Rabu malam itu Ibu Aisyah menyuruh Andin membawa segelas teh hangat dan sepotong roti ke mobil di seberang jalan.
"Aku, Bu?" Andin memeluk baki dengan dua tangan. "Dia kan yang bikin Kak Qenna nangis."
"Justru karena itu." Ibu Aisyah menutup tirai jendela depan. "Rumah ini tidak menimbun dendam. Antar, taruh di kap mobilnya, ketuk sekali, lalu pulang. Jangan ajak bicara."
Andin menurut dengan langkah yang menyatakan ketidaksetujuan di setiap sentuhan sandalnya. Dari jendela dapur Ibu Aisyah melihat kaca mobil diturunkan, tangan yang menerima baki dengan gerakan canggung, lalu kaca naik lagi. Sekitar tengah malam mesin menyala dan mobil itu pergi. Ibu Aisyah baru benar-benar tidur setelah suara knalpotnya hilang di ujung gang.
Kamis pukul enam pagi Andin berlari ke kamar belakang tanpa mengetuk.
"Ibu, mobilnya ada lagi!"
"Sudah Ibu lihat." Ibu Aisyah sedang melipat mukena. "Dia pulang, mandi, ganti baju, lalu kembali. Itu yang namanya bersungguh-sungguh. Jangan diganggu. Biarkan dia di situ sampai dia sendiri yang memutuskan turun."
"Dia tidur di mobil itu, Bu?" Suara Qenna terdengar dari dalam, serak karena belum sempat bicara sepanjang pagi.
"Tidak tidur. Menjaga." Ibu Aisyah melongok ke pintu kamar. "Seperti orang yang takut gerbang ini hilang kalau ia pergi."
"Aku tidak mau dia jadi tontonan. Anak-anak mulai bertanya siapa lelaki yang parkir di depan." Qenna menarik napas. "Aku akan kasih jadwal. Supaya dia tidak perlu menunggu di jalan."
"Beri yang bisa kamu tepati, Nak. Jangan beri yang membuatmu mengingkari dirimu sendiri."
Di tempat tidur, Qenna terjaga dengan Aksa menyusu di dadanya. Ia tidak berkata apa-apa. Ponselnya tergeletak di bantal dengan layar menyala, memperlihatkan pesan terakhir yang ia kirim tadi malam pukul sembilan: "Pak Armand, kalau tidak merepotkan, saya mau minta tolong dibawakan popok ukuran bayi baru lahir dan krim ruam. Saya yang minta." Dan satu balasan singkat: "Besok pagi. Terima kasih sudah bilang."
***
Armand tiba pukul sembilan, membawa dua kantong besar dan wajah yang sudah menebak ada sesuatu yang berbeda bahkan sebelum ia mematikan mesin.
Ia melihat mobil putih itu pertama-tama. Terparkir di bawah pohon di seberang jalan, bumpernya menghadap gerbang. Seorang lelaki duduk di kursi pengemudi dengan jendela terbuka separuh, dagu bertumpu pada tangan, mata menatap lurus ke arah gerbang panti tanpa berkedip. Armand tidak mengenali sosok itu, tetapi cara lelaki itu menunggu, tanpa mendekat dan tanpa pergi, membuatnya menerka sesuatu yang tidak ingin ia terka.
Ia menurunkan kantong dari bagasi dan berjalan ke gerbang. Pintu mobil putih itu terbuka di belakangnya.
"Kamu yang di foto."
Armand berhenti, berbalik, menaruh kantong di tanah. Lelaki itu berdiri dua meter darinya dengan kemeja yang berbeda dari yang dikenakannya kemarin, wajah tirus, mata merah yang memandang tanpa kebencian dan tanpa kesopanan. Seorang lelaki yang sudah terlalu lama tidak punya tenaga untuk berpura-pura.
"Saya Armand," ucapnya. "Dan Anda?"
"Rafa." Ia berhenti sebentar. "Ayah Aksa."
"Saya tahu." Armand tidak bergerak. "Saya atasannya di kantor. Dan temannya."
"Temannya." Rafa menimbang kata itu seperti menimbang uang palsu. "Mama punya foto kalian berdua. Di gerbang ini. Kamu memegang kardus."
"Beliau mengirim orang untuk memotret seorang perempuan hamil yang sedang pindah rumah." Nada Armand tetap rendah. "Saya tidak akan berkomentar soal itu. Itu urusan Anda dengan ibu Anda."
Rafa mengatupkan rahang. Pipinya bergerak. "Kamu mencintainya?"
Hening sejenak. Dari halaman terdengar Andin menyuruh seseorang membuang kulit pisang.
"Itu bukan pertanyaan untuk Anda," jawab Armand. "Bukan hari ini."
"Dia istriku."
"Saya tahu apa kata buku nikah. Saya juga tahu bagaimana dia hidup beberapa bulan terakhir." Armand mengangkat satu kantong lagi, lalu menurunkannya. "Saya tidak akan berdebat dengan Anda di depan rumah yang di dalamnya ada bayi. Kalau Anda ingin bicara tentang dia, bicara kepadanya, bukan lewat saya. Dia sudah cukup dibicarakan orang."
Rafa mundur setengah langkah. Bukan karena takut. Ada sesuatu di wajah Armand yang tidak ia duga dari seorang lelaki dalam foto: bukan permusuhan, melainkan keteguhan yang lelah, jenis yang tidak berniat memenangkan apa-apa.
"Aku tidak bermaksud ...." Rafa menarik napas. "Aku sudah tidak tahu apa yang boleh kutanyakan kepada siapa."
"Itu sebabnya sebaiknya kita berhenti bertanya satu sama lain."
"Sejak kapan kamu mengenalnya?"
"Sejak ia melamar jadi petugas kebersihan di kantor saya." Armand mengambil kantong yang tadi ia taruh. "Saya tahu ada seseorang yang meninggalkannya di Bali. Saya tidak tahu itu Anda sampai pagi ini."
"Dan sekarang kamu tahu wajahnya."
"Sekarang saya tahu wajahnya." Hanya itu. Armand tidak menambahkan penilaian, dan ketiadaan penilaian itu terasa lebih berat bagi Rafa daripada makian. "Satu hal lagi, karena Anda ayahnya. Saya tidak akan pernah menyuruh bayi itu memanggil saya apa pun yang bukan hak saya. Anda boleh memegang kata-kata saya soal itu."
Rafa membuka mulut untuk membalas, lalu menutupnya lagi. Tidak ada balasan yang pantas bagi lelaki yang baru sehari memegang kata ayah.
Dua lelaki berdiri di trotoar yang sama, masing-masing membawa sesuatu yang tidak bisa diserahkan.
***
Qenna keluar dari pintu depan dengan gamis rumah dan Aksa dalam gendongan kain. Ia berdiri di ambang gerbang, memandang keduanya, dan memahami seluruh kejadian dalam sekali tatap, seperti perempuan yang sudah terlalu sering menebak apa yang terjadi di balik pintu tertutup.
"Pak Armand," sapanya, dan Armand segera menoleh. "Popoknya sudah sampai?"
"Ini. Ukuran bayi baru lahir dan krim yang kamu minta." Armand mengangkat dua kantong, tidak mendekat. "Kalau salah ukuran, saya tukar."
"Terima kasih. Taruh di teras saja, Andin akan membawanya." Qenna menoleh kepada lelaki satunya. Tatapannya tak berubah, tetapi nadanya mengeras sedikit. "Dan kamu."
Rafa menegakkan badan. "Qenna, aku ...."
"Hari ini urusan saya," potong Qenna. Ia tidak menaikkan suara, tetapi kedua lelaki itu sama-sama diam. "Bukan urusan kalian berdua. Kalian tidak perlu membicarakan saya di trotoar seperti sedang membagi sesuatu. Saya mendengar dari dalam. Dindingnya tipis."
Armand menunduk sedikit. "Maaf."
Rafa menelan ludah. Qenna melihat keduanya dalam satu bidang pandang: dua lelaki yang masing-masing punya alasan untuk berdiri di sana, dan hanya satu dari mereka yang datang diundang.
"Rafa." Ia menggeser Aksa ke bahu satunya. "Kamu sudah menunggu di luar sejak kemarin. Aku tidak suka lelaki yang tidur di mobil di depan rumah anak-anak. Anak-anak jadi bertanya-tanya. Mulai Selasa depan kamu boleh datang, lalu tiap Selasa dan Sabtu, pukul dua siang. Di ruang depan, dengan Ibu Aisyah di dalam ruangan. Bukan di luar, bukan sendirian denganku. Aku butuh sampai Selasa untuk berhenti gemetar."
Mata Rafa membesar. "Selasa depan, lalu ...?"
"Selasa dan Sabtu. Itu bukan penawaran. Itu syarat."
"Aku terima," jawab Rafa terlalu cepat, dan malu karena itu. "Aku terima semuanya."
"Boleh aku membawa sesuatu kalau datang?"
"Bawa yang dibutuhkan Aksa, bukan yang membuat kamu merasa lega." Jawaban itu keluar sebelum Qenna sempat menimbangnya, dan ia sendiri terkejut betapa tajamnya. Ia tidak menariknya kembali.
Rafa mengangguk pelan, menerima.
"Bagus." Qenna menatap Armand. "Pak Armand, kalau Pak punya waktu, Ibu Aisyah ingin menawarkan sarapan sebelum Pak Armand kembali ke kantor."
Armand mengangguk. Ia mengambil kantong-kantongnya dan berjalan melewati gerbang tanpa menoleh kepada Rafa.
Rafa tetap berdiri di trotoar. Ia memandang Qenna, dan Qenna memandangnya balik beberapa detik lebih lama dari yang ia rencanakan.
"Selasa," ulangnya, lirih, kepada dirinya sendiri.
"Pukul dua," kata Qenna. "Jangan datang lebih awal. Aku tahu kamu akan mencoba."