Pukul sepuluh kurang lima, Ibu Aisyah sudah membetulkan taplak meja di ruang depan untuk ketiga kalinya.
"Bu, taplaknya sudah lurus," ujar Qenna dari ambang pintu dapur, Aksa dalam gendongan kain di dadanya.
"Lurus menurut Ibu belum tentu lurus menurut Bu Ningsih." Ibu Aisyah menarik ujung kain sekali lagi, lalu mundur dua langkah untuk menilai hasilnya. "Teh sudah. Kue lapis sudah. Kursi rotan Ibu geser ke dekat jendela supaya Pak Galih tidak perlu menunduk waktu duduk. Andin! Sandal anak-anak sudah disusun?"
"Sudah, Bu!" teriak Andin dari teras, disusul derap kaki yang jelas bukan derap anak yang sedang menyusun sandal.
Qenna mencium kepala Aksa. Bayi itu menguap lebar, tidak peduli betapa pentingnya pagi ini bagi seisi rumah. Sejak semalam Qenna sudah tiga kali memutuskan akan bersikap biasa saja, dan tiga kali pula tangannya dingin sendiri.
Sedan hitam itu masuk gerbang tepat pukul sepuluh. Armand turun lebih dulu, membukakan pintu belakang untuk ibunya, lalu untuk ayahnya yang keluar dengan satu tangan bertumpu pada tongkat. Mama Ningsih membawa kotak berpita krem. Papa Galih membawa wajah keras yang, kata Armand dulu, sebenarnya hanya wajah orang yang gugup.
"Assalamualaikum," sapa Mama Ningsih.
"Waalaikumsalam. Ayo, ayo masuk, Bu. Pak." Ibu Aisyah sudah di ambang pintu, memakai kerudung terbaiknya.
Papa Galih berhenti di tengah ruang depan. Matanya jatuh ke kursi rotan yang bergeser ke dekat jendela, dengan bantal tambahan di sandarannya.
"Kursi ini sengaja ditaruh di sini?"
"Supaya Bapak tidak perlu menunduk," sahut Ibu Aisyah.
"Sudah lama tidak ada yang memikirkan lutut saya." Papa Galih berdehem, lalu duduk dengan gerak yang mencoba tampak tidak terharu. "Terima kasih, Bu."
Andin mengintip dari pintu samping, melihat Qenna, dan menghilang dengan cekikikan yang tidak berhasil ia sembunyikan.
***
Teh dituang. Mama Ningsih menaruh kotak berpitanya di meja, lapis legit, dan tidak menyentuh cangkirnya karena matanya sudah terkunci pada Aksa.
"Boleh, Nak?"
Qenna menyerahkan bayinya. Mama Ningsih menerimanya dengan dua lengan yang sudah hafal caranya, lalu menunduk, dan Aksa menatap wajah itu dengan keseriusan seorang direktur. Papa Galih menjulurkan tangan dari kursi rotannya, minta giliran. Aksa berpindah ke lengannya, mengerutkan alis, dan memajukan bibir bawah seperti hendak protes.
"Galak sekali," gumam Papa Galih, persis seperti di hari tujuh itu. Tetapi ibu jarinya mengusap pipi kecil itu tiga kali, pelan, dan Aksa berhenti merengek.
Armand duduk di ujung sofa yang paling jauh dari Qenna, punggungnya tegak, dua tangannya tertaut di antara lutut.
"Kami datang bukan untuk memutuskan apa pun," ujar Papa Galih setelah menyeruput tehnya. "Anak ini yang minta kami ikut. Saya bilang kalau dia mau bicara, bicara saja. Ayahnya jarang sekali menyuruh orang lain yang bicara untuknya."
"Pa," gumam Armand.
"Silakan." Ibu Aisyah meletakkan cangkir. Suaranya tenang, tetapi jarinya sedikit gemetar di tepi tatakan. "Bicaralah, Nak. Ibu mendengar."
Armand berdiri. Ia menghadap Ibu Aisyah, bukan Qenna, dan Qenna paham itu disengaja.
"Bu, saya bicara di depan Ibu dan orang tua saya karena Ibu yang membesarkan Qenna. Saya tidak melamar hari ini. Qenna sedang dalam masa iddah, dan saya tidak akan menanyakan apa pun yang belum menjadi hak saya." Ia berhenti sebentar, memilih kata. "Saya hanya mau Ibu mendengarnya dari mulut saya sendiri: saya akan menunggu sampai masa iddah itu selesai."
Ibu Aisyah memandangnya lama.
"Menunggu itu mudah diucapkan, Nak. Yang berat apa yang dikerjakan tangan dan kaki selama menunggu."
"Saya paham, Bu. Saya pernah datang ke hidup orang tanpa diundang. Saya tidak mau mengulangnya."
Ruangan itu sunyi. Di luar, seorang anak berteriak menagih giliran ayunan.
"Qenna," panggil Ibu Aisyah pelan. "Ini bagianmu. Ibu tidak bisa menjawab untukmu."
Qenna menggenggam jari-jarinya di pangkuan. Semalam ia sudah menyusun jawaban, tiga versi, dan semuanya hilang begitu Armand berdiri dengan bahu setegang itu.
"Armand," katanya. Lelaki itu menoleh. "Saya mendengar. Terima kasih kamu sudah bilang di depan Ibu, bukan di belakang."
"Itu satu-satunya cara yang kuanggap pantas."
"Dan jawaban saya bukan 'tidak'." Ia melihat napas lelaki itu tertahan, lalu dilepas pelan-pelan. "Tapi saya belum bisa bilang 'ya' hari ini, bukan karena saya ragu padamu. Karena saya tidak mau menjawab sambil masih membawa sisa yang lama. Tolong tanya sekali lagi nanti. Saya mau menjawab dengan hati yang sudah selesai."
Armand tidak menjawab seketika. Tangannya turun dari kerah kemeja yang tadi tak sadar ia rapikan.
"Aku akan bertanya," ucapnya akhirnya. "Sekali lagi. Nanti."
"Dan jangan bawa Hans untuk menghafalkan kalimatnya."
Mama Ningsih tertawa lebih dulu, tertahan, disusul Papa Galih yang pura-pura batuk. Ibu Aisyah menutup mulut dengan punggung tangan. Armand, yang telinganya merah sampai ke pangkal rambut, ikut tertawa, pendek dan serak, tawa orang yang baru saja dilepaskan dari beban yang ia sendiri tidak tahu seberat itu.
***
Mama Ningsih menyerahkan Aksa kembali ke gendongan Ibu Aisyah dengan hati-hati, lalu menghampiri Qenna.
"Mama boleh peluk kamu?"
Qenna mengangguk. Pelukan itu hangat dan berbau bedak tipis, dan Mama Ningsih memeluknya lebih lama dari yang ia duga. Di telinganya terdengar bisikan, "Terima kasih sudah jujur sejak hari pertama kita bertemu di pantry itu. Mama takut, dan kamu tetap jujur."
"Saya juga takut, Bu."
"Mama tahu." Mama Ningsih melepaskannya, menyeka sudut mata dengan jari. "Itu sebabnya Mama percaya."
Papa Galih menaruh cangkirnya. Ia menatap Qenna dari kursi rotan dekat jendela, dan sekali lagi wajahnya tampak keras sebelum akhirnya melunak.
"Nak Qenna. Saya ...." Ia berdehem, memulai ulang. "Papa dan Mama sudah restu. Apa pun jawabanmu nanti, restu itu tidak ditarik. Kalau kamu bilang 'ya', kamu masuk keluarga kami. Kalau kamu bilang 'tidak', kamu tetap boleh datang ke rumah dan Aksa tetap boleh memanggil saya Kakek. Itu bukan tawar-menawar."
"Terima kasih, Pak."
"Papa." Ia mengerutkan dahi seolah salah mengucapkan sesuatu. "Kamu boleh panggil Pak dulu. Saya belum terbiasa dengan diri saya sendiri."
Ibu Aisyah tersenyum, senyum yang jarang ia perlihatkan di depan orang yang baru dikenal. "Teh yang bagus itu ada separuh teko lagi, Pak. Kita habiskan sebelum dingin."
Mereka berada di teras ketika matahari sudah condong. Andin dan anak-anak mengantar sampai ke mobil, Mama Ningsih sudah duduk di dalam dengan Papa Galih. Armand berdiri di sisi pintu pengemudi, sengaja menyisakan jarak lebar dari Qenna, dan Ibu Aisyah di kursi plastik hijau tidak lebih dari lima langkah.
"Kamu tidak makan kuenya," ujar Qenna. Hanya itu yang sempat terpikir olehnya.
"Aku makan tiga potong. Kamu tidak melihat karena sibuk menghitung napasku." Sudut bibir Armand terangkat. "Lapis legitnya enak. Mama baru bisa membuatnya sebagus itu sesudah delapan kali gagal."
"Sampaikan terima kasih saya."
"Disampaikan."
Ponsel di saku Armand bergetar. Ia melihat layarnya, lalu mengangkat wajah.
"Dari Rafa," katanya. "Semalam dia juga mengirim pesan, tapi belum kubalas. Ini yang kedua."
Qenna menunggu.
"Dia minta bertemu. Bicara berdua saja. Aku tidak akan pergi kalau kamu keberatan."
"Kenapa kamu cerita ke saya?"
"Karena aku tidak mau kamu mendengar tentang pertemuan itu dari orang lain. Sudah cukup dengan cara-cara lamaku." Armand menyodorkan layar ponselnya, tanpa mendekat selangkah pun. "Dia menulis, 'Bukan untuk meminta apa-apa.'"
Qenna membaca kalimat itu dari jarak sedepa, lalu mengembalikan pandangannya ke wajah Armand.
"Kalau Rafa bilang bukan untuk meminta apa-apa," ucapnya, "berarti dia memang mau meminta sesuatu."