Qenna menaruh ponselnya di meja, layar menghadap ke atas. Angka waktu di sana mulai berjalan. "Mulai dari sekarang."
Rafa menarik telunjuknya pelan dari genggaman Aksa, seolah melepas sesuatu yang bukan miliknya. Bayi itu mengerutkan wajah, protes sebentar, lalu kembali tertidur di dada ibunya. Rafa menegakkan punggung. Tangannya yang kosong ia taruh di lutut, dan Qenna memperhatikan bahwa jari-jari itu masih gemetar.
"Boleh aku mulai dari mana pun?"
"Dari yang paling penting."
"Dari yang paling penting." Rafa tertawa sangat pendek, tanpa humor. "Aku bahkan tidak tahu mana yang paling penting. Baik. Pernikahanku dengan Alin sudah ditetapkan tanggalnya sebelum akad kita."
Qenna tidak bergerak.
"Mama menjanjikannya kepada Pak Hendro jauh sebelum akad kita," lanjut Rafa. "Perusahaanku berdiri dari uangnya. Bukan seluruhnya, tapi tulangnya. Mama bilang itu cuma soal waktu, Rafa belum siap, nanti Mama atur. Aku mengira Mama akan membatalkannya. Aku mengira pernikahan denganmu cukup untuk membuatnya mundur."
"Dan?"
"Dan pagi di Bali itu telepon Mama masuk. Pak Hendro tahu aku menikah dengan orang lain. Dia menarik dana operasional bulan itu. Mama menangis di telepon. Mama bilang kalau aku tidak pulang hari itu juga dan menepati janji, semua yang kubangun dari nol akan jatuh bersama gaji semua karyawanku." Suaranya merendah. "Aku tidak membela diri. Aku hanya menjawab pertanyaanmu."
"Aku belum bertanya."
"Kamu bertanya setiap hari, Qenna. Sembilan bulan. Aku mendengarnya dari jauh."
Qenna memalingkan wajah ke halaman. Dua anak kecil mengintip dari balik pohon mangga, lalu ditarik mundur oleh seseorang.
"Teruskan."
"Aku pulang dengan tiket yang hanya untukku. Itu bukan karena aku lupa. Aku tidak menyiapkan tiket maupun jemputan untukmu, karena aku tahu aku tidak akan sanggup menatapmu di bandara dan masih berbohong." Rafa menunduk. "Kalimat 'sekretarisku akan menjemputmu' itu kebohongan paling pengecut yang pernah aku ucapkan. Aku tahu tidak akan ada yang datang."
"Kamu tahu aku menunggu di pantai."
"Sekarang aku tahu." Matanya menutup sebentar. "Waktu itu aku tidak berani membayangkannya."
"Satu pesan. Satu saja, Rafa, supaya aku tahu kamu masih hidup. Kamu punya ponsel sebelum Mama menyitanya."
"Aku mengetik tiga kali dan menghapus tiga kali." Ia mengangkat bahu, kosong. "Aku bilang pada diriku, kalau kamu membenciku, kamu akan lebih cepat pulih. Itu alasan terburuk yang pernah kupakai, karena yang kubela waktu itu bukan kamu. Itu aku."
"Dan setelah itu?"
"Mama menyita ponselku beberapa hari. Aku dikurung di rumah, bukan dengan gembok, dengan hal yang lebih buruk. Dengan rasa bersalah dan hitungan gaji. Lalu tiba-tiba sudah hari pernikahanku, dan aku berdiri di pelaminan, tersenyum pada orang-orang yang kukenal, dan sebagian dari mereka kamu temui di kantorku." Ia menatap Qenna langsung. "Senyumku di janur kuning itu topeng. Kalau kamu melihatnya hari itu dan mengira aku bahagia, kamu salah."
Qenna menarik napas panjang dan menahannya lama. Ketika ia melepaskannya, suaranya keluar sangat tenang.
"Kamu melihat bercak itu sendiri, Mas."
Rafa menegang. Kata itu tak pernah ia dengar dari mulut Qenna selama sembilan bulan, dan ia tahu, entah bagaimana, bahwa itu bukan kehangatan. Itu pisau yang diletakkan di meja di antara mereka.
"Pagi itu kamu berdiri paling dekat. Kamu tahu apa yang ada di tisu itu, dan kamu tahu apa yang dikatakan orang-orang sesudahnya." Jari Qenna menekan ujung bedong. "Mereka menertawakanku di depan kantormu. Sekretarismu bilang aku sudah tidak perawan. Kenapa tidak ada satu pun orang yang membantah?"
"Karena aku ...." Rafa berhenti. Rahangnya mengeras, melembut, mengeras lagi. "Aku mendengarnya seminggu sesudahnya dari seorang karyawan. Aku tidak tahu siapa yang memulai, dan aku tidak mencari tahu. Itu juga salahku. Membantahnya berarti mengaku bahwa aku bermalam di Bali sebagai suamimu, saat tanggal pernikahanku dengan Alin sudah ditetapkan. Aku memilih diam, Qenna. Aku pilih membiarkan kamu dihina daripada mengakui kamu istriku."
Hening. Jarum jam di ponsel Qenna menunjukkan sebelas menit lewat.
"Terima kasih sudah jujur," ucap Qenna akhirnya. Datar, seperti menyebut harga di pasar.
"Ada satu lagi."
"Satu lagi apa?"
Rafa mengusap wajahnya dengan dua tangan. "Surat cerai itu. Yang Mama berikan padamu."
"Aku sudah bercerai, Rafa. Aku punya suratnya."
"Kamu tidak punya, Qenna." Suaranya hampir tak terdengar. "Surat itu palsu. Tidak pernah ada gugatan. Aku tidak pernah mengucapkan talak, dan tidak ada sidang. Mama mendapatkannya dari seseorang yang ia kenal dan menyerahkannya kepadamu, kepada Alin, kepada Pak Hendro. Aku baru tahu dua bulan lalu, ketika Alin pergi ke pengadilan sendiri."
Qenna tidak berkata apa-apa. Wajahnya tidak berubah. Hanya matanya, yang perlahan kehilangan sesuatu seperti lampu yang diredupkan satu per satu.
Berbulan-bulan ia menyebut dirinya janda. Ia berkata begitu kepada Sindy, kepada Armand, kepada Mama Ningsih, kepada lobi kantor yang penuh orang menonton. Di dalam dadanya ia selalu tahu bahwa ia belum dilepas, bahwa Rafa tak pernah mengucapkan apa-apa. Tetapi di atas kertas ia sudah dilepas. Itu yang membuat sakitnya masih bisa disebut dengan nama.
"Jadi," ucapnya, sangat pelan, "aku tidak pernah dilepas. Dan tidak pernah kamu tahan."
Rafa terdiam. Tak ada kalimat yang bisa ia bela. Ia hanya mengangguk, kepalanya turun begitu rendah hingga Qenna melihat bagian belakang lehernya, tempat ia dulu menyandarkan dahi.
Aksa menggeliat. Qenna menepuk punggung bayi itu dengan ritme yang sama seperti ia diajarkan, dan perlahan, seperti sedang mengangkat beban yang baru ia sadari sepanjang ini, ia menarik diri dari tepi.
"Sudah dua puluh menit," katanya. Ia mengambil ponsel dan mematikan layarnya. "Aku bilang sepuluh."
"Aku tahu. Kamu tidak menyuruhku pergi."
"Belum."
"Boleh aku tanya satu hal?"
"Apa pun yang kamu mau."
"Kamu memaafkan aku?"
Qenna menatapnya begitu lama hingga Rafa menyesal telah bertanya.
"Itu bukan pertanyaan untuk hari ini," ujarnya. "Dan jangan tanya lagi sampai aku sendiri yang bilang." Ia berdiri dengan Aksa di lengannya, dan Rafa ikut berdiri otomatis. "Kamu boleh melihat anakmu dari jarak ini. Hari ini cukup."
"Qenna ...."
"Pulanglah."
Rafa memandang bayi itu satu kali lagi, lama, seperti menyimpan sesuatu ke tempat yang tidak boleh hilang. Lalu ia membungkuk kepada Ibu Aisyah di ambang pintu, mengangkat kantong kertas dari meja dengan gerakan yang tidak tahu maksudnya, meletakkannya lagi karena sadar isinya bukan untuk dibawa pulang, dan berjalan ke gerbang.
***
Ibu Aisyah menunggu sampai bunyi pintu mobil terdengar dari seberang jalan, lalu menghampiri Qenna dan menaruh tangan di punggungnya.
"Kamu masih berdiri."
"Aku baru tahu bahwa aku tidak pernah bercerai, Bu."
"Ibu dengar."
"Selama ini aku bilang aku janda. Di depan semua orang." Qenna tertawa tanpa suara. "Di depan Mama Ningsih. Di depan seluruh karyawan, Bu. Aku mengira itu satu-satunya hal yang bisa aku pegang."
"Kamu bebas dari kertas yang palsu, Nak." Ibu Aisyah mengusap punggungnya. "Dan kamu tidak bebas dari janji nikah yang asli. Dua-duanya sekarang jelas. Itu lebih baik daripada berdiri di atas tanah yang bohong."
"Rasanya tidak lebih baik."
"Tidak. Rasanya tidak, hari ini." Ibu Aisyah tersenyum sedih. Lalu matanya menyipit ke arah jendela depan, dan senyum itu hilang.
Di seberang jalan, di bawah pohon yang sama, mobil Rafa masih terparkir. Mesinnya mati. Kaca depannya memantulkan langit sore, dan siapa pun yang duduk di balik kemudi itu tidak menyalakan lampu atau bergerak sedikit pun.
"Dia belum pergi," kata Ibu Aisyah.