Alarm pukul lima tidak perlu berbunyi. Mama Ningsih sudah terjaga sejak pukul empat lewat, berbaring menatap langit-langit kamar sambil mendengarkan napas Papa Galih yang teratur di sebelahnya. Map cokelat itu masih di atas meja rias. Ia tidak membukanya lagi. Tiga foto itu sudah ia hafal, sampai ke bayangan pagar di sudut kiri gambar pertama.
Pukul tujuh kurang sepuluh, sopirnya menurunkannya di depan gedung kantor Armand di Jalan Pahlawan. Blus gading, rok panjang abu-abu, sepatu datar. Tidak ada kebaya, tidak ada konde.
Satpam di pos depan langsung berdiri. "Selamat pagi, Bu!" Ia melirik jam di dinding pos, lalu menegakkan topinya. "Ibu pagi sekali. Bapak belum kelihatan, tapi lampu ruangannya sudah dinyalakan petugas. Ibu boleh langsung ke atas."
"Saya tahu, Pak. Saya mau menunggu di atas saja." Mama Ningsih tersenyum, dan senyum itu cukup membuat satpam tidak bertanya apa-apa lagi.
Di lift ia sendirian dan sempat melihat wajahnya di dinding logam. Perempuan paruh baya yang matanya sembap sedikit, yang semalam tidur kurang dari tiga jam hanya gara-gara tiga lembar kertas. Ia merapikan rambut dengan telapak tangan. Percuma, tetapi tangannya butuh pekerjaan.
Di lantai direktur, lampu belum menyala semua. Resepsionis belum datang. Lorong sepi, hanya ada bunyi roda troli dari arah pantry dan percakapan rendah dua perempuan yang tidak jelas kata-katanya. Mama Ningsih berhenti sebentar, menoleh ke arah suara itu, dan menahan diri untuk tidak melangkah ke sana. Belum. Ia meneruskan langkah ke pintu ruang direktur. Pintu itu tidak dikunci. Ia masuk, menutupnya pelan, dan duduk di sofa tamu yang menghadap meja besar anaknya.
Di meja itu ada laptop, tumpukan map, cangkir kosong, dan sebuah pot kecil berisi kaktus. Tidak ada pigura. Mama Ningsih memandang tempat yang kosong itu cukup lama. Dulu di sana selalu ada foto pernikahan, dan ia selalu ingin menyuruh Armand menyingkirkannya. Sekarang ia justru merasa kehilangan sesuatu yang tidak pernah ia sukai.
Ia meletakkan map di pangkuan dan menunggu. Jam dinding di atas rak buku berdetak lebih keras daripada yang ia ingat. Lima belas menit lagi, mungkin dua puluh. Cukup waktu untuk memikirkan kalimat pembuka, dan ia memikirkan lima belas versi yang berbeda, dan membuang semuanya, karena ia tahu begitu melihat wajah anaknya ia akan mengucapkan kalimat yang keenam belas.
***
Armand masuk pukul tujuh lewat sepuluh, jasnya tersampir di lengan, ponsel di telinga. Ia sedang berkata "Iya, nanti saya cek lagi angkanya" ketika matanya menangkap sosok di sofa. Kalimatnya putus. Ponselnya turun pelan ke sisi tubuh.
"Ma?"
"Selamat pagi, Nak."
"Mama kenapa ...." Armand menutup pintu di belakangnya. Ia melirik jam, lalu kembali menatap ibunya. "Papa baik-baik saja? Dokter Bram sudah ditelepon?"
"Papa tidur nyenyak. Mama datang bukan karena Papa." Ia menunjuk kursi di seberangnya dengan dagu. "Duduk. Kamu belum minum kopi, wajahmu masih setengah jalan."
Armand menaruh jas di sandaran kursi kerjanya dan tetap berdiri. Baru ketika Mama Ningsih membuka map dan menaruh tiga lembar kertas buram di meja kopi, berjajar, tanpa komentar, ia melangkah mendekat. Ia memandangnya sebentar, lalu duduk di kursi seberang dengan gerakan sangat hati-hati, seolah kursi itu bisa pecah.
"Dari mana Mama dapat ini?"
"Kiriman nomor yang tidak Mama kenal. Hari Minggu sore." Mama Ningsih memperhatikan wajah anaknya, bukan fotonya. "Mama sudah coba menelepon baliknya semalam. Tidak aktif."
Armand tidak bertanya lagi. Matanya bergeser sebentar ke jendela, seperti orang yang menimbang satu nama dan memutuskan belum waktunya menyebut. Mama Ningsih melihat itu dan menyimpannya.
"Isi pesannya satu kalimat. Mau Mama bacakan?"
"Tidak perlu."
"Anak Anda dekat dengan cleaning servis yang sedang hamil." Ia tetap mengucapkannya, datar dan jelas. "Itu isinya. Sekarang Mama tanya sekali, dan Mama minta kamu jawab sebagai anak Mama, bukan sebagai direktur. Apakah perempuan itu mengandung anakmu?"
Armand tidak langsung menjawab, dan Mama Ningsih melihat rahangnya mengeras. Bukan karena marah. Karena berusaha tidak marah.
"Bukan, Ma."
"Kamu yakin Mama boleh percaya?"
"Ma, Armand dengan dia tidak pernah ...." Armand menghentikan diri, menggeleng, lalu mencondongkan badan dengan siku di lutut. "Tidak pernah ada apa pun seperti yang Mama bayangkan. Armand bersumpah. Dia bekerja di sini. Dia sedang dalam kesulitan, dan Armand peduli pada karyawan yang sedang dalam kesulitan. Itu saja."
"Itu saja?"
"Itu saja yang bisa Armand ceritakan."
"Kamu menyukainya?"
"Itu bukan pertanyaan yang adil, Ma. Dia belum pernah diberi kesempatan menjawab apa pun kepada Armand." Armand mengusap wajah dengan satu tangan. "Dia datang melamar kerja, bukan melamar perhatian Armand."
Mama Ningsih menyipitkan mata. "Berarti ada yang tidak bisa kamu ceritakan."
"Ada yang bukan hak Armand untuk bercerita." Armand mengambil foto kedua, perempuan bergamis dengan wajah menunduk, dan menatapnya beberapa detik terlalu lama. Ia menaruhnya kembali dengan sisi gambar menghadap ke bawah. "Dia tidak minta apa-apa dari Armand, Ma. Itu yang membuat Armand ingin membantu."
Mama Ningsih diam. Anaknya, yang dulu bersikap seperti batu di depan istrinya sendiri selama tiga tahun, kini menyembunyikan foto seorang perempuan dari pandangan ibunya. Ia mengenali gerakan itu. Papa Galih dulu melakukan hal yang sama pada selembar foto di dompetnya, tiga puluh tahun lalu.
"Mama mau bertemu perempuan itu."
"Tidak."
Satu kata, tanpa naik nada. Armand sendiri sempat terlihat terkejut mendengarnya.
"Armand ...."
"Dia bukan untuk dipamerkan, Ma. Bukan juga untuk diperiksa." Suaranya merendah. "Kalau Mama mau tahu sesuatu tentang dia, tanyakan pada Armand. Dia sedang mengandung, sedang sendirian, dan sedang berusaha tidak merepotkan siapa pun. Kalau Mama datang berdiri di depannya sekarang, dia akan merasa diadili."
"Mama tidak akan mengadili siapa pun."
"Mama tidak sengaja pun akan membuatnya merasa begitu."
"Mama berdiri di depan banyak sekali perempuan di arisan tiap bulan dan tidak satu pun pernah merasa diadili."
"Mereka tidak sedang hamil dan sendirian, Ma."
Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang Armand maksud. Ia terdiam sesudahnya, menggigit bagian dalam pipinya. Mama Ningsih menatapnya lama, lalu perlahan mengangkat alis. Anak ini baru saja mengaku, tanpa sadar, lebih banyak daripada seluruh jawaban sebelumnya.
Hening. Dari lorong, terdengar bunyi pintu lift. Mama Ningsih menarik napas dan melipat tangan di atas map yang sudah kosong.
"Nak, ketika kamu menikahi Siska, Mama dan Papa yang memutuskan. Kamu tidak pernah bertanya apakah kamu setuju, dan kami tidak pernah menanyakannya. Itu salah kami. Mama tidak mau mengulangnya." Ia berdiri. "Tapi Mama juga tidak mau menunggu sampai ada orang lain yang menceritakan anak Mama sendiri kepada Mama."
"Ma, tunggu dulu. Duduklah, kita bicarakan ...."
"Kita sudah bicara." Mama Ningsih mengangkat tas dan mengambil kembali dua foto dari meja. Satu, yang menghadap ke bawah, ia biarkan di tempatnya. "Mama cuma mau menyapa."
Ia sudah di ambang pintu ketika Armand bangkit. Pintu terbuka dari luar pada saat yang sama, dan Hans nyaris menabrak mereka dengan nampan kopi di tangan kanan, tablet di tangan kiri, dan satu kalimat pagi yang sudah setengah keluar dari mulutnya.
"Selamat pagi, Pak, saya ...."
Matanya bertemu mata Mama Ningsih. Kalimat itu mati di tempat. Cangkir di nampan bergetar kecil, berdenting satu kali.
"Selamat pagi, Hans," kata Mama Ningsih ramah. "Kopinya wangi sekali." Ia melewatinya tanpa terburu-buru, menyusuri lorong ke arah yang bukan menuju lift.
Hans berdiri kaku. Ia menoleh ke Armand, yang masih di tengah ruangan dengan satu tangan terangkat setengah, lalu menoleh lagi ke punggung Mama Ningsih yang makin menjauh. Ia melihat belokan di ujung lorong. Hanya satu ruangan di belokan itu yang punya pintu terbuka sepagi ini.
"Pak," bisiknya. "Ibu ke arah pantry."
Armand sudah berlari sebelum kalimat itu selesai.