Ruang sidang yang sama terasa berbeda hari Kamis, seperti rumah yang pernah dikunjungi saat ramai lalu didatangi lagi saat sepi.
Qenna duduk di bangku pengunjung, di sebelah Ibu Aisyah, bukan di meja termohon. Pak Dimas memberitahu bahwa untuk tahap ini ia boleh duduk di belakang bila ingin, dan ia menerima tawaran itu tanpa berpikir. Di seberang lorong kecil itu ada Rafa, berdiri di samping pengacaranya, mengenakan jas yang sama dengan hari Jumat lalu dan kemeja putih yang jelas disetrika sendiri, lipatan di lengannya tidak sejajar. Dua baris di belakang Qenna, di kursi paling pojok, Mama Jamilah duduk dengan tongkat di antara kedua lutut dan mata menunduk ke lantai. Ia sudah di sana sejak pukul delapan lewat, sebelum siapa pun.
"Tarik napas," bisik Ibu Aisyah.
"Aku sudah menarik napas sejak tadi malam, Bu."
"Kalau begitu embuskan."
Qenna mengatupkan bibir, dan matanya terasa panas. Di pangkuannya ada tas kecil berisi pompa ASI dan botol steril. Aksa kali ini ikut, dititipkan pada Sindy yang mengambil cuti lagi, di ruang tunggu bawah yang disediakan petugas untuk ibu menyusui, sebab Qenna tidak sanggup meninggalkan bayi itu dua kali dalam seminggu. Pukul sepuluh kurang sepuluh ia akan turun menyusui. Hanya itu yang menahannya tetap duduk.
Hakim masuk. Mereka berdiri, duduk, dan panitera membacakan nomor perkara dengan nada datar yang entah mengapa membuat bulu kuduk Qenna naik.
"Sidang penyaksian ikrar talak, perkara antara Rafa sebagai pemohon dan Qenna Amanda sebagai termohon." Hakim menatap berkas, lalu menatap Rafa. "Pemohon, apakah Anda masih pada pendirian Anda?"
"Masih, Yang Mulia."
"Anda mengucapkannya dengan sadar dan tanpa paksaan siapa pun?"
Ada jeda sepanjang satu tarikan napas. Rafa menoleh sedikit ke belakang, ke pojok tempat ibunya duduk, lalu kembali menghadap hakim.
"Tidak ada yang memaksa saya. Justru sebelumnya selalu ada, dan itu kesalahan saya." Suaranya serak tetapi tidak goyah. "Kali ini saya sendiri yang memilih."
Hakim mengangguk. "Silakan berdiri dan ucapkan ikrar Anda. Saya tuntun."
Rafa bangkit. Dari tempat duduknya Qenna melihat punggung lelaki itu, bahu yang tegak dibuat-buat, tengkuk yang sedikit basah. Ia ingat punggung yang sama di kamar hotel putih itu, membelakanginya sambil memasukkan baju ke koper. Punggung yang tidak menoleh. Hari ini punggung itu menoleh, sekali, dan matanya bertemu mata Qenna melintasi dua baris kursi, dan ia tidak mengalihkan pandangan.
Hakim mulai menuntun kalimat demi kalimat. Pendek, tegas, dalam bahasa yang tidak dibuat untuk dimengerti sambil gemetar. Rafa mengulanginya. Pada kalimat pertama suaranya tersangkut. Pada kalimat kedua ia berhenti, menelan ludah, mengulang dari awal. Pada kalimat ketiga, yang menyebut nama Qenna Amanda dengan lengkap, suaranya pecah di tengah nama itu, dan seluruh ruangan mendengarnya pecah, dan tak seorang pun bergerak.
Qenna tidak mendengar sisa kalimat itu. Ia mendengar, entah dari mana, bunyi kemeja yang dicopot dari gantungan di kamar hotel, bunyi ritsleting koper, bunyi pintu menutup. Ia mendengar suaranya sendiri berkata, di sebuah pagi yang jauh, "Jangan tinggalkan aku sendirian, Mas." Ia mendengar dirinya yang berbeda berkata di teras panti, "Aku tidak akan menikah denganmu lagi." Dua suara itu bertemu di tengah, dan di tengah-tengah itu ada kesunyian ruang sidang, dan ikrar yang selesai diucapkan.
"Dengan demikian," ucap hakim, "terhitung sejak ikrar diucapkan hari ini, ikatan perkawinan antara Pemohon dan Termohon putus. Termohon wajib menjalani masa iddah. Sidang ditutup."
Palu kecil diketuk sekali.
Itu bunyi yang tidak ia perkirakan. Satu ketukan, pendek, tidak mengesankan, seperti pintu lemari ditutup. Dan di balik ketukan itu, seluruh sesuatu yang selama sembilan bulan menggantung di dadanya, tidak pernah turun, tidak pernah naik, jatuh dengan pelan ke tempatnya.
Qenna menangis. Air matanya turun mengikuti garis pipi dan jatuh ke gamis di pangkuan, sedangkan wajahnya tetap lurus menghadap hakim yang sedang merapikan berkas. Ia tidak mengusapnya. Tangan Ibu Aisyah menemukan tangannya di atas lutut dan menggenggamnya erat, hangat, kasar oleh bertahun-tahun mencuci dan merajut.
Di baris belakang terdengar isakan yang ditekan sekuat tenaga. Qenna tidak menoleh.
***
Di koridor luar, orang-orang berhamburan seperti baru keluar dari bioskop. Pengacara Rafa bicara pelan dengan Pak Dimas, saling menyerahkan salinan. Rafa berdiri sendiri dekat jendela, kedua tangannya lunglai di sisi tubuh, matanya merah dan kosong.
Qenna menghampirinya. Ia tidak terburu-buru.
"Suaramu bagus," ucapnya.
Rafa mengerjap. "Apa?"
"Waktu kamu mengulang. Kamu tidak berhenti walaupun pecah." Qenna menatap wajahnya. "Aku tidak bilang itu menebus apa pun. Tapi aku melihatnya."
"Qenna ...." Rafa menutup mulutnya dengan punggung tangan, menenangkan diri. "Kalau aku boleh minta satu hal. Besok. Kita ke Pak Dimas, kita selesaikan semuanya. Aku tidak mau ada yang menggantung lagi."
"Besok pukul sepuluh, di kantor Pak Dimas."
"Terima kasih."
"Rafa." Ia menunggu lelaki itu menatapnya. "Mamamu di belakang tadi, dari awal sampai akhir. Ia menangis. Tolong temani dia pulang."
Rafa menoleh ke pojok koridor, tempat Mama Jamilah berdiri sendiri dengan wajah sembap dan kedua tangan memegang tongkat, tidak berani mendekat. Lalu ia mengangguk dan berjalan ke sana. Qenna tidak menyaksikan kelanjutannya.
***
Di tangga depan gedung pengadilan, matahari pukul sepuluh jatuh sempurna di atas anak tangga marmer. Ibu Aisyah berdiri satu anak tangga di bawahnya, tas besar di lengan, menunggu dengan sabar yang tidak perlu dijelaskan.
Qenna berhenti di tengah tangga. Dari ruang tunggu di lantai bawah, melalui kaca, ia melihat Sindy menggendong Aksa yang sudah bangun dan memandang sekitar dengan mata lebar. Dadanya mengeras, ASI yang menunggu, naluri yang tidak peduli pada putusan apa pun.
"Bu," katanya.
"Ya, Nak."
"Aku kira aku akan merasa kosong. Seperti ada yang dicabut." Ia mengusap pipinya dengan punggung tangan. "Tapi tidak. Rasanya seperti ... seperti aku baru boleh berhenti menahan napas."
Ibu Aisyah naik satu anak tangga dan merangkul bahunya. "Itu namanya lega, Nak. Biarkan saja."
"Ini bukan akhir, Bu." Suara Qenna bergetar tetapi tidak patah. "Ini ujung dari luka yang salah tempat. Sesudah ini ia boleh sembuh."
Dari pintu kaca di bawah terdengar tangis melengking yang sudah sangat dikenalnya. Sindy muncul dengan rambut berantakan dan Aksa di dadanya, merah padam, kedua tinju kecil mengepal di udara.
"Qen!" Sindy menaiki tangga dua-dua. "Aku sudah pakai semua jurus. Nyanyi, goyang, ciluk ba, Hans meneleponku dua kali menanyakan jurus apa lagi yang bisa dikirim. Dia tidak mau. Dia mau kamu."
"Kemarikan." Qenna menerima bayi itu, dan tangis Aksa turun seperti bunyi radio yang diperkecil, tersisa isak-isak pendek dan wajah yang menempel ke dadanya. "Ssst. Mama di sini."
Sindy menunggu sampai napasnya teratur, lalu bertanya dengan hati-hati, "Sudah?"
"Sudah."
"Alhamdulillah." Sindy mengusap matanya dengan lengan baju. "Pak Armand titip pesan lewat Hans. Katanya ia tidak datang karena kamu pasti tidak ingin mencarinya di antara kursi. Tidak ada yang perlu dibalas hari ini. Ia hanya ingin kamu tahu ia menunggu kabar dengan tenang."
Qenna menunduk, mencium kepala Aksa yang hangat, menyembunyikan senyum yang tidak sempat ia padamkan.
"Terima kasih, Sin. Bilang ke Pak Hans, jurus yang paling manjur tetap aku."
"Itu juga yang dia bilang." Sindy terkekeh di sela air matanya. "Dia bilang dia menyerah dan menyuruhku lari ke sini."
"Kalau begitu," ujar Ibu Aisyah sambil tersenyum yang basah, "jangan berdiri di tangga ini lebih lama lagi. Anakmu sudah lapar dan kita masih punya urusan di kantor Pak Dimas besok."