di tangga rumah itu ada perempuan muda. Dia mendengar Ibu menyebut namamu."
Qenna mengangkat kepala. "Perempuan muda?"
"Rambutnya digelung, cincinnya masih baru. Dia mengantar Ibu sampai pos satpam dan bertanya, 'Qenna itu siapa?'"
Telinga Qenna berdenging. Di benaknya muncul gambar yang sudah lama ia coba hapus: foto di media sosial, Rafa berdiri di sebelah perempuan berkebaya, dengan tangan di pinggangnya. Bukan karena ia ingin melihat, tapi karena sosok itu tak pernah benar-benar hilang. "Alin," bisiknya. "Namanya Alin."
"Kamu kenal?"
"Aku pernah lihat fotonya." Suara Qenna mengecil. "Apa kata Ibu padanya?"
"Ibu bilang, tanyakan pada suamimu." Ibu Aisyah menatapnya lurus. "Ibu tidak berbohong, tidak juga menjelaskan. Perempuan itu berhak mendengarnya dari lelaki yang menikahinya."
Qenna menutup mata. Alin akan bertanya malam ini, besok, atau tidak sama sekali, dan Qenna tidak punya cara untuk tahu yang mana. Rafa akan tahu bahwa Qenna masih ada, bahwa ibu panti bisa datang sendiri ke rumah ibunya. Tetapi hanya itu. Ia tidak akan tahu tentang kehamilan itu, tidak dari Ibu Aisyah, tidak dari siapa pun. Ia membiarkan napas panjang keluar perlahan.
"Qenna," Ibu Aisyah memegang dagunya, mengangkatnya supaya mata mereka bertemu. "Dengarkan Ibu. Ibu akan menjaga rahasiamu. Tidak Ibu ceritakan ke keluarga Rafa, tidak ke tetangga, tidak ke siapa pun. Itu janji Ibu."
"Terima kasih, Bu."
"Tapi ada syaratnya." Nada Ibu Aisyah menegas. "Rafa itu ayah anak ini. Ibu tidak peduli seburuk apa dia, hak itu tidak bisa dicabut oleh perasaan siapa pun. Suatu hari dia harus tahu, dan dia harus mendengarnya dari mulutmu sendiri. Bukan dari Ibu, bukan dari Sindy, bukan dari gosip."
Qenna menggigit bibir. Sebagian dirinya ingin membantah, sebagian lain tahu Ibu Aisyah benar.
"Pada waktunya," lanjut Ibu Aisyah. "Bukan besok. Tapi bukan juga tak terhingga."
"Setelah dia lahir, Bu." Jawaban itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan. Jemarinya naik ke perut, dan baru sesudah itu ia sadar. "Qenna mau melahirkan dulu tanpa mamanya Rafa di depan pintu. Sesudah itu, Qenna sendiri yang akan bilang."
Ibu Aisyah menimbang. Lama sekali, dan di sela itu suara klakson bersahutan di jalan besar.
"Baik," ucapnya akhirnya. "Setelah dia lahir. Ibu pegang janjimu."
Ia mengangkat tas dari pangkuannya dan berdiri. "Sekarang kembali ke kantormu. Ibu pulang naik angkot."
"Bu ...." Qenna menahan lengannya. "Janji, Ibu jangan ke sana lagi tanpa Qenna tahu. Kalau Ibu kenapa-kenapa gara-gara Qenna, Qenna tidak akan sanggup memaafkan diri sendiri."
Ibu Aisyah memandangnya sebentar, lalu menepuk pipi Qenna dua kali, pelan, seperti waktu Qenna kecil dulu. "Janji Ibu hari ini sudah cukup banyak, Nak. Yang itu Ibu pikirkan di angkot." Ia melangkah ke arah angkot yang berhenti di depan halte.
Qenna berdiri sendirian di sana dengan tangan di perut, memandangi angkot itu menjauh. Satu janji sudah ia buat dan belum ia tahu apakah ia sanggup menepatinya: setelah dia lahir.