Kantor Pak Dimas berbau kertas lama dan kopi hitam, dan di meja bundar tempat mereka berempat duduk, map-map dijajarkan seperti kartu yang menunggu dibagikan.
Aksa tidur di kereta bayi pinjaman Sindy yang diparkir di samping kursi Qenna. Kain bedongnya hijau pucat, kaus kaki rajut Alin terselip di salah satu kakinya. Ibu Aisyah duduk di sebelah kiri Qenna, memegang tas besarnya di pangkuan seperti penjaga. Rafa duduk di seberang meja, bersama pengacaranya, dan sepanjang lima menit pertama ia hanya memandangi kereta bayi itu tanpa berani menyentuh pinggirnya.
"Baiklah." Pak Dimas membetulkan kacamata tipisnya dan membuka map paling atas. "Kita mulai dari yang paling pendek, lalu naik ke yang paling penting. Perjanjian ini memuat empat hal. Saya bacakan, lalu Bapak dan Ibu boleh menyela di mana pun."
Ia membaca. Hak asuh Aksa berada pada ibunya, sesuai ucapan Rafa di sidang dan tercatat dalam putusan. Nama anak tetap Aksa, dengan Rafa tertulis sebagai ayah, sebagaimana sudah tertulis di akta kelahiran. Kunjungan ayah setiap Selasa dan Sabtu pukul empat belas, dengan pemberitahuan sebelumnya bila berhalangan. Dan rekening perwalian atas nama Aksa, dikelola ibunya di bawah pengawasan Pak Dimas, tempat Rafa menyetor nafkah tiap awal bulan.
"Besarnya?" tanya Qenna.
"Itu butir yang sengaja saya sisakan untuk dibicarakan." Pak Dimas menatap Rafa. "Pak Rafa sudah mengajukan angka. Menurut saya angka itu lebih besar daripada yang ia mampu sekarang."
"Saya tahu," sahut Rafa cepat. "Tapi saya mau mulai dari angka itu. Kalau usaha saya belum cukup dalam tiga bulan, saya akan jujur dan kita bicarakan lagi. Saya tidak mau memulai dari angka yang kecil lalu menaikkannya bila saya merasa pantas."
Qenna menatap kertas di depannya. Angka itu, bila ia tidak salah baca, hampir setengah dari yang diperkirakan Pak Dimas sebagai gaji Rafa di bawah pengacara Pak Hendro. "Saya tidak mau Aksa makan dari uang yang membuat ayahnya kelaparan," ucapnya. "Turunkan sepertiganya. Naikkan kalau usahamu sudah jalan."
Rafa terdiam. Pak Dimas menahan senyum, mengambil pena, dan mengubah angkanya sambil mencatat dalam hati bahwa ia belum pernah melihat seorang termohon menurunkan nafkah anaknya sendiri demi mantan suaminya.
"Untuk anaknya," bisik Ibu Aisyah di sebelah Qenna, tidak ditujukan kepada siapa pun.
Tanda tangan dibubuhkan satu per satu. Qenna menandatangani dengan tangan yang tidak gemetar. Ketika pena berpindah ke Rafa, lelaki itu menuliskan namanya sangat pelan, seperti anak yang baru belajar menulis dan takut salah huruf.
***
Setelah map-map ditutup dan sekretaris Pak Dimas membawa nampan teh, pengacara itu mohon diri dengan alasan telepon penting. Pengacara Rafa mengikuti. Tinggal tiga orang dewasa dan seorang bayi di ruangan itu.
Qenna membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang lusuh, sudah lama tertekuk di tepinya. Ia menaruhnya di meja dan menggesernya ke seberang.
Rafa mengenali amplop itu dengan sekali lihat. Wajahnya berubah. "Itu ...."
"Dari Mamamu. Hari ia datang ke panti, bersama tawaran rumah di Bintaro." Qenna menegakkan punggung. "Ibu Aisyah menyimpannya terkunci di lemari dapur. Belum dibuka. Aku tidak pernah ingin tahu isinya. Tolong kembalikan kepadanya, dan bilang: aku tidak menjual anakku. Tidak waktu itu, tidak sekarang."
"Aku akan menyampaikannya." Rafa mengambil amplop itu dengan dua tangan. Ia tidak membukanya.
Hening sebentar. Lalu Rafa merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan amplop lain. Cokelat juga, tebal juga. Qenna merasakan perutnya mengerut ketika melihat warnanya, sebab warna itu sama dengan amplop di kontrakannya dulu, di hari ia membakar semua yang berbau Rafa, dan tangan Mama Jamilah menyodorkan tumpukan uang sebelum telapak itu mendarat di pipinya.
Rafa menaruh amplop itu di meja dan tidak mendorongnya. Ia menarik tangannya kembali ke pangkuan.
"Ini hasil penjualan mobil," ucapnya tenang. "Tidak ada yang lain di dalamnya. Tidak ada syarat. Aku tahu warna amplop ini. Aku sengaja tidak mencari yang lain, karena aku mau kamu melihat bedanya, bukan menghindari kesamaannya." Ia mengangkat mata. "Ini bukan untukmu. Ini untuk Aksa, untuk dimasukkan ke rekeningnya hari ini. Kalau kamu tidak mau menyentuhnya, Ibu Aisyah boleh membawanya ke bank."
Qenna menatap amplop itu lama. Ia memikirkan tamparan, rumah di Bintaro, kontrakan dengan pagar tralis yang hanya diselot. Lalu ia memikirkan bayi di sampingnya yang sedang mengisap jempol dalam tidurnya.
"Untuk Aksa," katanya perlahan, "bukan untuk harga diriku."
"Ya."
"Kalau suatu hari kamu merasa uang ini membeli sesuatu dariku, kamu salah."
"Aku tidak merasa begitu." Rafa menggeleng. "Aku merasa ini kecil sekali dibandingkan yang kuambil."
Qenna mengambil amplop itu dan memasukkannya ke tasnya, di sebelah yang kosong. "Aku akan memasukkannya ke rekening Aksa sore ini. Dengan Pak Dimas."
Rafa mengembuskan napas panjang yang tertahan sejak ia masuk ruangan.
"Satu lagi," ucapnya, ragu. "Kunjungan hari Sabtu. Aku tahu jadwalnya di ruang depan, dan aku tidak keberatan. Tapi ... boleh kalau Sabtu kami di taman? Taman yang dekat panti, yang ada ayunan bunga, di ujung gang. Aku ingin membawa Aksa melihat pohon. Bukan karena ruang depan itu buruk. Aku ingin dia tahu ayahnya bisa membawanya keluar."
Qenna tidak menjawab seketika. Ia memandang Ibu Aisyah.
"Syaratnya satu," ucapnya. "Ibu Aisyah menemani. Duduk di bangku, tidak jauh, dan Aksa tidak dibawa melewati bangku itu."
"Setuju."
"Dan tiga puluh menit, bukan sejam. Dia masih kecil."
"Setuju." Wajah Rafa melunak, nyaris tersenyum, nyaris takut tersenyum.
Dari kereta bayi terdengar rengekan kecil, disusul batuk, disusul gerak tangan yang mencari-cari pinggir bedong. Aksa membuka mata, menatap langit-langit kantor yang asing, dan mulai menimbang apakah ia perlu menangis.
Qenna melihat Rafa menahan tangannya di atas meja, jari-jarinya mengepal supaya tidak terulur sendiri.
"Mau menggendongnya?" tanyanya.
"Boleh?"
"Kamu sudah bertanya. Itu cukup."
Rafa berdiri, menggosokkan telapak tangannya ke celana, lalu membungkuk dan mengangkat Aksa seperti yang diajarkan Qenna di hari-hari Selasa: satu tangan di bawah kepala, satu di pantat, siku dirapatkan. Bayi itu mengerutkan wajah, mengamati dagu ayahnya yang belum bercukur, lalu menepukkan tangannya ke pipi lelaki itu dengan kekuatan yang sama sekali tidak ia sengaja.
"Dia memukulku," bisik Rafa, nyaris tertawa.
"Itu salam."
"Salam yang bagus." Ia menatap wajah kecil itu. "Sabtu, Nak. Di taman. Ayah akan menunjukkan pohon."
Ibu Aisyah, yang sepanjang pertemuan tidak berkata lebih dari tiga kalimat, meletakkan cangkirnya dan menatap lelaki itu lurus. Dalam beberapa detik Rafa tampak mengerut seperti anak yang menanti vonis dari guru tua.
"Nak Rafa."
"Ya, Bu."
"Terima kasih sudah selesai dengan benar." Suaranya lembut dan tidak ada celah di dalamnya. "Banyak orang menyesal dan berhenti di situ. Kamu menyesal, lalu kamu mengerjakan sisanya. Itu jarang."
Rafa menunduk dalam-dalam. Ketika bahunya mulai bergetar, Ibu Aisyah hanya menggeser sepiring biskuit ke arahnya dan berpaling pada Qenna, memberi lelaki itu ruang.
***
Mereka pamit pukul dua belas. Di lift, Qenna mendorong kereta bayi dan Ibu Aisyah menekan tombol lantai dasar. Ponsel Qenna bergetar di dalam tas. Pesan dari Sindy.
"Qen, jangan ke mana-mana Kamis sore. Hans bilang mau 'mampir' ke panti dan mengetik titik di akhir kalimat. Hans tidak pernah pakai titik. Aku curiga ia sedang membawa sesuatu yang besar."
Qenna membacanya dua kali, lalu mengetik balasan dengan satu tangan sementara tangan lainnya mendorong kereta bayi. "Siap. Aku tidak ke mana-mana. Tapi jangan bilang ke Hans bahwa aku sudah tahu."
Tiga titik muncul di layar, menghilang, muncul lagi. Balasan Sindy akhirnya masuk saat pintu lift terbuka di lantai dasar.
"Terlambat. Dia sudah tahu kamu tahu."