Ponsel di meja Armand berdering ketika ia sedang menandatangani berkas, dan nama yang tertera di layar membuatnya menegakkan punggung. Mama Sulastri. Perempuan itu tidak pernah menelepon pada jam kerja, apalagi sepagi ini.
"Mama?"
"Armand." Hanya satu kata, disusul isak yang ditahan. "Papa ... Papa Ahsan jatuh di kamar mandi tadi pagi. Napasnya sesak, dadanya sakit. Mama bawa ke rumah sakit, dokter bilang serangan jantung. Ringan, katanya. Tapi Mama takut, Nak. Mama takut sekali."
Armand sudah berdiri. Pena yang tadi ia pegang menggelinding dari meja dan jatuh ke karpet tanpa ia sadari. "Rumah sakit mana, Ma?"
Mama Sulastri menyebut nama rumah sakit dan nomor lantai, suaranya putus-putus. Armand mencatatnya di punggung telapak tangan karena tak sempat mencari kertas. "Saya ke sana sekarang. Mama tenang, jangan ke mana-mana."
"Kamu ... kamu tidak perlu, kamu sudah bukan ...."
"Ma." Armand memotong dengan lembut. "Papa tetap papa saya. Armand datang."
Ia menutup telepon dan menyambar jas. Hans muncul di ambang pintu dengan dua map di tangan, wajahnya sudah siap dengan lelucon pagi. Lelucon itu menguap saat ia melihat wajah sahabatnya.
"Siapa yang meninggal?"
"Belum ada." Armand melewatinya. "Papa Ahsan, serangan jantung. Batalkan rapat sebelum makan siang, tunda apa pun yang bisa ditunda. Aku akan kabari."
"Aku antar."
"Tidak perlu. Jaga kantor."
Hans tidak membantah. Ia hanya mengangguk sekali dan membukakan pintu lift sebelum Armand sempat menekan tombolnya.
Di dalam mobil, Armand menyetir lebih cepat dari kebiasaannya, kedua tangan mencengkeram kemudi. Lampu merah demi lampu merah menyisakan ruang bagi kepalanya untuk memutar kembali malam itu: koper Siska di bagasi, jalan menuju rumah orang tuanya yang sepi, tangan Papa Ahsan yang menampar pipi anaknya di ruang tamu. Dan dadanya yang sempat dipegang laki-laki itu. Ia ingat bagaimana ia berdiri di sana, merasa benar, dan tidak sempat bertanya apa yang akan terjadi sesudah pintu ditutup.
Klakson di belakangnya berbunyi. Lampu sudah hijau sejak tadi.
***
Rumah sakit itu berbau antiseptik dan lantai yang baru dipel. Armand berjalan cepat di koridor lantai tiga, melewati kursi tunggu yang separuh terisi, menyusuri deretan pintu bernomor sampai matanya menemukan sosok yang ia kenal duduk di bangku panjang depan sebuah ruang perawatan.
Mama Sulastri mengenakan gamis yang dipakai terburu-buru, kerudung miring, tas tangan terpeluk di dada. Begitu melihat Armand ia berdiri, dan tanpa berkata apa-apa langsung memeluknya.
"Terima kasih sudah datang."
"Bagaimana Papa, Ma?"
"Sedang tidur, setelah disuntik. Dokter bilang sumbatan kecil, sudah dibuka. Kalau tidak ada komplikasi, lusa sudah boleh pulang." Mama Sulastri melepas pelukan, menyeka sudut matanya. "Katanya pemicunya tekanan pikiran. Sudah lama Papa tidak tidur nyenyak, Armand. Sejak malam Siska kamu antar pulang."
Kalimat itu tidak dimaksudkan menyalahkan, Armand tahu itu. Meski begitu ia merasakannya mengiris di tempat yang tidak ia duga. Ia menelan ludah.
"Mama sudah sarapan?"
"Belum sempat." Mama Sulastri tersenyum lemah. "Siska juga belum. Dia bilang tidak lapar, tapi sejak pagi dia berdiri di jendela itu, tidak mau duduk. Mama sampai bosan membujuknya."
"Nanti Armand belikan sesuatu. Mama jangan lupa makan, Papa butuh Mama sehat."
"Kamu masih saja begitu." Mata Mama Sulastri melembut. "Perhatian tanpa pernah mau mengakui."
Armand mengalihkan wajah.
"Siska di mana?"
Mama Sulastri menoleh ke ujung lorong. Di sana, dekat jendela besar yang menghadap taman rumah sakit, seorang perempuan muda berdiri dengan punggung membelakangi mereka. Tubuhnya lebih kurus daripada yang Armand ingat. Rambut yang dulu selalu rapi dibiarkan terurai tanpa disisir.
Siska menoleh seakan merasakan tatapan itu. Matanya sembab dan merah, namun tidak ada drama di wajahnya, hanya kelelahan yang jujur. Ia mengangguk singkat pada Armand. Armand membalasnya dengan anggukan yang sama.
Di antara mereka tidak ada sapaan.
***
Papa Ahsan bangun menjelang tengah hari. Seorang perawat membuka pintu dan memberi tahu bahwa pasien sudah sadar dan menanyakan Armand. Mama Sulastri menggenggam tangan Armand sekilas sebelum melepasnya.
Ruangan itu kecil, dengan satu ranjang, satu monitor yang berbunyi pelan, dan jendela yang tirainya setengah terbuka. Papa Ahsan terbaring dengan selang oksigen di hidung. Wajahnya yang dulu selalu tegas kini pucat dan kelihatan lebih tua sepuluh tahun. Ia membuka mata saat Armand mendekat.
"Kamu datang."
"Armand datang, Pa."
Lelaki tua itu tersenyum tipis. Tangan yang memegang selimut gemetar. "Papa tidak yakin kamu mau. Setelah semua ...."
"Sudah, Pa. Jangan banyak bicara dulu. Dokter bilang Papa harus tenang."
"Dokter tidak tahu apa yang bikin Papa tidak tenang." Papa Ahsan mengatur napas. "Biar Papa bicara." Suaranya serak, tapi ia menegakkan kepala sedikit di atas bantal. "Kamu tahu Papa tidak pernah pandai meminta maaf. Papa hanya tahu cara memerintah. Dan sekarang, mungkin ini cara Tuhan menyuruh Papa diam sebentar." Napasnya tertahan, lalu ia melanjutkan lebih lambat. "Papa tetap berharap kamu mau memaafkan Siska. Dia anak Papa yang keras kepala, tapi dia bukan orang jahat. Dia hanya ...."
"Armand memaafkan, Pa."
Papa Ahsan berhenti. Matanya yang berair menatap Armand, dan harapan yang bersinar di sana begitu telanjang sampai Armand harus memalingkan wajah sejenak ke jendela sebelum meneruskan.
"Armand sudah memaafkan Siska sejak lama. Tidak ada dendam, Pa. Tapi Armand tidak kembali." Ia memilih tiap kata supaya tidak menusuk. "Tiga tahun itu sudah cukup bagi kami berdua untuk tahu bahwa kami tidak bahagia. Armand tidak mau Siska hidup sisa umurnya dengan orang yang tidak mencintainya, dan Armand sendiri juga tidak mau."
Papa Ahsan menutup mata. Satu tetes air mata meluncur ke pelipisnya dan hilang di bantal. "Papa mengerti," bisiknya setelah beberapa detik. "Papa sudah lama mengerti. Hanya belum sanggup mengakui."
Armand meraih tangan yang bersandar di selimut, menggenggamnya sebentar, lalu meletakkannya kembali dengan hati-hati. "Istirahat, Pa. Besok Armand kembali."
Ketika ia menarik pintu hingga tertutup, Siska sudah berdiri di depannya.
Tidak ada langkah yang terdengar, tidak ada bunyi pintu lain. Perempuan itu seperti menunggu di balik tembok sejak tadi. Ia memegang gelas kertas berisi air putih yang belum tersentuh.
"Aku dengar," ujar Siska pelan. "Pintunya tidak tertutup rapat."
Armand tidak menjawab. Ia hanya menatap perempuan yang tiga tahun menjadi istrinya di atas kertas, dan merasa heran karena tidak ada rasa apa pun yang tersisa selain iba yang tenang.
"Terima kasih sudah mau datang untuk Papa," lanjut Siska. Suaranya datar, nyaris tanpa nada. "Aku tidak berharap kamu mau."
"Dia ayahmu. Dan dulu dia juga ayah mertuaku."
"Iya." Siska menatap gelas di tangannya. Ia memutar-mutarnya sekali, dua kali. Lalu tiba-tiba, tanpa mengangkat mata, ia berkata, "Kamu sudah punya orang lain?"
Armand tidak bergerak.
Pertanyaan itu sederhana, nyaris tak berdaya. Tetapi sebuah wajah muncul begitu saja di benaknya, wajah pucat bermasker di dalam lift, kemudian tubuh yang lunglai di lengannya dan mata yang menatapnya dengan hormat dan jarak. Ia tidak menyebut nama itu bahkan kepada dirinya sendiri.
"Siska."
"Jawab saja, Mas." Siska mengangkat mata. Di sana ada sesuatu yang bukan cemburu, lebih seperti keinginan untuk memastikan bahwa dunia memang sudah berubah. "Aku tidak akan marah."
Armand mengatupkan bibir. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah melewati perempuan itu, menuju lift di ujung lorong, tanpa menoleh.