Setelah punya bos Daniel, aku benar benar jadi jarang bersosialisasi. Aku mencoba mengingat ingat kapan terakhir aku bertemu Ayu dan Tantri dua teman dekatku saat aku masih bekerja di kantor lama. Sekedar ngopi dan bergosip, makan seafood di Jimbaran, cuci mata dengan diskon diskon menarik di mall, atau mengambil kursus kilat surfing demi untuk enjoy cowok cowok surfer dengan tubuh kecoklatan nan berkilau mereka di Kuta reef. Namun jauh sebelum Daniel, Ayu dan Tantri atau bahkan teman akrabku semasa kuliah, aku punya satu sahabat. Namanya Rena.
Rena meleponku saat aku sedang disibukkan dengan buyer trip bersama calon buyerku dari Perancis, Catherine. Rena adalah sahabat sekaligus musuhku, atau kami bisa disebut frenemy? Meskipun bersahabat kami sering berbeda pendapat, bersaing dan berakhir dengan bertengkar dan diam diaman dan kemudian saling merindukan dan berbaikan kembali. Selalu begitu.
Kami bertemu karena bersekolah di SD yang sama dan sejak saat itu kami selalu memilih sekolah yang sama. Saat lulus SMP, keluarga Rena pindah ke Jakarta, tapi Rena tetap bertahan untuk sekolah di SMA yang sama denganku di Yogya. Namun kami berpisah saat Rena kuliah karena dia memilih kuliah di Jakarta dan aku memilih tetap di Jogjakarta. Hubungan kami tetap berlanjut dan baik baik saja meski kontak tidak sesering dulu.
"Ta, gue di Bali. Gue dapat voucher nginap dari bosnya Satria di St Regis. Keren nggak Ta. St Regis bo!' Jeritnya kesetanan di seberang sana. Aku hanya cengar-cengir nggak jelas sambil perlahan menjauhi Catherine. Karena kami adalah Frenemy, aku selalu merasa bahwa setiap kali Rena mendapatkan sesuatu yang tidak kumiliki, dia selalu memamerkan kepadaku. Ini bukan masalah St Regis tetapi lebih dari itu. Satria. Aku akan menceritakan tentang Satria nanti.
Aku mengayunkan telunjukku ke arah ponselku saat mata Catherine yang sedang serius dengan coffee table jati didepannya, sejenak terarah padaku, pasti karena suara cempreng Rena yang nggak ketulungan ini. Perempuan Perancis itu mengangguk sambil tersenyum padaku.
"Okay, Re. Ntar aku nginap di sana. Sekarang aku lagi sama buyer. Sory ya say..."
"Iya...iya...tapi Ta...beneran ya lu harus ketemu gue ...ehm..Ta... karena ada hal penting juga yang mau gue mau bicarain sama lu. Gue cuma punya dua hari di Bali..gue..."
"Iya...iya..ntar aku telepon lagi. Udah ya." aku langsung memutuskan sambungan telepon. Entah ada angin apa yang membawa Rena tiba-tiba ke Bali dan rela menggunakan voucher hotel mahal itu sendirian tanpa Satria, suaminya. Seharusnya kalau dia mau datang ke Bali dia tidak harus repot menginap di hotel toh dia bisa tinggal di rumahku. Ya sudahlah sebentar lagi aku akan tahu apa yang akan ia bicarakan.
Setelah mengantar Catharine nanti aku bisa singgah sebentar ke St Regis dan mengajak Rena makan siang bareng, Daniel juga pasti nggak keberatan toh sekarang juga mendekati jam makan siang. Tapi rencanaku mendadak berubah, saat aku menerima telpon dari Daniel tepat setelah Catherine kuantar kembali ke hotelnya. Aku memacu Ford Everest Daniel dengan kecepatan menyamai sapu terbang Harry Potter, tentu saja ini disebabkan oleh suara panik Daniel melalui telpon sejam yang lalu. Nat, cepat kembali ke kantor. I need you. Kalimat Daniel ini sedikit membuatku panik. Jangan-jangan ini berhubungan dengan Damien.
Aku masuk keruangan Daniel dengan wajah tegang, tapi tak ada sedikitpun kepanikan yang tergambar di wajah bosku itu. Aku mendekat ke arahnya.
"Ada apa Daniel?"
"Oh...ya...ya...aku cuma mau nanya flower stamp di cangkirnya Starbucks itu ada berapa ya?"
Gubrak!
"What?!!" aku melotot ke arahnya.
"What?" dia balik menatapku dengan wajah inoccent.
"Jadi kamu suruh aku cepat balik ke kantor cuma mau nanya jumlah flower stamp?" suaraku sedikit meninggi.
"Yeah..." jawabnya ringan.
Aku berdecak sambil tertawa kecut. Bule ini memang s***p.
"Daniel, you no need to call me with your emergency tone. You know I am on a buyer trip with Catherine. And if you want to know how much stamps, you can open the email I already forwarded to you!" Suaraku kembali meninggi.
"Okey...calm down woman!" Daniel mengangkat kedua tangannya.
"What?" jeritku. Kalau nggak mengingat dia bosku, aku sudah hampir melemparnya dengan cangkir di depanku ini.
"Okey sorry, Nat. Aku nggak maksud bikin kamu panik."
"But you did!"
"Okay sekali lagi Sorry." Dia kembali memperlihatkan senyuman tak berdosanya. Aku cuma bisa mendengus keras bahkan dengusanku sudah hampir menyamai dengusan kuda saking kesalnya. Aku mundur dan melangkah ke luar. Tapi baru saja kakiku akan menyentuh bibir pintu ruangan Daniel, suara si bule itu menghentikanku.
"Oh iya Nat...aku traktir kamu makan di Warung Italie. Mau?" Daniel berusaha membujukku dengan undangan makan yang sangat menggoda. Dia sangat tahu betapa aku sangat ketagihan dengan warung Italie. Ugh...Daniel memang menyebalkan.
"Sorry bos. Sore ini aku harus ketemu teman lama."
"Teman lama or...a boy friend?"
Aku hanya menjawab dengan cengiran kesalku.
"Okay kalian mau ketemu dimana, aku akan antar kamu kesana. Sebagai bentuk maafku tadi. Gimana?"
Aku berdecak.
"Nggak perlu." aku melengos dan melangkah keluar ruangan Daniel.
***
"Gimana kalau lu gue jodohin sama Om Alex?"
"Om Alex? Om lu itu? Lu gila ya!!" Aku mendesis kesal mendengar Rena dengan ringannya mengatakan ingin menjodohkan aku dengan Omnya yang barusan menjadi duda 5 bulan yang lalu. Ketawa Rena pacah melihat mulut monyongku yang beraksi kalau sedang marah.
"Ya dari pada lu menjomblo gak jelas gini. Punya suami tuh enak loh Ta. Cepetan kawin gih! Betah banget sih lu single." Rena mengacak-acak poniku masih sambil terkikik. It's SO RENA. Keceplas ceplosan Rena seringkali bikin aku sakit hati. Dan itu sudah terjadi sejak awal kami berteman. Bahkan pernah ada pikiran terburuk yang melintas di otakku tentang Rena. Bahwa dia bersahabat denganku karena akulah satu satunya orang yang menurutnya selalu akan 'kalah' darinya secara penampilan. Wajah campuran Oriental jawa yang dimiliki Rena selalu membuat aku invisible di mata cowok cowok saat jaman sekolah dulu.
"Jomblo gak jelas? Maksud kamu?" aku melotot menatap sahabatku itu yang masih saja menatapku dengan pandangan menggoda.
"Ya iya lah, lu sama Rafa hubungannya gimana coba. Pacaran engggak, TTM an juga enggak. Nah lu sama bos lu, berapa kali kalian melancong berdua kayak orang udah kawin aja." Rena mulai menganalisa hidupku. Padahal sudah cukup lama kami tidak bertemu dan duduk ngobrol dari hati ke hati, dan Rena cuma tahu sekelumit kehidupanku melalui email yang jarang aku kirim padanya dan curahan hatiku yang juga jarang kulakukan melalui status di f*******: atau sekadar story di i********:-ku. Bahkan waktu beberapa tahun yang memisahkan kami mampu menghapus semua memori yang pernah kami ciptakan selama kami bersama.
Ulang tahun adalah event yang selalu kami lewatkan berdua. Saling menelpon jam 12 malam, makan bersama setelah pulang sekolah, dan meniup lilin sambil make a wish. Namun setelah kami terpisah jarak dan melebur dengan kehidupan kami masing masing, dengan kuliah, kerja atau teman teman baru, mengucapkan selamat ulang tahun menjadi hal tak penting yang dengan mudah terlupkan. It's a pity but it's the bitter truth.
"Sok tahu banget kamu masalah hubunganku sama Rafa dan bos ku." Cibirku padanya. Rena mengangkat kedua tangannya.
"Oke, kalau gitu jelasin yang benar ke gue sekarang. Gimana hubungan lu sama Rafa." Rena mencondongkan wajahnya mendekat ke arahku. Pandanganya tajam mengarah ke kelopak mataku. Aku terdiam mematung. Perlahan ujung-ujung bibir Rena tertarik ke atas membentuk senyum kemenangan.
"Berarti gue bener kan?" Rena menarik kepalanya menjauhiku.
"Ah terserah kamu lah...lagian kamu datang kesini tujuannya apa sih? bukan mau interogasi aku kan? Apalagi jodohin aku sama Om Alex!"
"Aha!" Rena menjentikkan jarinya. Kembali kepalanya dicondongkan ke arahku.
"Becanda Ta. Kamu juga bukan tipe Om Alex." Rena tersenyum. Namun senyumannya menurutku setajam sembilu, menusuk banget. Kalimatnya tadi penuh makna menurutku. Dan aku tidak menyukainya. Karena kalimat itu dulu sering banget Rena ucapkan padaku setiap kali aku melihat cowok yang menarik. Rena seakan akan mengetahui kedalaman hati setiap laki laki yang menarik bagiku. Dan sekarang baru aku sadari kenapa aku begitu bodoh mengira Rena mengenal semua laki laki itu. Menurutku, meski ini jahat, Rena telah memaksaku untuk mengubur dalam dalam rasa percaya diriku. Bahasa sadisnya, dia telah membunuh rasa percaya diriku sebagai perempuan.
"Laki laki berumur juga bukan tipeku, emang kamu pikir karena usiaku udah mau 30 terus aku bisa nerima semua laki laki berlabel apapun jadi suamiku." Balasku dengan mencibir. Tawa Rena kembali pecah mendengar istilahku. Aku menoleh cepat ke arahnya dan kali ini kepalaku yang kucondongkan kearahnya. Rena berhenti tertawa.
"Iya gue juga gak rela lu jadi tante gue. "
"Apa?!!!" Aku langsung mendaratkan cubitan yang paling keras ke lengan Rena yang langsung disambung dengan jerit kesakitannya. Wajahnya sampai memerah. Aku meringis puas.
"Oh ya..Apa misi kamu datang ke Bali dan sok-sokan nginap di St Regis?" tanganku menyodorkan secangkir teh hangat pada sahabatku itu yang masih meringis menahan sakit. Rena memaksa tersenyum, jarinya mengarah ke jidatku dan mendorong kepalaku perlahan.
"Sayang kan lu pake voucher St Regis tanpa Satria, Ren." Aku mencibir lagi sebagai tanda protesku padanya.
"Soalnya vouchernya udah mau kadaluarsa Neng. Nunggu Satria bisa barengan gue liburan ke Bali mah sama aja nunggu lu kawin sama Rafa kaleee...." Rena terkikik menggodaku hingga membuat tanganku gatel ingin menjitak kepalanya. Yep, Rena selalu menyebut Rafa. Siapa Rafa? Dia adalah sahabat Satria, laki laki yang menurutku dijadikan tumbal oleh Rena agar aku tidak mendapatkan perhatian Satria. Ya, aku pernah sangat tertarik dengan suami Rena itu saat kami masih SMA dan Rena sepertinya tahu itu.
"Oke..oke..." Rena menghindarkan kepalanya dari tanganku yang sudah terayun ke arahnya. "Maap Ata sayang....oke serius deh sekarang." Rena memperbaiki posisi duduknya. Wajahnya menjadi serius.
"Oke, gue mau jujur sama lu. Sebenarnya gue butuh bicara sama lu. Ini tentang Bebe." Giliran aku yang memperbaiki posisi dudukku. Rena menarik napas panjang sebelum memulai ceritanya.
"Tunggu! Bebe? Si Ben adik kamu?" Aku mengulang ulang menyebut nama Bebe. Adik Rena satu satunya, yang pernah sangat ku kenal beberapa tahun lalu ketika keluarga kami masih sama sama tinggal di Solo.
Rena mengangguk.
"Ini tentang Bebe, Ta. Dia lagi patah hati berat. Dia terpaksa putus sama ceweknya . You can call it so drama, but it is real. Amel dari keluarga kaya banget. Sedangkan lu tahu lah keluarga gue gimana. Keluarga Amel ingin punya menantu yang juga pengusaha dan masih keturuan Chinese murni. Sedangkan Bebe, dibilang Chinese nggak, dibilang enggak tapi darah bokap masih mengalir dalam tubuhnya. Dan dia bukan pengusaha sukses. Gue kasihan liat Bebe. Sebenarnya dia masih mau memperjuangkan cintanya sama Amel, tapi nyokap yang ngelarang. Nyokap sakit hati sama keluarga Amel. Nyokap bahkan sampai bilang mau mati kalau Bebe tetap sama Amel. Bebe yang stress berat. Masalah ini menjadi semakin serius dan gue sama nyokap nggak pernah membayangkan bisa sampai pada tahap ini." Nada suara Rena menurun. Dia mengigit bibirnya menahan air mata yang sudah menggenang di bola matanya agar tidak jatuh. Kepalanya menengadah.
"Gara gara masalah ini gue sama Satria bertengkar hebat. Dan gue nggak tahu harus bicara sama siapa. Gue hanya pengen cerita, gue pengen plong. Dan gue ingat lu. Lu juga kenal Bebe meskipun waktu itu kita masih kecil. Tapi gue ingat banget dia lebih sayang lu ketimbang gue waktu itu. Apa yang dia punya pasti dia lebih senang membaginya itu sama lu ketimbang gue kakaknya. Lu masih ingat kan?" Rena menoleh ke arahku. Aku mengangguk. Dan ya gara gara sikap Bebe kecil yang lebih manis padaku ketimbang pada kakaknya, Rena pernah memusuhiku dan tidak mau bicara padaku.
"Gimana dia sekarang Ren? Apa dia tambah tinggi? Dulu kan dia kurus, kecil, rambutnya jegrak, matanya sipit." Aku tertawa berusaha mengalihkan kesedihan rena. Rena ikut tertawa di sela wajah sendunya.
"Yang pasti dia tambah dewasa. Lu liat aja di Facebooknya" Kali ini Rena tersenyum. Ada sirat kebanggan dibalik senyum itu. Punya bos seperti Daniel mana bisa bebas aku bergaul meskipun itu di dunia maya sekalipun.
"Dia menerima tawaran temannya buat bangun Villa keluarga di Ubud. Aku lega paling nggak dengan bekerja dia bisa ngelupain Amel. Dan gue minta bantuan lu, Ta." Rena menoleh kearahku. Aku mengernyit.
"Temanin dia selama disini. Lu bisa jadi kakak buat dia. Lu bisa kasih nasihat apa kek yang bisa buka pikirannya sama hatinya." Suara Rena terdengar begitu memohon. Dan aku hanya bisa mengangguk tanpa berkata apa-apa.
Kami terdiam sesaat. Rena sibuk dengan pikirannya yang kukira begitu banyak saat ini.
"Aku coba semampuku, Ren." Aku menyentuh tangannya pelan. "Lu tahu sendiri lah bos gue kayak apa, judesnya minta ampun. Sehari dia nggak liat gue, bisa jantungan dia."
Wajah sendu Rena berubah seketika.
"Dia naksir lu, Ta?"
"Naksir dari Hongkong?! Aku itu babunya. Pokoknya si Daniel itu nyebelin banget deh."
"Udah punya cewek?"
"Mana kutahu. Udah kali."
Rena tersenyum kecil.
"Tapi gue salut sama lu Ta. Bekerja dibawah MDF nggak mudah loh dan gue nggak nyangka lu pernah jadi salah satu staf mereka." Rena mengedarkan pandangannya keseisi pavilion mungilku ini. Mendapat pengakuan Rena melalui kata katanya ini membuatku cukup berbangga hati. Kami bukan anak kecil atau remaja lagi, Rena harus mengakui sesuatu dari diriku yang 'lebih' dari padanya. Walaupun kami sama sama berkarir tapi pekerjaanku pernah menjadi pekerjaan impian Rena.
"Semuanya ada timbal balik Ren. Secara finansal aku bisa kamu bilang sukses tapi secara batin, aku menderita. Parah!" Aku menyenderkan tubuhku. Rena memicingkan matanya.
"Maksud lu? Rafa?"
"Rafa lagi? Lagu lama ah...aku juga gak tau dia dimana."
"Eh gue ada IGnya, LInked juga ada. Mau?"
"Ah malas ngomongin dia."
"Iye...iye.... Tapi bukannya di sini banyak cowok keren Ta?"
"Banyak sih but not a future husband material." Aku membalikkan jempolku. Rena ngakak.
'So.. Daniel?'
"Ugh...him? Ke laut aja deh."
Kami terdiam. Mata Rena menerawang. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Kalau gitu tetap gue lebih beruntung dari lu Ta. Karena lu belum menikah dan gue berhasil menikah dengan cowok yang diimpikan banyak cewek." Rena tersenyum lebar dan berjalan ke arah kulkas dan meninggalkan aku yang membeku karena kurasakan betapa dinginnya kandungan dalam setiap kata Rena tadi. Here she goes again. Rena yang selalu mencari celah untuk memperlihatkan bahwa dia tidak pernah kalah dari aku. Dia tidak pernah berubah.