Aku celingak celinguk di bagian kedatangan bandara Ngurah Rai mencari sosok Bebe. Rena memberi informasi kalau Bebe akan tiba jam 5 sore ini.
"Gue udah kasih nomor lu Ta, sama Bebe. Ntar kalau dia nyampe pasti dia telepon lu." Begitu pesan Rena di telepon tadi. Aku memastikan ponselku dalam keadaan hidup. Pesawat Garuda dari Jakarta sudah tiba 15 menit yang lalu tapi tidak ada telepon dari Bebe.
Akhirnya aku putuskan untuk terlebih dahulu menelepon bocah itu.
"Hallo."
"Ya.."
"Bebe?"
"Ehmm..."
"Ini Ata. Teman Kak Rena. Masih ingat kan? Aku..."
"Saya udah di depan Kak Ata" dan klik. Sambungan terputus. Aku mengangkat wajahku dan sesosok mahkluk tinggi langsing dengan paduan jeans dan t-shirt putih berdiri angkuh di depanku. Ini Bebe? Ya Tuhan pencipta langit dan bumi! Kenapa dia beda sekali! Aku masih bengong.
"Kak Ata!"
"Eh..hi Be...apa kabar." Entah kenapa aku salah tingkah sendiri menghadapi anak kecil ini. Bahkan aku sampai lupa mengulurkan tanganku padanya, dan dia pun tidak. Ya mungkin kami sama sama lupa.
"Baik. Sorry saya belum sempat nelepon."
"Oh...nggak apa-apa." situasi aneh tercipta. Setan si Rena! Kenapa nggak bilang kalau adeknya bisa tumbuh sesehat ini. Pyuhhh....
"Ehhm...kamu nginap di mana?" Aku berusaha memecah situasi yang kaku ini.
"Oh ya Kak, saya mau langsung ke Ubud. Ehm...saya mau dijemput sama teman juga. Maaf, jadi ngerepotin. Sebenarnya saya nggak pengen ngerepotin Kak Ata, tapi Kak Rena maksa. Sekali lagi maaf ya kak." Aku hanya bengong mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Bebe. Dia bahkan ber-saya-saya saat bicara denganku. Aku memang mengakui kedekatan kami saat kecil sangat tidak berarti setelah dewasa seperti sekarang. Tak pernah ada kontak antara aku dan Bebe bagaimana mungkin aku masih menganggap kami 'dekat'.
Setan si Rena! Dan kenapa mahkluk ini jadi sok dan dingin banget sekarang. Sejak awal aku menyapanya tadi mungkin sudah tak terhitung berapa banyak senyum yang aku obral bahkan masih sempat aku berikan bonus tertawa nggak penting, yep tertawa garing sekedar menutupi kecanggunganku. Dan dia? Dia sama sekali belum tersenyum. Aku hanya menangkap satu gerakan kecil di sudut kanan bibirnya yang tidak bisa kusebut itu sebuah senyuman.
"Oke nggak papa." Kataku setengah meringis dan tentu saja kembali memaki-maki Rena dalam hati. Kalau tahu dia dijemput sama temannya ngapain aku bela-belain minta ijin khusus dari Daniel buat datang kesini. Rese banget sih Rena!
"Oh iya Kak, itu teman saya datang." Bebe kembali mengenakan raybannya dan melambai kea rah seorang pria. Pria itu setengah berlari kea rah kami. Keduanya berpelukan sesaat.
"Welcome to Bali Ben! Tapi ngomong-ngomong lu nggak kayak orang yang lagi..." pria itu menggantung kalimatnya sesaat kemudian kepalanya sedikit dimiringkan ke arah Bebe dan dia berbisik.
"Patah hati" sambungnya sambil tersenyum lebar. Bebe hanya menimpalinya dengan tertawa kecut. See! Tertawanya saja kecut.
"Oh ya Sam, ini Kak Ata, teman kakak gue." Ben memperkenalkan kami. Aku mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Ehm...Kak Ata saya langsung ke Ubud sama Sam. Sorry jadi ngerepotin..."
"Oh nggak apa-apa .It's okay." Sahutku cepat seraya tertawa hambar bercampur keki.
"Ya udah kalau gitu, saya pamit ya Kak." Ben mengangkat tangan kanannya sebagai tanda dia pamit padaku, dia pun melangkah gagah diiringi Sam yang tadi sempat mengangguk ramah padaku.
Hmmm...sosok Bebe tidak seperti seorang pasien patah hati stadium akhir. Dia tampak baik dan sehat aja. Terlalu berlebihan juga kalau aku membayangkan setiap orang yang patah hati bakal punya tampang berantakan atau bertingkah seperti orang gila. Apa Rena terlalu berlebihan kemarin ya? Tapi...ughhh..kenapa aku ada di sini sekarang? Aku menarik napas pelan kemudian tertawa kecut sendiri. Aku bahkan bertengkar dengan Daniel gara-gara harus datang ke sini menjemput si setan kecil itu dan sekarang?? Bodoh!!
***
Aku kira aku tidak akan berhubungan lagi dengan Ben alias Bebe alias adiknya Rena. Karena kesanku saat kutemui di bandara kemarin adalah dia baik-baik saja. Tapi ternyata aku salah, Rena meneleponku jam tiga pagi dengan suara yang penuh kecemasan. Dengan setengah mengantuk aku menjawab telepon Rena.
"Ta..tolongin gue. Gue baru dapat kabar kalau Bebe ketemu lagi sama Amel di Bali dan keluarga Amel marah besar. Duh...gimana ini? Ta...tolong dong lu ngomong sama Bebe, nyokap bisa mati kalau dia begini terus. Gue takut ada apa-apa sama Bebe, Ta. Bisa aja kan bokapnya Amel ngirim tukang pukul buat babak belurin si Bebe...aduh Ta...gue gimana ini? Please Ta bantu gue..."
Aku mengucek-ucek mataku berusaha konsentrasi dengan setiap kata-kata Rena yang sudah tidak jelas karena bercampur tangisan.
"Ren..tenang dulu. Aku bantunya gimana? Aku nggak tahu tempat tinggal Bebe terus aku harus hubungin siapa?" Aku jadi ikut panik.
"Gue juga nggak tahu..huhu...dia udah matiin hpnya...huhu.." Rena kembali menangis.
"Ren...uhmmm...dia kan punya teman namanya Sam disini kan? Lu udah telepon dia?"
"Udah tapi nggak diangkat."
"Ya udah kamu kasih nomornya ke aku, biar aku yang telepon."
Alhasil misi menyelamatkan Bebe kuselipkan diantara jadwal kerjaanku yang seabrek hari ini. Duh...kenapa sih cinta bisa serepot ini?
Aku berhasil menghubungi Sam setelah kucoba hampir setengah hari. Heran, apa sih kerja orang ini sampai-sampai nggak bisa dihubungi. Atau dia memang mendapat pesan khusus dari Bebe untuk tidak menerima telpon dari nomor yang nggak dikenal. Dugaanku benar karena dari nada suaranya Sam sedang berusaha menyembunyikan keberadaan Bebe, tapi setelah kujelaskan sebisa mungkin, pria itu menyerah dan mengatakan kalau Bebe ada di rumahnya.
Sehabis kerja aku langsung melesat ke Ubud. Sam menyambutku di depan pintu. Tak sabar aku menanyakan keberadaan Bebe. Sam menyuruhku untuk pergi ketaman samping. Dari pintu samping rumah Sam aku melihat sosok pria yang sedang duduk membelakangiku. Kepalanya menunduk dalam. Aku menarik napas lega kemudian melangkah mendekatinya.
"Be..." panggilku hati-hati. Dia mengangkat kepalanya sedikit tapi tanpa melihat ke arahku.
"Jangan panggil saya Bebe. Saya nggak suka. Panggil saya Ben. Saya bukan anak kecil lagi." Aku cukup terkejut dengan balasannya atas sapaanku. Dan belum sempat aku berkata lagi, laki-laki kecil itu kembali bersuara dan membuat aku sama sekali tidak bisa berkata apa-apa.
"Dan please...Kak Ata nggak perlu repot mencari saya. Saya udah dewasa. Saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri. Jangan pernah dengar kata-kata Kak Rena. Saya nggak suka ada orang lain ikut campur dalam masalah saya." Kali ini Bebe memiringkan kepalanya dan melihat ke arahku dengan tatapan dingin. Sungguh tatapan itu sempat membuat sekujur tubuhku dingin sesaat. Tatapan magneto!!! Benar-benar membekukan otakku untuk beberapa detik.
Apa? Orang lain? Oh...tunggu! Apa yangsedang aku lakukan? Buat apa aku ada di sini dan mencoba masuk dalam sebuah kisah sinteron sentimentil manusia ini. Ciiihh...menyedihkan. Kalau bukan karena Rena dan Tante Eta udah aku balas kata-katanya dengan kosa kata yang paling menyakitkan. Sabar Nat...sabar...! Beberapa detik terbuang demi mencaci maki laki-laki di depanku ini....namun tentu saja hanya dalam khayalanku. Kucoba memilih kata yang pantas.
"Aku hanya..."
"Saya tahu...karena itu mulai sekarang nggak usah dengar kata-kata Kak Rena lagi." Kali ini suaranya setengah meninggi. Dia bangkit dan berjalan meninggalkanku dengan mulut masih setengah menganga. What?!! Aku menghembuskan napas menenangkan emosiku yang sudah diujung tanduk. Sabar...dan berapa detik kemudian aku hanya bisa tersenyum kecut menahan kesal. Apakah semua orang yang patah hati sikapnya akan sangat menyebalkan seperti ini? Buat apa aku buang-buang waktuku yang berharga demi orang ini. Aku melangkah cepat mengejar langkah laki-laki itu.
Aku berhasil melewatinya dengan langkah gagah penuh wibawa dan mencapai pintu terlebih dahulu. Di sana aku bertemu Sam dan langsung pamit tanpa melihat ke arah anak kecil itu lagi. Dan malam ini aku bertekad akan menelpon Rena dan mengatakan aku tidak akan lagi mau berhubungan dengan adiknya. Cukup sudah!
Aku tidak bisa konsentrasi dengan email-email yang baru kuterima. Kata-kata Bebe atau Ben atau whateverlah namanya masih terngiang. Ya...seharusnya aku tidak usah mencampuri urusan dia. Persetan dengan masa lalu. Dan sepertinya Ben memang tumbuh menjadi pribadi yang menyebalkan bahkan semakin menyebalkan setelah dia patah hati. Kalau dia masih hangat dan ramah seperti waktu kecil dulu, pasti sapaannya padaku saat dibandara tidak sekadar basa-basi. Jujur, saat Rena memintaku menjemputnya aku bahkan membayangkan sambutan yang jauh lebih hangat. Sebuah pelukan mungkin? Ya...seperti apa yang dibilang Rena, waktu kecil dulu Ben sangat dekat denganku. Aku kembali tersenyum kecut. Berdesis kemudian menggeleng-geleng tak percaya.
Semalam aku sudah menelpon Rena dan mengatakan aku tidak akan lagi ikut campur urusan adiknya. Awalnya Rena terus memohon agar aku tidak berubah pikiran dan mencoba memahami Bebe tetapi setelah kuceritakan kejadiannya secara detail, Rena akhirnya maklum dan meminta maaf padaku.
Kucoba mengusir rasa kesalku pada Ben jauh-jauh dan berusaha kembali berkonsentrasi pada email-email calon buyerku. Bagaimanapun buyerku lebih penting ketimbang anak kecil dan romansa picisannya itu cibirku dalam hati. Email Diego. Email Park Sang Woo. Email Catherine. Aku menggigit bibirku, jariku sibuk memainkan pena. Berbagai vocabulary bahasa Inggris seakan terbang melayang dan menari-nari di depan wajahku. Aku memejamkan mataku kemudian menarik napas panjang, Daniel dan segala aturannya lama-lama bisa bisa bikin aku tua dalam hitungan detik. Untuk membalas email saja aku perlu mengkonsepnya dulu dalam bentuk manual. Memilih milih kosa kata yang tepat menurut Daniel. Ahh...aku alergi banget dengan hal ini.
"Languange style, Nat. Remember language style!" Begitulah Daniel. Dia memintaku untuk membalas setiap emailku dengan gaya bahasa Amerika-nya yang super duper perfect. How come? Aku bukan orang Amerika dan jelas gaya bahasa kami berdua pasti beda. Dan yang pasti semua buyerku tahu kalau aku orang Indonesia dan mereka tentu tidak akan mempermasalahkan gaya bahasa yang kupakai dalam setiap emailku toh yang penting poin yang aku maksud bisa mereka pahami. Itu sudah sangat cukup. But tidak dengan Daniel. Alhasil setiap kali aku akan membalas email, dia pasti akan mengeceknya dulu sebelum aku send. Yup, persis seperti emak-emak yang ngecekin PR anaknya sebelum dibawa kesekolah. Feel free to contact me at anytime for anything. Itulah slogan kami berdua disetiap akhir email. Dan aku sudah muak dengan aturan konsep-mengkonsep ini, banyak waktuku yang terbuang percuma hanya untuk melakukan permintaan Daniel yang menurutku tidaklah penting.
"Nat, my office now!"
Ugh!!!