Ophelia berjalan keluar dari ruangan nya dengan tenang, rambut panjangnya dibiarkan tergerai begitu saja membingkai wajahnya yang cantik. Sesekali kepalanya bergerak mengangguk, membalas sapaan beberapa pekerjanya yang memang mengetahui jika dirinya dalam waktu dekat ini akan naik sebagai CEO.
'Oh, kakak!'
Langkah Ophelia terhenti. Dia mengalihkan pandangannya pada Lily yang sedang berjalan dengan seorang perempuan berambut pendek yang memakai kacamata. Dahi Ophelia berkerut tidak suka, 'Bukankah sudah ku bilang untuk menerapkan batasan diantara kita?' tegurnya
'Tapi... kemarin Kakak juga seperti ini kepadaku. Di rumah, kakak juga selalu dingin padaku. Ka—karena itu, Kak Mikhail—'
'Mikhail kenapa?' potong Ophelia. Dia menaikan satu alisnya, 'Aku tidak mengerti kenapa kau menyeret orang lain dalam percakapan yang amat sangat terdengar sok akrab. Jangan berbicara denganku.' Lanjutnya tak suka
Perempuan itu menatap sekilas seorang pegawai yang berada di samping Lily sebelum kemudian kembali melangkah menuju lift untuk membawanya turun.
Pekerjaannya sudah selesai sekarang. Tidak ada yang bisa dia kerjakan, dan dia juga sudah terlalu malas menunggu 20 menit sebelum jam pulang. Suasana diperusahaannya sedang sedikit panas belakangan ini, imbas dari banyaknya pemilik kursi direksi yang diganti seenak jidat oleh Ibu tirinya.
Beberapa orang yang ada di pihaknya juga kelihatannya mulai bertindak dengan menyebarkan rumor jika dirinya akan segera diangkat menjadi CEO secara resmi.
'Haruskah aku siapkan surat pemecatan untuk makhluk itu? Risih sekali aku melihatnya memanggilmu 'kakak' dengan tampang tidak tahu malunya.' Ujar Samantha yang membuat Ophelia melirik temannya itu. Samantha menaik turunkan alisnya, 'Hmm? Bagaimana ideku, Nona CEO?'
'Sayangnya hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.' Tukas Ophelia
'Apa? Kenapa? Ku kira dewan direksi yang tersisa menyebarkan rumor ini atas perintah darimu.' Protes Samantha
'Untuk membawaku ke kursi CEO, Derek harus mati terlebih dahulu.' Jawab Ophelia tenang. Dia mengulas senyuman tipisnya, 'Walau sakit sakitan, tapi sepertinya umurnya akan sedikit panjang, kan?'
'Hah, menyebalkan.'
'Aku terpikirkan sebuah ide. Tapi jika ada yang mendengar, mereka akan memanggilku sebagai anak durhaka dan berpotensi berurusan dengan hukum.' Gumam Ophelia. Dia melirik Samantha dan mengerling penuh arti, 'Setelah aku menikah dengan Calvin, haruskah aku siapkan skenario terbaik untuk itu?'
'Aku tahu idemu akan gila, tapi aku akan mendukungnya.'
***
'Aku akan menikah dengan Kakakmu.'
BRAAKKK
'APA?! Aku ikut!'
Ophelia dan Samantha dengan kompak mengerutkan dahi mereka. Reaksi pria di hadapan mereka terlalu luar biasa sampai sampai keduanya tidak bisa menahan diri untuk tidak memberikan reaksi atas ucapannya.
'Kau ingin apa?' tanya Ophelia aneh
'Ikut.' Tegas Alvin. Dia bersidekap dan menunjuk dirinya sendiri, 'Menikahlah juga denganku.'
Ophelia menghela nafas panjang dan memijat dahinya perlahan. Sudah ia duga, merupakan ide yang buruk mengajak Alvin berbicara tentang hal ini. Mulut pria itu terlalu ajaib untuk dibawa dalam sebuah pembicaraan yang serius, berbanding terbalik dengan Calvin.
'Menikah... harus dilakukan oleh dua orang.' Ucap Samantha
'Tiga. Untuk Ophelia, tiga denganku. Kau, aku, Calvin.' Tolak Alvin
'Sebenarnya apa motivasi mu melakukan ini, Alvin?' tanya Ophelia yang menyerah dengan cara berfikir Alvin yang irasional
'Apa yang Calvin miliki, aku harus memilkinya juga.' Jawab Alvin tenang seolah olah hal yang dikatakannya bisa dicerna dengan akal sehat
Ophelia terdiam sejenak. Dia melirik Calvin yang berada di samping Alvin, dia agak melupakan keberadaan pria itu karena sejak tadi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Pria itu bahkan tidak bereaksi saat Alvin dengan ke-irasional-an nya mengatakan hal tadi.
'Calvin, say something!' Desak Ophelia
Calvin yang sejak tadi mengatupkan bibirnya rapat rapat itu akhirnya memberikan sedikit reaksi. Postur tubuhnya yang sejak tadi terlihat masa bodoh dengan pembicaraan di depannya, kini terlihat tertarik.
Pria itu melirik ke arah Samantha, 'Pergilah. Kau tidak melihat, dan tidak mendengar apapun yang terjadi di dalam sini.'
Mendengar perintah itu, Samantha tersentak kecil sebelum kemudian melirik Ophelia dengan ragu ragu. Ketika dia melihat anggukan kecil dari sang Nona, barulah dia beranjak dari pergi meninggalkan kamar berukuran luas itu.
'Kau punya penjaga yang setia.' Gumam Calvin sebelum kembali menatap Ophelia. Pria itu berdeham dan mengangguk kecil, 'Terima saja. Dua orang yang menjagamu jauh lebih baik daripada satu.'
'Kau melawan orang yang cukup ganas, Ophe. Ibumu yang bahkan dilindungi oleh keluarga Kakek mu, bisa terbunuh begitu saja. Dan sialnya penyelidikan lama belum berhasil membuktikan keterlibatan mereka. Melihat dia yang dengan agresif mulai berusaha mendepak mu dari perusahaan, dia pasti memiliki sesuatu yang bisa meningkatkan peluang nya menyingkirkan mu.' Jelas Calvin
Pria itu terdiam sejenak, dia menatap Ophelia dengan lekat, 'Apa kau memiliki rencana?'
'Selain tetap hidup—'
'Pembohong, jangan munafik.' Potong Calvin. Dia menunjuk dirinya dan Alvin secara bergantian, 'Kau mempunyai dua anjing yang bisa kau manfaatkan, Ophelia. Kau menyia-nyiakannya hanya untuk menjagamu tetap hidup?'
'Balas dendam.' Ucap Ophelia cepat. Kedua tangannya bergerak saling meremat diatas paha nya, 'Ibuku dibunuh dan mayatnya dibuat seolah-olah bunuh diri oleh Ayahku sendiri dan istrinya yang sekarang. Aku hampir gila karena akulah yang menemukan mayat Ibuku sendiri tergantung di dalam kamar! Dan kegilaanku bertambah saat orang yang membunuh ibuku, masuk ke dalam rumahku dengan status nyonya rumah!'
Ophelia telah meyakini tuduhan itu selama bertahun-tahun, tetapi keyakinannya belum menjadi pembuktian yang dapat membawa Derek serta Monica ke pengadilan. Ia menemukan tubuh ibunya; ia tidak menyaksikan serangan yang diyakininya terjadi sebelum dirinya tiba. Kemarahan membuat perbedaan tersebut terasa semakin menyakitkan setiap kali orang lain menuntutnya diam.
'Jika... jika aku sampai dikeluarkan dari perusahaan ku sendiri, aku akan menghancurkannya. Aku akan mengacaukan semuanya. Jika aku tidak bisa mengambil kembali apa yang seharusnya aku dapatkan, maka tidak ada seorangpun yang dapat memilikinya!'
Keheningan yang pekat memenuhi ruangan seketika.
Calvin dan Alvin saling bertukar tatap sebelum kemudian berjalan mendekati Ophelia yang duduk di depan mereka. Calvin berdiri tepat di belakang tubuh Ophelia, tangannya bergerak memeluk bahu perempuan itu. Sedangkan Alvin berjalan ke hadapan Ophelia dan bersimpuh di lantai, menidurkan kepalanya dipaha perempuan itu dengan nyaman.
'Aku akan bertanggung jawab atas tubuhmu, Ophelia. Dan Alvin akan bertanggung jawab atas jiwamu. Kita tidak perlu menikah jika kau tidak menginginkannya. Sebagai gantinya, serahkan dirimu pada kami.' Bisik Calvin
Alvin tersenyum dan mengangguk, 'Benar. Kami berdua bisa melengkapimu, menyayangimu, dan berada di sampingmu selamanya.'
Nafas Ophelia terengah, dia merasakan dadanya bergerak naik turun dengan cepat. Jantungnya berdebar kencang, tubuhnya terasa panas terlebih saat dia merasakan kecupan Calvin ditengkuknya.
'Jadi... bagaimana?' tanya Calvin
Tanpa sadar, Ophelia menganggukkan kepalanya. Rasa lelah yang dirasanya secara fisik maupun mental, membuat dirinya merasa jika menganggukkan kepala atas tawaran gila keduanya merupakan satu satunya jalan untuk mengurangi beban yang bersarang di hati dan pikirannya.
'Istirahatlah, Ophelia.' Ujar Calvin sambil menutup kedua mata Ophelia
Tubuh perempuan itu menegang sesaat sebelum kemudian melemas bersamaan dengan kepalanya yang terkulai lemah begitu saja.
'Dia tertidur?' tanya Alvin
'Ya. Sejak pagi aku tahu jika dia sedang sakit. Aku akan memindahkannya ke kamar.' Jawab Calvin. Dia meraih tubuh Ophelia ke dalam gendongannya.
'Bagaimana perasaanmu, Cal? Kau sudah mengincarnya sejak lama, kan?'
'Menurutmu aku tidak tahu jika kau juga melakukan hal yang sama?'