Armand sudah membaca paragraf yang sama dari kontrak vendor itu tiga kali dan tidak ingat isinya. Semalam ia hampir tidak tidur. Wajah Siska di lorong rumah sakit terus muncul tiap kali ia memejamkan mata, bersama pertanyaan yang tidak ia jawab.
"Hans." Ia menutup map di depannya. "Qenna sudah makan belum, ya?"
Hans yang sedang duduk membaca ponsel di sofa mengangkat kepala pelan-pelan, seperti pemburu yang mendengar langkah rusa. "Siapa?"
"Karyawan bagian kebersihan. Yang kamu pindahkan ke pantry hari Selasa."
"Oh, Qenna." Hans menaruh ponselnya dengan penuh upacara. "Direktur tiga kali memikirkan makan siang karyawan sebelum makan siangnya sendiri. Boleh aku catat sebagai kebijakan baru perusahaan?"
"Kerjakan saja tugasmu."
"Sudah. Dari tadi pagi aku sudah titipkan dia ke Citra, lengkap dengan roti isi dan susu. Tanpa label dari kamu." Hans menyeringai. "Tenang saja, rahasiamu aman. Rahasia siapa pun aman bersamaku, asal tidak diminta bertanggung jawab."
Armand mendengus, tetapi sudut bibirnya melembut. Lalu senyum itu menipis.
"Kemarin di rumah sakit Siska bertanya sesuatu."
Hans langsung menegakkan duduk. "Apa?"
"Apa aku sudah punya orang lain."
"Lalu kamu jawab apa?"
"Tidak kujawab. Aku pergi begitu saja."
Hans mengangkat satu alis, lalu menurunkannya perlahan. Kali ini ia tidak tertawa. "Armand, kalau seseorang tidak menjawab pertanyaan semacam itu, yang bertanya biasanya sudah mendapat jawabannya."
"Aku tidak punya jawaban."
"Itu juga jawaban." Hans berdiri, merapikan kemejanya. "Kalau kamu butuh bantuan menyusun satu, aku ada di pantry bawah."
***
Di pantry lantai bawah, Sindy sedang mengisi termos ketika bayangan seorang lelaki menutupi cahaya lampu. Hans bersandar di kusen pintu dengan dua tangan masuk saku, dan senyum yang terlalu manis untuk jam sepuluh pagi.
"Sindy, makan siang dengan saya. Hari ini."
"Untuk apa, Pak Hans?"
"Membicarakan Qenna." Hans mengangkat tangan sebelum Sindy membantah. "Hanya soal itu. Kamu yang paling tahu apa yang dia perlukan, dan saya ingin membantu dari belakang tanpa membuatnya merasa dikasihani."
Sindy menutup termosnya pelan. Dari balik bahunya terdengar tawa Citra di toilet, entah menertawakan apa, dan sesaat Hans tampak kikuk karena didengar. Ia menatap Hans lebih lama dari yang sopan, mencari tanda bahwa lelaki ini hanya mencari alasan. Tidak ketemu.
"Aku mau," jawabnya akhirnya, "tapi dengan satu syarat. Tidak ada cerita ke siapa pun. Tidak ke Pak Armand lebih dari yang sudah beliau ketahui, tidak ke gosip lift. Aku mendengar dari Qenna sendiri bahwa urusannya rumit."
"Janji." Hans mengangkat dua jari, dan untuk sekali ini tidak ada nada main-main di dalamnya.
***
Tepat pukul sebelas, pintu lift terbuka di lantai direktur, dan seorang perempuan melangkah keluar dengan tas tangan kulit di pundak dan amplop krem di genggaman. Kacamata hitam dijepit di kerah blusnya. Rambutnya sudah disisir dan wajahnya diberi bedak, tetapi bayang kelelahan di bawah mata tidak sepenuhnya tertutup.
Siska berhenti di depan meja resepsionis kosong, melirik kursi sekretaris yang tak berpenghuni, dan melanjutkan berjalan lurus ke koridor menuju ruangan direktur. Ia sudah hafal tiap ubin di sana. Tiga tahun ia mengunjungi lantai ini sebagai istri pemiliknya, dan hanya satu kali dengan tujuan yang tulus.
Pagi ini ia tidak seharusnya ada di sini. Papanya masih terbaring dengan selang di hidung, Mamanya baru berhasil membujuknya menelan setengah roti, dan ia justru menyetir menembus kemacetan demi mengantar sebuah amplop yang bisa dikirim lewat kurir. Siska tahu alasan sebenarnya. Ia ingin melihat apakah lantai ini masih terasa seperti dulu. Atau apakah ada sesuatu yang berubah sejak pertanyaannya tak dijawab.
Di tikungan dekat pantry, langkahnya melambat.
Seorang perempuan muda berseragam kebiruan sedang berlutut di lantai, tangan kanannya memeras kain pel ke dalam ember plastik setengah penuh. Rambut hitamnya diikat rendah. Wajahnya mungil, kulitnya lebih pucat dari sekadar kurang tidur. Ia bekerja pelan sekali, setiap gerakannya hati-hati, dan di sela itu ia sempat berhenti untuk menarik napas dalam seolah menahan sesuatu.
Siska memperhatikannya dari balik dinding. Entah mengapa ia tidak langsung maju.
"Qenna!"
Suara Hans menggema dari ujung koridor, setengah berlari dengan dua berkas di pelukan. "Jangan angkat ember itu! Tunggu, biar saya yang bawa!"
Perempuan berseragam itu mengangkat wajah, dan Siska melihatnya dengan jelas. Mata bening, hidung tinggi, alis hitam rapi. Cantik tanpa berusaha, jenis yang sulit dibenci.
"Hanya air biasa, Pak," jawab Qenna sambil tersenyum sopan. "Setengah ember saja. Saya bisa."
"Qenna." Suara kedua datang dari arah berbeda, lebih rendah dan lebih tenang. Pintu ruangan direktur terbuka, dan Armand berdiri di ambangnya dengan satu tangan masih di gagang. Ia tidak menaikkan suara. "Hans benar. Biar dia yang angkat."
"Terima kasih, Pak, tapi sungguh, ini tidak berat."
"Saya tidak bertanya apa itu berat."
"Saya paham, Pak." Qenna tidak menunduk, tidak pula membantah. Dengan tenang ia mengangkat ember itu sendiri, berdiri, lalu berjalan ke arah pantry dengan langkah mantap yang tidak menyisakan ruang untuk dibantah. "Terima kasih atas perhatiannya."
Hans menatap Armand, mengangkat bahu dengan wajah pasrah. Armand menghela napas pendek dan menggeleng, bukan marah, lebih seperti orang yang sedang kalah dalam permainan yang diam-diam ia nikmati.
Siska melihat itu semua. Setiap detik.
Ia tersenyum sangat tipis, lalu melangkah keluar dari bayang dinding. "Pagi, Mas."
Armand menoleh. Ekspresinya berubah hanya sepersekian detik, dari cair menjadi tertutup. "Siska."
"Aku mengantar ini." Ia mengangkat amplop krem itu. "Dari Papa. Dia minta aku mengantarnya langsung ke tanganmu. Isinya terima kasih untuk kemarin."
"Seharusnya tidak perlu."
"Papa tidak pernah mau berutang." Siska menyerahkannya. Pandangannya jatuh sekilas pada Hans yang kikuk memegang berkasnya, lalu pada punggung Qenna yang menghilang ke pantry. "Perempuan itu siapa?"
"Karyawan kebersihan."
"Hans memanggilnya dengan nama depan. Kamu menegurnya dengan suara yang tidak pernah kamu pakai ke karyawan mana pun." Siska memiringkan kepala. "Dulu kamu bahkan tidak pernah menegurku sehalus itu."
Rahang Armand mengeras sedikit. "Itu bukan urusanmu."
"Aku tidak bilang itu urusanku." Siska mendekap tas tangannya di dada. Nadanya tidak memojokkan. Justru terdengar sedih sekaligus tahu. "Aku cuma bilang, cleaning servis itu, kamu peduli padanya."
Hening. Hans berusaha menjadi bagian dari dinding.
"Pulanglah, Siska," ucap Armand akhirnya, pelan. "Papamu butuh kamu di rumah sakit."
"Iya." Ia tersenyum miring, singkat dan nyaris tak berbau. "Aku pulang."
Siska memutar badan dan berjalan ke lift tanpa tergesa. Tombol turun ia tekan dengan satu jari. Ketika pintu terbuka dan ia melangkah masuk, cermin besar di dinding lift menampilkan wajahnya: pucat, dandanannya retak di dekat mata. Ia memandang bayangan itu agak lama. Tiga tahun ia tidur di kamar terpisah dari laki-laki itu dan tidak pernah sekali pun merasa kehilangan. Aneh sekali, baru sekarang ia merasa seperti ditinggalkan di tempat yang bukan miliknya.
Tangannya merogoh tas, mengeluarkan ponsel, dan membuka aplikasi catatan. Ia mengetik satu kata, hanya satu, dengan kecepatan yang tidak berubah.
Qenna.
Layar meredup. Pintu lift menutup di belakangnya.