"Bibi Inggrid, kan?" Kano sedikit terkejut tenyata di depannya berdiri sosok tidak asing sangat ia kenali yang sudah lama tidak bertemu lagi.
"Tuan Kano!" sapa wanita tua itu dengan manik mata berkaca-kaca, respon memeluk Kano tanpa sungkan lagi karena terlalu senang tapi setelah ia menyadari tindakannya itu terlalu lancang secepatnya Bibi Inggrid menjauh meminta maaf atas sikapnya, namun Kano tidak mempermasalahkannya malah lelaki itu memeluk wanita itu sekali lagi melepas rasa rindu sekian lama tidak bertemu.
"Ini rumah Bibi?" Tanya Kano.
"Iya Tuan Kano, sejak Bibi tidak bekerja di rumah Nyonya besar, Bibi tinggal di sini." Jawab Bibi Inggrid.
"Padahal Papa dan Mama menyayangkan Bibi berhenti bekerja, terutama Mama, dia kesepian tidak ada teman ngobrol." Kata Kano.
"Maafkan saya Tuan, maunya saya juga bertahan di kota tapi rumah di sini tidak ada yang mengurus sejak kakak saya meninggal, jadi Bibi putuskan untuk menetap di sini." Jelas Bibi Inggrid sembari ingatannya terlempar pada saat paling menyenangkan bekerja di rumah Orang tua Tua Kano. Bibi Inggrid sangat dekat dengan Mama Tuan Kano.
"Aku sangat mengerti Bi, Mama pernah mengatakan alasan Bibi berhenti bekerja padaku."
"Begitulah Tuan, dan Bibi senang Tuan berada di sini, tapi kenapa bisa Tuan tahu rumah Bibi?"
"Aku liburan di desa ini, hanya sebentar sih, kebetulan aku mencari alamat ini, taunya nyasar ke rumah Bibi." Kata Kano menyodorkan kertas tertera alamat pada wanita paruh baya itu.
"Ini alamat rumah Caera." sahut Bibi Inggrid mengerutkan keningnya.
"Bibi kenal dengan wanita itu, dia pelayan di villa dimana aku menginap."
"Sangat kenal, rumahnya tidak jauh dari rumah Bibi, Tuan Kano mau ke sana?"
"Ya. Apa Bibi bisa mengantarkanku, kalau tidak merepotkan."
"Apa yang Tuan katakan, tentu tidak merepotkan sama sekali, mari Tuan ikuti Bibi."
"Apa kita gunakan mobil Bi?" tawar Kano saat Bibi Inggrid melangkah laju keluar dari rumah menyusuri tepi jalan.
"Tidak perlu Tuan, jaraknya sangat dekat dari sini." kata Bibi Inggrid di balas anggukan Kano.
Sampai mereka di teras rumah sederhana, bahkan terlalu lusuh yang kayunya sudah kropos di makan usia.
Kano memperhatikan sekeliling sampai ke atas langit teras, hatinya sedikit miris baginya rumah ini tidak layak di huni sama sekali.
"Caera!" Panggil Bibi Inggrid sembari mengetuk pintu pelan.
"Ya!" terdengar sahutan dari dalam rumah.
Tidak lama pintu terbuka, Caera yang mengenakan daster dengan rambut di ikat asal berdiri di ambang pintu menyapa lembut Bibi Inggrid, tapi raut wajahnya seketika pias saat tatapannya terfokus ke arah Kano yang masih belum menyadari keberadaannya.
"Caera, ini Tuan Kano ingin bertemu denganmu." Kata Bibi Inggrid hingga barulah Kano menyadari, membalas tatapan Caera dengan tersenyum.
Deg.
Raut wajah Kano pun datar, wajah tampan yang menyiratkan keterkejutan luar biasa, pupil matanya sedikit melebar tak mampu mengalihkan tatapannya dari Caera.
"Kamu!" Bisik Kano mengenali wanita itu.
Bibi Inggrid hanya melirik bingung pada keduanya.
Keringat dingin mengalir di pelipis Caera, ia menggenggam tangannya yang bergetar.
"Bibi aku ingin bicara dengan dia, hanya bedua, bisa tinggalkan kami." pinta Kano tidak lepas menatap Caera dalam.
"Te...tentu Tuan." buru-buru Bibi Inggrid berbalik pergi tidak sempat lagi pamit pulang pada Caera.
Entah apa yang terjadi dengan keduanya, tapi Bibi Inggrid percaya Kano lelaki yang baik tidak akan berbuat macam -macam pada Caera, apa lagi menyakiti.
Kaki Kano berayun satu langkah ke depan dan Caera malah memundurkan langkahnya.
"Jadi ini, kenapa sewaktu di villa kamu menghindar denganku, sampai rela masih mengenakan masker dalam keadaan basah." Sindir Kano.
Caera merunduk, meneguk salivanya dengan kegugupan yang sangat luar biasa.
"Maaf Tuan, saya tidak mengerti maksud Tuan." Kata Caera tergugu.
"Tidak mengerti atau pura-pura menutup mata dengan kehadiranku." Kata Kano mengeraskan suaranya hingga Caera terkejut sampai ia tidak bisa memundurkan tubuhnya karena terhalang kursi kayu dan saat Kano menghimpitnya Caera terjatuh duduk, kepalanya menengadah memohon pada Kano.
"Apa yang anda inginkan sebenarnya?" Tanya Caera dengan pandangan berkaca kaca.
Kano mengeraskan rahangnya, sungguh sangat biasa tanggapan Caera pada dirinya dan pertanyaan Caera berhasil menyulut kemarahannya yang masih tertanam sejak lima tahun lalu.
Kano sangat kecewa pada Caera, wanita ini yang di tidurinya hanya satu malam tidak meninggalkan jejak apapun, salam perpisahan pun tidak ada sama sekali, menghilang begitu saja dan Kano merasa tidak di hargai.
"Kamu seperti wanita nakal, lima tahun lalu datang dan pergi sekejap seperti tidak bersalah sedikit pun, bahkan kita di pertemukan kembali kamu tidak ada penyesalan untuk meminta maaf padaku." Kata Kano menyentuh bahu Caera dengan kedua tangannya sedikit meremasnya.
Caera semakin bingung, seharusnya Kano lah meminta maaf atas kejadian lima tahun lalu yang menyeretnya dalam hubungan satu malam tapi kenapa malah sebaliknya, lelaki ini menyalahkannya.
"Kenapa aku harus minta maaf?" tanya Caera mulai kesal menepis tangan Kano di bahunya.
"Karena…karena kamu meninggalkanku, kenapa kamu pergi begitu saja?"
Caera membuang nafasnya jengah melalui mulutnya.
"Anda gila atau apa Tuan Kano, kita bahkan tidak saling kenal terlibat dalam hubungan..." Ucapan Caera tersendat.
"Dalam hubungan sesaat, bahkan hanya hitungan jam, kenapa aku pergi, ku pikir kita tidak terikat apapun."
Kano menyipitkan matanya memperhatikan Caera, memilih tidak membalas ucapan Caera, ia berbalik ingin pergi.
Apakah Kano marah. batin Caera menatap punggung Kano yang ingin keluar dari rumahnya.
"Ibu!"
Caera dan Kano bersamaan menoleh pada Zio dan Maura, berdiri di ambang pintu kamar.
Keduanya menatap ke arah Kano sedikit waspada, saat Kano membalas tatapan mereka.
Caera bangkit dari tempat duduk, dengan cepat mendorong Kano keluar dari rumahnya.
"Anak-anakku sudah bangun, aku harus memberikan mereka makan, jadi sebaiknya Tuan pergilah."
Kano mengernyitkan keningnya atas sikap Caera yang mengusirnya sedikit kasar.
"Tidak perlu kamu mengusirku, aku pun akan pergi." sahut Kano ketus.
Caera tidak peduli, ia berbalik ingin masuk.
"Sore nanti kamu harus datang ke villa, siapkan makan malam untukku." Kata Kano.
"Bukannya anda ingin makan di luar?" Kata Caera menoleh pada Kano.
"Aku berubah pikiran, nanti malam aku ingin makan di rumah dan yang memasak adalah kamu. paham." Kata Kano sambil berjalan meninggalkan rumah Caera.
"Lelaki itu kenapa sangat menyebalkan." Gumam Caera lelah.
pikiran Caera tenggelam, bersusah payah menghindari Kano dan berharap lelaki itu tidak mengenalinya namun ternyata ia salah. Lima tahun berlalu masih membuat Kano mengingat di malam itu saat mereka bersama dan itu adalah kesalahan.
Tbc