Ahhhhhhhhhhhhhh....!!! Aku menjerit tanpa bersuara dengan kedua kaki menendang ke segala arah dan aku berharap satu tendanganku mendarat persis di wajah orang yang sedang menelponku saat ini. Ponselku berkedip-kedip dan ada nama Daniel di sana. Kenapa Sabtu Sabtu beginipun dia tetap menggangguku. Dan ini masih jam...7??? Oh My...Daniel benar-benar...ugh...aku kembali menarik selimut dan mencoba kembali tenggelam dalam mimpiku yang belun tuntas tadi. Masa bodoh dengan dia. Telpon aja terus sampai tua.
Tapi percuma, mata ini sudah tidak mau lagi diajak berdamai. Meski posisi tidur sudah kuubah sedemikian rupa, telungkup, telentang, nungging...tetap saja mata ini nggak mau ngatup. Aku memang mengabaikan telpon Daniel, tapi aku malah jadi kelimpungan sendiri. Daniel telpon berarti ada yang tidak beres walaupun itu cuma hal kecil seperti masalah flower stamp itu. Daniel telah memanfaatkan kelemahanku ini.
Akhirnya aku menyerah, lewat SMS Daniel memintaku segera ke kantor. Jam 10 pagi aku tiba di kantor. Dan benar mobil Daniel ada di sana. Pintu ruangannya terbuka. Dari ambang pintu aku bisa melihat Daniel terkulai di kursinya. Ya Tuhan...dia tidak apa-apa kan? Aku berlari cepat menghampirinya.
"Daniel!" kutepuk lengannya. Mataku jelalatan ke seluruh tubuhnya memastikan tidak ada yang aneh di sana. Kupicingkan mataku masih sambil menelisik seriap inchi wajah Daniel. Ada apa dengan laki-laki ini? Apa dia terlalu putus asa karena sulit menghubungiku pagi ini? Ck...ck..ck....aku berdecak.
"Danie!" sekali lagi kutepuk lengannya. 'Daniel..are you okay?" Matanya membuka pelan. Dia meringis sebentar dan menegakkan tubuhnya. Aku mundur selangkah dan masih tidak melepas pandanganku darinya.
"Kamu sakit?"
Dia hanya menggeleng. Ku ulurkan tanganku ke keningnya. Tapi dengan cepat dia menepis pelan tanganku. Dia menegakkan posisi duduknya. Sebelah tangannya dipakai buat merapikan rambutnya.
"Aku nyari filenya Diego. Kamu punya kan?" katanya setengah menggumam sambil menatapku. Kedua bahuku seketika turun seiring desahan kesal yang tercipta dari bibirku. Udah kutebak. Aku menggeleng pelan kemudian mengeluarkan blackberry. Begitulah Daniel dia tidak pernah menyimpan file yang dia butuhkan dan ketika dia butuh seperti saat ini dia akhirnya menggangguku.
"Udah ku sent ketempatmu." Seruku.
"Thank you..."
Raut lega tergambar di wajahnya. Aku pun mulai menyadari kebodohanku, kalau hanya masalah mengirim file Diego itu kan bisa aku lakukan dari rumah ngapain aku harus ke kantor.
"Kamu menelponku pagi-pagi cuma untuk ini? Thanks Daniel kamu sudah merusak hari liburku." Dengusku kesal. Dia menarik napas berat. Wajahnya kembali meringis. Aku menghempaskan tubuhku ke sofa empuk dalam ruangan Daniel.
"Hei...kamu sakit kan?" Aku kembali menanyakan keadaanya. Karena dari penampakan wajahnya, Daniel tampak sedang tidak sehat.
Dia hanya menggeleng dan menyunkan tangannya mengatakan tidak.
"Aku hanya ingin ditemani." Ahhh...he's back. Daniel dengan sisi sentimentilnya yang ngalah ngalahin film film Karan Johar. Ketika ia ingin ditemani, Daniel bisa berubah menjadi dua sosok yang berbeda. Sosok seorang teman yang suka mencurahkan isi hatinya atau sosok menyebalkan yang menjunjung tinggi peribahasa diam itu emas. Kukira kebiasaan ini sudah ia lupakan tapi ternyata tidak. Mungkin karena dua bulan ini kami disibukkan dengan pembelian dari beberapa buyer Eropa jadi untuk sementara ritual itu tidak ada. Yup aku punya ritual khusus setelah satu bulan bergabung dengan perusahaan Daniel, yaitu datang ke ruangannya dan duduk menemaninya selama 15 menit bahkan terkadang sampai satu jam. Daniel memang selalu melakukan ritual ini. Kami biasa mendiskusikan masalah perusahaan dan buyer-buyer kami. Tapi kalau dia sedang gundah atau lagi punya masalah, ritual kami ini menjadi aksi semedi. Kami diam tanpa bicara selama satu jam. Kadang aku berpikir betapa tololnya aku mau saja mengikuti keinginan anehnya semacam ini, tapi setelah kupikir lagi ternyata melegakan juga ada di sebelah Daniel tapi tidak mendengar ocehan dan omelannya seperti biasanya.
Ruangan sunyi senyap. Aku duduk di pojok sofa setengah bersandar. Tanganku membolak-balikkan setiap lembar majalah Hello Bali tanpa menimbulkan suara. Entah kali ini aku harus menunggu berapa lama sampai aksi 'diam itu emas' ini berakhir. Aku lirik Daniel, ternyata kali ini si bule itu juga sedang melirikku hingga membuat kami sama sama terpana. Aku mengernyit ke arahnya.
"Nat, kita ke pasar Senggol..."
Sepertinya kerutan di keningku bertambah sepuluh kali lipat mendengar permintaan ajaib Daniel. Ke pasar Senggol?
Kernyitan di jidatku masih belum hilang.
"Kita beli ayam goreng kesukaanku." Jelas Daniel lagi yang kali ini membuat tubuhku langsung bangkit dari sofa dan berjalan cepat ke arahnya sekedar mencari tahu apa yang sedang merasukinya hingga tiba-tiba dia ingin langsung ke pasar Senggol membeli ayam goreng kesukaannya.
"Hei...kamu tau kan ayam goreng yang biasa dibeli Gde?"
Aku meneliti wajahnya dan melihat keseriusan di sana. Aku tertawa kecil sambil mengangguk.
"Tapi kenapa tiba-tiba kamu pengen beli ayam goreng itu, tumben Daniel." Kataku masih dengan sisa tawaku tadi. Ini memang aneh, biasanya kalau lagi suntuk Daniel mengajakku ke café Bonsai atau malah ke Arena untuk makan steak. Tapi kali ini permintaan Daniel cukup sederhana: Ayam Goreng Pasar Senggol. Ya aku tahu ayam goreng PS memang menjadi favorit Daniel, tapi biasanya dia meminta OB Gde untuk membelikannya dan bukan datang sendiri ke PS untuk membelinya seperti keinginannya saat ini.
"Daniel...apa kamu sedang punya masalah? Ada buyer yang lepas?"
Dia mengangkat wajahnya menatapku.
"No." jawabnya singkat namun pelan. Aksi diam Daniel sebenarnya sudah menjadi jawaban kalau dia memang sedang kecewa. Apa dia kehilangan Leona, buyer berprospek dari Swedia? Aku tidak mau bertanya lebih detil, karena kalau masalah gagal mendapat buyer Daniel agak tertutup dariku. Dia sadar kalau dia tidak sepandai aku dalam mendapatkan buyer.
"Aku nggak tahu aku hanya tiba-tiba pengen makan ayam goreng PS. Hari ini kan Gde tidak ada, dan tidak mungkin aku ke sana sendiri. Jadi aku memintamu kesini agar kita ke PS berdua." Tiba-tiba dia menjelaskan sendiri alasan dibalik keinginannya anehnya itu. Dia bersiap bangkit dari kursinya seraya mematikan laptopnya. Dia melepaskan jaket jasnya yang tadi membaluti kaos oblong abu-abu yang ia kenakan saat ini. Sesaat aku menganggumi penampilan 'sederhana' bos ku ini.
Aku mengikuti langkah panjangnya keluar dari kantor. Karena PS letaknya hanya 100 meter dibelakang kantorku, kami berdua sepakat jalan kaki. Memang sangat tidak romantis berjalan berdua dengan Daniel tanpa obrolan di bawah panas terik matahari Bali degan tujuan membeli ayam goreng PS demi memenuhi rasa ngidamnya. Seandainya laki-laki di sebelahku bukan dia mungkin ceritanya akan berbeda.
Aku melirik Daniel yang melangkah begitu cepat di sebelahku. Sialan si Daniel, mengikuti irama langkahnya bukan hal yang mudah untukku.
"Daniel bisa pelan sedikit nggak?" aku setengah berteriak kearah Daniel demi mengalahkan suara bising kendaraan jalan raya siang ini.
"What?" Daniel menoleh padaku sekilas tapi tetap melangkah dengan langkah-langkahnya yang panjang. Aku setengah berlari beruaha mensejajarkan langkah kami.
"Nat?! What?" tanyanya lagi setengah mengernyit karena melihat aku hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya.
"Forget it." Balasku pasrah. Kulihat Daniel cukup surprise dengan situasi PS siang ini. Aku menahan senyum melihat wajahnya yang takjub.
"Nat, you know the..."
"Yes...follow me." Potongku cepat. Aku berjalan mendahuluinya dan Daniel mengekor di belakangku.
Hei...tunggu dulu biasanya ketika Daniel tiba-tiba punya permintaan aneh padaku kalau bukan karena dia sedang punya masalah maka akan ada sebuah kejadian tidak mengenakan setelah itu. Aku masih ingat ketika dia memintaku menemaninya menemui seorang calon buyer yang menurutnya ada tanda-tanda ingin memikatnya dan dia merasa calon buyer itu gadungan tapi demi menghargai orang itu makanya Daniel mengajakku dan ingin mengenalkanku sebagai calon istrinya. Aneh bukan? Aku? Calon istri Daniel.? Ngimpi!! Maksudnya Daniel yang ngimpi!! Dan setelah itu apa yang terjadi? Ban mobil Daniel pecah dalam perjalanan menuju Tampak Siring sehingga kami terdampar di area terpencil dan sepi hampir dua jam menanti pertolongan tiba karena Daniel tidak membawa ban cadangan.
Aku tertawa kecil sendiri kalau mengingat kejadian itu. Mudah-mudahan ini hanya sebuah kebetulan saja, semoga tak ada hubungan antara keinginan aneh Daniel dengan kejadian tak mengenakan yang muncul setelah itu.
Langkahku terhenti saat aku merasakan tangan Daniel mencengkram bahuku. Aku menoleh ke arahnya. Kami baru saja mencapai mulut pasar saat disambut dengan satu keriuhan. Banyak orang berkumpul mengelilingi sesuatu. Persis seperti ada tukang obat yang sedang beraksi. Namun anehnya orang orang yang sedang menonton tidak menampakkan wajah terpukau atau meringis tergoda dengan barang yang ditawarkan melainkan berwajah tegang, saling berbisik, bahkan ada beberapa ibu ibu yang mengurut d**a dengan wajah sedih.
"What's going on?" Daniel tampak bingung melihat kerumunan orang orang di depannya yang menunjukkan berbagai macam ekspresi.
"Ada yang berkelahi." Jawabku. Aku merengsek lebih dekat ke arah kerumunan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Daniel menahan tanganku.
"It's okay." Bisikku. Aku menyelusup di antara ibu-ibu yang berkomentar dan sesekali menjerit.
"Nat...!" aku mendengar Daniel memanggilku, aku yakin bosku itu pasti melarang niat ingin tahuku ini. Entah kenapa aku merasa perlu melihat siapa yang terlibat perkelahian ini. Hatiku lumayan berdebar saat aku lihat sosok yang terkulai di tanah akibat tendangan seseorang bersepatu bot polisi. Aku menajamkan penglihatanku untuk lebih meyakinkan apa yang kulihat di depanku. Tidak mungkin...
"Bebe?!" Bisikku. Tiba-tiba aku merasa tubuhku seluruhnya bergetar dan kakiku tanpa dikomando sudah bergerak ke arah sosok yang terkulai di tanah itu.