Awan gelap menggantung memenuhi langit malam, sesekali kilat tanpa guntur mulai terlihat diatas sana pertanda akan turun hujan. Ophelia yang sejak tadi terduduk di sofa santai dekat jendela, beranjak dari posisinya untuk menutup gorden. Pergerakan terhenti saat dia beradu tatap dengan seseorang dibawah sana.
Mikhail.
Dengusan samar keluar dari Ophelia. Perempuan itu segera menutup gorden kamarnya dengan cepat, tidak ingin menjadikan adegan tatapan yang terjadi secara tidak sengaja itu sebagai alasan Ibu tirinya merendahkannya. Selesai menutup gorden, Ophelia meraih laptopnya untuk ditaruh diatas meja dan naik ke atas tempat tidur. Tangannya kini berganti meraih ponselnya yang sejak tadi dia abaikan.
Layar ponselnya masih memperlihatkan chat yang berasal dari Calvin, saudara kembar Alvin.
Setelah mengajaknya menikah secara tiba tiba, pria itu sama sekali tidak menghubunginya lagi.
'Tidak jelas.' Gumam Ophelia pelan
Perempuan itu termenung selama beberapa saat, ingatannya melayang pada percakapannya dengan Samantha siang tadi. Sekretaris nya sekaligus satu satunya teman yang dia miliki sejak lama, memberitahukannya jika ada beberapa nama yang ada di jajaran kursi direksi perusahaannya, diubah begitu saja selama mereka berada di luar negeri.
Kemungkinan besar hal ini dilakukan Ibu tiri nya untuk mempersulit hak pewarisan kursi CEO kepada dirinya, mengingat dia melakukan hal ini ketika Ophelia tidak ada di sana.
'Tapi berani beraninya dia melakukan hal semacam ini. Berani sekali tikus sepertinya menginginkan harta milikku.' Gumam Ophelia tidak habis pikir. Sejak awal, Derek, Ayah kandungnya sama sekali tidak memiliki kekayaan. Apa yang mereka nikmati saat ini, adalah harta milik Ibu Ophelia yang sudah meninggal dunia.
Derek pun bisa naik ke posisi CEO, karena Ibu Ophelia meninggal saat Ophelia masih berusia 9 tahun. Sepertinya Ibu tirinya berharap posisi itu bisa di dapatkan oleh Lily, anak haram yang lahir dua tahun lebih muda dari Ophelia.
Yang artinya, Ayahnya berselingkuh sejak Ibu nya masih hidup.
'Haaahh... sialan...' desis Ophelia lelah. Dia sudah bertarung dengan para orang gila itu bahkan sejak dirinya belum mengerti nilai uang dan betapa pentingnya benda itu untuk bertahan hidup.
Perlahan, perempuan itu membaringkan dirinya diatas tempat tidur. Netranya menerawang langit langit kamar, mengingat kembali pertunangan nya dengan Mikhail yang diusulkan oleh Ibu dan juga Kakek nya. Sejak awal, tujuan mereka bertunangan adalah untuk melindungi dirinya. Keluarga Mikhail bekerja di bidang hukum, dan tentu saja hal itu akan menguntungkan Ophelia seandainya terjadi sesuatu di masa depan.
Keluarga Mikhail juga akan mendapatkan bagiannya sebagai balasan atas perlindungannya.
Mengingat hal itu, Ophelia tertegun seketika.
Sejak awal... memang tidak seharusnya ada cinta diantara mereka.
Hanya saja dirinya yang polos, jatuh cinta pada perlindungan Mikhail yang dia artikan sebagai kebaikan.
Ophelia menarik nafas panjang saat dirinya merasakan sesak memenuhi rongga dadanya. Dia meremat selimut yang membalut tubuhnya sebelum kemudian menenggelamkan kepalanya pada bantal. Kedua sudut matanya terasa panas begitu saja sesaat setelah dia menyadari sesuatu.
Ternyata, sejak Ibu nya meninggal dunia, Ophelia selalu sendirian.
Tidak pernah ada orang yang benar benar menemaninya dan berbaik hati kepadanya.
***
'Ada apa dengan kedua matamu?'
'Tidak ada apa apa.' Jawab Ophelia cepat. Dia meraih segelas teh yang disajikan Samantha diatas meja dan menyesapnya pelan sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke arah pria yang duduk dengan tenang di hadapannya, 'Jadi, ada apa kau kemari Calvin?'
'Untuk melihatmu. Ku kira ada yang salah dengan tanganmu. Sekedar mengingatkan, seseorang tidak membalas pesanku sejak kemarin.' Jawab Calvin tanpa kehilangan ketenangannya. Pria itu menyesap teh dan kembali menatap Ophelia, 'sepertinya yang salah adalah matamu. Aku minta maaf sepertinya kau tidak membalas pesanku karena ada masalah pada matamu.'
Ophelia menipiskan bibirnya dan menatap lekat lekat Calvin yang balas menatapnya dengan tenang itu. Perempuan itu menghembuskan nafasnya pelan dan memijat dahinya.
'Dengan tingkahmu yang seperti ini, apa menurutmu aku akan percaya jika kau mengajakku menikah? Akan lebih masuk akal jika Alvin yang melakukan itu untuk menjahili kita.' Tukas Ophelia. Dia menyandarkan punggungnya pada sofa, 'kembalilah. Perasaanku sedang amat sangat buruk.' Usirnya
'Kau tidak mau menikah denganku? Padahal kau sudah kehilangan Mikhail.' Ucap Calvin yang membuat Ophelia kembali menipiskan bibirnya, berusaha untuk tidak kehilangan kesabaran
'Apa kau mencintaiku?' tanya Ophelia pada akhirnya
Baginya tidak masuk akal orang yang selama ini tenang tenang saja dan tidak pernah menatapnya, mengajaknya menikah selain karena alasan cinta.
'Apa Mikhail mencintaimu?'
'Calvin!' Ophelia berseru pelan. Dia tidak mengerti kenapa Calvin tiba tiba bertingkah menyebalkan seperti sekarang. Perempuan itu mendesah pelan dan memijat dahinya, 'aku sakit kepala. Sebenarnya apa yang kau inginkan?'
'Mikhail mencintaimu? Tidak. Tapi dia bisa menjadi tunanganmu selama bertahun tahun walau pada akhirnya mengkhianatimu. Dibandingkan hubungan yang saling mencintai, bukankah lebih baik bagimu memiliki hubungan yang saling menguntungkan?' tanya Calvin tenang. Dia merapikan jas hitam yang dipakainya dan beranjak dari posisinya tanpa mengalihkan pandangannya dari Ophelia, 'aku akan melindungimu. Kau tidak tahu? Belakangan ini dunia sudah menganggapmu skandal karena Mikhail yang mendadak menikahi adik tirimu. Jadi berhentilah terlihat suci, dan menikahlah denganku.'
Lalu Calvin pergi begitu saja.
Meninggalkan Ophelia yang tertegun mendengar kalimat yang sepertinya bisa ditandai sebagai pertama kalinya Calvin berbicara panjang lebar kepadanya.
Perempuan itu menoleh ke arah Samantha yang sejak tadi memperhatikan dalam diam dari sudut yang tidak akan menganggu percakapan mereka, 'Sam, bagaimana menurutmu?'
'Aku tidak menyukainya. Tapi jika dibandingkan dengan Mikhail, jelas Calvin lebih baik.' Jawab Samantha. Dia berjalan mendekati Ophelia, 'Aku sangat ingin melihat bagaimana reaksi Mikhail saat mengetahui jika kau akan tetap menyandang nama Aleksei tanpa menikahinya. Calvin juga jelas memilki koneksi yang bagus. Kau bisa memanfaatkannya.' Lanjutnya
Ophelia terdiam selama beberapa saat. Baru sehari dirinya kembali ke perusahaan, dia sudah mendengar berbagai macam rumor. Dimulai dari posisinya yang akan digantikan oleh Lily, Ayahnya yang akan kembali ke perusahaan, hingga rumor tentang dirinya.
Mengingat Calvin yang juga mengetahui rumor tentangnya, perkataan Samantha tentang luasnya koneksi pria itu sudah terkonfirmasi begitu saja.
'Kalau begitu aku akan memikirkannya dengan lebih serius tentang tawarannya.' Putus Ophelia. Dia menatap Samantha dengan lekat, 'Dan... cari tahu darimana asalnya rumor jika aku tidak bisa memiliki anak, berselingkuh, dan memiliki penyakit menular seksual karena hal itu. Orang itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya.'
'Bukankah hal itu sudah pasti? Hanya ada satu orang yang bisa menggiring opini tentang hal itu kepada banyak orang.' Sahut Samantha
'Ah, Lily. Apa yang harus aku lakukan pada anak polos yang baik hati itu?'