Pagi yang baru. Seperti biasa ruang marketing dipenuhi aroma kopi yang mengepul dari setiap meja, setiap kepala begitu fokus dengan apapun di depannya. Layar LCD yang menyala atau kertas kertas yang berhamburan di atas meja yang menciptakan kesan professional. Tak ada yang bersuara yang terdengar hanya sayup sayup riuh kendaraan yang ramai melintas di jalan berbaur bersama bunyi klakson yang menciptakan irama stagnan setiap pagi.
“Brak!” Semua kepala mengarah kepadaku. Telapak tanganku memanas setalah baru saja kuadu dengan meja kerjaku. Pagi tak lagi senyap, langkah panjang kakiku serta heels yang beradu dengan parquet memecah keheningan ruang.
Aku melangkah cepat ke ruangan Daniel Callaghan dengan wajah kutekuk sempurna. Berita yang baru saja kuterima di inbox emailku benar-benar membuat aku geram. Pintu kaca yang bertuliskan Chief Executive Officer kudorong dengan sepenuh tenaga.
Kepala Bos buleku yang hampir menempel di layar laptop seketika tegak seiring kehadiranku yang tiba-tiba. Dia memiringkan kepalanya sambil menatapku.
“Ada apa Nat?”
Aku melangkah lebih dekat kearah mejanya.
“Doris Lambert mau balikin lukisannya. Dan kamu tahu alasannya??” aku menggantung kalimatku. Kulihat Daniel memperbaiki posisi duduknya, keningnya berkernyit menandakan bahwa aku harus meneruskan kalimatku..
“Because it doesn’t suit her living room. Wh…wha..What a stupid reason.” Geramku. Satu sudut bibir Daniel tertarik keatas membentuk senyum sinis khasnya. Entah itu reaksinya terhadap buyer gilaku atau terhadap penamampakan wajahku yang sedang emosi saat ini.
“Duduk dulu Nat.” Daniel menggerakkan kepalanya kea rah kursi di depannya.
“Daniel, I think the slogan is a bad idea. Thirty days guarantee money back? Oh come on Daniel. We can change it to 15 days? Ten days? Or…”
“Nat, Customer satisfaction! Just remember that!”
“But this is stupid. Beda kalau alasannya kayak retail patung naga kita yang kemarin. Gigi naganya kurang satu, ya wajar kalau dia balikin. Nah ini…nggak cocok sama ruang tamunya?? Ayolah Daniel, kamu harus tegas untuk masalah ini.“
“Nat, enough.” Jawabnya tegas sambil menatapku. Dan aku sangat paham arti tatapan itu. Dalam hati Daniel juga pasti kesal dengan keingin si Tante Doris itu tapi sebagai bos yang mencetuskan slogan kepuasan pelanggan, Daniel mau tak mau harus setia dengan keputusannya sendiri.
Aku terdiam. Perlahan kuatur ritme napasku yang tadi begitu menggebu gebu. Aku melirik Daniel. Perhatiannya langsung beralih ke arah layar laptopnya. Aku masih mematung menunggu apakah ada reaksi selanjutnya dari si Bos. Aku memperhatikan dengan seksama wajah Daniel. Sedikitpun tak ada reaksi. Sedikit kedutan di sudut bibirnya pun tak ada sebagai tanda bahwa ada kalimat yang akan keluar dari sana namun masih tertahan dengan berbagai pertimbangan yang berkecamuk dalam otaknya.
Beberapa saat kemudian aku menyerah. Karena sia-sia menunggu Daniel berubah pikiran. Karena memang dia sedang tidak berpikir. Ya aku sudah tau akan sulit mengubah pemikirannya, sesekali aku tetap mencoba untuk menang atas Daniel tapi ternyata hati Daniel tetap sekeras iceberg yang menenggelamkan Titanic.
Okelah, Itu prinsip Daniel yang ia terapkan pada perusahaannya. Aku hanya seorang staf yang hanya bisa ikut aturan mainnya. Tetapi kami tidak hanya sekali menghadapi kasus seperti ini, dalam beberapa bulan ini sudah hampir 5 kasus yang mirip yang bikin aku pusing tujuh keliling. Dan tentu saja semuanya berawal dari slogan Daniel ia yang sematkan dengan penuh devotion di setiap ‘surat cinta’nya pada semua buyer.
Mata Daniel masih terpaku di layar laptopnya, keseriusannya adalah tanda dia sedang mengusirku pergi dari ruangannya. Tanda bahwa tak ada lagi yang harus di bicarakan. Aku cemberut dan kemudian perlahan meninggalkan ruangan Daniel dengan sisa kesal yang masih menggelayut di hatiku.
Belum sempat kakiku menyentuh bibir pintu, suara Daniel sudah menghentikan langkahku. Karena masih kesal aku malas memutar tubuhku untuk kembali melihat sosok dinginnya seperti saat aku berkeluh tadi.
“Nat? You hear me?” Dengan berat hati aku bergerak pelan menghadap ke arahnya. Daniel memandangku heran. Keningnya sedikit berkernyit. Beberapa detik lewat. Melihatku masih bergeming, lipatan di keningnya semakin bertambah bahkan kedua alisnya yang hitam tebal itu serentak naik berapa senti. Dan pemandangan itu yang memaksa kakiku kembali melangkah menuju meja kerjanya.
”Now what? Okay aku akan bereskan masalah si Doris itu jadi kamu nggak perlu pusing I know I know the slogan jadi kamu nggak per….”
”Kita deal dengan Damien.” Kalimat Daniel berhasil mengunci mulutku. Aku menarik kursi di hadapan Daniel dan menempatinya, mataku sibuk meneliti setiap inchi wajah si bule mencari cari keseriusannya di sana. Seketika ujung-ujung bibirnya tertarik kesamping membentuk senyum lebar. Mataku seketika ikut membuka lebar kemudian tersenyum sumringah. Aku memajukan tubuhku beberapa senti menatap Daniel lebih dekat.
Telunjukknya mengacung dan bergerak memberi tanda padaku untuk menahan sebentar rasa senangku. Ia kemudian mengangkat gagang telepon di sampingnya, memencet satu angka di sana dan berbicara.
”Made, bring the files! Thanks!” Dia kembali meletakkan gagang telepon dan melirikku sekilas. “Natalie!” dia memanggil namaku. Menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi empuk yang menjadi singgasananya, menatapku dengan pandangan matanya yang sok.
”Yup! Aku tahu, kamu memang hebat. Kamu berhasil, Nat.” Tubuh Daniel maju. Senyumnya bertambah lebar hingga hilang lagi kesan soknya. Wajah Daniel sepertinya tercetak dengan dua kesan, friendly dan annoying. Dan kesan itu seringkali berganti dalam waktu yang cepat dan membuatku harus dengan cepat pula menyesuaikan diri menghadapinya kalau tidak ingin kesal sendiri.
Untuk saat ini perasaan kesalku pada Daniel menguap begitu saja. Aku terlalu gembira karena ’rayuan’ku pada Damien, buyer asal Italie, akhirnya berhasil. Dengan order Damien yang diatas 100 ribu US, aku pantas dibilang sukses. Yes! Daniel pasti sangat mencintaiku saat ini. Aku mengangkat wajahku menatap bosku itu.
”Maaf masalah Doris tadi tapi memang kita tidak bisa berbuat apa apa, Nat. Tapi aku memang tidak perlu cemas dengan persoalan seperti Doris itu toh aku punya kamu. I am lucky to have you, Nat. You are my everything! Jadi tidak usah kesal dengan hal-hal kecil kayak gitu.” Aku mencibir, ya sekarang elu bisa bilang masalah Doris gak penting karena ada 100 ribu US di depan mata. Dasar! Dan You are my everything?! There he is! Daniel Callaghan dengan kalimat sakti namun basi. Daniel memang mencintaiku! Aku tertawa sinis dalam hati.
“Dan oh ya…” Dia mengeluarkan laptop Apple, sebuah blackberry, dan ponsel dari laci bawah meja kerjanya yang sudah mirip kantung Doraemon karena bisa mengeluarkan benda apa saja untuk aku tapi dengan satu catatan bila aku berhasil mendapatkan order gede untuknya. Barang-barang itu ia sodorkan padaku. “Take it.” Dia nyengir. Dan aku tahu apa arti fasilitas yang ia berikan itu. Tentu, Daniel memberikan semua barang ini agar ia berhak menghubungiku 24 jam. Tak cukup dengan Blackberry tapi masih menambah satu ponsel lagi ckckckckc….aku memandang benda-benda mahal itu kemudian hanya bisa menelan ludah pasrah.
Sekarang waktuku di kantor tidak cukup lagi untuknya dan ia mau menyita seluruh hidupku apalagi bila ada buyer besar seperti Damien ini. Yah…bukannya aku GR, sebelum aku bergabung dengan perusahaannya, orderan yang ia terima tidak pernah lebih besar dari 10 ribu US dan lihatlah sekarang. Daniel selalu mengharapkan kehadiranku di sisinya. Bukan sebagai Marketing Director tapi lebih tepatnya sebagai asistennya atau lebih dari itu....pembantunya. Dan aku sangat lelah. Tapi tentu saja aku tetap menjalankan semua itu toh aku tidak mungkin menyia-nyiakan kerja kerasku untuk mendapatkan buyer semacam Damien.
You are my everything adalah kalimat ampuh Daniel yang selalu ia ucapkan bila aku mulai protes dengan jam kerjaku yang selalu dikorupsinya. Daniel is like a big baby to me. Aku memang menggunakan istilah pembantu untuk menggambarkan arti diriku pada Daniel tapi tidak dengan Daniel. Kalau bisa kubilang Daniel sangat mengaggumiku bahkan lebih dari itu, dia memujaku. Not in romantic way, of course. Karena baginya, Aku hanyalah mesin kerja pencetak ide brilian dengan keahlian merayu buyer pada tingkat paling dahsyat. Selain itu aku rasa, wanita sepertiku tidak termasuk dalam kriteria pria penebar pesona seperti Daniel.
Tantri pertama kali yang terpesona dengan Daniel saat pertama kami bertemu bule itu. ”He is totally Mat Bomer. Oh my god!” Jeritnya waktu itu. Aku sama sekali tidak paham dengan apa yang ia katakan dan kenapa bisa ia seantusias itu. Dan siapa pula itu Mat Bomer? Kalau dia menyebut nama Tom Cruise aku pasti tahu tapi ahhh....tentu saja Daniel tidak mirip Tom.
Tantri dengan begitu semangatnya menunjukkan padaku siapa itu Mat dan yeahh...aku pun mengerti saat itu (They are so alike but still Mat is way sexier). Sama seperti yang terjadi pada Tantri, Daniel selalu menyita perhatian hampir setiap perempuan yang ia temui termasuk beberapa klien kami. Terkecuali aku. Bukan! Bukan karena aku sok dan tidak mengakui kegagahan bule blasteran Inggris-Amerika itu, namun sejak awal mula aku tahu dia akan menjadi bosku, aku sudah menangkap aura yang tidak menyenangkan yang terpancar dari dirinya, sebuah tanda yang mengisyartakan bahwa mahkluk satu itu akan menjadi beban hidupku beberapa tahun ke depan. Dan itu terbukti benar.
Kegagahan Daniel lenyap bersama sikap bossy dan ’manja’nya kepadaku. I cross my heart! Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benakku untuk jatuh cinta padanya. Karena aku tidak mau membayangkan betapa beratnya hidupku nanti bila dia menjadi suamiku. Selain itu aku juga sadar diri, Daniel juga tidak mungkin menyukaiku. Natalia, 29 tahun dan beberapa bulan lagi turning 30, dengan tinggi tubuh cuma 162 cm, dan tidak berwajah Dian Sastro apalagi Luna Maya dengan rambutku yang tidak pernah kubiarkan panjang melebihi tengkukku. Belum lagi cara berpakaianku ke kantor yang tidak pernah jauh dari t-shirt dan jeans. Kesimpulanku, aku dan Daniel tidak saling menyukai!
Tapi sebenarnya Daniel bisa kubilang sahabat, jauh sebelum aku bergabung dengan perusahaannya. Oke aku akan menceritakan bagaimana sampai akhirnya aku terdampar di perusahaan Callaghan International Trading, milik Daniel Callaghan.