"Siapa namamu?" Tanya Kano, sementara Caera bergeming mengalihkan tatapannya dari Kano. Di tepisnya tangan Kano yang mencengkram lembut pergelangan tangannya berupaya menjauh dari lelaki itu.
"Apakah nama terlalu penting Tuan, saya hanya pelayan villa di sini tanpa Tuan tahu nama sayapun tidak ada masalah bukan, saya tetap melayani dan memasak untuk Tuan." Kata Caera memberanikan diri. Meski dalam lubuk hatinya terdalam sangat gugup dan kakinya rasanya lemas. Sekuat tenaga bertahan berpijak di lantai.
Kano mengangkat salah satu alisnya, pikirnya wanita ini terlalu sombong padahal cuma pelayan tapi bicaranya sangat tidak sopan pada majikannya, hanya sebuah nama saja tidak mau memberitahu, memang sebagus apa nama wanita ini, batin Kano menghela nafas beratnya.
"Baiklah, kamu benar sekali, aku pun tidak begitu tertarik mendengar namamu. Paling hanya nama kampungan, kan biasa orang-orang rendah seperti kamu, pelayan--- terlalu malu bahkan dengan nama sendiri." kata Kano meremehkan membuat Caera menahan kekesalannya. "Cepat bereskan masakanmu, karena aku juga tidak nyaman ada orang lain di dekatku, membuatku alergi sekali." Kata Kano sinis, berbalik pergi menjauh dari Caera.
Caera menatap sedih punggung Kano dari kejauhan, postur tubuh lelaki yang masih sama seperti dulu, bahkan semakin matang dan maskulin. Ada rasa rindu menyeruak dalam hati Caera namun ia segera menepisnya apa lagi mengingat ucapan Kano barusan yang mengingatkannya orang-orang kelas rendah seorang pelayan. Tentu mereka berbeda dan Caera tak pantas mengingat masa lalunya dengan Kano.
akhirnya Caera bisa bernafas lega saat Kano hilang dari pandangannya, ia menurunkan masker penutup mulutnya, mengusap wajahnya yang pucat.
Hampir saja ia ketahuan, Caera tidak ingin Kano mengenalinya dan berharap Kano sama sekali tidak mengingat kejadian di masa lalu. Semua hanya menambah pelik di dalam kehidupannya nanti. Mungkin hanya perasaan Caera saja, kalau pun Kano mengingat tentang dirinya pastinya lelaki itu enggan mengenalinya, karena Caera bukan wanita seseksi dulu, yang nampak hanya kekusaman karena Caera hampir tidak punya waktu merawat dirinya lagi.
"Aku harus menyelesaikan masakan ini dan pulang." gumam Caera.
Secepatnya Caera menyelesaikan tugasnya memasak dengan perasaan tidak menentu. Akhirnya pekerjaannya selesai, Caera tinggal menata makanan di atas meja dan menutupnya dengan tudung saji, setelah sore nanti dia akan kembali lagi untuk memasak menu makan malam untuk lelaki itu.
Perkerjaan ini memang sangat melelahkan untuknya karena Caera harus bolak balik dari rumah ke villa dengan jarak lumayan jauh membuat kakinya kadang pegal saat berjalan. Caera menatap luar kaca jendela, hujan mulai reda menyisakan sisa rintik hujan dari langit turun ke tanah bumi.
Caera mengenakan maskernya lagi, melangkah ingin berpamitan pulang pada Kano, di lihatnya Kano sedang duduk di sofa dengan tatapan fokus ke layar laptop, lelaki itu nampak sibuk membuat Caera segan menyapa namun Caera harus segera meminta izin untuk pulang, bagaimanapun Kano adalah majikannya.
"Tuan saya pulang dulu, makan siang sudah saya sajikan, Tuan bisa menyantapnya." Kata Caera tanpa di gubris Kano.
Merasa tidak ada tanggapan Caera berbalik ingin melangkah pergi.
"Nanti sore tidak perlu datang menyiapkan makan malam untukku, aku akan makan di luar." Kata Kano menghentikan langkah Caera yang menoleh menatap Kano.
"Baik Tuan." Kata Caera kembali melanjutkan langkahnya.
Tanpa di sadari Caera sebenarnya Kano memperhatikan punggung belakang Caera yang semakin menjauh, Kano mengerutkan keningnya, ia merasa tidak asing pada wanita itu.
"Siapa kamu sebenarnya?" gumam Kano mengerutkan keningnya.
Sepertinya ia harus ke rumah pemilik villa untuk mempertanyakan siapa pelayan di perkerjakan di villa ini dari nama dan identitasnya.
Hanya sebatas rasa penasaran, biasanya Kano terlalu cuek, tapi kali ini ia merasakan perbedaan pada diri Caera, ada sesuatu dari wanita itu yang harus ia ketahui.
Buru-buru Caera pergi meninggalkan villa menuju rumah Bibi Inggrid untuk menjemput dua buah hatinya.
Sampai di sana mereka masih tertidur, Bibi Inggird berjanji akan mengantarkan keduanya ke rumah, sementara Caera untuk pulang duluan sekedar beristirahat.
Tapi Caera menolak ia memilih membangunkan Zio dan Maura untuk pulang bersama, karena Caera takut hujan turun lagi dan menghalangi anak anaknya pulang nanti.
"Ayo Nak kita pulang," kata Caera menggendong Maura yang tertidur, pada Zio yang terbangun mengucek matanya yang masih ngantuk.
"Ibu lama sekali." Gumam Zio parau.
"Ibu banyak pekerjaan hari ini." Jawab Caera lembut.
"Terima kasih Bi Inggrid, kami pulang dulu " kata Caera di balas anggukan wanita paruh baya itu.
"Hati hati, jalanan licin Caera." Kata Bibi Inggrid saat Caera melangkah keluar rumah.
"Iya Bi, terima kasih." Kata Caera tersenyum ramah.
Satu tangan Caera menggandeng tangan Zio menyusuri jalanan perlahan menuju rumah mereka yang tidak berapa lama akhirnya sampai.
Caera membaringkan Maura di atas ranjang, sementara Zio ikutan berbaring karena masih mengantuk.
Di pandanginya kedua buah hatinya, setetes air mata mengalir mengusap rambut Zio putranya. Raut wajah yang sangat tampan berbeda dari mendiang suaminya.
Caera merunduk mengecup penuh kasih sayang kening Maura dan Zio bergantian.
"Ibu menyayangi kalian." Bisik Caera menahan air matanya.
***
Kano mengendari mobil yang ia sewa selama berlibur, meninggalkan villa setelah makan siang, ia menuju rumah pemilik villa tersebut.
Kedatangannya di sambut ramah, Kano hanya duduk di teras tanpa basa basi ia mempertanyakan sosok pelayan yang bekerja di villa.
"Dia seorang janda dengan dua anak, namanya Caera, Tuan." Kata pria tambun itu pada Kano.
"Bisa berikan alamat tempat tinggalnya." Pinta Kano.
Si pemilik villa terlihat berpikir, berhati hati dia bertanya dengan sopan.
"Memang apa Caera melakukan kesalahan Tuan selama bekerja, kalau benar, tolong maafkan dia, biar saya mengganti rugi atas kelalaiannya."
"Sama sekali tidak, dia bekerja dengan baik."
"Syukurlah, saya hanya kasihan padanya, dia wanita janda tidak punya."
Kano tersenyum samar, si pemilik Villa akhirnya memberikan alamat Caera pada Kano, menjelaskan arah jalan agar Kano tidak tersesat.
"Apa Tuan perlu saya antar?"
"Tidak perlu, saya bisa sendiri kalau saya tersesat saya bisa menelpon Bapak." Kata Kano.
Kano menyetir mobilnya perlahan sampai ia memberhentikan nya tidak jauh dari rumah sederhana yang terlihat lusuh.
Kano turun dari dalam mobil, seketika ia ragu melanjutkan langkahnya tapi rasa penasaannya lebih menjadi, maka ia tanpa berpikir lagi melangkah lebar sampai di teras mengetuk pintu rumah pelan.
Terdengar suara wanita dari dalam rumah untuk menunggu tidak lama pintu terbuka.
"Ya siapa?" Tanyanya.
Deg.
Kedua mata Kano terbelalak, ia terlalu terkejut siapa wanita di hadapannya karena sangat ia kenali.
Tbc