Pukul satu kurang lima, sebuah taksi biasa berhenti di ujung gang, dan seorang perempuan turun dengan tongkat.
Andin melihatnya lebih dulu dari jendela ruang depan. "Kak," bisiknya, dan seluruh tubuhnya menegang. "Nenek itu. Sendirian."
Qenna menurunkan cangkir tehnya. Ia sudah menunggu sejak jam dua belas, duduk di kursi rotan dengan punggung lurus dan Aksa tertidur di boks dekat jendela, namun tetap saja jantungnya seperti dipukul dari dalam. "Biar Ibu Aisyah yang membuka pintu. Dan jangan sampai anak-anak menghalangi gerbang lagi."
"Tapi kalau dia ...."
"Kalau dia macam-macam, kamu boleh teriak. Tapi sekarang tidak."
Mama Jamilah berjalan pelan di gang yang berbatu, setiap langkahnya ditimbang antara tongkat dan telapak sepatu. Ia memakai kerudung krem polos dan gamis abu-abu yang tidak disetrika dengan benar. Tidak ada tas kulit. Tidak ada sopir di belakangnya. Tangannya yang memegang tongkat tampak lebih kurus daripada dua pekan lalu, dan ketika ia sampai di gerbang, ia berhenti dan mengangkat tangan kirinya, telapak terbuka, seakan menunjukkan kepada anak-anak yang berdiri di halaman bahwa tak ada apa pun di sana.
"Saya tidak membawa apa-apa," ucapnya, dan suaranya mengejutkan karena kecil. "Boleh saya masuk?"
Anak sembilan tahun yang mengacungkan sandal sebagai senjata tempo hari mengintip dari balik tiang. Andin berdiri di sebelahnya, rahang dikatupkan.
"Saya mau minta maaf kepada kalian juga," lanjut Mama Jamilah, memandang anak-anak itu satu per satu. "Hari Senin dua pekan lalu, saya membuat kalian takut. Tidak seharusnya orang dewasa melakukan itu."
Tak seorang pun menjawab. Lalu anak sembilan tahun itu menoleh kepada Andin. "Kak, boleh?"
Andin menatap lama, menarik napas, dan akhirnya menggeser tubuhnya setengah langkah.
***
Ruang depan panti terasa lebih sempit dari biasanya.
Mama Jamilah duduk di kursi rotan yang disediakan, tongkat disandarkan ke lututnya. Ibu Aisyah duduk di pojok seperti biasa dengan rajutan di pangkuan, tidak merajut. Qenna duduk di seberang dengan tangan terkepal di atas paha, dan di antara mereka, di dekat jendela, boks kuning pucat itu menjadi satu-satunya benda yang tidak menyimpan ketegangan.
Mama tidak menatap boks itu. Ia menatap lantai.
"Saya sudah menulis di kertas apa yang mau saya katakan," ucapnya. "Tiga kali saya robek. Kertasnya tidak bisa menampung. Jadi saya sebutkan saja." Ia menelan sesuatu dengan susah payah. "Saya menampar kamu di kontrakanmu, Qenna. Di depan pintu rumahmu sendiri. Saya menawarkan amplop supaya kamu menghilang. Saya mengusirmu dari rumah saya ketika kamu baru sehari jadi menantu. Saya memberi kamu selembar surat yang saya tahu palsu, supaya kamu percaya sudah dilepas. Saya menyuruh orang menyebarkan kebohongan yang paling menjijikkan tentang dirimu, supaya tidak seorang pun mengasihanimu. Dan Senin dua pekan lalu saya membawa anakmu dari tempat ini."
Setiap kalimat berhenti seperti anak tangga. Ia tidak menyeka air matanya yang menetes ke pangkuan.
Ia menoleh ke pojok, kepada Ibu Aisyah, dan Qenna melihat napas panjang keluar dari hidungnya, seperti orang yang akhirnya melepas ransel. "Dan kepada Ibu juga. Ibu datang ke rumah saya dengan angkot, duduk di ruang tamu saya, dan saya menyebut anak-anak Ibu anak buangan."
Ibu Aisyah meletakkan rajutan di pangkuannya. "Anak-anak ini dititipkan kepada saya oleh orang yang tidak punya pilihan, Bu Jamilah. Tidak seorang pun dari mereka dibuang." Suaranya lembut, tetapi tidak ada celah di dalamnya. "Ibu yang punya pilihan, dan Ibu memilih kata itu."
"Saya tahu." Mama menunduk dalam. "Saya malu."
"Itu awal yang cukup." Ibu Aisyah mengambil jarumnya lagi. "Teruskan. Qenna sedang mendengar."
"Saya tidak punya pembelaan," katanya. "Saya punya alasan. Rafa mungkin sudah menceritakan. Tapi alasan bukan pembelaan. Saya minta maaf. Saya tidak minta kamu menerimanya sekarang."
Qenna mendengarkan sampai habis. Ia mendengar kata-kata itu satu per satu dan merasakan masing-masing menyentuh bekas yang berbeda di tubuhnya: pipi, dada, perut, hari-hari panjang di kontrakan yang pagarnya hanya diselot. Ia tidak menangis. Ia terkejut karena ia tidak menangis.
"Saya mendengar Ibu," ujarnya akhirnya, perlahan. "Semuanya. Saya belum bisa memaafkan sepenuhnya, dan saya tidak akan melupakan. Itu jujur, dan saya tidak mau berbohong kepada Ibu seperti Ibu dulu berbohong tentang saya."
Mama mengangguk, kepalanya turun seakan menerima putusan hakim.
"Tapi ada satu hal yang perlu Ibu tahu." Qenna menarik napas. "Pak Dimas, pengacara saya, bilang saya bisa melaporkan pemalsuan surat itu ke polisi. Orang yang membuat surat itu bisa dipenjara. Orang yang menyuruhnya juga."
Tubuh Mama Jamilah menegang. Ibu Aisyah di pojok berhenti bernapas.
"Saya sudah memutuskan tidak akan melapor."
Mama mengangkat wajahnya. Matanya merah dan bengkak, tak percaya.
"Bukan demi Ibu," lanjut Qenna cepat, supaya kalimat itu tidak disalahartikan. "Demi Aksa. Suatu hari dia akan besar dan bertanya, kenapa neneknya tidak datang ke ulang tahunnya. Saya tidak mau jawabannya: karena Nenek di penjara dan Ibu yang memasukkannya ke sana. Saya mau jawabannya: karena Nenek pernah berbuat salah, dan belajar meminta maaf."
Dari boks terdengar dengusan kecil dan bunyi bibir mungil mengecap.
"Terima kasih," bisik Mama. Dua kata itu hampir tidak terdengar. Lalu setelah jeda yang panjang, ia menambahkan, "Boleh ... boleh saya menggendongnya? Sebentar saja. Saya tidak akan ke mana-mana."
Qenna menatap tangan perempuan itu di atas lutut, jari-jari yang gemetar. Ia tahu isi hati yang tidak pernah diucapkan: bahwa lengan itu sudah pernah merengkuh Aksa, sekali, dan terlalu jauh.
"Belum, Bu." Suaranya lembut dan tak bisa ditawar. "Bukan hari ini."
Ia menunggu bantahan, tangis, atau amarah. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk ketiganya.
Mama Jamilah hanya mengangguk. Perlahan. Seperti seseorang yang akhirnya menerima bahwa pintu ini punya pemiliknya, dan pemiliknya bukan dia.
"Boleh saya melihatnya saja? Dari sini."
"Boleh."
Mama bangkit dengan susah payah, bertumpu pada tongkat, dan berjalan dua langkah ke boks. Ia berdiri di sana, tidak menyentuh apa-apa. Aksa tertidur dengan kepalan kecil di pipi, dan perempuan yang membangun seluruh hidupnya di atas ketakutan miskin itu hanya menatapnya, kedua tangan di atas tongkat, tidak meminta lebih.
***
Rafa menunggu di gerbang dengan map cokelat di bawah ketiak, tepat pukul setengah dua. Ia menatap ibunya ketika perempuan itu keluar dengan tongkat dan mata sembab, dan tidak mengatakan apa-apa. Mama berhenti di depannya, menyentuh lengan bajunya sekali, ringan.
"Dia tidak mengizinkan Mama menggendong," ucapnya pelan.
"Mama sedih?"
"Mama senang." Ada sesuatu yang hampir seperti senyum, pecah dan basah, di sudut bibirnya. "Berarti ibunya menjaga dia dengan benar. Mama tidak pernah melakukannya sebaik itu kepadamu."
Rafa tidak sanggup menjawab. Mama berjalan melewatinya ke arah taksi yang menunggu.
Rafa menunggu sampai taksi itu pergi. Ketika menoleh, Qenna sudah berdiri di ambang pintu.
"Qenna." Ia menggenggam map itu lebih erat. "Boleh aku bicara tentang kita?"
Qenna sudah membayangkan seratus jawaban untuk pertanyaan itu. Rafa tampak tahu bahwa jawabannya akan kecil, dan sudah bersiap menerima yang sekecil apa pun.
"Minggu depan," kata Qenna.