Meski Caera enggan pergi ke villa untuk melayani tapi ia harus melakukan kewajibannya yang sudah di embankan padanya, ia tidak akan mencampurkan urusan pribadi pada pekerjaannya.
Sekali lagi ia mengantar Zio dan Maura ke rumah Bibi Inggrid, untunglah Bibi Inggrid selalu mengerti dengan suka rela menjaga dua buah hatinya. Walau Caera sering tidak enak hati merepotan Bibi Inggrid, tapi ia tidak ada pilihan karena hanya Bibi Inggrid yang mau membantunya tanpa pamrih dan ia percayai. Dalam keadaan perekonomian yang sangat terbatas hanya sedikit tetangga mau peduli tapi Caera maklumi, mereka pun punya tanggung jawab pada keluarga mereka masing-masing.
Bergegas Caera dengan berjalan kaki menuju ke villa, akhirnya ia sampai masuk lewat pintu belakang yang terhubung ke dapur, suasana villa sangat sepi, mungkin kah Kano sedang tidur sore seperti ini? tidak mungkin pria itu keluar karena Caera memperhatikan mobil pria itu masih terparkir di halaman Villa.
Semoga Kano tidak terbangun dan mendekati dirinya lagi, karena Caera sungguh tidak nyaman, Caera berharap Kano secepatnya mengakhiri liburannya di desa ini dan ia tidak bertatap muka lagi dengan Kano yang hanya membuatnya sesak nafas.
Caera memulai aktivitasnya, berkutat di dapur, memasakan menu makan malam untuk Kano. Tidak butuh waktu lama Caera sudah menyelesaikan tiga menu makanan sekaligus, ia menatanya di atas meja makan lalu menutupnya dengan tudung saji, sembari melirikkan matanya pada jam dinding yang menunjukan pukul 6 sore.
Tugasnya sudah selesai, sebaiknya ia pulang tapi haruskah ia tidak pamit pada Kano?
Caera berpikir sejenak, maka akhirnya ia putuskan langsung pulang saja, setelah
memastikan pekerjaannya beres dan rapi, ia berbalik melangkah menuju pintu belakang.
"Kamu mau kemana buru-buru pergi?" tahan oleh suara berat seorang pria membuat Caera terkesiap menghentikan langkahnya, Caera mengenali suara itu seketika tubuhnya menegang.
"Aku bertanya padamu, kamu mau kemana sangat buru-buru?" Kano mengulang pertanyaannya, langkahnya mendekati Caera lalu mengitar berdiri menghadap Caera yang masih bergeming dan tertunduk.
"A..ku, maksudnya saya ingin pulang Tuan karena tugas saya telah selesai." Jawab Caera gugup.
"Jangan pulang dulu, masih ada tugas tambahan untukmu." Kata Kano melipat kedua tangan di depan d**a memperhatikan Caera semakin intens.
"Heh...tugas apa lagi Tuan?” tanya Caera heran.
"Kamu terlalu formal aku membencinya, bersikap lah seperti biasa, ikutlah denganku." Kata Kano berjalan lebih dulu.
Caera menghela nafasnya, niat hati ia ingin pulang lebih awal tapi sepertinya Kano memang sengaja menahannya.
Menghentakan kakinya kesal Caera menyusul Kano ke ruang tamu.
"Kamu lihat debu di meja dan sofa sangat banyak, kamu harus membersihkannya dengan benar." Kata Kano menghempaskan bokongnya duduk di sofa menatap lekat pada Caera yang bengong.
Caera sebenarnya ingin protes karena di lihat kasat mata tidak ada debu kotoran karena ia selalu teliti setiap pagi membersihkan villa ini di setiap sudut ruangannya, sekalipun di meja dan di sofa sangatlah bersih.
Tapi Caera tidak ingin berdebat panjang lebar hanya semakin menambah pelik, ia kembali ke dapur mengambil alat pembersih, menglap meja sampai benar benar kinclong.
Caera tidak nyaman dengan tatapan Kano yang sama sekali tidak berpindah dari dirinya, ia seakan di awasi seorang mandor.
"Kamu janda?" Tanya Kano ragu.
Caera hanya mengangguk, tanpa melihat Kano ia fokus pada pekerjaannya.
"Suamimu menceraikanmu?" Tanya Kano lagi.
"Suami ku sudah meninggal."
Kano mengangkat alisnya ke atas sedikit terkejut dengan jawaban Caera.
Kano mengingat kejadian tadi siang di rumah Caera, ada dua bocah, laki laki dan perempuan, hanya sekejap Kano tidak begitu jelas melihatnya karena Caera buru -buru mendorongnya keluar dari rumah.
"Jadi kamu pergi begitu saja karena lebih memilih pria lain untuk menikah denganmu, begitukah." Kata Kano penasaran.
"Tuan, bisakah kita tutup masa lalu, jangan pernah mengungkitnya lagi karena aku tidak ingin membahas apapun." Kata Caera kesal.
"Tapi aku ingin membahasnya, begitu banyak pertanyaan bersarang di otak ku yang belum terjawab, dan jawabannya hanya ada padamu." Kata Kano.
"Tidak ada jawaban apapun, Tuan." kata Caera. Ia menyudahi pekerjaannya.
Saat Caera berbalik ingin pergi, Kano berdiri menyambar lengan Caera menariknya merapat pada tubuh Kano membuat Caera terkesiap.
"Apa yang Tuan lakukan, lepaskan saya!" Jerit Caera membulatkan matanya.
"Kita sudah menghabiskan waktu satu malam, karena aku yakin kamu masih perawan malam itu dan kamu begitu mudah pergi dan menikah dengan orang lain." Kata Kano, sebenarnya ia tidak mengerti dengan pemikiran Caera, di satu sisi ia yakin Caera bukan wanita nakal tapi di sisi lain ia bertanya kenapa Caera begitu gampang melupakannya dan pergi darinya.
"Kita tidak menyadari apa yang kita lakukan dulu jadi..."
"Aku menyadarinya, sepenuhnya...Caera." Kata Kano memotong ucapan Caera.
"Aku tidak merasakan apapun malam itu, jadi lupakanlah dan jangan mengingatku lagi." Kata Caera berusaha melepaskan cengkraman tangan Kano di lengannya yang semakin mengencang.
"Kano lepaskan!" Ringis Caera meminta.
"Tidak merasakan apapun kata mu, jadi kamu pikir aku tidak hebat dalam masalah s*x, memuaskanmu di atas ranjang, heh?" tanya Kano tidak peduli Caera terus berusaha melepaskan diri.
"Bukan...itu maksudku, kamu salah paham!" Kata Caera terbata-bata.
Mengejutkan Caera, Kano meraih tengkuk lehernya, menempelkan bibirnya di bibir Caera, mencium bibir Caera.
Mata Caera terbelalak hingga mereka terjatuh ke sofa.
"Lepas Kano!" Jerit Caera nyaring.
Setetes air mata Caera yang mengalir mengenai tangan Kano, barulah ia menjauh menatap Caera yang memerah, kedua mata Caera terpejam erat dengan air mata mengalir di sudut matanya.
Tatapan Kano jatuh pada bibir Caera yang basah karena ulahnya.
Tatapan sendu Caera meluluhkan hati Kano, ia menyesal telah memaksa Caera, maka ia menjauh dari atas tubuh Caera.
Tanpa bicara apapun, Caera beranjak dari sofa berlari menjauh dari Kano.
Kano mengusap rambutnya ke belakang, ia mengumpat kesal karena tindakan impulsifnya bisa saja membuat Caera membencinya.
Apa yang ia lakukan, kenapa dengan dirinya, kenapa ia malah menyentuh Caera dengan cara memaksanya karena terlalu emosi pada ucapan Caera, kenapa ia tidak mampu mengendalikan diri. Sungguh ia sangat bodoh dan gegabah. Dan sekarang Kano bingung harus melakukan apa agar Caera memaafkannya. Haruskah ia pergi ke rumah Caera dan memohon maaf. Sungguh itu bukan dirinya. Selama ini Kano sangat pantang meminta maaf terhadap seorang wanita.
"Sial. Agghhh!" Kano mengumpat penuh amarah pada dirinya sendiri. Andai ia bisa mengulang waktu tentu ia tak akan mencium Caera dengan cara seperti tadi. Sorot mata Kano mengawang ke udara, ingatannya berputar ke masa lalu pertama kali ia bertemu Caera dan hari itu telah mengubah hidup Kano hingga sampai detik ini.
Tbc