Menjadi international marketing sebenarnya bukanlah cita-citaku. Panggilan jiwaku sebenarnya adalah menjadi seorang guru. Sungguh muliakan? Saat masih kuliah sastra Inggris di salah satu perguruan tinggi di Yogya aku nyambi menjadi pengajar di sebuah pre-school selama dua tahun, namun setelah lulus aku malah terdampar di perusahaan trading furniture yang tidak terlalu besar di Yogyakarta.
Bekerja di sana sebenarnya hanya sebagai pengisi waktu sambil menunggu lamaranku menjadi guru di Jakarta bisa diterima. Namun sampai setahun kemudian, lamaran itu tidak pernah mendapat jawaban. Aku heran, dengan nila-nilai sempurnaku sebagai sarjana satra inggris dan juga pengalamanku sebagai guru sama sekali tidak menjamin lamaranku bisa diterima di salah satu dari ribuan sekolah swasta di Jakarta. Perlahan keangkuhanku mulai luntur. Pintar dan berpengalaman tidak menjamin aku mendapatkan pekerjaan impian. Meskipun pekerjaan itu sangatlah sederhana. Guru! Karena itu aku mencoba melupakan sejenak impianku dan menekuni anugerah yang kumiliki saat ini. Kucoba mencintai apa yang kukerjakan saat itu.
Namun setelah hampir dua tahun bekerja, akhirnya aku mendapat kesempatan memenuhi panggilan jiwaku menjadi guru. Awalnya aku kira mudah memutuskan meninggalkan pekerjaanku sekarang dan memulai awal yang baru dengan pekerjaan impianku sejak lama, karena tanpa kusadari aku sudah jatuh cinta dengan pekerjaanku yang awalnya hanya akan kujadikan persinggahan sesaat. Benar kata orang, mencintai itu bisa dipelajari dan bisa diusahakan. Meninggalkan sesuatu yang kita cintai selama bertahun-tahun adalah hal tersulit dalam hidup seseorang. Begitu juga dengan aku. Aku terlanjur mencintai pekerjaanku, kedua bosku yang sering kupanggil mami dan papi, client-clientku yang super charming dari berbagai belahan dunia, dan kota terhebatku Yogya dengan segala kenangan indahnya. Walaupun orangtuaku bermukim di Solo, namun aku memiliki keterikatan yang istimewa dengan Yogya. Sejak SMA aku tinggal di kota gudeg itu, dan aku sudah terlanjur mencintainya.
It is so sad knowing that I will leave my everything in Jogja since I have to prepare myself to live in a new place called Jakarta. Dengan penuh air mata aku meninggalkan Yogya dan menjelang impianku di Jakarta. Everything is so hard for everyone in a new habit. Aku benar-benar kangen dengan semua yang kutinggalkan. Tapi aku ingat Ibu pernah bilang padaku, "Ini memang berat Nak, tapi Ibu yakin kamu akan terbiasa nantinya." Kehidupan Jakarta yang keras dan serba cepat sangat kontras dengan kota tercintaku Yogya. Hal ini dibenarkan oleh salah satu GM Hotel bintang 5 di Yogya yang sempat kuwawancara saat menjadi kontributor untuk sebuah majalah pariwisata di Bali. Bule Perancis itu menyatakan bahwa there is a kind of laid-back atmosphere yang melingkupi kota Gudeg itu. Tapi kenyamanan itu seringnya lebih banyak membuai. Habit itu menjadikan beberapa orang terlalu santai bahkan terkesan lambat dalam melakukan apa pun. Celakanya habit itu berubah menjadi budaya untuk beberapa orang.
Seperti kata Ibuku, aku mulai terbiasa dengan suasana terburu-buru dan serba cepat ala ibu kota. Meskipun menyebalkan dan bikin stres, kehidupan Jakarta mampu mengubah habit dan nasibku pada akhirnya. Bukan! Bukan karena aku akhirnya bertahan dengan pekerjaan impianku sebagai guru TK di sebuah sekolah swasta di kawasan elit, namun karena tawaran lain yang tidak beda jauh dengan pekerjaan awalku yang sudah membuat aku terlanjur jatuh cinta itu. Namun kali ini dengan bayaran 12 kali lipat dari gajiku dulu. Amazing! Saat itulah batinku berperang. Aku terserang dilema. Antara pekerjaan impian yang memuaskan batin dengan pekerjaan yang (sudah) membuat aku jatuh cinta dan yang terutama lagi sangat memuaskan kantongku. Yang lebih ajaib posisi yang ditawarkan padaku ini adalah posisi yang diincar banyak orang dan aku mendapatkannya hanya dengan sekali wawancara tanpa tes njelimet dan aku semakin merasa berada di awang-awang ketika bule itu menyebutkan angka fantastis sebagai jumlah gajiku. Selamat tinggal pekerjaan impianku. Selamat tinggal pekerjaan paling mulia! Maafkan aku karena telah mengkhianatimu demi jumlah uang yang fantastis itu. Semuanya itu karena aku mau realistis. Aku sangat membutuhkan jumlah uang fantastis itu saat ini. Dalam hati aku bersumpah dan berjanji bahwa suatu saat nanti aku akan benar-benar menjadi guru! Entahlah...
Dan akhirnya aku berada di pulau Dewata Bali. Aku terdampar di pulau sejuta dewa itu untuk menjalani pekerjaanku dengan bayaran yang kusebut fantastis itu dan tentu saja sama fantastisnya dengan apa yang harus kujalani. Tapi itu tidak membuatku menyesal karena selalu ada senyum sumringah di setiap akhir bulan, ketika aku berhadapan dengan layar mesin atmku dan menatap angka demi angka yang tercetak di sana dan sanggup membuat perampok manapun sangat b*******h dan rela membunuhku demi angka itu. Aku menikmatinya selama hampir dua tahun, sampai akhirnya aku harus gigit jari saat aku harus rela gajiku dipotong hampir 30 persen karena MDF mengundurkan diri menjadi penyokong dana perusahaan yang menaungiku ini. Aku pun ditarik ke salah satu kantor rekanan dengan gaji yang disunat namun dalam ritme kerja yang sama dan bahkan lebih parah karena memiliki bos seperti Daniel. Suck!
Sebelumnya aku sudah sangat mengenal Daniel, karena Daniel adalah pemilik perusahaan yang berpartner dengan perusahaanku. Saat aku masih menjadi staf Export Promotion Program di kantor lamaku, aku sering bertemu Daniel dan tak jarang travelling bersamanya bila ada pameran handycraft di beberapa kota. Saat itu aku tidak merasa canggung sama sekali berdekatan dengannya bahkan ada kejadian aku pernah 'tidur' bersamanya. Hey, jangan berpikiran terlalu jauh ya. Itu kejadian lebih dari 3 tahun lalu.
Kami sedang menginap di sebuah hotel di Jakarta karena memang ada pameran Handycraft di kota itu. Saat itu Daniel bertamu ke kamarku dengan alasan dia hanya nggak ingin sendiri. Jadi aku membiarkannya masuk dan menonton TV di kamar. Karena ngantuk berat aku pun tertidur, tetapi saat aku terbangun beberapa saat kemudian aku kaget melihat mahkluk itu masih bercokol di kamarku
"Why are you still here." ucapku dengan masih setengah mengantuk. Daniel hanya nyengir dan dengan wajah sendunya dia pun berkata.
"Nat, may I sleep here?"
"Ha?" aku mengucek-ucek mataku memastikan penglihatanku, bahwa yang baru saja berkata itu Daniel. Dia masih memasang wajah memelasnya. Karena ingin cepat tidur lagi aku pun menyetujuinya untuk tidur di sofa. Tetapi ternyata si anak manja itu semakin ngelunjak.
"Nat...I mis my Mom." ujarnya sendu. What?! Mataku melotot seketika. Apa tadi dia bilang? Dia kangen Ibunya? So?! Do I look like his Mom?
"I am not your Mom, Daniel!" seruku. Tentu saja aku tersinggung dong, saat dia melihatku dia malah ingat emaknya. Emang penampilanku udah kayak emak-emak. Ugh..!
"No, I don't...ah...I really miss Mom." Kali ini Daniel memasang wajah sendu yang menurutku memang patut dikasihani. Aku menghela napas pelan menantang tatapan sendunya. Apakah sisi keibuanku harus dipaksa dikeluarkan malam ini? Rasa kantuk masih menguasaiku. Aku perlahan melangkah ke arah sofa tempat Daniel saat ini duduk dengan wajah yang masih tersetel sendu dan mendayu. Okay...Daniel meninggalkan Amerika sejak berusia 23 tahun, dan kemudian memutuskan untuk membuka usaha di Bali. Aku paham sebagai anak bungsu dari dua bersaudara, Daniel memang sangat dekat dengan ibunya. Ya...mungkin benar saat ini dia sedang merindukan ibunya, karena seharian ini aku melihat wajah Daniel cukup gloomy.
"So what do you want me to do." ucapku lesu karena sangat mengantuk apalagi besok aku harus bangun cepat untuk mempersiapkan pameran hari pertama. Aku berdiri di hadapannya.
"No, aku hanya pengen bilang itu aja."
"Okay, apa kamu mau tidur di sebelahku?" Tawarku yang langsung membuat kelopak mata Daniel melebar dan bola matanya seakan hendak meloncat keluar. "Ayolah, kamu bisa memelukku kalau kamu mau. Aku ngerti perasaan kangen sama keluarga emang berat, bahu atau pelukan seorang sahabat pasti bisa mengurangi rasa kangen itu." jelasku tanpa beban menjawab rasa terkejut yang tergambar jelas di wajahnya.
Daniel melongo.
"Jika kamu peluk aku, dan kamu feel better. So just do it, it's okay" kataku sambil bersiap berbalik dan kembali masuk ke dalam selimut.
"D..do you trust me?" katanya ragu.
"Of course I trust you." jawabku enteng seenteng langkahku ke arah tempat tidur.
"Yes, you trust me, but I don't trust myself." Katanya pelan. Mendengar itu aku pun langsung ngakak. Daniel tertawa sedikit sambil memberikan ekspresi wajah usilnya. Aku langsung melemparnya dengan bantal.
"What is on your mind? Kamu ya...take it for granted. Udah dibaikin malah ngelunjak." Omelku sambil mengayun-ayunkan bantal ke tubuhnya. Daniel pun menarik bantalku sambil meringis dia pun berkata dengan manja.
"My Mom..." Aku kembali merebut bantal itu dan menghantamnya ke wajahnya sambil tertawa. Tapi malam itu berakhir dengan aku tidur di pelukannya. Yah...itu kejadian saat aku masih berpartner dengannya. Tapi sekarang beda. Aku bukan partner Daniel, tapi aku stafnya. Bawahannya. Awal saat aku bekerja dengannya, rasa canggung itu begitu terasa tetapi lama-lama aku dan Daniel bisa membedakan saat ketika aku menjadi sahabatnya dan saat aku menjadi bawahannya. Tapi perlu kugaris bawahi, ketika Daniel menjadi bosku, dia berubah menjadi sangat menyebalkan. Bahkan di saat kami sedang bersitegang masalah pekerjaan, aku pernah membayangkan membunuhnya dan membuang jasadnya dari puncak karang Balangan. Sadis memang.