"Jangan...!!" jeritku saat laki-laki bertubuh gempal itu hendak mendaratkan lagi satu tendangan ke arah Ben. 'Sudah cukup aku mohon." Jeritku tertahan. Laki-laki berwajah lumayan seram itu menatapku dan beberapa detik kemudian menatap semua orang yang berkerumun di situ. Dia mungkin baru saja sadar kalau aksinya telah menarik perhatian seisi pasar ini. Laki-laki itu kemudian memberi tanda pada tiga temannya yang ikut berjaga-jaga disitu dan merekapun langsung kabur tanpa ada yang berani menahannya.
"Be...Ben!!" panggilku. Aku bisa mendengar suara-suara orang di sekeliling kami berkomentar riuh. Beberapa orang menghampiri aku dan Bebe yang sudah tidak sadarkan diri.
"Kami sudah telpon polisi bu...kita bawa saja ke Rumah Sakit." Aku mendengar suara berat seorang pria tepat di belakangku. Aku masih belum bisa berpikir jernih. Rasa takut dan panik menguasai diriku.
"Ben...Ben..." Aku menepuk pipi Ben yang lebam membiru dan aku cukup ngeri melihat sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah.
"Nat...." aku menarik napas lega saat kudengar suara yang kukenal. Suara Daniel. Daniel berjongkok di sebelahku. Aku menoleh ke arahnya dengan wajah sudah penuh dengan air mata.
"Daniel...help me...." Bisikku.
"Kita bawa dia dengan taksi." Jawab Daniel sambil bersiap mengangkat tubuh Ben. Dengan dibantu beberapa orang di situ, tubuh tak sadar Ben di bawa ke rumah sakit dengan taksi. Jantungku berdegup cukup hebat saat menoleh ke bangku belakang dan mendapati Bebe masih terkulai tak sadarkan diri.
"Pak cepet ya..." mohonku pada si supir taksi yang mencoba memacu taksinya lebih cepat setelah mendengar permintaanku. Biasanya aku selalu menegur supir taksi bila sedang memacu taksinya dengan kencang tapi tidak dengan saat ini. Aku bahkan membayangkan bisa berada dalam taksi milik Queen Latifah dalam film fantasy "Taxi".
Aku menanti dengan sangat cemas di depan ruang IGD tempat Bebe di rawat. Aku tak berhenti meremas tanganku sambil terus berdoa dalam hati. Meskipun kemarin sempat sangat sebal dan bersumpah tidak akan bertemu dengannya lagi namun aku tidak pernah membayangkan kalau sumpahku itu akan menjadi kenyataan. Bagaimana kalau Bebe mati? Ya Tuhan bagaimana dengan Rena dan Tante Eta? Aku meremas tanganku semakin kencang. Namun tiba-tiba aku merasa sebuah tangan menggenggam kuat kepalan tanganku hingga membuat aksi gelisahku tadi terhenti. Aku mengangkat wajahku dan mendapati Daniel sedang menatapku serius.
Tangan Daniel masih membungkus kedua tanganku yang saling bertaut.
"Will he be okay?" kataku sedikit tersendat karena menahan tangis.
"Of course, Nat. He will." Daniel menepuk belakang tanganku pelan. Kami berdua terdiam. Daniel duduk tenang di sebelahkau. Tangannya masih menempel di punggung tanganku.
"He is my friend's younger brother. The one I picked up last week at the airport. My friend was keep telling me to watch over him but..." aku menelan ludahku berkali-kali.
"Hey...this is not your fault." Daniel merapatkan duduknya ke arahku.
"But...aku janji untuk...Daniel gimana kalau..." aku menggelengkan kepalaku berusaha tidak berpikir sejauh itu.
"Hey...Nat...he will be okay. Trust me." Daniel melepaskan tangannya dari punggung tanganku dan kali ini dia merangkul bahuku dan meremasnya lembut.
Dokter keluar dari ruang IGD dan berjalan kea rah kami.
"Dokter.." sapaku dengan nada tidak sabar ingin tahu keadaan Ben.
"Adik anda baik-baik saja. Dia mengalami gegar otak ringan. Sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruang pasien." Jelas dokter sambil menepuk bahuku pelan. Aku menghembuskan napas lega dan mengucapkan terima kasih pada dokter. Aku tersenyum lega memandang Daniel.
Ben dipindahkan ke ruang pasien, Daniel yang mengurusnya.
Saat aku dan Daniel masuk ke kamarnya, Bebe masih tidur.
"Nat, I leave you here."
"Daniel, thank you..." kataku tulus. Daniel mengangguk, menepuk bahuku pelan, kemudian beranjak keluar. Aku berdiri di sebelah Ben yang sedang tidur. Okay aku akan menelpon Rena kalau Ben sadar. Aku ingin tahu dulu kenapa dia sampai bisa babak belur dihajar orang-orang tadi.
Aku menatap wajah Ben yang penuh dengan lebam serta kepalanya yang masih diperban. Masih bisa kulihat garis ketampanan anak ini di antara luka-luka di wajahnya. Ben memang semakin ganteng, aku tak menyangka sosok culunnya semasa kecil sudah hilang tak bersisa. Aku tersenyum sendiri. Segala rasa kesal dan benciku padanya perlahan runtuh berganti rasa kasihan.
Tubuhku bergerak saat aku melihat mata Ben mengerjap dan kemudian membuka pelan. Kakiku bergerak mundur sedikit.
"Be...uhmmm Ben kamu sudah sadar?"
Laki laki itu meringis saat dia hendak menggerakkan badannya. Beberapa tulang iganya patah, itu yang membuat dia sulit bergerak. Aku bergerak mendekatinya.
"Kamu jangan bergerak dulu." Tukasku. Mata Ben menatapku tak berkedip.
"Kak Ata...?" ucapnya dengan sedikit meringis menahan rasa sakit karena luka yang cukup besar di sudut bibirnya.
"Ben...kamu istirahat aja dulu. Nanti setelah kamu udah merasa lebih enakan kamu harus cerita ke aku." Kataku sedikit tegas kali ini.
"Kak...tolong jangan kabari ke Kak Rena ya..please..." mohonnya dengan suara berbisik.
Aku mengangguk. "Aku memang belum kabari Rena."
"Makasih." Bisiknya.
"Oh ya Ben...bagaimana dengan masalah ini? Apa kamu akan menuntut mereka? Karena pemukulan tadi sudah dilaporan ke polisi."
Ben hanya menggeleng pelan. Dan aku tahu Ben tidak akan menuntut orang-orang tadi. Dengan menuntut mereka maka masalahnya akan semakin rumit karena Tante Eta pasti akan tahu dan tentu saja dia akan semakin syok.
Aku masih terpaku ditempatku tanpa tahu akan melakukan apa. Di saat hening dan kagok seperti ini aku tiba-tiba kembali merasakan penolakannya waktu itu.
"Kak...bisa tinggalkan saya sendiri." Sambungnya beberapa saat kemudian yang tiba-tiba memicu emosiku naik. Imbas rasa kesal atas penolakannya padaku yang tadi sempat melintas di pikiranku. Dan kalimatnya lirihnya itu malah terdengar seperti sebuah pengusiran akan kehadiranku di tempat ini. Aku tidak suka dengan nada bicaranya padaku. Keangkuhannya benar-benar menyebalkan.
"Ben! Dengar ya! Jangan pernah bantah aku kali ini! Aku nggak peduli sama sekali dengan urusan cintamu atau patah hatimu. Dan aku sama sekali nggak mau ikut campur okay. Yang aku pedulikan hanya Rena dan Tante Eta. So stop being childish and listen to my words!!" aku menantang bola matanya.
Ben cukup kaget dengan reaksiku namun karena tidak bisa melakukan apa-apa dia hanya bisa diam. Aku puas dengan aksiku kemudian berbalik dan melangkah ke sofa di ruangan itu. Dengan emosi yang masih tersisa aku menyambar tasku dan mencoba menyibukkan diri dengan mengorek isi tasku mencari ponsel.
"Maaf..." aku terhenti di tengah aksi mengorek isi tasku.
Kepalaku beralih kearahnya. Menatap sosok yang masih terbaring lemah itu. Matanya sendu dan bibirnya bergerak pelan menyisakan ringisan kecil di wajahnya.
"Mereka orang suruhan kakaknya Amel. Mereka berhasil membawa Amel."
"Jadi kamu bertemu lagi dengan Amel...apa kamu gila?" aku setengah berteriak ke arahnya. Ben memandangku cukup lama. Aku kemudian tersadar dan memperbaiki posisi dudukku yang sempat terbaikan gara-gara emosiku tadi .
"Okay harusnya aku tidak berkomentar." Aku menyenderkan tubuhku berusaha tampak serileks mungkin.
"Maaf...saya minta maaf." sekali lagi dia mengucapkan maaf dan membuatku mendesah sedikit menyesal. Dasar anak kecil, kata-kata maafnya malahan membuat aku merasa bersalah sendiri. Pintar sekali dia membalikan kondisi perasaanku saat ini. Aku menelan ludah hambar. Mengatur emosiku berusaha tampak tenang dan sedikit lebih bijaksana. Yep, saat ini Ben tahu kalau dia memang sudah salah.
"Rena sudah cerita tentang semuanya jadi sedikit banyak aku tahu masalah kamu dengan si...ehmmm pacar kamu itu." Jelasku hati-hati padanya. Aku enggan menyebut nama Amel dan lebih suka menyebut 'pacar kamu'. Ben hanya mengangguk kemudian memalingkan wajahnya ke samping. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Dari jauh aku hanya memandang tubuhnya yang terbaring diam di tempat tidur.
"Kak..." dia memanggilku masih dengan posisi seperti tadi. Wajahnya tidak menatap ke arahku.
"Ya..."
"Boleh saya tinggal di tempat kakak untuk sementara waktu sampai saya sembuh?" kali ini nadanya lebih merendah. Tidak ada kesan angkuh bercampur gengsi di sana. Hanya saja dia tidak menatapku mungkin saat ini dia sedang berusaha mati-matian mengalahkan kedua rasa itu dan tidak ingin aku melihat betapa beratnya dia melakukan hal ini. Ya, tentu saja dia minta pertolonganku. Saat ini hanya akulah satu-satunya malaikat penyelamatnya. Dia juga pasti memikirkan kesehatan tante Eta. Dasar! Kenapa baru setelah babak belur seperti ini baru dia ingat orang-orang yang menyayanginya.
"Okay." Jawabku pendek dan tanpa berpikir lama. Busyet! Yakin lu Ta bakal menerima si anak manja ini di rumahmu? Aku mengernyit bingung dengan jawabanku yang sangat cepat itu. Dan setelah itu jeda tercipta lama. Ya, dia kembali tidak berkata apa-apa. Aku pun memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Aku tau rasa gengsi sedang mengikatnya kuat. Kubiarkan suasana sepi ini meliputi keberadaan kami berdua di kamar ini.