Keheningan yang dingin menyelimuti ruangan tersebut sesaat setelah Alvin mengatakan hal itu. Ophelia terdiam tanpa kata, dia hanya melirik Alvin sekilas sebelum kemudian kembali menutup kedua matanya. Enggan memberi jawaban... atau mungkin, tidak memiliki jawaban atas apa yang dikatakan pria itu.
Sama hal nya dengan yang dilakukan Alvin. Tepat setelah mengatakan hal yang membuat Ophelia terdiam, pria itu lebih memilih untuk memperhatikan barang barang yang terdapat diatas meja. Tangannya dalam diam membereskan botol botol tequila yang masih penuh, kepalanya mengangguk puas saat memastikan jika Ophelia benar benar tidak meminum semua minuman itu seorang diri. Alvin juga merapikan kartu ruangan yang diberikan kepada Ophelia karena perempuan itu memesan ruangan privat tersebut, serta ponsel milik perempuan itu yang masih berdering nyaring sesekali.
Tanpa berkata apapun, pria itu meraih ponsel milik Ophelia yang terabaikan sejak tadi. Matanya menatap sekilas semua pesan yang masuk, sebelum kemudian mengaktifkan mode pesawat milik perempuan itu. Memastikan agar tidak ada dering notifikasi lagi yang menganggu mereka.
Kedua netranya melirik ke arah Ophelia saat dirinya mendengar dengkuran halus dari mulut perempuan itu. Desahan pelan keluar dari mulutnya ketika menyadari jika untuk sementara dirinya bisa berhenti mencemaskan perempuan itu.
Alvin menyandarkan tubuhnya pada sofa, sebelah tangannya meraih jas miliknya yang sejak tadi teronggok dengan menyedihkan diatas sofa sebelum kemudian menggunakan benda itu untuk menyelimuti Ophelia. Dengan tenang, dia mengeluarkan ponsel miliknya sendiri, mengirimkan kabar kepada orang-orang yang sebelumnya menghubungi perempuan itu.
Ophelia baik-baik saja. Aku sedang bersamanya.
***
Kerutan samar terbit dari dahi Ophelia sesaat setelah merasakan cahaya matahari menerpa wajahnya. Kelopak matanya bergetar sebelum kemudian terbuka secara perlahan, memamerkan netra berwarna cokelatnya pada dunia. Pandangannya memburam untuk sesaat dan mulai jernih saat dirinya berkedip untuk yang kedua kalinya.
'Dimana ini?' batinnya bertanya
Perempuan itu melenguh singkat sebelum bangkit dari posisi tidurnya. Dia memandang selimut yang membungkus tubuhnya, dan mengedarkan pandangannya. Netra nya beradu dengan sepasang mata yang sedang memperhatikan nya dari sebuah sofa. Seulas senyuman yang terbit di sudut bibir orang itu membuat Ophelia menipiskan bibirnya.
'Alvin,' gumam Ophelia pelan, memanggil nama orang lain yang bersama dengannya di ruangan ini entah sejak kapan
'Sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?'
'Pusing.' Balas Ophelia singkat. Dia menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang dan menarik nafas panjang sambil memijat pelan dahinya, 'sejak kapan aku disini?' lanjutnya
'Sejak kau tertidur semalam. Ini hotel diatas bar milikku.' Balas Alvin sambil beranjak dari posisi duduknya. Dia meraih sebotol air yang masih di segel dari meja kecil di samping tempat tidur sebelum kemudian menyodorkan benda itu pada Ophelia, 'tak ada pertanyaan seperti 'apa yang kau dan aku lakukan di dalam kamar ini', mungkin?' Lanjut pria itu setengah menggoda
'Apa yang sudah terjadi, biarlah terjadi.' Sahut Ophelia, mengisyaratkan jika dirinya tidak peduli seandainya ada yang terjadi diantara mereka saat dirinya mabuk
'Dingin sekali. Padahal ku kira, aku akan mendengar pertanyaan klise itu pagi ini.'
Tak menjawab, Ophelia lebih memilih untuk meminum sebotol air yang sebelumnya di sodorkan oleh Alvin. Dia meneguknya dua kali sebelum kembali menutup botol itu dan menaruhnya diatas meja. Pandangannya terarah pada pakaian yang dirinya kenakan, gaun berwarna hitam itu terlihat sangat tidak nyaman dipakai untuk tidur. Entah bagaimana caranya dirinya bisa tetap tertidur nyenyak dan baru bangun dipagi hari seperti saat ini dalam balutan gaun semacam ini.
Entah karena dirinya terlalu kelelahan, atau justru karena terlalu mabuk. Ophelia tidak bisa mengingatnya sama sekali.
'Tidurlah lebih lama, Ophe. Kau baru saja kembali dari perjalanan bisnis mu setelah berhari hari. Seharusnya tubuhmu sedang protes sekarang.' Ucap Alvin sambil menepuk pelan bahu Ophelia
Lagi, Ophelia lebih memilih untuk bungkam. Pandangannya menunduk, tertuju kepada selimut yang masih menyelimuti setengah tubuhnya. Baginya, selimut berwarna putih tanpa pola itu jauh lebih menarik dibandingkan wajah Alvin yang berada di dekatnya itu.
Wajah Alvin... cukup mirip dengan Mikhail.
Tidak aneh, memang. Mereka bersaudara.
Walau bukan adik kakak kandung, keduanya memiliki garis darah yang cukup dekat.
Mengingat kembali tentang Mikhail, Ophelia merasakan seolah-olah sesuatu yang besar tersangkut di tenggorokannya. Bulu kuduknya meremang, bersamaan dengan rasa mual yang muncul dari tenggorokan nya saat mengingat kembali desahan yang menggema di dalam kamar Mikhail.
Ophelia menutup mulutnya dengan tangan. Dia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan berjalan cepat memasuki kamar mandi, dia memuntahkan cairan kekuningan dari dalam mulutnya. Pijatan hangat di tengkuknya membuat Ophelia berhasil melepaskan rasa mual yang terbit begitu saja saat mengingat hal yang sangat ingin dirinya lupakan.
Suara air mengalir terdengar sesaat setelahnya, menghapus jejak cairan kekuningan yang keluar dari perut Ophelia. Perempuan itu mengusap bibirnya dengan air, dia menatap pantulan dirinya dan Alvin dari cermin besar di hadapannya.
'Al,' panggil Ophelia
'Apa... apa Mikhail benar-benar menikahi Lily?' tanyanya pelan
Pandangan mereka beradu melalui cermin. Bisa Ophelia rasakan pandangan Alvin kepadanya berubah nanar. Tatapan penuh rasa kasihan, sama seperti yang dia dapatkan dari seorang resepsionis yang bekerja di hotel bagian bawah penthouse milik Mikhail.
'Benar.'
Ophelia mencengkram tepian wastafel. Netranya bergerak liar, berusaha mencari kebohongan di dalam bola mata berwarna biru jernih yang sedang balas menatapnya melalui cermin itu.
'Tapi... kenapa...?'
'Ku harap kau memaafkanku, Ophe. Tapi aku pun sama terkejutnya denganmu. Tidak ada yang tahu dengan apa yang ada di dalam pikiran Mikhail. Baik aku, maupun Calvin.' Jawab Alvin pelan. Ingatannya melayang pada insiden beberapa waktu yang lalu, 'Mikhail tiba tiba mengumpulkan semuanya saat makan malam... dan mengatakan jika dia tidak mencintaimu.'
'Dia... tidak?' gumam Ophelia pelan. Netra cokelatnya menatap lurus ke arah Alvin yang tak membalas ucapannya.
Seolah menegaskan perkataan yang sebelumnya.
Menghela nafas panjang, Ophelia berjalan kembali ke atas tempat tidur. Dia mendudukkan dirinya diatas ranjang dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kamar yang berada di ketinggian itu menangkap pemandangan lalu lintas kota New York yang cukup padat. Lalu lintas dan mobil yang berlalu lalang kembali membuat Ophelia larut dalam ketenangannya.
Dia berharap, semua ini hanyalah mimpi. Dia harap, semua ini hanyalah bagian dari mimpi buruk yang hadir karena dirinya terlalu sibuk dan tidak memberikan tubuhnya izin untuk beristirahat.
Namun sensasi perih di tenggorokannya akibat muntah beberapa saat yang lalu, terlalu nyata untuk dianggap sebuah mimpi.
Dan entah mengapa, benaknya bisa menggambarkan tentang bagaimana Mikhail dengan lantangnya mengatakan jika dia tidak mencintai Ophelia di hadapan seluruh anggota keluarganya.
'Jika kau tidak mencintaiku... apa kau mencintai Lily hingga berakhir menikahinya?' batin Ophelia berbisik
Mungkin, dia akan menanyakan hal ini kepada Mikhail suatu hari nanti.
Namun separuh dari jiwa Ophelia berteriak untuk tidak melakukannya. Dia merasa jika harga dirinya sudah terhempas begitu saja ke tanah karena ditinggalkan secara tiba-tiba dan diputuskan begitu saja tanpa dia mengetahui jika dirinya sudah diputuskan.
Semalam dirinya sudah seperti orang yang bodoh karena pergi kalang kabut menuju ke apartemenMikhail, berharap informasi yang dia dapatkan dari teman dan juga sosial medianya adalah kebohongan belaka.
Sialnya, alih-alih kebohongan, apa yang dia dengarkan semalam justru mengonfirmasi berita yang beredar.
'Ophe,' panggil Alvin yang membuat Ophelia mengangkat kepalanya. Pria itu menyodorkan ponsel kepada Ophelia.
Perempuan itu meraih ponsel yang disodorkan oleh Alvin sebelum kemudian mengatupkan bibirnya rapat rapat.
Gaun yang dipakainya, dekorasi yang dipakai untuk pernikahannya, bahkan makanan yang tersaji di pesta yang terlihat megah itu...
Semua adalah ide miliknya.
Bahkan sebuah detail yang pernah Ophelia sampaikan kepada seseorang yang akan bertanggung jawab atas pernikahan nya pun, bisa dirinya lihat disana.
'Bagaimana bisa mereka menjadikan hari ulang tahun ku sebagai hari pernikahan mereka?'