Andin melapor dari jendela ruang depan dengan suara orang yang menemukan keanehan. "Kak, Kak Rafa jalan kaki dari simpang. Mobilnya mana?"
Qenna tidak menjawab. Ia sedang menyusui Aksa di kursi rotan, punggung bersandar, selimut tipis menutupi bahu, dan matanya terpaku pada kepala kecil yang mengisap dengan kesungguhan orang membayar utang. Pukul sepuluh kurang sepuluh, hari Minggu. Lima hari lalu ia berkata "Minggu depan" di gerbang ini, dan hari ini datang persis seperti yang ia tentukan sendiri, tanpa bisa ditawar-tawar lagi.
"Suruh duduk di teras," katanya. "Jangan di ruang depan. Dan Ndin, tolong, jangan memandanginya seperti itu."
"Aku nggak memandangi."
"Kamu memandangi sampai kacanya berembun."
Andin menyeringai, lalu menghilang ke arah pintu.
Ibu Aisyah sudah duduk di kursi plastik hijau di pojok teras ketika Qenna keluar dengan Aksa yang kenyang dan setengah tidur di pundaknya. Rajutan terbuka di pangkuan perempuan itu, jarumnya bergerak pelan, matanya tidak. Rafa berdiri di anak tangga terbawah, belum berani naik. Kemejanya kemeja biasa, bukan yang berkancing manset. Sepatunya berdebu. Ia tampak lebih kurus, dan di bawah matanya ada bayang yang tidak bisa disembunyikan oleh tidur semalam.
"Silakan duduk," kata Ibu Aisyah. "Nak Rafa sudah sarapan?"
"Sudah, Bu. Terima kasih."
"Bohong," ujar Ibu Aisyah ringan, "tapi Ibu hargai sopan santunnya. Andin, bawakan pisang rebus."
Rafa duduk di bangku kayu, sejarak dua langkah dari kursi Qenna. Ia menatap Aksa sebentar, lama sekali dalam ukuran sebentar, lalu mengalihkan mata ke tangannya sendiri.
"Aku mau mulai dari kabar yang paling pendek," katanya. "Pembatalan pernikahanku dengan Alin dikabulkan Kamis. Pengacara Pak Hendro yang mengabari. Secara hukum, pernikahan itu dianggap tidak pernah sah sejak awal."
"Dikabulkan," ulang Qenna pelan.
"Alin pamit baik-baik. Ia tidak menangis, dan aku tidak pantas menyuruhnya berhenti kalau ia menangis." Rafa menarik napas. "Yang kedua, tentang perusahaan. Dana Pak Hendro keluar akhir bulan, itu sudah pasti. Mobilku sudah kujual. Rumah yang dijaminkan Mama sudah diserahkan ke bank, dan aku mengosongkannya dua hari ini, sendiri. Isinya kubagi ke panti-panti lain, kecuali yang harus dikembalikan ke Alin."
"Ke panti lain?" Ibu Aisyah mengangkat alis.
"Bukan ke sini, Bu. Aku tahu Ibu tidak akan menerima." Ia nyaris tersenyum. "Kulkas dan dua lemari. Mereka butuh."
Andin muncul dengan piring pisang rebus, meletakkannya di meja dengan bunyi yang lebih keras daripada perlu, lalu berdiri sebentar sebelum Ibu Aisyah menatapnya. Ia mundur ke ambang pintu, tetapi tidak masuk.
"Aku bekerja di bawah pengacara itu sekarang," lanjut Rafa. "Menyusun daftar utang perusahaan satu per satu, siapa yang kuhutangi, berapa, dan kapan bisa kubayar. Gajiku dari situ tidak besar. Aku tinggal di kamar sewa dekat stasiun, dan Mama menumpang di rumah saudara sepupuku. Aku tidak cerita ini supaya kamu kasihan. Aku cerita karena kamu berhak tahu aku tidak akan datang ke sini dengan janji kosong."
Aksa menggeliat di pundak Qenna. Ia menepuk punggung kecil itu dua kali, ritmis, sampai bayi itu tenang lagi.
"Kamu menyebut 'janji'," katanya. "Sebutkan."
Rafa menegakkan punggung seperti murid yang namanya dipanggil. "Aku ingin kita mulai lagi. Dengan benar. Di depan Ibu, di panti kalau kamu mau, tanpa janur kuning yang bukan milikmu, tanpa Mama, tanpa perusahaan yang harus kuselamatkan. Aku tidak meminta kamu lupa. Aku hanya meminta kesempatan membayar yang kuambil, sehari demi sehari, seumur hidupku."
Jarum Ibu Aisyah berhenti di tengah jahitan.
Qenna menunggu sesuatu terbit di dalam dirinya, entah marah, entah haru, entah luka yang berdenyut. Yang datang justru ketenangan yang aneh. Ia mendengar kalimat itu, tiap kata, dan sadar bahwa lelaki di depannya mengucapkannya dengan wajah orang yang sudah menyiapkan penolakan.
Ia tidak memotong. Ia sudah memutuskan di malam-malam sebelumnya bahwa ia tidak akan memotong, sebab seandainya ada hak yang masih tersisa bagi Rafa, hak itu adalah didengar sampai habis. Maka ia membiarkan Rafa menambahkan sisanya: bahwa ia tidak meminta jawaban hari ini, bahwa ia tidak akan memakai Aksa sebagai tawar-menawar, bahwa ia akan datang tiap Selasa dan Sabtu entah ia ditolak entah diterima, dan bahwa surat tulisan tangannya hanya untuk dibaca kalau Qenna mau, bukan kalau Qenna wajib.
Ketika ia selesai, burung di pohon jambu di halaman terdengar sangat jelas.
"Aku belum bisa menjawab," ujar Qenna akhirnya.
"Aku tahu."
"Kamu tidak tahu apa yang akan kujawab."
"Benar." Rafa menelan ludah. "Tapi aku tahu kamu harus punya waktu."
"Aku perlu waktu." Suaranya mantap. "Bukan karena aku menimbang-nimbang rumah atau uang. Baru beberapa bulan lalu aku duduk sendirian di kontrakan dengan test pack di tangan, dan aku tidak mau menjawab seperti orang yang masih terengah."
Rafa mengangguk lambat. Ia menatap Aksa lagi, tidak lama, seakan memberi sesuatu kepada bayi itu yang tak bisa diberikannya kepada ibunya.
"Aku akan menunggu," ucapnya. "Dan kalau jawabanmu tidak, aku tetap ayahnya. Itu tidak berubah, apa pun yang kamu putuskan."
***
Rafa pamit setelah pisang rebusnya habis, yang membuat Ibu Aisyah menarik napas puas dan Andin meringis. Ia tidak meminta menggendong. Ia hanya berdiri di samping bangku, menunduk, menyentuh telapak tangan Aksa dengan satu jari. Jari mungil itu menggenggam dalam hitungan detik, lalu terlepas karena kantuk.
Di gerbang, Rafa menoleh sekali. Tidak ada yang membalas, dan ia tampak menerimanya.
Jalan dari panti ke simpang cukup panjang untuk orang yang sudah lupa rasanya berjalan kaki. Ia menyusuri gang berbatu itu dengan tangan di saku. Di warung ujung gang seorang lelaki tua menyapa, "Dari panti, Mas?" dan Rafa menjawab "Iya, Pak," tanpa menambahkan apa-apa.
Sampai di simpang, ia duduk di bangku halte yang catnya mengelupas dan membiarkan angkot pertama lewat. Lalu yang kedua. Telepon di sakunya bergetar, nama Mama di layar. Ia menatapnya sampai berhenti sendiri.
Baru ketika angkot ketiga berhenti dan kenek meneriakkan arah, Rafa berdiri. Di tangannya masih ada satu hal yang baru ia sadari tertinggal: jejak lembut genggaman bayi di jari telunjuknya. Ia menutup tangan itu perlahan, seakan ada yang bisa jatuh.
***
Malam itu Qenna duduk di tepi ranjang di kamar belakang, Aksa di boks, lampu meja dipelankan. Di sakunya tersimpan surat Rafa yang ditinggalkannya berpekan-pekan lalu, lipatannya sudah melunak karena terlalu sering ia pegang tanpa membukanya.
Ibu Aisyah masuk membawa dua gelas teh dan duduk di kursi kecil tanpa bicara.
"Ibu tidak akan menjawab untukmu," ucapnya setelah beberapa lama.
"Aku tahu, Bu."
"Ibu hanya mau bertanya satu hal. Tadi, waktu dia bicara, wajahmu seperti orang yang sedang memeriksa barang di pasar. Bukan orang yang sedang jatuh cinta, bukan orang yang sedang benci." Ibu Aisyah menyesap tehnya. "Barangnya sendiri yang kamu periksa, atau dirimu?"
Qenna menatap amplop di pangkuannya. "Dua-duanya, Bu."
"Itu jawaban yang bagus." Ibu Aisyah berdiri, mengusap rambutnya sekali, lalu pergi. Di ambang pintu ia menoleh. "Surat itu tidak akan basi kalau kamu baca besok."
Setelah pintu tertutup, ponsel Qenna di meja berbunyi pendek. Satu pesan masuk dari nomor yang disimpannya dengan nama "Mbak Alin".
"Mbak Qenna, maaf mengganggu malam-malam. Aku ingin menggendong Aksa lagi kalau boleh, tidak lama. Hari Rabu sore? Aku datang sendiri, tanpa siapa-siapa, tanpa Rafa."
Qenna membacanya dua kali. Ia menoleh ke boks, ke bayi yang tidur dengan tangan terbuka, lalu mengetik satu kata dan menekan kirim sebelum sempat berubah pikiran.
"Boleh."