Alin datang hari Rabu pukul empat kurang lima menit, sendirian, memakai kerudung biru muda dan membawa kantong kertas yang ia pegang dengan dua tangan seperti membawa kue ulang tahun.
Qenna menunggu di teras. Ia sempat memikirkan apa yang harus dikatakannya pada perempuan yang dua kali duduk di teras ini sebagai tamu, dan ternyata tidak ada yang perlu dikatakan. Alin menaiki anak tangga, berhenti satu langkah di depannya, dan berkata, "Aku bawa kaus kaki. Tiga pasang. Aku tidak tahu ukurannya, jadi kubeli yang paling kecil."
"Sepertinya masih kebesaran," sahut Qenna, dan Alin tertawa, tawa pendek yang terkejut.
Mereka duduk di ruang depan. Aksa dibawa Ibu Aisyah dari kamar belakang, dan ketika bayi itu berpindah ke lengan Alin, perempuan itu menahan napas seperti orang yang takut salah memegang. Satu tangan di bawah kepala, satu di bawah pantat, persis seperti yang dulu diajarkan Ibu Aisyah kepadanya. Aksa menguap lebar.
"Dia agak hangat," gumam Alin. "Pipinya."
"Dia baru bangun tidur." Qenna menyentuh dahi Aksa dengan punggung tangan. Hangat, tetapi tidak berbeda dari biasanya sesudah tidur siang. "Ibu bilang tadi juga rewel sedikit. Mungkin perutnya berisi angin."
Alin hanya menatap wajah kecil itu. "Aku cuma ingin bilang," ucapnya tanpa mengangkat mata, "aku tidak datang untuk menebus apa-apa. Ayahku sudah menebus yang bisa ditebus. Aku datang karena aku sempat menggendongnya sekali dan sejak itu tidak berhenti memikirkannya."
"Aku tahu."
"Aku tidak tahu harus merasa apa terhadap anak lelaki yang dilahirkan perempuan yang suaminya kunikahi," Alin tersenyum getir, "tapi kakinya hangat sekali. Itu saja yang kutahu."
Pukul enam, ia pulang dengan mata sembap dan hati yang tampak lebih ringan. Aksa sudah menangis kecil. Qenna menyusuinya, tetapi bayi itu menolak setelah beberapa isapan.
***
Pukul sembilan malam termometer menunjukkan tiga puluh sembilan koma dua.
Qenna memandangi angka itu lama di bawah lampu kamar belakang. Tiga puluh sembilan koma dua. Ia mengulang di kepalanya, seolah angka bisa berubah kalau ia membaca ulang. Aksa terbaring di kasur dengan wajah merah dan napas pendek-pendek, matanya setengah terbuka tanpa melihat apa pun.
"Bu!" Suaranya lolos lebih tinggi dari yang ia kehendaki.
Ibu Aisyah muncul dari ambang pintu dengan daster dan kerudung kain yang dikenakan terburu-buru. Satu sentuhan ke dahi Aksa, dan wajahnya yang tenang mengeras. "Bayi di bawah tiga bulan tidak boleh ditunggu sampai pagi," ujarnya. "Kita bawa sekarang."
"Taksi ...."
"Tidak akan ada di jam begini." Ibu Aisyah sudah membuka lemari mengambil kain bedong. "Siapa yang paling dekat dan punya kendaraan?"
Pikirannya berputar ke satu nama, lalu ke nama lain, lalu kembali ke yang pertama. Armand akan datang kalau diminta, ia tahu itu, tetapi permintaan itu akan menaruh sesuatu di antara mereka yang baru ia susun jaraknya. Ponselnya sudah di tangan sebelum ia selesai berpikir.
Rafa menjawab pada dering kedua. "Qenna?"
"Aksa demam. Tiga puluh sembilan koma dua." Suaranya bergetar dan ia membencinya. "Aku tidak tahu harus ...."
"Aku datang. Lima belas menit." Ia mendengar bunyi pintu dibanting dan langkah berlari di tangga. "Jangan keluar rumah sebelum aku sampai. Aku bawa kendaraan."
"Kamu sudah menjual mobilmu."
"Aku pesan lewat aplikasi sambil jalan. Qenna, tarik napas. Panasnya bisa diturunkan, dia akan baik-baik saja."
Telepon terputus. Andin berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan ponsel di tangan. "Kak, aku telepon Kak Sindy aja? Dia tahu rumah sakit yang bagus dan punya nomor dokter Bram."
"Telepon," jawab Ibu Aisyah.
Rafa tiba dalam empat belas menit. Ia melompat turun dari mobil sewaan berpelat kuning sebelum rodanya benar-benar berhenti, kemeja tidak dikancing dengan benar, sandal dua warna di kakinya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membuka pintu belakang dan memegang pintu itu selebar mungkin sementara Ibu Aisyah masuk lebih dulu dan Qenna menyusul dengan Aksa di dadanya.
Di dalam mobil, di bawah lampu kabin yang berkedip, Qenna terus berbisik pada bayi itu, "Sebentar lagi, Nak. Sebentar lagi." Ibu Aisyah melingkarkan tangannya ke bahu Qenna. Rafa duduk di depan di sebelah sopir dan menoleh tiap beberapa detik, tidak bicara, hanya memastikan.
***
IGD rumah sakit dekat kantor itu terang dan beraroma antiseptik. Perawat mengambil Aksa dari lengan Qenna dengan kelembutan yang tidak memberi ruang untuk menolak, dan pintu tirai tertutup. Ibu Aisyah menarik Qenna ke bangku panjang di lorong.
"Duduk. Atur napasmu."
Rafa berdiri di dekat dinding kiri, kedua tangan terkepal, tidak berani duduk. Dua puluh menit kemudian pintu otomatis terbuka dan Armand masuk dengan langkah cepat, jas lepas dari bahu, diikuti Dokter Bram yang menenteng tasnya dengan wajah masih setengah tidur. Di belakang mereka ada Hans, yang menggandeng Sindy dengan tangan di siku, dan Hans tidak tersenyum.
"Sindy mengabari," ucap Armand pada Qenna tanpa mendekat. "Saya bawa Dokter Bram. Kalau kamu tidak keberatan, ia ikut memeriksa."
"Tidak," jawab Qenna. "Tolong."
Dokter Bram mengangguk dan menghilang di balik tirai. Armand berhenti di dinding seberang, lima meter dari Rafa. Tidak ada yang menyapa. Rafa melirik, dan Armand membalas dengan anggukan sopan yang nyaris kaku. Di antara mereka ada satu lorong, satu deret kursi plastik, dan satu pintu tirai yang di baliknya terdengar suara tangis kecil yang melemah.
Hans menggeser sebuah kursi ke dekat Sindy. Ia biasanya punya komentar untuk apa saja, tentang kopi mesin, tentang lampu yang terlalu putih, tentang perawat yang mirip artis. Malam ini ia menyodorkan botol air kepada Sindy dan duduk diam dengan siku di lutut.
Pendingin ruangan IGD berembus dari langit-langit, dan Ibu Aisyah merapatkan kerudung kain di lehernya. Ia tidak mengeluh. Ia hanya menggosok lengannya sekali, dua kali, lalu menyembunyikan tangan di bawah ketiak.
Dua lelaki di dua dinding menyadarinya pada saat yang sama. Rafa menepuk badannya sendiri dan menemukan kemeja tipis tanpa apa-apa di atasnya. Armand sudah melepas jasnya sebelum Rafa selesai memeriksa.
"Bu, silakan," ucap Armand, menyodorkannya dengan dua tangan. "Dingin sekali di sini."
"Terima kasih, Nak Armand." Ibu Aisyah menerimanya dan menyampirkannya di bahu. Lalu ia menoleh ke dinding kiri. "Nak Rafa, duduklah. Berdiri tidak mempercepat apa-apa, dan kamu hanya membuat Ibu pegal melihatnya."
Rafa menurut seperti anak yang ditegur. Ia duduk di ujung bangku, satu kursi dari Ibu Aisyah, kakinya bergerak-gerak gelisah sampai Sindy menatapnya dari seberang dan ia berhenti.
"Kamu berangkat pakai sandal dua warna," bisik Sindy, tidak tega menahan diri.
Rafa menunduk melihat kakinya. Satu sandal hitam, satu sandal cokelat, dan ia sama sekali tidak tahu sejak kapan. Di ujung lorong Hans menutup mulut dengan kepalan tangan, tetapi tidak bersuara, dan Armand memalingkan wajah ke dinding supaya tidak ketahuan tersenyum, tersenyum yang hilang seketika begitu terdengar tangis Aksa dari balik tirai, lemah dan serak.
Semua kepala menoleh ke arah suara itu. Tak seorang pun berbicara lagi sesudahnya.
Tirai tersibak. Perempuan berseragam hijau, dokter jaga, keluar membawa papan jalan. "Keluarga bayi Aksa?"
Qenna berdiri begitu cepat sehingga kepalanya berputar. Dua lelaki di dua dinding melangkah serempak, lalu berhenti serempak, saling melihat sekejap, dan masing-masing mundur setengah langkah.
"Saya ibunya." Qenna menggenggam tepi bajunya sendiri.
"Bayi Ibu demam tinggi di usia dua bulan, jadi kami periksa darah dan urine, dan mungkin perlu cairan lewat infus. Hasil darahnya sekitar dua jam lagi. Bayi akan kami observasi." Dokter itu menatapnya lurus. "Ibu boleh menemani di dalam. Satu orang saja."
"Saya," ucap Qenna. Ia berbalik pada lorong. Dua lelaki itu menatapnya dengan wajah yang berbeda dan harapan yang sama.
"Tolong tunggu," katanya pelan, kepada keduanya sekaligus. "Jangan pulang dulu."
Lalu ia menghilang di balik tirai, dan di lorong tinggal hening dan bunyi sepatu perawat yang jauh.