Selasa siang, Sindy menemukan Qenna di gang samping toko roti, masih bersandar pada tembok yang panas, kedua tangan saling menggenggam.
"Dia bilang apa?" Sindy menarik kardus bekas dan memaksanya duduk. "Hei, lihat aku. Dia sentuh kamu?"
"Tidak. Dia cuma melihat tanganku di perut." Qenna tertawa kering. "Dia menebak sendiri, Sin, dan aku tidak sanggup bilang tidak."
"Ya sudah. Dia sudah menebak, dan kamu masih berdiri." Sindy merangkul bahunya. "Sekarang dengar. Kalau Siska mencari lagi, sebut saja nama Pak Hans. Kalau Pak Armand bertanya, kamu jangan bohong."
Qenna menunduk, setuju. Sorenya Sindy mengirim ke Hans foto plat mobil kecil berwarna perak milik lelaki berjaket abu yang memotret mereka hari Sabtu pindahan itu, tanpa komentar. Hans membalas satu kata, "Disimpan," lalu dua hari berlalu tanpa kabar apa pun.
Pantry lantai direktur kosong ketika Qenna menyusun cangkir pagi itu, Kamis, pukul delapan lewat sedikit. Hanya ada dengung kulkas dan sinar matahari yang jatuh miring ke meja marmer. Ia sedang menggosok noda teh yang membandel dengan serbet basah ketika ketukan dua kali terdengar di kusen pintu.
"Qenna. Boleh saya masuk?"
Armand berdiri di ambang pintu tanpa jas, lengan kemejanya sudah digulung. Ia tidak membawa map atau ponsel. Kedua tangannya kosong dan menggantung di sisi tubuh, seperti orang yang sengaja datang tanpa apa pun untuk disembunyikan.
"Silakan, Pak."
"Saya mau bertanya sesuatu di luar urusan kantor." Ia berhenti satu langkah di dalam. Jarak yang sama, selalu jarak yang sama. "Kamu boleh bilang tidak."
Qenna meletakkan serbet. Setelah beberapa pekan, ia sudah hafal cara lelaki ini meminta: pelan, dengan jalan keluar yang selalu dibukakan lebih dulu. "Silakan, Pak. Saya dengar dulu." Ia mengelap tangan pada celemek, pelan-pelan, supaya Armand tahu ia sungguh-sungguh mau mendengar.
"Dua hari lalu ada tamu mencari kamu di lobi. Resepsionis bilang namanya Siska." Rahangnya bergerak sedikit saat menyebut nama itu. "Saya tidak akan bertanya apa yang kalian bicarakan, kecuali kamu mau bercerita."
Dadanya mengetat. Ia sempat ingin berkata "hanya menitip salam". Ia menelan kalimat itu; kebohongan sekecil itu pun sudah tak sanggup ia ucapkan.
"Dia bertanya hal yang tidak ingin saya jawab, Pak. Saya tidak menjawab, tetapi dia menebak sendiri dari wajah saya, dan saya rasa tebakannya benar."
Armand diam sebentar. Di luar, bunyi telepon kantor berdering dan berhenti, tak ada yang menjawab. Sesuatu melintas di wajahnya, rasa bersalah yang jujur dan cepat, seperti seseorang yang baru menyadari ia telah membawa badai tanpa sengaja ke pintu orang lain. "Maafkan saya."
"Bukan salah Bapak."
"Mungkin bukan salah saya. Tapi itu datang dari urusan saya." Ia menarik napas. "Cukup. Saya tidak mau memaksa kamu mengulang apa pun. Kalau dia mencarimu lagi, kamu cukup bilang ke Hans."
Qenna mengangguk pelan. Ada yang ingin ia tanyakan, bagaimana lelaki ini menanggung nama Siska dalam kalimatnya tanpa tampak terluka, tetapi itu bukan haknya. Ia mengira percakapan sudah selesai. Tetapi Armand tidak berbalik. Ia menatap lantai marmer, lalu ke jendela, lalu ke Qenna.
"Ada satu hal lagi. Ini bukan dari urusan Siska. Ini dari saya."
"Ya, Pak?"
"Pigura di tempat sampah ruangan saya."
Serbet di tangan Qenna nyaris terlepas.
"Waktu itu saya membuangnya menghadap ke bawah," ucap Armand tenang, hampir ringan, seperti orang yang tak lagi berusaha menyembunyikan apa pun. "Dua potongan, kertas foto di bawah, bingkainya di atas. Besok paginya foto itu menghadap ke atas. Cuma kamu yang membersihkan ruangan itu. Saya sempat bertanya-tanya, apa yang kamu pikirkan waktu melihatnya."
"Saya ...." Qenna mencari kata. "Saya tidak berani bertanya, Pak. Saya taruh lagi di tempatnya."
"Saya tahu. Itu yang membuat saya tidak merasa terganggu." Ia mengusap tengkuk. "Kamu pasti mengira saya sedang mengamuk karena sakit hati."
"Saya tidak mengira apa-apa."
"Bohong sedikit." Sudut bibir Armand terangkat, bukan senyum, hanya isyarat. "Tidak apa-apa. Saya juga akan mengira begitu."
Hening. Qenna bersandar pada meja marmer dan menunggu.
"Pigura itu masih di meja saya seminggu sesudah Siska pergi," lanjut Armand. "Saya tidak sanggup menyingkirkannya. Bukan karena saya masih mencintai dia. Karena kalau saya menyingkirkannya, berarti tiga tahun itu benar-benar selesai, dan saya harus mengakui tiga tahun itu hampir tidak ada isinya." Ia menatap kedua tangannya. "Beberapa pekan sesudah kamu mulai bekerja, surat cerai resmi mereka sampai ke tangan saya. Dikirim kurir, amplop cokelat biasa. Saya baca di ruangan itu. Lalu saya robek pigura itu malam itu juga, pakai tangan, dan saya buang."
Qenna membayangkan: lelaki ini sendirian di ruangan besar yang sudah gelap, memegang selembar foto pengantin yang tidak pernah berarti, merobeknya sampai terdengar bunyi kertas koyak di tengah keheningan. Dadanya mendadak terasa penuh.
"Saya tidak tahu harus bilang apa, Pak."
"Tidak perlu bilang apa-apa. Saya cuma tidak mau kamu menyimpan tanda tanya yang salah." Armand mengangguk kecil. "Itu saja."
Kepala Qenna bergerak sebelum ia sempat menimbangnya. "Saya juga pernah merobek foto."
Armand mengangkat wajah.
"Foto pernikahan saya." Qenna menggigit bibir. Kata-kata itu terdengar absurd, tetapi ia tidak bisa menariknya kembali, dan lagi pula ia tidak ingin. "Bukan saya robek saja. Saya bakar. Saya bawa ke belakang kontrakan, saya taruh di ember bekas cat, saya bakar sampai jadi abu. Gara-gara kena angin, bajunya ikut berasap, dan tetangga sebelah mengira ada kebakaran." Ia berhenti. "Besoknya saya masih mencium bau gosongnya di rambut."
Sesaat tidak ada yang bergerak. Lalu Armand mengeluarkan dengusan yang mirip tawa, dan Qenna menyadari, dengan keterkejutan yang aneh, bahwa ia sendiri sudah tertawa. Bukan tawa lebar. Tawa getir, pendek, yang membuat bahunya berguncang dan matanya terasa panas.
Untuk pertama kalinya, mereka tertawa pada hal yang sama, dan keduanya tahu apa yang dirayakan sama sekali tidak lucu.
"Jadi kita sama-sama pakai sistem 'tidak ada barang bukti'," kata Armand.
"Kecuali Bapak ketahuan petugas kebersihan."
"Dan kamu ketahuan tetangga." Tawanya mereda jadi senyum, tetapi matanya masih hangat. "Terima kasih, Qenna."
"Untuk apa, Pak?"
"Karena tidak bertanya."
Pantry kembali sunyi, tetapi bukan sunyi yang canggung. Qenna menunduk dan memeras serbet yang sudah kering, hanya demi memberi tangannya pekerjaan. Dari jendela, cahaya pagi menyentuh sisi wajah Armand dan membuat garis rahangnya terlihat lebih lembut dari biasanya. Ia buru-buru memalingkan mata.
Di ambang pintu, bayangan seseorang bergeser. Hans berdiri di sana dengan nampan kopi di satu tangan dan wajah yang tiba-tiba kehilangan seluruh lelucon. Matanya bertemu mata Qenna sedetik. Ia mengangguk sangat kecil, mundur satu langkah, lalu satu langkah lagi, dan pergi tanpa suara sepatu.
***
Citra menemukan Qenna di ruang rapat sore harinya, sedang mengelap meja panjang dengan gerakan lambat. Ia masuk, menutup pintu, dan bersandar dengan wajah seperti seseorang yang membawa kabar yang tidak enak disampaikan.
"Qen. Aku sebenarnya tidak mau cerita dulu, tapi kamu harus tahu."
Qenna menaruh lap. "Ada apa?"
"Perempuan yang Selasa lalu ngajak kamu ke kafe." Citra menurunkan suara sampai nyaris bisik. "Tadi pagi dia datang lagi ke lobi. Dia tidak naik. Cuma ngobrol sama resepsionis, pura-pura mau tanya dokumen. Resepsionis cerita ke aku pas lewat." Ia menelan ludah. "Dia tanya jam kerja kamu. Dari jam berapa sampai jam berapa, naik apa pulangnya."
Udara di ruangan itu terasa lebih dingin dari biasa.
"Terus apa kata resepsionis?"
"Dia bilang tidak tahu. Tapi dia bilang perempuan itu menulis sesuatu di ponselnya." Citra meremas jari-jarinya. "Qen, siapa dia sebenarnya? Kenapa dia ngikutin kamu?"
Qenna berpikir lama. Ibu Aisyah akan menyuruhnya jujur, tetapi kejujuran punya takaran, dan sebagian dari urusan ini bukan miliknya untuk dibagi.
"Namanya Bu Siska," jawabnya akhirnya. "Dia pernah punya hubungan dengan seseorang di kantor ini. Dan dia curiga, tentang aku."
Citra mengerjap. "Curiga bahwa kamu ...."
"Iya."
Tidak ada jeda lama. Citra mengambil lap dari tangan Qenna, meletakkannya di meja, lalu memegang kedua bahu temannya dengan dua tangan yang masih berbau sabun.
"Kalau begitu mulai besok kamu pulang bareng aku sampai halte. Titik. Kalau dia mau tahu jam pulangmu, biar dia tahu kamu tidak pernah sendirian."