Caera tersentak dari lamunannya saat mendengar Maura terbangun minta air minum, segera Caera beranjak mengambilkan segelas air putih untuk putrinya lalu kembali membantu Maura meminumnya.
Sampai tandas Maura minum dan tertidur lagi, Caera meletakan gelas kosong di meja nakas, memandangi wajah putrinya sangat kasihan. Sudah seminggu Caera belum bisa membelikan s**u untuk Maura, keuangannya sangat terbatas karena beberapa hari ini hujan di pagi hari terus turun hingga jualan kue Caera sering tidak habis dan ia tidak bisa mendapatkan uang.
Untuk berhutangpun ke warung milik tetangga Caera tidak memiliki nyali lagi karena beberapa hutang mengambil bahan sembako belum ia bayarkan. Walau sebenarnya para tetangga di dekat pemukiman Caera tinggal sangat ramah dan baik padanya.
"Sabar ya Nak, Ibu pasti akan lebih giat lagi mencari nafkah buat kalian agar kalian nanti tidak kekurangan lagi seperti saat ini, maafkan Ibu." Gumam Caera, manik matanya berkaca-kaca menatap Zio dan Maura bergantian. Anak-anaknya sumber kebahagiaan Caera dalam keterbatasan yang menghimpitnya. Mungkin kalau bukan karena anak-anaknya Caera sudah gila.
Malam semakin larut tidak juga membuat Caera mengantuk, ia masih terjaga terlalu sibuk dengan masalah yang membelit pikirannya. Jujur Caera tidak sanggup lagi rasanya menghadapi tekanan yang ia hadapi. Namun ia harus memaksakan langkahnya, dan hanya berharap pada Tuhan untuk mengurangi bebannya dan menguatkan dirinya yang telah rapuh.
Semoga saja penagih hutang yang di tinggalkan mendiang suaminya tidak menemukan mereka di desa ini, harapan yang selalu di sematkan dalam setiap doanya pada Tuhan.
Tentu ia takut dan tidak mampu membayangkan para penagih hutang itu menemukan jejaknya dan akan melakukan kekerasan terutama pada anak-anaknya. Mengingat dulu ia hidup dalam ancaman mereka yang setiap hari datang memaksa Caera melunasi semua hutang suaminya. Caera tidak sanggup memilih pergi demi anak anaknya agar tidak di selimuti ketakutan lagi.
Caera membaringkan tubuhnya di atas ranjang menatap kosong pada langit langit kamar yang catnya sudah sangat kusam. Perlahan matanya terpejam berusaha tidur karena banyak aktivitas pekerjaan yang menunggunya besok hari.
***
Untunglah pagi ini cuaca tidak mendung, sinar matahari masih berkenan menampakan diri. Lekas Caera di sibukan dari membikin kue, membersihkan rumah, menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya lalu memandikan mereka untuk menyerahkan penjagaan Zio dan Maura pada tetangganya.
Beliau bernama Bibi Inggrid berusia 58 tahunan, kebaikan Bibi Inggridlah yang mau menjaga kedua buah hatinya selama Caera mencari nafkah tanpa di upah, hanya Caera memberikan beberapa kue yang di bikinnya pada Bibi Inggrid sebagai balasan tanda kebaikan wanita itu padanya yang berkenan menjaga anak-anaknya, setidaknya Caera tenang Zio dan Maura di jaga orang yang tepat di percayai Caera.
"Titip anak -anak ya Bi." kata Caera ramah pada wanita itu.
"Tentu Caera, kamu tidak perlu cemas." pandangan Bibi Inggrid mengarah pada Zio dan Maura. "Sini anak-anak, sama Nenek dulu." kata Bibi Inggrid pada Zio dan Maura, mendekati Inggrid memeluk wanita paruh baya itu.
Caera tersenyum melihat kedekatan kedua anaknya pada Bibi Inggrid yang sudah menganggap Zio dan Maura seperti cucu sendiri.
"Ini kue untuk Bibi." Kata Caera menyodorkan bungkusan pada wanita tua itu.
"Kenapa harus repot Caera, Bibi sudah bilang kamu jual saja kue ini untuk mendapatkan tambahan penghasilanmu, Bibi bisa beli kue ini padamu jangan selalu kamu berikan pada Bibi secara cuma-cuma."
"Tidak mengapa Bi, aku sangat ikhlas sekali memberinya dan sangat senang Bibi mau menerima dan memakan kue ini." Kata Caera di balas senyuman Inggrid yang menerima kue tersebut.
"Terima kasih, Bibi selalu mendoakanmu semoga rezeki dari Tuhan selalu di limpahkan padamu, Caera."
"Amin. Caera pergi dulu Bi."
Caera pamit sebelumnya ia mengecup pipi kedua buah hatinya lalu bergegas berjualan, menjajakan kuenya keliling perdesaan.
Menjelang tengah hari Caera mengusap keringat di keningnya, kuenya akhirnya habis hari ini dan ia mengucap syukur pada Tuhan akhirnya ia mendapatkan uang untuk membeli kebutuhan anak-anaknya. Secepatnya ia melangkah menyusuri jalan untuk segera ke villa di mana Caera menerima upah untuk menbersihkan villa tersebut. Ini memang sangat terlambat hingga Caera menambah laju langkahnya untuk sampai sesegera mungkin.
Mengejutkan Caera sebuah mobil lewat melintas, menerobos genangan air di jalan hingga memercik mengenai pakaian Caera.
Caera menjerit kesal menatap mobil itu yang terus melaju tanpa meminta maaf padanya.
"Sial." Gumam Caera memperhatikan bajunya yang kotor terkena percikan genangan air jalanan. Caera hanya bisa sabar mungkin pengemudi mobil tadi tidak menyadarinya dan Caera harus memaklumi.
"Kenapa kanu menyetir sangat tidak hati-hati?" Kata pria muda berwajah tampan yang asik melihat ponselnya pada pengemudi di depannya.
"Saya kan dulunya seorang pembalap Tuan, jadi Tuan santai saja saya akan mengantarkan Tuan ke tempat tujuan dengan selamat." katanya menyengir.
"Apa yang kamu katakan sungguh tidak lucu, lain kali jangan kamu ulangi lagi atau aku lebih baik mencari pekerja baru untuk menggantikan posisimu." Sahut dingin pria itu membuat lelaki yang menyetir mobil bergidik ngeri dengan ancaman barusan.
"Bai..k Tuan saya tidak akan ngebut lagi, maafkan saya." pengemudi bernama Erik hanya tersenyum terpaksa atas sahutan dari tuannya.
Sampailah mobil berhenti di halaman luas sebuah villa, Erik keluar membukakan pintu untuk tuannya. Kedatangan mereka di sambut pemilik Villa dengan ramah.
"Tuan Shakeel senang anda berlibur di desa kami dan lebih tepatnya anda sudah mau menyewa villa saya." Kata pria itu dengan senyum bahagia.
"Hemm..." gumamnya memperhatikan pemandangan sekitar yang sangat indah, warna hijau dari tumbuhan tanaman mengelilingi Villa tersebut, rasanya sudah lama ia tidak liburan, sibuk dengan bisnisnya dan ini kesempatan untuk meninggalkan pekerjaannya sejenak yang di serah tanggung jawabkan pada manager kepercayaannya.
"Mari Tuan saya tunjukan ruangan di dalam villa yang pasti membuat Tuan nyaman menempati selama liburan di sini, saya yakin Tuan akan betah dan kembali liburan di desa ini." katanya sembari tertawa renyah.
Pria itu melangkah angkuh mengikuti si pemilik villa ingin masuk ke dalam namun tatapannya tidak sengaja tertuju pada seorang wanita yang berjalan cepat ke belakang villa, keningnya mengerut heran.
"Ada apa Tuan?" tanya pemilik Villa.
'Tidak ada, tapi kulihat ada seorang wanita berjalan ke belakang Villa, siapa dia?"
"Oh dia, wanita itu hanya pelayan membantu membersihkan tempat Villa ini Tuan."
Pria itu mengangguk mengerti. melangkah duluan masuk ke dalam Villa. Pemilik Villa sangat antusias menunjukan setiap sudut ruangan namun Kano menganggapnya biasa. Ia lebih ingin cepat beristirahat karena rasa lelah melanda karena perjalanan dari kota ke desa.
Tbc