Kamar Siska di rumah orang tuanya masih persis seperti sebelum ia menikah. Seprai putih, boneka beruang di sudut, rak buku yang separuhnya diisi novel dan separuhnya piagam yang sudah berdebu. Dulu ia mengira ia sudah lari jauh dari kamar ini. Minggu sore itu ia duduk bersila di atas ranjang yang sama, ponsel di tangan, dan menyadari ia tidak pernah ke mana-mana.
Layar menampilkan nama Robi. Panggilan keempat hari ini, dan baru yang ini ia angkat.
"Sayang." Suara Robi terdengar dari tempat yang bising, musik dan tawa laki-laki. "Akhirnya. Aku kira kamu sudah ganti nomor."
"Aku di rumah Mama, Rob. Papa sakit. Kamu tahu itu."
"Iya, iya, aku tahu. Aku juga kasihan. Tapi ...." Ia menurunkan nada, bagian dari repertoar yang selalu ia pakai ketika hendak meminta. "Kamu lihat kan, bulan ini tidak ada transferan. Aku sudah dua kali dapat peringatan dari pemilik kos. Kamu bilang Papamu cuma marah sebentar."
"Papa memotong uang bulananku." Siska menatap dinding. "Semua. Mama diam-diam masih kasih aku uang, tapi itu untuk makanku."
Robi terdiam di seberang sana. Siska bisa menebak apa yang ada di pikirannya: uang.
"Jadi ... sampai kapan?"
"Aku tidak tahu."
"Sis, aku bukan tidak sayang. Tapi aku juga harus hidup." Suara Robi masih lembut, dan kelembutan itu yang membuat darah Siska mendingin. "Kita bicara lagi nanti ya, kalau keadaan sudah baikan. Aku di tempat teman sekarang, susah ngomong."
"Rob ...."
Sambungan terputus.
Siska memandangi layar yang kembali gelap. Tidak ada tangis, tidak ada amarah yang membuncah. Hanya sesuatu yang dingin dan tenang turun dari dada ke perut, seperti air yang membeku pelan-pelan. Tiga tahun ia membuang diri pada laki-laki yang tidak pernah ia cintai demi sebuah perjodohan. Dan ketika ia akhirnya memilih laki-laki yang ia kira ia cintai, laki-laki itu menghitung nilai transferan bulanannya.
Dan Armand, yang tak pernah menuntut apa-apa darinya, kini tertawa di atas tikar di halaman panti.
Ia membuka galeri. Foto-foto hari Minggu lalu masih di sana, terarsip rapi: Armand dengan bocah di pangkuan, perempuan bergamis kebiruan yang menyodorkan piring, sedan hitam di seberang gerbang panti. Dari tadi ia tidak berniat melakukan apa-apa dengan foto-foto itu. Tetapi percakapan dengan Robi baru saja memutus sesuatu yang selama ini menahan jari-jarinya.
Di laci meja riasnya ada sebuah kartu SIM prabayar yang ia beli bertahun-tahun lalu untuk urusan sepele dan tidak pernah dibuang. Ia memasangnya ke ponsel lama, memastikan pulsanya masih ada, dan membuka kontak. Ia hanya menyimpan sedikit nomor dari keluarga mantan suaminya. Satu di antaranya, Mama Ningsih, bertahan di sana bukan karena sayang, tetapi karena lupa dihapus.
Jarinya melayang di atas layar. Ia ragu, sungguh ragu, selama tiga puluh detik.
Lalu ia mengetik, singkat, tanpa nama dan tanpa salam: Anak Anda dekat dengan cleaning servis yang sedang hamil. Ia melampirkan tiga foto yang paling jelas.
Kirim.
Ponsel ia lempar pelan ke selimut. Detik berikutnya, ia sendiri heran mengapa napasnya tak mau teratur.
Dari lantai bawah terdengar suara Mama Sulastri memanggil untuk makan malam, dan langkah perawat yang sedang membantu Papa Ahsan belajar berjalan lagi di lorong. Siska menatap pintu kamarnya. Ia bisa saja turun, mengatakan semuanya, dan membiarkan Mamanya memeluknya seperti dulu. Tetapi kalimat yang ia kirim barusan tidak bisa ditarik, dan ia tahu itu, dan itu yang membuat ia tetap duduk.
***
Mama Ningsih baru pulang dari arisan ketika ponselnya bergetar di dalam tas.
Ia sedang duduk di kursi belakang mobil, kebaya batiknya masih rapi dan konde kecil di kepalanya sudah mulai longgar. Arisan sore tadi berlangsung biasa: tawa, kue lapis, bisik-bisik tentang menantu orang lain. Ia tersenyum sepanjang sore dan mendengarkan sebanyak ia bicara, dan sekarang ia ingin sekali melepas sanggul.
Pesan dari nomor yang tidak ia kenal. Ia mengira penipuan. Ia nyaris menggeser dan menghapusnya, sampai matanya menangkap kata Armand di dalam salah satu gambar.
Ia membaca kalimat itu sekali. Dua kali. Dadanya naik turun dengan irama yang berbeda dari tadi. Ia mengangkat foto pertama ke dekat wajah.
Sebuah gerbang yang terbuka. Tikar panjang di halaman, anak-anak, seorang lelaki tinggi duduk bersila dengan anak kecil di pangkuannya, tertawa. Putranya. Ia mengenali punggung itu bahkan dari jarak sejauh itu, dari cara bahunya turun ketika sedang lega. Foto kedua: seorang perempuan muda bergamis kebiruan, rambut hitam diikat rendah, wajah mungil, menunduk menyodorkan piring. Foto ketiga: sedan hitam yang dikenalnya di bawah pohon, dua lelaki berkemeja putih menurunkan kardus, Armand berdiri di sebelahnya.
Mama Ningsih menutup layar. Telapak tangannya basah.
"Ibu tidak enak badan?" tanya sopir dari kursi depan, menatap lewat kaca spion.
"Tidak apa-apa, Pak. Jalan saja."
Ia membuka pesan itu sekali lagi, lebih pelan. Hamil. Kata itu menggantung di antara dua kata lain yang sama-sama terdengar tidak enak: dekat, cleaning servis. Mama Ningsih bukan orang yang mudah percaya pada pesan tanpa nama. Ia sudah belajar dari tiga tahun hidup berdampingan dengan keluarga Ahsan bahwa gosip bisa dikirim dari mana saja, oleh siapa saja, untuk alasan apa saja. Tetapi foto tidak punya alasan. Foto hanya memperlihatkan apa yang ada. Dan yang ada adalah putranya tertawa, hal yang sudah lama tidak ia lihat.
Sopir menurunkan kecepatan di tikungan. Dari balik kaca mobil, kota sore berlalu: pedagang yang menutup lapak, anak-anak berlarian di trotoar, seorang ibu menggandeng bocah di tepi jalan. Mama Ningsih memikirkan kemungkinan pertama yang selalu muncul di benak seorang ibu, yaitu bahwa putranya sedang jatuh ke dalam masalah yang tidak akan ia ceritakan. Kemungkinan kedua lebih sulit ia pikirkan: bahwa putranya sedang jatuh cinta.
Ia memutar kontak di ponselnya. Tidak ke Armand. Ia tahu putranya akan menjawab dengan tenang, dengan kalimat yang sudah dirapikan, dengan jarak. Ia menekan nama lain.
"Ibu?" Suara Hans di seberang terdengar kaget, dengan musik televisi di belakangnya yang buru-buru dikecilkan. "Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?"
"Hans, Mama mau tanya sesuatu dan Mama minta kamu jawab jujur." Mama Ningsih menyandarkan kepala. "Besok pagi Armand berada di kantor jam berapa?"
Hening sejenak. "Biasanya jam tujuh kurang, Bu. Kenapa, Bu?"
"Ada rapat sebelum jam sepuluh?"
"Tidak ada. Rapat pertama jam sebelas." Hans berhati-hati. Mama Ningsih bisa mendengarnya memilih kata. "Ada apa, Bu? Kalau Ibu mau bertemu Armand, biar saya ...."
"Jangan bilang Armand Mama mau datang."
Napas Hans terdengar di seberang, satu tarikan pendek.
"Bu, saya sahabatnya sejak kuliah."
"Justru karena itu." Nada Mama Ningsih lembut, tapi tidak membuka ruang. "Mama tidak minta kamu berbohong. Mama cuma minta kamu tidak memberi tahu. Kalau Armand bertanya langsung padamu, jawablah. Tapi jangan duluan."
Lama sekali Hans terdiam. Akhirnya ia berkata, hampir tanpa suara, "Baik, Bu. Tapi saya tidak akan berbohong kalau ditanya."
"Itu cukup." Mama Ningsih tersenyum tipis, meski Hans tak akan melihatnya. "Terima kasih, Nak."
Sambungan ditutup. Mobil melintasi lampu merah terakhir sebelum gerbang kompleks. Mama Ningsih menatap ke luar jendela, pada rumah-rumah yang lampunya mulai menyala satu per satu, dan mengambil keputusan yang sebenarnya sudah ia ambil sejak membaca pesan pertama.
Di rumah, ia mencetak tiga foto itu di ruang kerja Papa Galih, menggunakan printer yang jarang dipakai. Kertasnya sedikit buram. Ia memasukkannya ke dalam map cokelat, menutupnya, lalu membuka lemari dan memilih blus polos berwarna gading, bukan kebaya, bukan baju untuk perempuan yang hendak menunjukkan siapa dirinya. Ia menggantungnya di pintu lemari, dan menyetel alarm pukul lima pagi.