'Kau tahu? Mungkin setelah ini para pegawaiku akan berkata jika bos mereka baru saja menghabiskan semalam dengan seorang wanita cantik. Apa kata mereka jika melihat kau meninggalkan tempat ini seorang diri tanpa aku antar? Mereka mungkin akan mengira jika aku baru saja dicampakkan begitu saja.'
Ophelia melirik Alvin yang baru saja mengoceh sambil berbaring diatas tempat tidur melalui cermin besar yang ada di depan ranjang. Dia menghentikan pergerakan tangannya yang sejak tadi sedang memasang anting-anting ditelinganya, 'Tidak ada yang terjadi semalam.' Tukasnya
'Tapi kau dan aku sama-sama tidak mengetahui apa yang ada di dalam benak para pekerja ku, kan?' Balas Alvin, masih enggan mengalah
'Tandanya mereka mengira Kau bercinta dengan seseorang yang sudah kehilangan kesadaran.'
'Sial. Kau benar sekali.'
Ophelia mengendikan kedua bahunya dan kembali berbalik menghadap cermin. Tubuhnya yang semula dibalut dengan gaun hitam, kini memakai kemeja berwarna merah dengan rok span berwarna hitam. Tangannya terangkat merapikan aksen pita dibagian selangka nya, sebelum kemudian mengangguk puas.
'Dengan begini... aku sudah terlihat cukup meyakinkan sebagai seseorang yang baru saja menyelesaikan perjalanan bisnisnya.'
'Jadi kemarin kau pulang secara mendadak seperti orang gila sesaat setelah mendengar kabar pernikahan Mikhail?!' seru Alvin terkejut. Dia sampai bangkit dari tempat tidur dan menatap lurus ke arah Ophelia, 'Ku kira kau memang benar-benar sudah pulang kemarin!'
Ophelia menipiskan bibirnya dan mengibaskan tangannya acuh, 'Aku tidak mau menjawab pertanyaan yang satu itu.'
Mendengar jawaban itu, Alvin mendengus pelan dan kembali menyandarkan kepalanya ke atas bantal. Dia kembali memperhatikan Ophelia yang sedang merapikan rambut panjangnya.
'Ingin ku antar pulang?' Tanya Alvin lagi, menolak menyerah menawarkan bantuannya
'Tidak.' Jawab Ophelia. Dia berbalik menatap Alvin yang sedang bersantai, 'ku titipkan mobilku padamu. Aku akan memukulmu jika ada orang yang mengetahui tentang keberadaan mobilku ditempat ini. Aku akan pulang dengan Samantha, sekretaris ku yang ikut denganku keluar negeri.'
'Terlambat sekali, Nona. Mobilmu sudah aman sejak semalam. Calvin yang mengamankannya sejak aku memberitahunya jika Nona muda Aldrich terdampar di club kami dan mabuk berat.' Balas Alvin riang sambil tersenyum manis
Ophelia mengangguk kecil, dia meraih tas kecil berwarna hitam yang memang sudah bersama nya sejak dirinya pergi memulai perjalanan bisnis sebelum kemudian melambaikan tangannya singkat pada Alvin.
'Aku pergi. Bye.' Pamitnya
'Hm. Oh, dan uangmu sudah aku kembalikan. Semua tequila yang masih tersegel dan utuh, aku kembalikan ke meja bar.'
Ophelia menipiskan bibirnya dan mengibaskan tangannya seolah tidak peduli sebelum kemudian kembali berjalan meninggalkan ruangan. Dia membiarkan Alvin begitu saja di dalam ruangan, meninggalkan pria itu tertidur di ranjang yang sebelumnya dia tiduri.
Kakinya yang terbalut heels, terdengar nyaring saat melangkah di lorong yang dihiasi dengan dekorasi minimalis itu. Cermin-cermin yang tertempel di dinding memantulkan bayangan seorang Nona muda yang memancarkan aura penuh kepercayaan dirinya.
Kedua kaki jenjangnya berhenti melangkah di depan sebuah lift. Jemarinya bergerak meraih sebuah kartu yang sebelumnya diberikan oleh Alvin dan menempelkannya kepada scanner yang berada di sisi kanan lift. Sedetik setelah nya, pintu lift terbuka begitu saja. Ophelia melangkah memasuki benda kotak itu dan menekan tombol untuk menuju ke lantai basement.
Sebuah perasaan familiar yang menyelusup dalam relung hati Ophelia, membuat dirinya mengerutkan dahinya.
Mengingat jika semalam dirinya sama sama menaiki lift seorang diri seperti saat ini dengan perasaan kacau.
Namun berbanding terbalik dengan situasi semalam, saat ini perasannya jauh lebih baik. Suasana hatinya masih cukup kacau, tapi tidak separah itu hingga membuat dirinya ingin kembali mabuk.
Sosok dirinya yang terpantul dari dinding lift juga tidak terlihat buruk. Tidak ada lingkaran hitam dibawah matanya karena dirinya tertidur dengan nyenyak berkat alkohol semalam. Selain kepalanya yang masih terasa sedikit pusing, dirinya sangat baik-baik saja.
Perjalanan menuju basement yang singkat, membuat Ophelia tidak bisa larut terlalu lama dalam pikirannya. Saat lift berhenti meluncur turun dan berdenting, perempuan itu mengerjapkan kedua matanya dan segera melangkah keluar dari lift yang sudah terbuka itu. Kedua kakinya melangkah menuju sebuah mobil berwarna hitam mengkilat yang sudah berada tepat beberapa langkah dari lift.
***
'Kakak! Selamat siang!'
Ophelia menghentikan langkahnya sesaat setelah suara bernada riang itu terdengar dari arah meja makan. Suara itu menjadi suara kedua yang menyapanya setelah seorang pelayan di rumah ini. Perempuan itu memutar tubuhnya ke arah ruang makan dan menatap datar orang-orang yang ada di sana.
Ayahnya, Ibu tirinya, Lily, dan juga... Mikhail.
Pria itu menatap lurus ke arahnya tanpa sepatah katapun. Tidak ada emosi disana.
'Aku penasaran tentang bagaimana reaksimu akan kedatangan diriku. Walau ini terlalu awal dan aku belum siap, tapi reaksi itu diluar dugaanku.' Batin Ophelia
Dalam benaknya, sempat terlintas apakah dirinya akan melihat tatapan penuh rasa bersalah atau mungkin penyesalan yang tergambar dalam kedua mata Mikhail. Namun sorot mata yang datar itu menjawab pertanyaan tersebut.
'Baguslah. Aku benar-benar bisa menentukan harus bagaimana aku bersikap kedepannya.' pikir Ophelia getir. Walau dirinya berusaha untuk tidak terlihat gentar atau terpukul, tangannya dalam diam meremat pegangan tas yang menemaninya sejak semalam itu.
Tanpa menjawab sapaan dari adik tirinya, Ophelia kembali berbalik dan melangkah semakin jauh ke area dalam rumah. Dia ingin segera pergi ke dalam kamarnya untuk berfikir dan merencanakan kehidupannya nanti.
'Kakak! Ak—aku baru saja menikah! Kakak tidak akan memberiku ucapan selamat?' Lily berseru sekali lagi
Ophelia menghentikan langkahnya diujung tangga, dia berbalik dan menaikan sebelah alisnya, 'Kenapa aku harus melakukannya?' balasnya tenang. Netra kecokelatannya mengamati reaksi setiap orang yang berada di meja makan.
Ayahnya terlihat kesal akan reaksi yang diberikannya, begitu juga dengan Ibu tirinya. Wanita yang menjadi orang ketiga dalam pernikahan Ibunya itu bahkan menyunggingkan senyuman liciknya.
'Berbaik hatilah pada adikmu, Ophelia!' seru Ayahnya
'Ku ulangi. Kenapa aku harus?' balas Ophelia, berusaha untuk tidak kehilangan ketenangan yang sejak tadi sudah berusaha di kuasainya. Dia bersidekap dan tersenyum tipis, 'tidak ada alasan aku harus melakukannya, Derek. Dan kau tahu kenapa.'
'Karena... Mikhail lebih memilih menikah denganku?'
Ophelia tertawa.
'Karena kalian orang asing. Orang asing yang menerobos masuk ke dalam hidupku dengan cara kotor. Tidak ada alasan bagiku untuk bersikap baik pada gelandangan seperti kalian.'
Tanpa menghilangkan senyuman puasnya, Ophelia kembali berbalik dan berjalan menuju kamarnya diikuti dengan langkah kaki pelayan dibelakang nya yang membawa koper.
'OPHELIA!'
'ANAK SIALAN YANG AROGAN! MARI KITA LIHAT SAMPAI KAPAN KAU BISA MEMPERTAHANKAN SIKAP AROGANMU ITU!'
Ophelia mengendikan kedua bahunya. Dia tidak lagi berbalik dan membiarkan Ayahnya melayangkan sumpah serapah yang sudah sering Ophelia dengar selama hidup nya. Perempuan itu berdecak pelan dan menggelengkan kepalanya pelan.
'Dasar orang orang rendahan.'
Drrrt
Ophelia menghentikan langkahnya, dia meraih ponselnya dan mengerutkan dahinya saat melihat sebuah pesan masuk dari Calvin.
Calvin
Menikahlah denganku.