Di pandanginya pantulan raut wajah serta tubuhnya di dalam cermin, sudah 5 tahun berlalu, postur tubuh Caera pun tidak seseksi dulu apa lagi wajahnya yang sekarang lebih menampakkan kemuraman karena beban berat hidup yang ia pikul.
Memiliki 2 anak yang di rawatnya seorang diri mengubahnya menjadi sosok ibu sekaligus ayah yang di haruskan berjuang demi kelangsungan hidup anak-anaknya.
Seharusnya jalan hidupnya tidaklah seperti ini, namun takdir Tuhan berkata lain.
Caera telah kehilangan suaminya yang memilih mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri karena tidak sanggup menghadapi lilitan hutang yang menumpuk.
Tanpa suaminya memikirkan setelahnya Caera lah yang harus menanggung semuanya.
Setelah kematian suaminya Lian, kedua orang tuanya Caera beruntun menyusul meninggal karena sakit, antara lain mereka kaget jatuh miskin.
Memang benar dulu Caera termasuk keluarga berada, hidup di lingkungan yang serba berkecukupan tidak merasa kekurangan. Sampai ia di jodohkan dengan Lian yang jauh umur di atasnya seseorang terkenal pedagang kaya raya yang jaya.
Banyak kelebihan dari Lian tidak hanya mempunyai segalanya tapi Lian sosok yang tampan dan baik hati.
Setelah menikah pun pria itu menjelma menjadi suami yang sangat bertanggung jawab, tapi sangat di sesali di balik semuanya Lian menyimpan rahasia yang tidak pernah Caera tahu.
Setelah melahirkan putra pertama mereka, Lian ternyata mengalami kebangkrutan yang ia terus tutupi dengan berhutang semakin lama semakin menumpuk, karena untung juga tidak bisa di raih seperti dulu dari hasil berdagangnya.
Akhirnya depresi beratlah mengantarkan Lian pada tidur abadi, meski cara di ambil suaminya sangat salah.
Caera mengusap air matanya yang menetes, ia menoleh pada Zio berumur 5 tahun dan Maura berumur 3 tahun. Mereka kedua anak yang baik selalu mengerti kondisi ibunya.
Untuk menyambung hidup, Caera berdagang kue yang di olahnya sendiri menawarkannya pada tetangga sekitar, kalau kue sudah habis ia pun buru-buru pergi ke villa yang sering di sewa pengunjung yang berlibur ke desa untuk di bersihkan yang upahnya cukup lumayan.
Memang setelah suami dan orang tuanya meninggal rumah di kota sudah habis terjual menutupi hutang, Caera terpaksa lari ke desa bersembunyi di sini dari penagih hutang yang tidak henti menerornya.
Menempati rumah sederhana harta satu satunya peninggalan warisan mendiang orang tuanya, di sinilah Caera memulai hidup baru menutup kenangan pahitnya.
Sekelebat masa lalu saat ia melajang terlintas di benaknya, dulu Caera banyak di kelilingi para sabahat yang selalu bersama dalam melakukan hal apapun.
Ria, vero dan Vivian adalah ketiga sahabat Caera menarik Caera ke dalam sebuah club ternama di kota Jakarta.
Caera menatap heran ketiga sahabatnya yang sengaja menjemputnya ke rumah, berdalih mengajak Caera untuk makan malam tapi nyatanya mereka malah menuju ke tempat hiburan malam.
"Buat apa sih ke sini, ayo pulang nanti ayah ibuku marah." kata Caera enggan masuk.
"Hei...kamu mau kemana tetap di sini." kata Vivian.
"Kamu kan mau melepas masa lajang satu bulan lagi, maka kami akan mengadakan pesta untuk mengakhiri masa bebasmu." sahut Ria.
"Gak ah, pamali tahu pesta ginian." protes Caera karena sudah di peringati ibunya saat seorang perempuan ingin menikah jangan berbuat hal aneh.
"Norak tahu, ayo Caera enjoylah, bisa saja kan ini malam terakhir kamu bersenang-senang sebelum menjadi istri dari pria tua kaya raya." Kekeh Vero.
"Sial mulutmu, Lian biar tua tapi tampan." Sahut Vivian menepuk bahu Vero kuat.
Musik yang di putar Dj semakin nyaring memekakan gendang telinga, ketiga sahabatnya itu tetap menarik Caera ke meja bartender memesan berapa botol minuman dan mereka bersulang bersama.
Caera menolak karena rasa pusing mendera saat ketiganya lari ke lantai dansa meliukan tubuh mereka.
Berdiam diri di kursi sesekali senyumnya terukir saat ketiganya meneriakan nama Caera agar ikut bergabung tapi Caera tetap enggan, memang di antara sahabatnya Caera paling polos, meski ia tidak munafik pernah minum sekali dua kali tapi ini paling parah sampai rasanya penglihatannya berputar.
Perut Caera bergejolak, buru-buru ia beranjak dari kursinya melangkah sempoyongan menutup mulutnya, rasanya sudah tidak tahan lagi saat ada seseorang bertubuh tinggi menghalangi jalannya.
"Misi Tuan." kata Caera.
"Kamu tidak lihat aku berjalan pada semestinya, kamu yang menghalangi langkahku." sahut pria itu.
Rasanya sudah tidah tahan lagi Caera akhirnya muntah di depan pria itu yang sedikit mengenai sepatunya.
Pria itu membuka mulutnya takjub atas sambutan tidak sopan wanita yang sama sekali tidak di kenalnya.
"Kamu ini!" Pria itu menunjuk Caera kesal.
Senyum kecil mengembang di bibir Caera yang menyesal dengan tingkah memalukannya.
"Maaf!" Katanya dengan tatapan meredup.
Pria itu memperhatikan Caera dari atas sampai ujung kaki.
Ia akui kedatangannya ke club memang ingin bersenang senang, para sahabatnya selalu mengejeknya pria yang gila kerja sampai mengira dia homo karena tidak pernah terlihat menghabiskan waktu bersama dengan seorang wanita.
"Kamu mau kan Tuan memaafkanku." Kata Caera memasang wajah memohon.
Cukup cantik dan seksi, rasanya wanita ini pas untuk membantunya, lagian wanita ini terlihat mabuk pasti tidak sadar sepenuhnya apa yang terjadi.
Mengejutkan Caera, pria itu merangkul pinggangnya mengajaknya berjalan beriringan.
"Tuan, kamu mau ajak aku kemana?" tanya Caera panik.
"Panggil aku Kano." katanya masih merangkul paksa Caera.
Caera mengejapkan matanya saat sampai di sebuah ruangan, di hadapannya terlihat sekumpulan pria berjas yang asik duduk di temani beberapa wanita penghibur.
"Aku harus pergi." Kata Kano pada semua rekannya.
"Siapa dia Kano?" tanya salah satunya menatap menyelidik pada Caera yang kebingungan.
"Teman kencan." jawab Kano singkat.
"Waw, jangan lupa kamarnya! "sorak mereka bersamaan.
Kano tidak mendengarkan lagi omongan mereka, menarik Caera keluar memasuki lift menuju lantai atas.
"Tuan..aku harus.,." ucap Caera tersendat saat Kano melirik tajam padanya membuat Caera bergidik.
"Aku hanya meminta waktumu sedikit, anggap saja bayaran atas hasil muntahanmu ke sepatuku."
Caera menuduk cemberut sesekali di pukulnya pelan kepalanya yang pening.
"Salah satu rekanku sudah menyewakan kamar di tempat ini yang harus aku tempati bersama seorang wanita, mungkin kamu orang tepat bisa melakukan itu."
Deg.
Refleks pupil mata Caera membesar, dengan menyilangkan kedua tangan ke depan dadanya.
"Jangan bilang Tuan..?" kata Caera membuka mulutnya syok akan pikiran negatifnya tentang lelaki ini.
"Jangan bodoh untuk apa aku menghabiskan malamku dengan wanita nakal sepertimu."
"Apa, aku nakal? asal Tuan tahu aku berada di sini karena melepas masa..."
Bunyi lift terbuka, Kano menarik tangan Caera yang belum sempat menyelsaikan kalimatnya.
Sempoyongan Caera pasrah saat Kano membawanya ke sebuah kamar.
Tubuh Caera limbung, dengan sigap Kano menariknya hingga terbentur ke d**a bidangnya.
Caera menahan nafasnya saat tatapan Kano tertuju pada bibirnya. Jempol jari pria itu mengusap bibir bawah Caera lembut.
"Kamu memiliki bibir yang indah." bisik Kano.
Caera meneguk salivanya, ia memundurkan kepalanya saat Kano semakin mendekat.
Deg. Tangan Kano semakin melingkar erat di pinggangnya, mengurungnya kuat. Tidak bisa di cegah Kano mengecup bibir Caera.
Hanya kecupan beberapa kali, Kano menjauh menatap wajah Caera yang memerah membuka matanya, tatapan Kano seakan meminta persetujuan.
Sangat bodohnya Caera mengangguk samar, merasa mendapatkan lampu hijau Kano kembali mencium bibir Caera yang di sambutnya pasrah.
TBC