"Aku bikin daftar," kata Andin, tanpa salam, begitu Rafa turun dari mobil pukul satu lewat dua puluh. Gadis itu mengacungkan selembar kertas bergaris. "Apa yang boleh dan tidak boleh. Satu, jangan datang sebelum jam dua. Dua, jangan bawa suara keras. Tiga, kalau Aksa nangis, jangan panik, panik itu menular. Empat, cuci tangan dulu di keran pojok, pakai sabun, bukan cuma air."
"Siapa yang menulis ini?"
"Aku. Tapi Ibu yang menambah nomor empat." Andin mengangkat dagu. "Kakak boleh baca di mobil. Masih empat puluh menit lagi."
Rafa membaca daftar itu di kursi pengemudi dua kali. Ia menunggu dengan tangan di kemudi, menatap jam di dasbor, lalu menatap rumah di seberang jalan yang tirai-tirainya terbuka sedikit. Tepat pukul dua kurang satu menit ia turun membawa dua kantong kertas dan satu amplop putih di saku dalam jaket.
Ruang depan panti berbau teh dan kayu tua. Meja kecil dan dua kursi rotan diatur berhadapan, boks bayi kuning pucat berdiri di dekat jendela, dan Ibu Aisyah duduk di kursi pojok dengan rajutan di pangkuan. Ia tidak mendongak ketika Rafa masuk. Ia hanya menggerakkan jarumnya dua kali lebih cepat.
Qenna sudah duduk dengan Aksa di pangkuan. Gamis hijau muda, rambut diikat rapi, wajah tenang seperti seseorang yang telah berlatih dalam cermin.
"Cuci tangan?"
"Sudah, di keran pojok. Pakai sabun." Rafa mengangkat tangannya yang masih lembap. "Andin yang memeriksa."
"Duduk."
Rafa meletakkan dua kantong kertas di lantai dan duduk. Qenna memeriksa isinya tanpa bertanya lebih dulu: dua bedong katun warna putih gading, topi rajut kecil, kaus kaki yang bahkan lebih kecil dari telapak tangannya, dan satu botol sabun bayi tanpa pewangi.
"Siapa yang bilang tanpa pewangi?"
"Ibu di kasir toko." Rafa menggaruk tengkuk. "Aku bertanya kepada penjaga toko, dia menyarankan yang bermerek. Lalu ibu di belakangku menegur, memarahiku karena aku tidak tahu kulit bayi tidak boleh kena wewangian. Aku mengucapkan terima kasih dan mengganti yang kuambil."
Dari pojok, jarum Ibu Aisyah berhenti sebentar, lalu bergerak lagi.
"Ukurannya pas," ujar Qenna. Hanya itu pujian yang ia izinkan. Ia menegakkan badan. "Sekarang berikan tanganmu."
"Tanganku?"
"Aku mau kamu menggendongnya. Tangan kanan di bawah kepala, tangan kiri di bawah pantatnya. Jangan tegang. Kalau kamu tegang, dia tegang."
Rafa tidak menjawab. Ia menegakkan punggung, menaruh kedua tangan di tempat yang ditunjukkan, dan membiarkan Qenna memindahkan bayi itu dengan gerakan yang pelan dan ketat, seperti memindahkan benda yang tidak ada gantinya. Berat Aksa berpindah dari dada ibunya ke lengan ayahnya. Kepala kecil itu berhenti tepat di lekuk siku Rafa.
Ia berhenti bernapas.
Aksa menggeliat, membuka mata, dan Qenna sudah mengangkat tangan setengah jalan untuk menariknya kembali ketika bayi itu mendengus pendek dan menempelkan pipi ke dada Rafa. Jari-jarinya membuka dan menutup di kemeja ayahnya. Matanya terpejam lagi, tenang, seperti baru menemukan tempat yang ia cari.
Rafa tertawa, satu embusan serak yang langsung tersedak, dan kedua tangannya tidak berani bergerak seinci pun karena takut membangunkan.
Qenna menatap pemandangan itu dengan kemarahan yang tersimpan di pangkal tenggorokannya. Itu kemarahan yang sudah ia pelihara berbulan-bulan, rapi dan jinak, dan sekarang tiba-tiba tidak tahu harus diletakkan di mana. Aroma itu sudah tak asing lagi: kemeja Rafa, kulit lehernya, bercampur bedak bayi, dua wangi yang sejak malam di panti ia tahu adalah satu. Kali ini ia menahan diri dan tidak membiarkannya melunakkan apa pun.
Ia memalingkan wajah ke jendela supaya tidak terlihat.
"Dia berat," bisik Rafa. "Aku kira dia lebih ringan."
"Itu karena kamu belum pernah memegang apa pun yang penting."
Kalimat itu keluar lebih kejam dari yang ia maksud. Rafa mengangguk, mata tetap pada wajah bayi di dadanya.
"Benar."
"Dia minum berapa kali sehari?" tanya Rafa setelah beberapa saat, berbisik, seolah suaranya sendiri bisa meretakkan sesuatu.
"Tiap dua jam. Kadang lebih cepat kalau dia lapar atau marah."
"Marah?"
"Dia punya pendirian." Sudut bibir Qenna bergerak sedikit sebelum ia menahannya. "Itu bukan dariku."
"Siapa yang bangun kalau malam?"
"Aku. Ibu kalau aku sakit. Kadang Andin, kalau dia bisa berhenti menguap."
Rafa mengangguk lambat. "Aku mau membantu. Biaya, dokter, apa pun. Aku tidak bermaksud ...."
"Aku tahu apa yang kamu maksud." Qenna memotong dengan tenang. "Hari ini jangan bicara uang. Hari ini hanya dia."
Rafa menutup mulutnya dan menurut.
Mereka duduk lama dalam diam. Jam dinding berdetak. Ibu Aisyah menarik benang, memotongnya dengan gigi, dan menyimpan gulungannya tanpa suara.
***
Rafa mengembalikan Aksa pukul tiga kurang sepuluh, dengan dua tangan yang gemetar sehingga Qenna harus membantu menopang.
Ia merogoh saku dalam jaket dan mengeluarkan amplop putih. Kertasnya tebal, tepinya sedikit kusut karena digenggam terlalu lama. Di muka amplop tertulis satu kata dengan tulisan tangan yang dulu ia kenal, huruf-huruf tegak dan agak miring ke kanan: Qenna.
"Ini apa?"
"Penjelasan. Tertulis. Semua yang kukatakan hari itu, ditambah yang tidak sempat." Rafa menaruhnya di meja, di antara mereka, tanpa mendorongnya ke arah Qenna. "Dan permintaan maaf. Aku menulisnya tiga hari, dan menuliskannya ulang dua kali."
"Aku tidak akan membacanya sekarang."
"Aku tidak berharap begitu."
"Aku juga tidak akan membacanya di depanmu."
"Aku tahu." Rafa tersenyum tipis, pahit. "Isinya tidak meminta apa-apa dari kamu. Sungguh. Aku tidak menulis satu kalimat pun yang menyuruhmu melakukan sesuatu."
"Justru itu yang akan kubaca dulu." Qenna mengambil amplop itu dan menyelipkannya ke saku gamis tanpa melihatnya. "Sabtu. Pukul dua. Jangan bawa apa-apa lagi sebelum aku minta."
"Aku mengerti."
Ia berdiri, membungkuk kepada Ibu Aisyah yang akhirnya menengadah dan mengangguk satu kali, lalu menoleh ke bayi di gendongan ibunya sekali lagi. Ia mengangkat tangan, ragu, dan berhenti di udara.
"Boleh?"
Qenna ragu sedetik. "Dua jari. Di dahinya."
Ujung dua jari Rafa menyentuh dahi Aksa, ringan sekali, seperti menyentuh permukaan air. Lalu ia pergi tanpa menoleh lagi.
***
Di seberang jalan, tiga rumah dari tempat mobil Rafa biasa parkir, sebuah sedan abu-abu yang sudah berjam-jam berhenti dengan mesin mati.
Seorang lelaki setengah baya di balik kemudi, mengenakan kemeja safari dengan kerah yang sudah lusuh, menurunkan kamera kecil dari pangkuannya begitu mobil putih itu menjauh. Ia menunggu sampai kendaraan itu berbelok di ujung gang. Baru kemudian ia mengangkat ponsel dan menekan satu nomor yang ia hafal tanpa perlu melihat layar.
"Ibu," katanya, rendah. "Ini saya. Mas Rafa baru keluar dari rumah yang di gang itu. Lama, Bu. Hampir satu jam."
Suara di seberang menjawab sesuatu dengan nada tajam.
"Betul, Bu. Perempuan itu juga ada. Dan ...." Ia berhenti, melirik ke jendela rumah panti, yang tirainya masih bergerak pelan. "Ada bayi, Bu. Laki-laki. Waktu Mas Rafa pamit, perempuan itu berdiri di jendela menggendongnya. Tirainya terbuka sedikit." Lelaki itu menelan ludah. "Saya sudah bekerja dengan keluarga Ibu sejak Mas Rafa masih kecil. Wajah bayi itu, Bu, mirip sekali dengan Mas Rafa waktu kecil."