"Kamu boleh menyuruhku memutar balik kapan saja," ucap Armand tanpa menoleh dari kemudi. "Sampai tepat di depan gerbang mereka pun boleh."
Qenna duduk di kursi belakang, Aksa di pangkuannya dalam gendongan kain, Ibu Aisyah di sisinya dengan tas besar dan topi rajut yang ia pakai untuk acara yang dianggapnya penting. Rumah-rumah di kompleks itu tinggi, bergerbang besi, dan masing-masing menyimpan halaman yang lebih luas dari panti. Ia sudah pernah melewati jalan seperti ini, di hari Mama Jamilah mengusirnya, dan tubuhnya mengingat itu lebih dulu daripada pikirannya.
"Tidak perlu," jawabnya. "Saya bilang datang, saya datang."
"Aku hanya mengingatkan."
"Armand." Ia tidak merasa perlu menambahkan kata lain. Lelaki itu melirik kaca spion, menangkap matanya sebentar, dan tidak berkata apa-apa lagi.
Rumah Papa Ahsan bercat putih gading dengan tangga marmer di teras. Pintu terbuka sebelum Armand sempat mematikan mesin. Mama Sulastri berdiri di sana dengan kebaya biru telur asin dan tangan bertaut di depan perut, sementara di belakangnya, bertumpu pada tongkat kayu hitam, Papa Ahsan menunggu dengan lengan kiri yang masih tergantung agak kaku di sisi tubuhnya.
Siska berdiri paling belakang, di dekat tiang. Ia memakai gamis abu-abu sederhana. Tidak ada kacamata di kepalanya.
***
Meja makan itu cukup panjang untuk dua puluh orang, dan hari ini hanya tujuh yang duduk, dikelompokkan di satu ujung. Ibu Aisyah di samping Qenna. Aksa tertidur dalam gendongan kain. Di seberang, Papa Ahsan di kepala meja dengan Mama Sulastri di sebelah kanan, Siska di kiri, dan Armand di ujung yang paling dekat Qenna, tetapi dengan satu kursi kosong di antara mereka.
Mereka makan lima menit dalam hening yang berat. Gulai ikan, sayur asem, tempe goreng, makanan rumah yang bukan makanan pesta, dan itu satu-satunya hal yang membuat Qenna merasa boleh bernapas. Mama Sulastri sesekali melirik Aksa lalu mengalihkan pandang, seperti takut pandangannya terlalu berat untuk bayi sekecil itu.
Armand meletakkan sendoknya.
"Pa." Suaranya tenang dan rendah. "Aku mau bicara sebelum makan selesai. Boleh?"
Papa Ahsan mengangguk satu kali. Siska menunduk.
Armand menegakkan punggung dan menghadap Siska, bukan ayahnya. "Siska, hari di hotel itu aku meninju Robi dua kali. Itu bukan yang mau aku akui. Yang mau aku akui, aku mendorongmu sampai kepalamu membentur dinding, dan sesudahnya aku menarik tanganmu sampai ke mobil walaupun kamu menolak. Aku marah, aku merasa dikhianati, dan aku memakai itu sebagai alasan. Itu salah. Itu bukan hakku. Aku tidak pernah meminta maaf secara langsung karena aku terlalu sibuk merasa benar." Ia menarik napas. "Aku minta maaf. Aku tidak minta kamu memaafkanku. Aku hanya mau kamu dengar bahwa aku tahu itu salahku."
Siska memegang gelasnya dengan dua tangan, buku jarinya putih.
"Mas," ucapnya akhirnya, serak. "Kepalaku memang sakit tiga hari."
"Aku tahu."
"Aku menyimpannya sebagai bukti bahwa aku benar. Bahwa kamu jahat. Itu enak, Mas, menyimpan bukti." Siska mengangkat wajah. "Tapi bukan itu seluruhnya, dan aku tahu itu juga."
Papa Ahsan berdeham. Tongkatnya diletakkan pelan di sandaran kursi.
"Giliran Papa," katanya. Kata-katanya lambat, setiap kalimat menunggu napas. "Siska, kamu dengar Papa. Papa menjodohkan kamu dengan Armand bukan karena Papa kira kalian cocok. Papa menjodohkan kalian karena Papa dan Galih punya kepentingan, dan kamu anak Papa. Waktu kamu menolak, Papa tidak mendengarkan. Papa mengancam akan mencoret namamu dari kartu keluarga. Papa menamparmu di ruang tamu itu." Ia menatap putrinya tanpa mengelak. "Itu bukan mendidik. Itu memaksa. Papa minta maaf."
Mama Sulastri menutup mulut dengan tangan, matanya sudah basah sejak awal.
Siska diam lama sekali. Aksa menggeliat dalam gendongan, dan Ibu Aisyah menepuk punggung kecilnya dengan irama yang tidak berhenti.
"Papa tidak perlu ...." Siska menggeleng. "Terima kasih, Pa. Aku dengar."
Lalu ia menoleh, bukan pada ayahnya, melainkan pada Armand dan Qenna sekaligus.
"Sekarang giliranku," ujarnya. "Dan aku akan bilang hanya bagianku. Bukan seluruhnya, karena Papa dan Mas Armand sudah bilang bagian mereka, dan aku tidak mau mengambil bagian orang lain untuk merasa lebih besar atau lebih kecil." Ia menarik napas dalam. "Aku mengirim pesan anonim pada Mama Ningsih. Aku membuntuti Mas Armand, dan membuntuti kamu, Qenna. Di lobi, aku mempermalukan kamu di depan seluruh kantor yang sedang melihat. Aku menyebut kamu sesuatu yang aku tahu tidak benar, karena aku butuh seseorang yang bisa kusalahkan atas semua yang terjadi padaku."
Qenna menatapnya.
"Aku minta maaf," lanjut Siska. "Kepada Mas Armand dan kepada kamu. Aku tidak minta dimaafkan. Aku tidak berhak."
Ruangan itu begitu hening sehingga denting jam dinding di ruang tamu terdengar dari sini.
"Saya mendengar Ibu," ucap Qenna pelan. "Dan saya tidak akan bilang tidak apa-apa, karena itu bohong. Tapi selimut yang Ibu rajut sudah dipakai. Aksa tidur di bawahnya tiap malam."
Siska menekan bibir dan mengangguk berkali-kali. Air matanya jatuh ke piring, ke gulai ikan yang belum habis.
Mama Sulastri bangkit dari kursinya, memutari meja dengan langkah yang hampir tidak ia sadari, dan memeluk putrinya dari samping. Siska menenggelamkan wajah di bahu ibunya, dan untuk beberapa saat tidak ada bunyi selain isak dan napas orang yang lama sekali menahan sesuatu.
***
Papa Ahsan menunggu sampai ruangan reda. Ia mengambil gelas teh dengan tangan kanannya, minum perlahan, lalu mengalihkan pandangan ke Armand dan, sesudah itu, ke Qenna, lama.
"Armand."
"Ya, Pa."
"Papa tidak tahu apa yang ada di antara kamu dan Ibu ini." Ia melirik Qenna, lalu Ibu Aisyah, seakan mencari izin. "Dan Papa tidak akan bertanya. Itu urusan kalian, dan Papa sudah cukup membuat kekacauan karena ikut campur urusan anak orang. Tapi Papa mau kamu dengar satu hal dari mulut Papa sendiri."
"Papa tidak perlu ...."
"Dengar." Suaranya tidak keras, tetapi tak ada yang berani memotong. "Kamu akan menemukan perempuan yang pantas untukmu, Nak. Atau mungkin sudah menemukannya. Kalau begitu, Papa tidak akan menghalangi, dan Papa tidak akan merasa punya hak untuk menilai. Itu restu Papa. Kecil, tetapi tulus."
Armand menunduk. Ia tidak menjawab, dan Qenna melihat rahangnya bergerak menahan sesuatu.
"Terima kasih, Pa."
Ibu Aisyah, yang sepanjang makan siang tidak berbicara, meletakkan serbetnya di meja dan menatap Papa Ahsan dengan tatapan tenang. "Pak Ahsan, anak-anak kita tumbuh karena orang tua mereka belajar. Terlambat bukan berarti tidak berguna."
Papa Ahsan tersenyum tipis, senyum pertama yang tampak di wajahnya hari itu.
***
Dalam perjalanan pulang, lewat tol yang lengang, Aksa sudah terbangun dan menatap langit-langit mobil dengan mata bundar. Ponsel Armand yang ia taruh di dasbor menyala. Nama "Mama" muncul, dan ia menekan tombol tolak dengan cepat, lalu menoleh ke Qenna lewat kaca spion dengan wajah bersalah.
"Mama Ningsih," katanya. "Aku telepon balik nanti."
"Jawab saja."
"Kamu yakin?"
"Saya yakin." Qenna tidak perlu mengatakan bahwa ia mengira tahu isinya.
Armand menghubungkan panggilan lewat pengeras suara. Suara Mama Ningsih terdengar riang dan sedikit gugup. "Armand, sudah selesai makan siangnya? Dengar, Mama dan Papa mau bertemu Ibu Aisyah. Senin pagi, ke panti. Mama sudah ...."
"Sudah, Bu Ningsih," sela Ibu Aisyah dari kursi belakang, tersenyum miring tanpa membuka mata. "Ibu yang bilang boleh, Rabu lalu. Senin pukul sepuluh, kan? Ibu sudah beli teh yang bagus."